Selamat pagi. saya tau masih terlampau pagi untuk berkoar-koar disini. tapi pagi buat saya adalah segala semangat yang menggebu-gebu . pagi senantiasa memberi saya harapan baru untuk terus berani menatap hari ini. saya, selalu bahagia jika malam hari, karna dengan begitu saya akan semakin mendekati pagi meskipun saya harus melewati malam gelap yang dingin dan panjang.
sepagi ini saya mendapatkan hal yang sangat berbeda. hal yang menyakitkan namun membangkitkan semangat. jadi, daripada saya ingat sakitnya mending saya ambil semangatnya untuk bisa saya bagikan bersama kalian semua. dalam setiap kesempatan dengan berbagai macam ide yang muncul dalam benak kita, pikiran waktu dan hidup kita hanya bisa menampung dan melaksanakan satu ide saja. karna itu, lebih baik kita fokus dan jadikan satu ide tersebut positif.
impian, saya seringkali bilang sama kalian semua disini, di blog ini bahwa saya memiliki impian yang sangat besar. saya berani menatap impian saya meski dengan banyak cibiran dan tidak percaya dari banyak orang. buat saya, impian adalah cibiran-cibiran sinis tersebut. impian adalah batu terjal yang menghalangi saya, impian adalah rasa pesimisme dari orang lain pada saya, impian adalah hinaan dan cercaan. yah, karna berbagai macam hal buruk tersebut, maka dia bisa menjadi impian. Impian bukanlah hal-hal yang mengandung unsur keindahan semata. impian adalah kotor, bau,menjijikan dan menyakitkan. itulah impian. dan dengan kenyataan ini, saya masih tetap yakin untuk selalu bermimpi. bagaimana dengan kalian ?
dibalik tangis bayi yang lucu dan menggemaskan, ada peluh keringat, darah dan teriakan kesakitan ibunya. dibalik kepak sayap kupu-kupu yang cantik ada kepompong dan ulat yang menjijikkan. di balik buah yang manis dan menyegarkan, ada pupuk yang terbuat dari kotoran ternak untuk menyuburkannya. yah,begitulah. dibalik segala hal yang indah itu, ada begitu banyak hal-hal yang menjijikkan untuknya. karna hal itulah, maka dia layak untukdisebut impian. tapi jangan repot-repot untuk menangkis kesakitan tersebut. kita hanya perlu untuk selalu percaya,bahwa suatu hari kita akan melalui kesakitan-kesakitan itu. kita akan menggendong bayi setelah berteriak dan berdarah, kita akan mengepakkan sayap setelah bermetamorfosa menjadi kupu-kupu, dan kita akan memakan buah yang manis setelah kita mau bercampur dengan pupuk kotoran ternak ditangan. kita akan mendapatkan semua itu, setelah kita melaluinya dengan tetap percaya. Ada kekuatan besar yang senantiasa akan menyelamatkan kita dari keputus asaan. Tuhan.
lalu bagaimana jika ternyata kita merasa tidak kuat untuk melewati hal-hal menyakitkan tersebut? hanya perlu istirahat. menghela nafas. dan melihat keatas. merasakan bau orang-orang yang lebih dulu sukses diatas kita. hidup tidak akan lebih mudah di setiap detiknya. tapi kita akan mempermudah hidup jika kita memandang dari sisi yang lebih mudah. yaitu sebuah perjalanan. bayangkan kawans, jika kita terjebak badai di kilometer tertentu, lalu kita diam ditempat. menyerah untuk tidak melawan pada badai tersebut, maka selamanya kita akan berada di radius badai itu. maka apa yang harus kita lakukan, Pergi. terus berjalan, meskipun harus kita lawan badai hingga berdarah-darah. keluar dari badai dan jadilah pemenang.
saya tau, saya bukan orang yang tepat untuk bicara masalah meraih impian. karna sampai sekarangpun saya masih bermimpi. mungkin tujuan saya sendiri menulis ini semua bukan untuk menyemangati kalian, tapi justru menyemangati diri saya sendiri. tapi apa itu salah? apa haram untuk bisa menjadikan impian itu kenyataan? apa salah tetap teguh pada impian sementara kita sudah berdarah-darah dalam tingkat pencapaiannya? lalu mundur begitu saja setelah kita luka terkoyak sana sini? jika kita menemukan jalan buntu, kita sibuk mencari jalan lain di kanan, kiri atau balik ke belakang. kita lupa masih ada satu sisi yang tak tergapai karna terlalu mustahil untuk kita tempuh : atas. yah, jalur atas. mungkin benar, kita bisa berbalik jika menemui kebuntuan untuk kembali memulai semua dari awal. namun apa iya, kita akan selalu menjadi orang yang tidak kemana-mana.selalu kembali ke titik awal dan begitu seterusnya hingga kiamat? pilihan ada ditangan kita sendiri. pilihan beserta resikonya. dan resiko bukanlah musuh terbesar, tapi justru teman yang setia. akan selalu mengikuti kemanapun kita pergi. maka jadikanlah resiko sahabat, kawan berbagi.
