Senin, 06 Februari 2012

Aku ingin bersamamu

setiap pagi, kembali aku terbangun dalam getar ketaksadaran
menginginkan engkau ada disini 
setidaknya aku mendengar engkau membangunkanku, tak apa dengan bentakan
atau aku merasakan engkau melewatiku dengan kecepatan cahaya, membereskan remah yang kubuat semalam
setiap pagi, aku menginginkan ada disisimu, Ibu.

aku tak pernah menginginkan apapun selain pagi denganmu
menatap kau yang berkeringat memasak didapur,
atau kau yang duduk tertegun menatapku, juga anakku
entah apa yang kau pikirkan, mungkin kekhawatiran akan kehidupan kami berdua esok
serta keinginan untuk senantiasa membela kami semampumu
aku tak pernah luput menyadarinya 
bahwa hanya engkaulah, yang akan menjadi tameng terkuat untukku
yang merapalkan seluruh mantra perlindungan padaku
bahwa sejak aku masih dalam perutmu hingga kini aku telah sebesar ini
aku masih saja terus membebanimu, membuatmu menangis tiap malam
aku hanya ingin pagi bersamamu, ibu
duduk-duduk di belakang rumah kita
menangis dipangkuanmu dengan backsound isak tangismu juga
ijinkan aku begitu ibu, 
selalu mendekapmu meski aku tak lagi anak-anak

Bu, inilah dunia ku
yang membungkusku dalam sekat tak terpisahkan dengan jiwaku
namun tak juga menyimpulkan ikatan kita
untuk segala yang telah engkau berikan padaku, bu
aku tak pernah sanggup menghitungnya
juga tak pernah mampu membandingkan dengan pemberian siapapun lagi dalam hidupku

aku ingin bersamamu pagi ini Bu,
merenda kepolosan yang kau ciptakan senada haluan kapal tanpa tenaga
aku ingin bersamamu pagi ini Bu,
mengumpulkan serpihan masa kecilku duluuntuk secara simultan kau kais sebagai pelepas rindu
aku ingin bersamamu pagi ini Bu,
pagi esok, esoknya lagi, juga setiap esok.




Pasukan Berani Mimpi

Assalamualaikum, selamat pagi kawans... sudah lama rasanya saya gak menyapa kalian yahh. rasanya saya jadi jauh beberapa bulan ini dengan blog sendiri. saya memang lagi tenggelam dalam keruwetan kisah Kinasih dan Begras. selasa pagi ini, cuacanya romantis. mendung, dingin, sayu. seperti ada magnet yang saling tarik menarik di langit.awan-awan membentuk gambar di pikiran kita masing-masing. di depan tempat tinggal saya, ada sebuah rumah tinggi menjulang. menutupi warna merah dari langit didepan saya. tapi bukan jadi tak indah, langit tetap kelihatan, makin merah tertutup rumah tinggi itu. sesuatu yang tak mungkin tertutup, tetap merangsek keluar di sela bangunan, langit itu seperti mau marah. merah, saga.