siapapun orangnya yang mencibir dan menganggap mustahil akan pencapaian impian kita adalah pupuk bagi buah kita yang manis. maka carilah banyak-banyak pupuk untuk menyuburkan pertumbuhan buah kita. niscaya, cibiran itu tidak lagi menyakitkan bagi kalian, tapi justru menumbuhkan semangat.dan pesimisme mereka untuk kita adalah gelombang insulin dalam darah bagi para penderita diabetes. jangan berkecil hati, karna sesungguhnya kita memiliki banyak kesanggupan untuk terus berjalan menapaki setiap tangga yang membawa kita pada impian yang sesungguhnya.
disini saya tidak menjual mimpi, tapi saya yakin seandainya pun impian bisa dijadikan dagangan maka hanya orang-orang yang memiliki jiwa petarung yang bisa membelinya.karna impian tidak seharga rupiah, tapi peluh keringat dan tetes demi tetes keyakinanlah yang harus kita bayarkan untuk menebusnya.jadi, janganlah takut untuk bermimpi. kecuali pagi sudah tidak ada lagi cahaya dan nafas kalian sudah habis tersisa di kerongkongan. untuk menjadi bahagia, kita hanya perlu melewati rintangan dan mendapati impian kita sudah menanti didepan mata.selamat mencoba.
Rabu, 15 Februari 2012
KINASIH dan BEGRAS part. 10
Pagi itu memang panas, tapi Kinasih perlu sepuluh jaket tebal untuk menghilangkan rasa dingin di hatinya. Kinasih memerlukan berjuta pelengkap yang akan membuat dia semakin banyak mencari. Seperti saat ini, Kinasih memulai ritual paginya dengan membuka buku-buku usang miliknya. memilih bacaan apa saja yang akan dibacanya ( lagi ) hari ini. Lalu mengambil handuk, mandi, sarapan pagi, dan langsung memilih posisi santai di depan kebun kecil rumahnya.posisi yang menurut Kinasih sangat strategis untuk mengintip anak-anak sekolah yang berangkat terlambat atau justru memang membolos berdesakan di halte depan rumahnya. Lalu senyum-senyum sendiri menatap mata para pelajar yang penuh dengan nyala semangat. Kinasih mengingat-ingat lagi, kapan terakhir kalinya dia memiliki pancaran semangat itu?
Sudah nyaris tiga tahun ini hidupnya sempurna. setidaknya minimal definisi berdiri dan menjejak tanah telah dia dapatkan dalam kurun 3 tahun ini. Kinasih tidak mengenal siapapun di lingkungannya selain ketua RT dan RW yang dengan senang hati membuatnya terlapisi keamanan ketat di lingkungan itu. Kinasih juga tidak memiliki aktivitas terikat apapun dengan siapapun, kegiatan sehari-harinya hanyalah menyapa para penanya yang setia mampir di web nya, lalu mengalirlah rupiah ke rekening pribadinya setiap kali orang di belahan dunia entah mana menekan satu kali klik pada web miliknya. Kinasih memuaskan hasrat membaca novelnya yang selama berpulu tahun terhisap oleh kewajiban membaca buku pelajaran demi mendongkrak nilai sekolah agar dapat dibanggakan orang tuanya pada arisan keluarga di hari minggu. namun Kinasih lupa, bahwa sejatinya, dia justru kehilangan sesuatu yang sangat berharga bagi dirinya selama ini. sesuatu yang dia sadari telah hilang, dan disadarinya pula tak akan pernah dapat didapatkannya lagi. Kinasih kehilangan, tanpa sempat mencecapnya selama memiliki.
dari semua kebiasaannya itu, ada satu kebiasaan yang paling Kinasih sukai. Yaitu belanja pagi ke pasar tradisional. Kinasih mencintai tanah becek yang menempel di sandal japitnya, juga mencintai bau-bau menyengat di tengah tukang daging, atau bahkan mencintai suara teriakan cempreng ibu penjual bawang merah di los tengah pasar. tapi pagi ini, rasa cinta pada hal-hal tersebut mendadak tereliminasi oleh rasa yang jauh lebih dahsyat. lebih besar. Di depannya, seorang pria bercelana pendek cokelat dengan menenteng kresek belanjaannya memandang Kinasih lekat. seperti pisau daging yang siap mencacah mata Kinasih. Keduanya diam, saling bicara dari tatapan matanya, tanpa perlu berkata-kata. tanpa perlu satu suara. bahkan tanpa satu aksarapun meluncur di bibir mereka. diam.
Kinasih menunduk mengaduk delas cendol yang sudah teraduk dengan kompisisi sempurna. Saputra menatapnya lama. gemas, marah, tapi rindu.
" oke, mengheningkan cipta selesai " Saputra makin tak sabar dengan kondisi saling diam ini. Kinasih bahkan tak memandang matanya sama-sekali.
" kamu ngapain disini ? " oh, Damn. dari sekian banyak pertanyaan, kenapa pertanyaan bodoh itu yang justru aku pilih untuk sebuah awal pembicaraan. Kinasih mengumpat. Saputra mengangkat kresek berisi belanjaan sebagai jawabannya.