semalam saya ngobrol banyak dengan seorang sahabat. Joe, sahabat sekaligus kakak, sekaligus musuh bebuyutan, sekaligus saudara, sekaligus pengganti ayah, sekaligus penasehat pribadi, sekaligus... ah, terlalu banyak sekaligus disini. saya memang jadi sulit mendeskripsikan nama hubungan kami berdua. tapi yang saya pasti dan bisa saya jelaskan : kami bukan kekasih atau sejenisnya. Joe adalah gitaris dari salah satu band yang lagi naik dauh ( kayak ulet yahh..) salah satu lagunya dijadikan soundtrack sebuah sinetron anak-anak yang ditayangin setiap sore di SCTV. saya selalu percaya kami memang memiliki banyak persamaan, meski dalam bidang yang berbeda. sama-sama pecinta seni ( dia musik, saya teater ) sama-sama suka nulis ( dia bikin lirik lagu, saya bikin tulisan lain2) sama-sama suka ngobrol ( kalo yang ini bidang kita sama : kehidupan ) sama-sama doyan makan ( ini juga sama : apa aja ) sama-sama senang berteman ( ini juga sama : dengan siapapun ) sama-sama selalu yakin pada impian masing-masing ( dia jadi musisi, saya jadi penulis ) dan masih banyak sama yang lain. malam tadi, kami ngobrolin hal yang ber bidang sama yaitu kehidupan. beuuhhh, kalo udah ngobrol sama dia tentang kehidupan, semuanya bisa kita bahas disini. mulai dari harga sembako, nilai rupiah, agama, anak, percintaan, pendididikan sampe hal-hal klenik. kita rasanya nyaris gak pernah kehabisan bahan obrolan. dan yang bikin heran, itu awalnya saya ngobrol gak cuma sama Joe aja, ada beberapa temannya ikut nimbrung, tapi tereliminasi satu-satu karna mungkin makin ngerasa gak ngerti kami ngobrolin apa. sampe akhirnya kami cuma berdua di ruang tengah. kemudian meluncurlah satu jenis obrolan tak ringan. obrolan yang selalu saya anggap paling berat dan sulit ditemukan titik temunya : Impian.

dulu, saya inget betul gimana Joe sampe naik-naik keatas meja di baris paling depan waktu kami sekolah cuma demi mendapatkan perhatian dari teman satu sekolah. nyaris setiap bel masuk berdentang, dia justru memulai aksinya, pilihan waktu yang pas karna di menit-menit itu semua siswa berkumpul dikelas untuk menunggu guru datang. kebiasaan guru yang selalu datang paling cepat 10 menit setelah bel berbunyi benar-benar dimanfaatkan joe untuk melakukan aksinya. berbekal sapu ijuk kelas yang berdebu, dia bernyanyi diatas meja itu. sebagai seorang sahabatnya, saat itu saya memperhatikan sambil pura-pura cuek. saya tau banget, passion Joe adalah main musik. jadi gitaris ternama, karyanya dikenal banyak orang. saya juga tau, saat itu kami masih sangat muda, masih kelas 1 SMP. nyaris semua teman kami dikelas itu menampilkan sikap sebal dengan tindakan Joe. mengganggu lah, iseng lah, nyleneh lah, nakal lah. padahal, saat itulah saya mulai yakin, suatu hari entah diusia kami yang keberapa Joe akan berdiri diatas panggung, memegang gitar betulan, memainkan karya nya, dengan begitu banyak penonton yang berteriak histeris dibawah panggung. bahkan mungkin beberapa penonton yang histeris mengidolakan Joe itu adalah anak dari teman sekelas kami jaman SMP dulu, yang kemudian begitu Joe terkenal langsung bilang sama anaknya : itu temen sekelas mama dulu lho. waktu itu saya udah menancapkan impian saya di dunia sastra. saya sudah menjuarai beberapa lomba puisi tingkat kabupaten juga provinsi. tapi Joe, dia belum apa-apa. saya inget banget, dia cuma baru bermimpi. bahkan punya band saja belum. kita masih kelas 1 SMP, masa peralihan dari dunia anak-anak di SD jelas masih terbawa masa itu. tapi Joe semangat meraih impiannya sudah sejak saat itu. dan dia berusaha mewujudkannya. dia menjaring teman sekelasnya : decky, wina, dan dodo. lalu dia tularkan semangatnya itu pada 3 temannya tadi. bahkan Joe pula yang dengan berapi-api mengumpulkan uang sumbangan dari teman-teman sebanyak 12 ribu untuk membeli stick drum. lalu saya menemaninya membeli di toko alat musik pulang sekolah. di angkutan kota, saya duduk bersebelahan dengan dia, matanya berbinar menatap stick drum itu. meskipun bukan dia nantinya yang akan menggunakan stick tersebut, tapi saya tau, Joe berjuang untuk menempuh impiannya jadi nyata. saya mulai menyukai impian Joe. saya mulai merasa ada semangat pantang menyerah disitu. saya tertular.

beberapa tahun kemudian, Joe mulai intens main Band. hidupnya untuk band. untuk musik. dia sudah bisa membeli gitar listrik sendiri. saya masih juga ingat, warnanya merah waktu itu.kebetulan kami memang bertetangga, nyaris setiap pagi kami berangkat bersama kesekolah,meskipun setelah SMU sekolah kami berbeda. saya masih meneriakinya setiappagi untuk cepat mandi, bahkan dia sampai makan di dalam mobil. ditengah kecuekan dia, sebenarnya dia siswa yang pintar. hanya saja, Joe sangat tergila-gila pada musik hingga melupakan sekolah. bahkan saya tau, ketika kuliah dia sampai menunda skripsinya, membolos kuliah hanya untuk latihan band. saat itu juga Joe sempat tertipu oleh beberapa oknum yang menawarinya rekaman dengan menyerahkan uang muka sejumlah puluhan juta. Joe gelap mata dengan impiannya. sementara saya, pelan-pelan sekali menapaki impian saya. bukan karna hati-hati, tapi karna impian saya sebagai penulis memang lebih tidak memiliki resiko tertipu seperti impian Joe. tapi itulah jalan yang mungkin memang harus dia lewati. sekarang ini ? dia sudah berkali-kali masuk acara musik di televisi, lagunya jadi sountrack sinetron stripping, Joe sudah mulai menemukan impiannya meski belum seutuhnya. tapi hingga semalam saya ngobrol dengannya pun saya tau, dia masih belum putus asa dengan impian itu. masih terus bersemangat dan masih tetap berani bermimpi.

saya pernah ngobrol dengan seorang motivator trainer yang telah sukses, saya tanya tentang cara mewujudkan impian. dia mengajari saya sau hal yang masuk akal. tentang sebuah ruang kosong. segala sesuatunya berawal dari kekosongan. dia bilang : kalau kamu pengen punya mobil, sediakan dulu garasinya. percaya sama saya, garasi kamu kelakakan terisi. saya memahami maksudnya, saya menginterprestasikan hal tersebut dengan stimulus. keberhasilan kita meraih mimpi itu adalah dari kuatnya kita berusaha. dan dari yang kita pikirkan. kalau kita berfikir kita bisa, maka memang kita akan bisa. the power of thinking. nah, kalau kita sudah menyediakan garasi mobil yang belum terisi, maka kita akan terus-terusan terstimulus untuk mengisinya. pada akhirnya usaha kita memang akan lebih kuat dari kita hanya menginginkannya dengan bayangan. garasi itu harus terisi. ada motivasi lebih untuk memampukan kita mendapatkan mobil. nah. Joe telah memnyediakan ruang kosong itu tanpa dia sadari sejak dia masih SMU.sejak dia berani berdiri diatas meja dengan sapu ijuk ditangan. berteriak menyanyikan lagu GnR dan beberapa lagu lain. dia telah menyediakan tepukan penonton dalam hatinya. merapal keinginannya setiap pagi. dan meski dengan banyak kesakitan, pelan-pelan Joe meraih impiannya.

apa yang saya dapat dari itu semua sekarang ? sebuah keyakinan penuh bahwa kita memang layak untuk bermimpi. setinggi-tingginya. Joe mengajarkan saya untuk selalu meletakkan impian saya di langit teratas, karna meskipun kita nantinya terjatuh saat meraih mimpi, kita terjatuh di awang-awang. Allah itu seperti yang kita sangkakan, DIA akan mewujudkan impian tinggi kita jika kita berusaha mewujudkannya dengan usaha yang juga sebanding jika dijejerkan dengan sang impian. jadi, saya memang sepakat banget sama kalimat Andrea hirata : bermimpilah maka Tuhan akan memeluk impianmu. ya kawans, yang harus kita lakukan sekarang adalah berani mengatakan impian kita. walau semua orang mengatakan tidak mungkin,tapi percayalah bahwa kita mampu mewujudkannya.