" Kamu, aku gak liat kamu belanja apa-apa ?"
" aku memang gak mau belanja kok ? "
" terus mau ngapain? "
" cuma jalan aja" Saputra mengangguk mahfum. didepannya ini perempuan yang sangat menyukai hal remeh. Kinasih Larasati, pacarnya yang sampai sekarang masih berstatus pacar tapi tiba-tiba menghilang dari peredaran selama lebih dari 4 tahun. dan keduanya bertemu di sebuah pasar tradisional kumuh di ibu kota, untuk sekedar membicarakan ' kamu ngapain disini '. sebuah hal yang menurutnya amat tidak rasional, tapi justru sangat masuk akal. Saputra mengusap wajahnya. berharap setelah membuka usapannya itu, dia kembali menemukan Kinasih yang ceria dan banyak kata.
" kamu tinggal di sekitar sini ? " Kinasih akhirnya menemukan kalimat tanya yang pas. saputra menggeleng.
" di daerah Bintaro "
" Bintaro? trus ngapain kamu belanja pagi disini ? " Kinasih memutar bola matanya jenaka. nyaris sama seperti dulu. tapi sayangnya, Saputra tidak mendapati bola mata yang sama lagi. tatapan berisikan semangat sudah nyaris hilang di kerlingannya.
" aku sering kesini memang kok. Wortel disini bagus. seger-seger "
" bisa bikin kamu jadi ngeliat warna baju dalem bule radius 10 kilo? " saputra terbahak. Kinasih bangga masih bisa membohongi saputra dengan guyonan khas jaman kuliahnya dulu. sayangnya, Saputra tau Kinasih hanya mengulang masa kejayaan jaman kuliah, tanpa menggunakan semangatnya.
" Kin, kamu banyak berubah "
" jadi apa? Ranger Pink ? "
" serius Kin "
Kinasih menekuk muka mendekati piring makannya. Saputra makin penasaran. Banyak hal yang pasti terlewati olehnya selama 4 tahun menghilangnya perempuan unik ini. Kinasih mneyadari dia berhadapan dengan pria yang mengenal dirinya jauh lebih dalam dari pada dia sendiri. Kinasih tau, ada moncong senjata di depan matanya tiap kali menyadari Kinasih mencoba menipunya dengan kerlingan jenaka jaman dulu. Kinasih tau, sangat tau. sayangnya, Kinasih tak tau harus melakukan apa lagi didepan Saputra hari ini.
" aku ada kerjaan. kapan-kapan kita ngobrol-ngobrol lagi yah " Kinasih ingin melesat secepat cahaya. Saputra yang telah menduga reaksi Kinasih lebih tangkas dari detektif manapun. ikut berdiri dan menguntit kemana Kinasih berjalan. Bagai dua orang yang terkait lem madu, mereka berjalan beriringan. Kinasih seperti terkena diabetes begitu menyadari Saputra tidak akan begitu saja melepaskan pertemuan kali ini. Maka, demi menyelamatkan alamat tempat tinggalnya, Kinasih terpaksa duduk di pinggiran pos satpam dekat pasar. Saputra berdiri didepannya.
" Kin, kita harus bicara. setidaknya aku harus tau tempat tinggalmu, atau nomer hp mu. " Kinasih menggeleng tegas. tidak akan ada satupun manusia dari masalalunya menghalangi kebebasannya kini. tidak akan ada debu masalalu sedikitpun di kisah hidupnya kini. keputusan harus dibuat. mau tak mau. suka tak suka.
" sapu, maaf... " Kinasih mengambil ancang-ancang lari. Saputra lebih sigap. menangkap tangan Kinasih dan menggenggamnya erat. Umpan telah tergigit ikan. Kinasih tersenyum menerima reaksi naif saputra. " tolong, saya mau diperkosa" teriakan Kinasih sontak membuat semua orang yang ada disekitar pos satpam kalap, kebudayaan yang membuat Kinasih tau bahwa cukup dengan satu teriakan dan bukti kecil, masyarakat akan dengan mudahnya menyelesaikan masalah Kinasih. saputra habis dikeroyok massa. Kinasih lari sambil menangis.
sudah lama aku ingin menghilang dari semuanya. juga dari kamu. dari segalakenangan tentang kamu dan siapapun di masa lalu. jadi, seandainya setelah ini kamu tetapmemaksa untuk mencariku, maka aku mungkin tak akan pernah rela untuk mengenakan wajah yang sama lagi didepanmu.
Kamis, 09 Februari 2012
KINASIH dan BEGRAS part. 9
Koran terbitan 4 tahun lalu itu tergeletak di meja makan. subuh tadi diantar seorang pengamen langganan Kinasih. sayangnya, ada satu halaman yang sudah menjadi perca. tergunting-gunting seperti prakarya TK. Kinasih asyik menempel, merangkai dan membuat sketsa dengan potongan-potongan kertas koran pada halaman 5. matanya terus mengerjap-ngerja tanda lelah. tapi bukan Kinasih jika dia menyerah untuk menunda hal mengasyikkan ini. padahal sudah lebih dari 4 jam Kinasih duduk di lantai dekat meja makan itu, ditemani gunting, kanvas, cat minyak, lem dan beberapa alat ketrampilan lainnya. Kinasih masyuk dengan kegiatannya sendiri.
" aku mau kirim kejutan buat kamu ya. aku bikin sendiri. Sore ini atau besok pagi aku kirim kerumah kamu " sambil mengoleskan warna merah dengan jarinya ke kanvas, Kinasih mengunyah roti sembari bicara ditelpon. Begras mesam-mesem. Aku gak tau seperti apa wajahmu, Kinasih. tapi aku seperti benar-benar melihatmu kesulitan bicara karna begitu penuhnya isi mulutmu. seksi, dan berkelas sekali. " kamu ngomong apa kumur-kumur sih? dihabisin dulu ih makannya" Kinasih terbahak. muncrat semua remah roti dari mulut nya. mengenai kanvas yang sedengan di garap. warna merah itu kini bertambah ornamen titik-titik putih ke cokelatan berupa remah roti. " hahahahaha, kamu tau? itu orisinil banget tau gak? makan sampe muncrat gara-gara ketawa. udah lama saya gak tersedak. selama ini saya selalu fokus kalo lagi makan. hal-sesederhana makan akhirnya jadi berat ketika kita menganggapnya sakral. akhirnya, saya sendiri sering lupa apa sebenarnya hakekat makan"
kejutan yang dimaksud Kinasih datang sore hari. melihat dari bentuknya, Begras sudah tau apa isinya. Lukisan. Hati Begras kebat-kebit. untuk seorang maestro lukis seperti Kinasih, kejutan yang khusus dibuatkan untuknya jelas bukan lukisan sembarangan. Begras merangsek lukisan itu. merobek kertas kartonnya. bunyi gesekan kertas memenuhi segenap gendang telinganya.sebuah kain tipis berwarna merah. dengan sebuah amplop kecil menempel di tengahnya menutupi seluruh permukaan lukisan itu. " gantung dulu, baru kamu buka kain ini. begitu cara kau bisa melihat apa yang aku maksudkan " Begras terkekeh melipat isi amplop itu. selalu berdebar Kinasih, dekat denganmu memang harus menyediakan dokter ahli jantung khusus. dibuat selalu berdebar lebih scepat dari seharusnya jantungku ini.
Begras memaku di depan dinding cokelat kamarnya. matanya nanar menatap lukisan yang tertempel disana.kain tipis merah terinjak tak simetris di bawahnyalukisan itu menyergapnya. warna merah dan potongan-potongan kertas yang ditempel berupa alur lingkaran pada buih danau. berputar dan semakin mengecil. potongan perca koran itu, Begras belum memahami apa maksudnya, tapi tertata dengan sangat tepat hingga dia tau, Kinasih bukan tanpa sebab menatanya demikian. Warna merah yang bercampur titik cokelat memberi kesan kekuatan maha dahsyat dala potongan koran itu. Begras menatap diam, tiba-tiba samurai huruf dalam koran itu merangkai maksud Kinasih. menggenapkan pertanyaannya. peristiwa itu, terulang sekali lagi dalam benaknya. mengikuti alur yang Kinasih tempel dengan sangat pas. menampilkan video masalalunya.
Begras berdiri berpegangan pada gantungan metromini. Seragam sekolahnya sudah tak beraturan. jalanan macet. lampu merah pasar rumput memang senantiasa memberi uji kesabaran pada para pengguna di jalanan. terlebih di jam-jam tertentu seperti ini. Begras kembali menengok jam tangannya. sudah terlambat 5 menit dari pelajaran pak Togat. maka, bukan tak mungkin dia akan terlambat lebih dari 15 menit dan dinyatakan membolos hari ini. sekolahnya masih harus melewati dukuh atas yang juga pasti sangat macet. bunyi klakson menyalak sana-sini. metromini merayap pelan. Hingga sampai di seberang Latuharhari, jalanan lenggang. Begras dan semua penghuni metromini lega. tak jadi membolos dia. metromini itu ngebut kesetanan. penumpang yang turun di tengah jalan bahkan tak diberi kesempatan untuk berdiri tegak di aspal. tancap terus. Begras geleng-geleng kepala.tradisi melompat itu sudah mengakar pada sejumlah mengguna angkutan umum. tiba-tiba seorang kakek berdiri sempoyongan dari duduknya, terbata memberi kode stop pada sopir.metromini terus jalan. si kakek sekali lagi mengetuk dengan gemetar atap metromini.sayangnya sopir sedang mabuk jalan lenggang " nanti saja di depan Kek. kalau memang mau turun di sini, kenata tak kau ikut tadi turun di halte sebelumnya. kau pikir metromini taksi, yang bisa berhenti didepan pintu rumah kau? Penghuni metromini diam. sudah terlalu jauh si kakek dari pemberhentiannya. Begras mengetuk tangannya, " kiri bang, stop " sopir metromini itu makin ngebut. sekali lagi begras mengetuk atap, metromini makin ngebut. akhirnya dengan segenap tenaga, Begras memukul atap metromini, dan melempar tas pada sopir itu dan memecahkan kaca dengan sekali pukul. sopir itu menginjak rem mendadak. Begras maju kedepan, mencengekeram leher sopir " kau balik ketempat si kakek tadi mau turun" sopir itu melotot. sebagai orang medan, harga dirinya jatuh di ancam bocah ingusan berseragam itu. dengan menggenggam belati dia mendorong Begras hingga tersungkur. berdarah. melihat Begras jatuh, seluruh penumpang mengeroyok si sopir. dan jadilah berita koran itu. berita yang mengabadikan nama Begras di tahun itu.