Sabtu, 04 Februari 2012

KINASIH dan BEGRAS part. 6

" waahhhh, mau dong diceritain waktu itu " Begras kegirangan sewaktu Kinasih keceplosan bilang sempat menjalin kasih dengan seorang pria. seperti anak kecil yang berhasil memenangkan perebutan layangan putus di sore hari, Begras merajuk. Kinasih geram, bukan pada Begras. tapi pada dirinya sendiri karna mudah menyerah untuk membuka kenangan lama itu.

" namanya Saputra. aku biasa manggil dia Sapu. yahh, biasa aja sih.cuma gaya pacaran anak kuliahan semester 2. cinlok karna sering rapat BEM bareng, aktiv di beberapa organisasi kampus bareng dan sempat satu divisi di beberapa acara. cuma itu. " Begras manggut-manggut di seberang sana. mencoba mempercai kalimat standar Kinasih. seperti selama ini Begras memahami Kinasih, kali ini pun sama. Begras tau, Sapu tidak biasa-biasa. tapi Begras pun tak ingin memaksa Kinasih untuk menyakiti hatinya sendiri dengan merajuk untuk menceritakan hal yang sesungguhnya. Terlebih sebenarnya, Begras enggan mengakui dirinya takut menerima kenyataan bahwa memang benar pria bernama Saputra itu merupakan orang istimewa di masalalu Kinasih. jadi, keputusan bungkam dan menelam mentah-mentah penjelasan Kinasih dirasa yang paling tepat oleh Begras. dan obrolan terhenti begitu saja. Begras merasa bersalah, Kinasih juga. keduanya berputar merutuki mulut mereka sendiri pada obrolan di detik yang lampau.

Kinasih perlahan membuka laci itu. mengambil sebuah tas tangan berbentuk jaring warna hitam. didalamnya ada sebuah harmonika kecil. masih ada nota pembelian yang melindungi harmonika berwarna perak itu. Kinasih menamai harmonika itu " delusya" . perlahan dengan hidmat Kinasih meraba tubuh delusya. seketika sebuah kenangan mengorbit begitu saja di pikiran kinasih.

mereka masih sangat muda. si perempuan berambut panjang dikucir ekor kuda, bersuara nyaring dan sangat atraktiv. sedangkan si pria berambut ombak terurai menutupi mata, dan selalu tersenyum. keduanya memiliki hobi yang sama yaitu jalan-jalan. suatu waktu, keduanya menelusuri pinggiran kota kecil di daerah jawa barat. Kin kegirangan ketika dilihat dari jauh ada tukang penjual alat-alat musik tiup. mulai dari trombon yang harganya selangit, flut hingga harmonika kecil itu.Kin teriak-teriak. Sapu berlari kecil terseok bahagia mengikuti tingkah kekasihnya itu.

" beli doonggg, yang paling murah aja..." Kin merajuk manja.
" yang mana yang murah? " Sapu menggodanya. seandainya-pun kau minta seluruh nyawaku melayang untuk alat musik disana, tak gentar ku bilang iya padamu, Sapu membatin sambil terus mengikuti Kin yang terus melonjak-lonjak.
Kin diam menatap harmonika itu. Belum apa-apa Kin sudah menimangnya perlahan. Penjual mendapatkan ikan. kailnya sudah ditarik-tarik pembeli. umpannya sudah termakan. Kin terlihat langsung jatuh cinta pada harmonika mini itu. Penjual kecewa. Harmonika itu hanya delapan ribu saja. tak kan untung besar dia jika pembeli didepannya hanya membeli si mungil perak itu. maka, licik diangsurkannya trombon pada Kin.

" hey, Trombonista... ini belahan jiwamu " Kin heran. Sapu terkikik menutup mulutnya. Sapu tau, harga harmonika tak semahal trombon. tapi Sapu juga tau kalau Kin bukan musisi. Kin kegirangan karna Kin memang menyukai segala sesuatu yang berbau seni. dan Sapu sudah bisa menebak, Kin tidak akan pernah mengambil trombon itu. Harmonika mungil, sudah menyatu dengan darahnya meski baru bertemu pada pandangan pertama.