kembali Begras menatap lukisan didepannya. menyadari satu hal, bahwa Kinasih bukan sembarang orang.bukan sembarang pelukis.
" aku mau kirim kejutan buat kamu ya. aku bikin sendiri. Sore ini atau besok pagi aku kirim kerumah kamu " sambil mengoleskan warna merah dengan jarinya ke kanvas, Kinasih mengunyah roti sembari bicara ditelpon. Begras mesam-mesem. Aku gak tau seperti apa wajahmu, Kinasih. tapi aku seperti benar-benar melihatmu kesulitan bicara karna begitu penuhnya isi mulutmu. seksi, dan berkelas sekali. " kamu ngomong apa kumur-kumur sih? dihabisin dulu ih makannya" Kinasih terbahak. muncrat semua remah roti dari mulut nya. mengenai kanvas yang sedengan di garap. warna merah itu kini bertambah ornamen titik-titik putih ke cokelatan berupa remah roti. " hahahahaha, kamu tau? itu orisinil banget tau gak? makan sampe muncrat gara-gara ketawa. udah lama saya gak tersedak. selama ini saya selalu fokus kalo lagi makan. hal-sesederhana makan akhirnya jadi berat ketika kita menganggapnya sakral. akhirnya, saya sendiri sering lupa apa sebenarnya hakekat makan"
kejutan yang dimaksud Kinasih datang sore hari. melihat dari bentuknya, Begras sudah tau apa isinya. Lukisan. Hati Begras kebat-kebit. untuk seorang maestro lukis seperti Kinasih, kejutan yang khusus dibuatkan untuknya jelas bukan lukisan sembarangan. Begras merangsek lukisan itu. merobek kertas kartonnya. bunyi gesekan kertas memenuhi segenap gendang telinganya.sebuah kain tipis berwarna merah. dengan sebuah amplop kecil menempel di tengahnya menutupi seluruh permukaan lukisan itu. " gantung dulu, baru kamu buka kain ini. begitu cara kau bisa melihat apa yang aku maksudkan " Begras terkekeh melipat isi amplop itu. selalu berdebar Kinasih, dekat denganmu memang harus menyediakan dokter ahli jantung khusus. dibuat selalu berdebar lebih scepat dari seharusnya jantungku ini.
Begras memaku di depan dinding cokelat kamarnya. matanya nanar menatap lukisan yang tertempel disana.kain tipis merah terinjak tak simetris di bawahnyalukisan itu menyergapnya. warna merah dan potongan-potongan kertas yang ditempel berupa alur lingkaran pada buih danau. berputar dan semakin mengecil. potongan perca koran itu, Begras belum memahami apa maksudnya, tapi tertata dengan sangat tepat hingga dia tau, Kinasih bukan tanpa sebab menatanya demikian. Warna merah yang bercampur titik cokelat memberi kesan kekuatan maha dahsyat dala potongan koran itu. Begras menatap diam, tiba-tiba samurai huruf dalam koran itu merangkai maksud Kinasih. menggenapkan pertanyaannya. peristiwa itu, terulang sekali lagi dalam benaknya. mengikuti alur yang Kinasih tempel dengan sangat pas. menampilkan video masalalunya.
Begras berdiri berpegangan pada gantungan metromini. Seragam sekolahnya sudah tak beraturan. jalanan macet. lampu merah pasar rumput memang senantiasa memberi uji kesabaran pada para pengguna di jalanan. terlebih di jam-jam tertentu seperti ini. Begras kembali menengok jam tangannya. sudah terlambat 5 menit dari pelajaran pak Togat. maka, bukan tak mungkin dia akan terlambat lebih dari 15 menit dan dinyatakan membolos hari ini. sekolahnya masih harus melewati dukuh atas yang juga pasti sangat macet. bunyi klakson menyalak sana-sini. metromini merayap pelan. Hingga sampai di seberang Latuharhari, jalanan lenggang. Begras dan semua penghuni metromini lega. tak jadi membolos dia. metromini itu ngebut kesetanan. penumpang yang turun di tengah jalan bahkan tak diberi kesempatan untuk berdiri tegak di aspal. tancap terus. Begras geleng-geleng kepala.tradisi melompat itu sudah mengakar pada sejumlah mengguna angkutan umum. tiba-tiba seorang kakek berdiri sempoyongan dari duduknya, terbata memberi kode stop pada sopir.metromini terus jalan. si kakek sekali lagi mengetuk dengan gemetar atap metromini.sayangnya sopir sedang mabuk jalan lenggang " nanti saja di depan Kek. kalau memang mau turun di sini, kenata tak kau ikut tadi turun di halte sebelumnya. kau pikir metromini taksi, yang bisa berhenti didepan pintu rumah kau? Penghuni metromini diam. sudah terlalu jauh si kakek dari pemberhentiannya. Begras mengetuk tangannya, " kiri bang, stop " sopir metromini itu makin ngebut. sekali lagi begras mengetuk atap, metromini makin ngebut. akhirnya dengan segenap tenaga, Begras memukul atap metromini, dan melempar tas pada sopir itu dan memecahkan kaca dengan sekali pukul. sopir itu menginjak rem mendadak. Begras maju kedepan, mencengekeram leher sopir " kau balik ketempat si kakek tadi mau turun" sopir itu melotot. sebagai orang medan, harga dirinya jatuh di ancam bocah ingusan berseragam itu. dengan menggenggam belati dia mendorong Begras hingga tersungkur. berdarah. melihat Begras jatuh, seluruh penumpang mengeroyok si sopir. dan jadilah berita koran itu. berita yang mengabadikan nama Begras di tahun itu.