Kinasih mengelus lagi kenangannya melalui harmonika perak itu. perlahan muncul kembali mozaik yang berpendar-pendar dalam ingatan Kinasih. dadanya naik turun, airmata tak bisa ditahan. mulut menggeruu bergetar. Kinasih menangis sembari menciumi harmonika itu. pelan, tersayat-sayat.

Kin dan Sapu duduk di pinggiran jalan dekat tukang penjual alat musik itu. Kin masih cengar-cengir kegirangan. harmonika itu dia raba-raba dengan lembut. Sapu mengelus rambut Kin yang berkibar-kibar ditiup hembusan angkutan kota. keasyikan bercengkeraman dengan anggota baru dalam hubungan mereka, hingga tak menyadari ada bahaya mengintai keduanya. Satpol PP merazia tempat itu. dalam hitungan detik keadaan chaos. Kin gemetar memegang tangan Sapu. beberapa aparat merangsek mendekati mereka. apadaya, keduanya memang berada di tempat dan waktu yang salah. Kin dan Sapu terjaring dalam razia itu. tanpa alasan yang jelas.

sesampainya di kantor aparat, mereka berdua menyerang aparat dengan sikap masing-masing. Kin dengan kecerewetannya marah-marah setelah aparat minta maaf karna salah tangkap. Sapu dengan sikap dingin dan menusuk mengancam menuliskan ini disemua media. seperti perisai Sapu melindungi Kin, dan seumpama pedang Kin menghalau siapapun merusak Sapu.

Kinasih masih tegak di depan delusya. menatap sendu pada si anak perak. ada teriakan di bawah kamar Kinasih yang menghubungkan dengan pintu utama rumahnya " misi om, tante, mau numpang ngamen " teriakan khas pengamen jalanan langganannya. Kinasih bangkit berdiri. menyeruak jendela. berlari ke balkon dan berteriak nyaring kebawah " lagu biasa pake spesial efect harmonika bisa? " Kinasih mengacungkan Delusye pada dua pengamen dibawah. tanpa menunggu jawaban para pengamen itu, Kinasih berlari menuruni anak tangga. Kinasih super memahami, para pengamen jalanan memiliki kemampuan dahsyat dalam beradaptasi dengan alat musik baru? tak masalah dengan delusye.

Kinasih diam hampa ketika Delusye mulai bersuara. lagu yang sering muncul di televisi.

" meskipun aku di surga, mungkin aku tak bahagia. bahagiaku tak sempurna bila itu tanpamu "

Jumat, 03 Februari 2012

KINASIH dan BEGRAS part. 5

" Begras, mungkin selama seminggu ini aku gak bisa di hubungin. Hp ku rusak. ini pinjam Hp tukang sayur " Begras tersenyum geli membaca sebuah SMS yang dikirim pukul 6 pagi itu. Seperti biasa, Kinasih memiliki banyak cara untuk SMS pembangun di pagi harinya. setengah menguap Begras memencet ombol dial untuk menghubungi nomer Kinasih. Operator yang menjawab. Begras duduk tegak. Sekali lagi coba dihubungi nomer Kinasih. masih operator yang menjawab. Kini Begras berdiri, berjalan mondar-mandir di sekitar kasur busa nya. Lalu Begras beralih menghubungi nomer tukang sayur yang Kinasih gunakan untuk SMS pagi itu. Operator juga yang menjawab. Begras pucat. Kinasih benar-benar tidak bisa dihubungi. Dibukanya komputer, disambungkan ke internet. lalu masuk pada jejaring sosial miliknya. di tekan enter ketika ditulis nama akun milik Kinasih. Lega. akun itu masih aktiv. ada sesuatu yang meresahkan Kinasih, sehingga dia ingin menyendiri selama seminggu ini. Begras tau bahwa HP kinasih tak mungkin rusak, juga HP tukang sayur itu pasti miliknya sendiri. Begras tau, Kinasih hanya ingin sendiri. maka yang harus dia lakukan sekarang ini hanyalah menunggu Kinasih menguhubunginya lagi. Minggu depan.