kembali Begras menatap lukisan didepannya. menyadari satu hal, bahwa Kinasih bukan sembarang orang.bukan sembarang pelukis.
Rabu, 08 Februari 2012
KINASIH dan BEGRAS part. 8
" pameran lukis??? " Kinasih bertanya menjerit hingga Begras harus menjauhkan hp dari telinganya. " Kapan, siapa aja pelukisnya ?" Kinasih sudah berdiri menggigiti jempol kanannya. Be, bolehkah aku ikut? bolehkan aku menjadi salah satu peserta pameran? dan bolehkah aku datang? Begras tertawa mendengar Kinasih antusias " kamu tau gak, kamu jauh lebih antusias dari ketua panitia sama para pelukisnya. mau ikutan ngirim lukisan? " . Seperti balon gas Kinasih terbang ke awang-awang. Iya Be, aku ingin ikut pameran. aku ingin lukisanku berada di tangan yang tepat. Kinasih sudah menggigiti bibirnya kini.
Begras bengong ketika tujuh lukisan ada dirumahnya. Kinasih tertulis sebagai pengirim tanpa alamat disitu. gemetar Begras mengambil HP nya. dijawab pada deringan yang pertama. Kinasih siap menghadapi semburan Begras, sesiap tentara Troya menghadapi seribu pasukan Yunani. meskipun Kinasih pun tau bahwa Begras akan mengangsurkan banyak pertanyaan, setau Hector bahwa dia akan mati di tangan Archilles. " kamu ngirim aku Lukisan? tujuh lukisan?" kinasih mengiyakan. Begras makin resah
" Lukisan siapa ? "
" sahabat terbaikku "
" inisialnya Kins, seperti nama kamu "
" boleh saja kalau memang kamu mau menganggapnya begitu "
" lalu jika lukisan itu terjual? "
" kamu boleh ambil setengahnya. Setengahnya lagi, kirimkan lewat rekeningku "
" setengahnya? kenapa bisa begitu? "
" jelas saja karna kamu yang membuatnya terjual"
" lukisan ini dahsyat, ketujuh-tujuhnya. kalaupun bukan aku, orang lain pun bisa dengan mudah menjualnya "
" siapapun yang menjualkannya, dia berhak atas separuh harga penjualan "
" berapa sahabatmu akan menjual lukisannya? "
" masing-masing sembilan juta rupiah "
" dan aku mendapatkan setengahnya atas satu lukisan ? "
" tentu saja "
" gila "
" kenapa gila ? "
" pelukis mana yang membiarkan setengah dari hasil jual lukisannya pada orang lain ?"
" bukan pada orang lain, tapi pada si agen"
" jawablah Kinasih, siapa pelukis itu "
" sahabat terbaikku "
" siapa namanya ?"
" Larasati "
" wow, dia perempuan ?"
" ya, tentu saja "
" aku pikir pria "
" kenapa begitu ?"
" lukisannya luar biasa. gak nyangka aja ada perempuan yang bisa melukis sebagus ini? "
" ah, kamu diskriminatif gender "
Begras sontak menyemburkan tawa nya keras-keras. Lupa akan begitu banyak pertanyaan yang mampir di benaknya. lalu keduanya larut dalam berbagai macam obrolan.
seminggu setelah pameran Lukisan dibuka, Begras kembali menanyakan pada Kinasih tentang si pelukis. Kinasih menjawab sekedarnya. Sudah dua lukisan Larasati terjual, praktis begras sudah mengantongi sembilan juta rupiah tanpa melakukan apapun. Harga dirinya runtuh . Begras ingin mengetahui siapa Larasati. tak akan pernah dibiarkannya seorang perempuan memberinya uang sebegitu besar tanpa dia bekerja keras sebelumnya.