Kinasih berjalan sendiri di tengah pasar tradisional. berkali-kali dia tersenyum pada mbok penjual bawang atau pada tukang sayur yang berteriak padanya. Kadang Kinasih berhenti sebentar di depan tukang serabi, menikmati tontonan alami yang di mainkan oleh ibu penjual serabi. bagaimana cekatannya si ibu mengaduk adonan, menuangkan dengan pas di tengan panci penggorengan, lalu membalikkannya dengan waktu yang tepat pula sehingga serabi itu tidak gosong. komposisi menarik antara keahlian, feeling dan racikan. Kinasih selalu kagum pada orang yang menguasai ketiga hal tersebut. Lalu kembali Kinasih berjalan di seputaran penjual buah, dilihatnya seorang pembeli dengan tangkas memilih buah manggis. berganti dari satu buah ke buah lainnya.lalu dengan tangkas membayar uang pas seharga yang di tawarnya. Tukang buah itu cemberut, tak jadi dapat untung besar dia. Kinasih tersenyum, pertarungan yang terjadi antara penjual dan pembeli selalu mengasyikan untuk di nikmati. Kinasih berjalan ringan. keluar masuk los dan ruko di pasar tradisional itu. Tanpa membeli apapun. hanya diam menikmati aktivitas beratus orang di dalamnya.menikmati karakter satu dan lainnya. menonton pertunjukan langsung penjual kelapa yang membelah kelapa dengan satu tangannya, atau hanya sekedar minum es cendol karna tertarik dengan komposisi warna hijau dan cokelat yang menyatu perlahan dalam adukan gelas. Kinasih tertawan lebih dari 4 jam didalam pasar tradisional itu. meninggalkan hatinya yang telah penuh sesak di kamar losmen yang disewanya.

Sudah hari ketiga, dan Begras masih belum mendapatkan kabar apapun dari Kinasih.meskipun Begras tau, seminggu artinya 7 hari bagi Kinasih. namun Begras pun tau, rasa tak tenangnya ini adalah karna dia tidak mengetahui apa yang membuat Kinasih harus menyendiri selama seminggu ini.

Pagi hari Kinasih terbangun karna keributan di kamar sebelah. Kinasih menyurutkan langkah. malas ikut campur urusan orang. kembali menarik selimut dan berniat tidur lagi. namun suara ledakan pistol dan jeritan seorang anak membuat Kinasih terduduk kaget. dilihatnya jam dinding, masih pukul enam pagi. diluar keributan sudah menjelma jeritan-jeritan histeris. gaduh. Kinanti terpaksa keluar. Mau tak mau. di balik pintu kamarnya begitu banyak orang berkerumun. Seorang ibu bahkan mendongak-dongakkan kepalanya karna begitu ingin melihat apa yang terjadi didalam kamar itu. Kinasih menyeret langkah pelan.menutup pintu kamarnya. mengatupkan kembali sweeter tosca nya sampai rapat. udara masih sedingin ini, tapi masalah yang terjadi di kamar sebelah sudah serumit itu. Kinasih berjalan melawan arus. menjauhi kamar itu. menutup telinganya dari jeritan anak kecil yang seolah-olah memanggil namanya. Banyak hal yang tanpa diduga bermunculan dalam fenomena kamar sebelah. ada seorang pelayan losmen yang kemudian menjadi saksi, seorang nenek tua yang memegangi dadanya karna penyakit jantungnya kambuh akibat kaget, dan sepasang remaja yang memadu kasih bergenggaman semakin erat di koridor losmen, entah sudah menikah atau belum. Kinasih gagu, mengapa tak terjadi fenomena apapun dalam dirinya atas kejadian itu selain kesal karna waktu istirahatnya terganggu. sudah putuskah urat sosialita nya?

kejadia di losmen itu membuat kinasih risih. bertepatan dengan kamarnya yang bersebelahan langsung dengan kamar yang disewa Kinasih, menjadikan Kinasih di cari petugas. SAKSI. sayangnya Kinasih malas bicara. dalam kasus ini, dia merasa tak memiliki wewenang apapun untuk menjelaskan sesuatu. demikian dialog yang terjadi antara kinasih dengan aparat :
POLISI : kejadian itu berlangsung lebih dari 4 jam, dan kamar anda bersebelahan dengan TKP. ada suara apa yang anda dengar nona Kinasih ?

KINASIH : saya tidak mendengar apapun.

POLISI : Sama sekali tidak mendengar apapun?

KINASIH : ya.

POLISI : tapi bagaimana mungkin, orang di kamar ujung itu bilang bahwa dia mendengarkan kegaduhan mulai dari jam 2 dini hari. sepantasnya anda yang berada di samping kamarnya persis lebih jelas mendengarnya.

KINASIH : saya tidur pulas.

POLISI : apakah anda mendengarkan musik melalui earphone?

KINASIH : tidak.

POLISI : atau anda terbiasa menyumbat telinga anda dengan kapas saat tertidur ?

KINASIH : tidak.

POLISI : lalu mengapa anda bisa tidak mendengar apapun, sementara semua orang disini mengatakan mendengar.

KINASIH : karna saya memang tidak mendengar.

POLISI : tapi itu tidak mungkin.

KINASIH : mungkin saja. semua kemungkinan bisa saja terjadi.

POLISI : siapa anda sebenarnya ?

KINASIH : di receptionis losmen sudah jelas siapa saya.

dan kinasih meninggalkan polisi penyidik itu dengan dingin saja. madu, semanis madu tatapannya pada si anak yang menjerit di dalam kamar kejadian itu. seorang anak usia 7-8 tahun, lelaki. Kinasih menitipkan salam padanya melalui receptionis losmen itu. dan melangkah keluar Losmen. menuju tujuan akhirnya, kompleks pemakaman umum.

sudah seminggu Kinasih berada di kota kecil ini. dan nyaris setahun sekali Kinasih kesini. di tanggal yang sama dengan minggu yang sama. Kinasih selalu mencari hari akhir yang pas dengan tanggal itu. tanggal dimana area pemakaman itu memanggilnya selalu. minta disambangi. sebuah nisam kelabu bertuliskan nama seorang perempuan : KINASIH. ya, Kinasih mendatangi makamnya sendiri setiap tahun pada tanggal kematiannya.

Kamis, 02 Februari 2012

KINASIH dan BEGRAS part. 4

" Kamu pernah pacaran gak ? " satu kalimat tanya yang meluncur dari suara milik Begras di seberang sana, mampu membuat Kinasih terdiam. seperti ada berpuluh-puluh plaster yang membungkam mulutnya. Banyak nama-nama yang terlintas di kebisuan itu, Nendra, Angki, Wisnu, Agung. Kinasih bukan tak pernah belajar berbagi, bukan tak pernah mencintai pria nyata. Kinasih bahkan beberapa kali pernah nyaris menikah, namun Nihil. selalu ada hal yang pada akhirnya menyadarkannya untuk membatalkan niatan suci itu. selalu ada, hal yang sama. dan berulang : Pangeran sepatu merah. Kinasih menyadari, apapun yang dilaluinya selama ini dia akan senantiasa menoleh kebelakang dan tidak menemukan apapun disana. Kinasih tau, bahwa selama ini dia hanya pura-pura bahagia. 