" sudah ada dua yang terjual , Kinasih "
" syukurlah. sesuai harga "
" bahkan awalnya si pembeli ingin membeli dengan harga yang lebih"
" yang mana ? "
" yang berjudul Oddyseus dan Helena "
Kinasih bergetar. dia ingat betul proses pembuatan kedua lukisan nya itu. oddyseus lahir di sebuah pasar radisional dengan latar suara tawar menawar khas jawa. dan Helena utuh di bawah rok si Nyonya besar, menara Eiffel. dan keduanya kini sudah berada di tangan yang mencintai mereka. Kinasih menggigit-gigit bibirnya lagi.
empat hari setelah obrolan itu, seluruh lukisan Larasati laku terjual. Ketujuh-tujuhnya. Panitia pameran untung besar. Begras mabuk rupiah. dia baru pernah mendapatkan uang sebegini banyak dalam hidupnya. antara percaya dan tidak.
" sudah laku semua"
" wow, cepat sekali "
" untuk lukisan sebagus itu, sebelas hari termasuk lama, Kinasih "
" makasih ya Begras. sampaikan juga sama teman-teman panitia yang lain "
" mana nomor Rekeningnya? "
" dicatat "
Begras mengambil pensil. mendengarkan dengan khidmat.
" udah ? "
" ya. sudah. sore ini langsung aku transfer yah. Atas nama siapa ? larasati ?
" ya. Larasati"
seperti helium Kinasih menjawab pertanyaan terakhir Begras.
Tangan Begras gemetar ketika mesin ATM memberikan jawaban atas pertanyaannya selama ini. ragu-ragu kembali Begras mengulang nomer rekening yang diberikan Kinasih. sebelum menekan enter Begras kembali mengulang menatap satu persatu angka dari kertas ke layar monitor. dan nama itu muncul sebagai pemilik rekening ketika kembali Begras menekan Enter di mesin uang. KINASIH LARASATI.
Begras bengong ketika tujuh lukisan ada dirumahnya. Kinasih tertulis sebagai pengirim tanpa alamat disitu. gemetar Begras mengambil HP nya. dijawab pada deringan yang pertama. Kinasih siap menghadapi semburan Begras, sesiap tentara Troya menghadapi seribu pasukan Yunani. meskipun Kinasih pun tau bahwa Begras akan mengangsurkan banyak pertanyaan, setau Hector bahwa dia akan mati di tangan Archilles. " kamu ngirim aku Lukisan? tujuh lukisan?" kinasih mengiyakan. Begras makin resah
" Lukisan siapa ? "
" sahabat terbaikku "
" inisialnya Kins, seperti nama kamu "
" boleh saja kalau memang kamu mau menganggapnya begitu "
" lalu jika lukisan itu terjual? "
" kamu boleh ambil setengahnya. Setengahnya lagi, kirimkan lewat rekeningku "
" setengahnya? kenapa bisa begitu? "
" jelas saja karna kamu yang membuatnya terjual"
" lukisan ini dahsyat, ketujuh-tujuhnya. kalaupun bukan aku, orang lain pun bisa dengan mudah menjualnya "
" siapapun yang menjualkannya, dia berhak atas separuh harga penjualan "
" berapa sahabatmu akan menjual lukisannya? "
" masing-masing sembilan juta rupiah "
" dan aku mendapatkan setengahnya atas satu lukisan ? "
" tentu saja "
" gila "
" kenapa gila ? "
" pelukis mana yang membiarkan setengah dari hasil jual lukisannya pada orang lain ?"
" bukan pada orang lain, tapi pada si agen"
" jawablah Kinasih, siapa pelukis itu "
" sahabat terbaikku "
" siapa namanya ?"
" Larasati "
" wow, dia perempuan ?"
" ya, tentu saja "
" aku pikir pria "
" kenapa begitu ?"
" lukisannya luar biasa. gak nyangka aja ada perempuan yang bisa melukis sebagus ini? "
" ah, kamu diskriminatif gender "
Begras sontak menyemburkan tawa nya keras-keras. Lupa akan begitu banyak pertanyaan yang mampir di benaknya. lalu keduanya larut dalam berbagai macam obrolan.
seminggu setelah pameran Lukisan dibuka, Begras kembali menanyakan pada Kinasih tentang si pelukis. Kinasih menjawab sekedarnya. Sudah dua lukisan Larasati terjual, praktis begras sudah mengantongi sembilan juta rupiah tanpa melakukan apapun. Harga dirinya runtuh . Begras ingin mengetahui siapa Larasati. tak akan pernah dibiarkannya seorang perempuan memberinya uang sebegitu besar tanpa dia bekerja keras sebelumnya.
" sudah ada dua yang terjual , Kinasih "
" syukurlah. sesuai harga "
" bahkan awalnya si pembeli ingin membeli dengan harga yang lebih"
" yang mana ? "
" yang berjudul Oddyseus dan Helena "
Kinasih bergetar. dia ingat betul proses pembuatan kedua lukisan nya itu. oddyseus lahir di sebuah pasar radisional dengan latar suara tawar menawar khas jawa. dan Helena utuh di bawah rok si Nyonya besar, menara Eiffel. dan keduanya kini sudah berada di tangan yang mencintai mereka. Kinasih menggigit-gigit bibirnya lagi.
empat hari setelah obrolan itu, seluruh lukisan Larasati laku terjual. Ketujuh-tujuhnya. Panitia pameran untung besar. Begras mabuk rupiah. dia baru pernah mendapatkan uang sebegini banyak dalam hidupnya. antara percaya dan tidak.