sejak pertanyaan itu hingga detik- detik berikutnya, Kinasih memilih jadi partisipan pasif dalam obrolan mereka. Begras bukan tak menyadari perubahan Kinasih, tapi Begras memahami Kinasih seperti dia memahami matahari terbit dan tenggelam di tempat yang sudah semestinya. Bagi Begras, Kinasih memiliki banyak hal yang dia sampaikan meski dengan kebisuannya. Diam atau bicara, Kinasih selalu memberikan arti yang melebihi perkiraannya. Begras sendiri kadang merasa muskil mendapati dirinya begitu tabah dan sabar dengan sifat aneh Kinasih, sifat yang mungkin akan membuat semua pria menghindarinya sejauh mungkin : Egois, Terlalu pintar, dan Pemaksa. Kinasih bukan perempuan yang sempurna, juga bukan perempuan yang hebat. Tapi Kinasih memiliki daya pikat seratus kali lebih kuat dibanding para perempuan sempurna diluar sana, atau para perempuan hebat yang pernah dkenalnya. 

Kinasih diam menatap layar HP nya yang terus-terusan berkedip. nomer asing, tapi Kinasih tau kira-kira siapa yang menelpon dibalik nomer asing itu. Beberapa tahun ini, Kinasih menampakkan wajah sumringahnya. menyatakan bahwa dia akan mencari hal yang selama ini tidak dia sadari telah hilang. menemukan sesuatu yang dia tidak sadari selama ini dia miliki. Kinasih berkelana, mulai dari ujung negara sampai tiba di ujung satunya lagi, dari satu kota hingga kembali ke kota awal lagi. Kinasih nyaris tidak menemukan apa-apa selain perasaan bahwa dia telah menyadari sesuatu tentang hidupnya. sebuah kepingan Mozaik yang tanpa sengaja diketemukannya melalui dunia maya : Begras, sang pangeran sepatu merah. namun akan diapakan jika Kinasih sendiri menyadari hal baru setelah penemuan itu : bahwa dia tidak ingin sama sekali mengungkapkan hal itu. Kinasih ragu, oleh segala hal yang berbau kepastian. dan sekarang, nomor di layar ponselnya itu mengabarkan sesuatu, ada dunia lain yang jauh lebih konkret menantinya dirumah. keluarganya, mengharapkan kepulangannya segera. meski kini baginya, Konsep Pulang kerumah tak lagi berarti sebuah keluarga. 

" rame banget sih, lagi ada hajatan yah di rumah kamu ? " sambil melumat lolipop strowberry nya Kinasih terkikik menanyakan pada Begras. " cuma arisan keluarga. mamaku bikin satu rumah repot semua " Kinasih diam. menyadari ada yang tidak beres dihatinya mendengar jawaban begras. sebuah keluarga. Ramai, repot dan saling menyulitkan. Konsep hidup yang sangat wajar. Bagi kinasih hal-hal seperti itu sangat sulit dimiliki. Kinasih hidup sendiri. tidur sendiri, makan sendiri, tengah malam sendiri, menyapu lantai rumah sendiri. hanya berbekal sebuah bisnis konsultasi Online Kinasih menghidupi dirinya sendiri pula. sendiri. dan keramaian di seberang membuat Kinasih tiba-tiba imun. menguap. perasaannya seperti menyublim. padat dan keras, kemudian hilang menjadi gas. tak berbekas. tanpa alasan Kinasih menutup percakapan. Begras tak ambil pusing. Sekali lagi, Begras mengenal Kinasih tanpa harus bertatap muka dengannya. 

di ruang tengah kinasih duduk menyilang kaki. tangannya menggenggam sebuah gelas crystal. menatap sekelilingnya. lalu melepaskan dengan sengaja gelas itu kelantai. Jatuh berkeping. Pecah. hatinya perang. sejuta gelas crystal yang mungkin bisa dia pecahkan hari ini, namun tak akan ada satu orang pun yang memprotesnya. tak ada satu manusiapun yang memarahinya. apa yang akan dia lakukan, hanya menjadi pemandangan bagi dirinya sendiri. lalu apa? setelah ini apa? Kinasih berlutut menggigil di sofa itu. kembali mendapati kesadaran baru : bahwa selama ini dia kesepian. tapi berusaha untuk mengingkarinya.