" sudah laku semua"
" wow, cepat sekali "
" untuk lukisan sebagus itu, sebelas hari termasuk lama, Kinasih "
" makasih ya Begras. sampaikan juga sama teman-teman panitia yang lain "
" mana nomor Rekeningnya? "
" dicatat "
Begras mengambil pensil. mendengarkan dengan khidmat.
" udah ? "
" ya. sudah. sore ini langsung aku transfer yah. Atas nama siapa ? larasati ?
" ya. Larasati"
seperti helium Kinasih menjawab pertanyaan terakhir Begras.
Tangan Begras gemetar ketika mesin ATM memberikan jawaban atas pertanyaannya selama ini. ragu-ragu kembali Begras mengulang nomer rekening yang diberikan Kinasih. sebelum menekan enter Begras kembali mengulang menatap satu persatu angka dari kertas ke layar monitor. dan nama itu muncul sebagai pemilik rekening ketika kembali Begras menekan Enter di mesin uang. KINASIH LARASATI.
KINASIH dan BEGRAS part. 7
Begras tertawa hingga gulingnya jadi sasaran pukulan. mukanya memerah sambil tak lepas geleng-geleng kepala. diseberang, Kinasih sibuk bersenam lidah, menyuruh Begras diam. selalu seperti itu, salah satu dari mereka akan membuat yang lain tertawa. selalu saja ada bahan yang bisa dijadikan lelucon. tiba-tiba Kinasih mendengar suara perempuan memanggil Begras. Bukan suara ibunya, bukan pula adik perempuannya. Kinasih hafal semua suara penghuni rumah Begras tanpa harus pernah kesana. " ada siapa Be ? " Begras bangun dari tempat tidur. tetap menempelkan Hp nya di telinga kiri. melongok keluar kamar, menjawab sapaan itu " yo Wi. bentar. 10 menit lagi Gue keluar " Begras kembali fokus pada Kinasih. " sepupu dari Bandung dateng, eh terus gimana tadi ? " Kinasih kembali melanjutkan ceritanya. selang beberapa menit tawa Begras kembali muntah. bahkan kini hingga terbatuk-batuk. Sepupu dari Bandung itu penasaran mendengan suara tawa Begras. masuk tanpa permisi, mengagetkan Begras. " Buset, elu Wi masuk gak ketuk-ketuk " sepupu itu nyengir. Kinasih jengah. " mau aku tutup dulu telponnya? " Begras merasa itu kebijaksanaan yang tepat. sedetik sebelum sambungan ditutup Kinasih bertanya " boleh nebak nama saudara kamu? Pratiwi ?" lagi-lagi Begras terbahak " dasar dukun " .
setelah telephone ditutup Kinasih membanting tubuhnya ke kursi malas dibalkon kamarnya. menatap lurus kearah pohon rambutan yang tumbuh lebat di rumah tetangga depan. aku bukan dukun Be, tapi aku tau dari rasa yang merambatiku. aku benci nama Pratiwi. sebenci aku dengan paprika.Kinasih beringsut melorot dari duduknya. setengah badannya sudah dilahap oleh sofa. perlahan Kinasih memeluk lutut, menggigil di tengah merahnya langit petang itu.
" kenapa sih mbak, kamu selalu berusaha menyalahkan orang tua atas apa yang kamu alami sekarang? " Pratiwi menatap Kin sayu. Kin makin benci. dia, Pratiwi, tidak akan pernah bisa merasakan apa yang dirasakannya " untuk anak perempuan seperti kamu, yang hidupnya bergelimang perhatian dari orang tua. tidak akan pernah bisa membuat aku menjawab pertanyaan kamu. kita berada di voltase yang berbeda " Pratiwi masih tak mau kalah " mbak, mencobalah untuk dekat dengan orang tua. bersikap baiklah terhadap mereka. bicaralah dengan lemah lembut " Kin makin muak. dengan bergegas di tinggalkan perempuan muda itu sendiri dikamarnya. Kin mengumpat. membanting pintu kamarnya dengan gemas.
Be, aku tak pernah bisa melupakan siang itu. entah apa namanya, tapi radar penolakan selalu berbunyi jika aku berdekatan dengan setiap orang yang bernama Pratiwi. Kinasih makin menelungkup seperti udang. langit makin merah, dan hatinya pun marah.
Kin berteriak histeris ketika satu lagi piala kebanggaannya jatuh dan terbelah jadi tiga. hatinya ikut terbelah. dilantai itu sudah ada lebih dari sepuluh piala yang hancur. rumah Kin tak ada gempa.juga tak ada angin ribut. piala itu hancur bukan tanpa alasan. ada dewa shiwa mengunjungi kamarnya, menghancurkan isi lemari kesayangan Kin. nyaris lebih dari 100 piala kejuaraan melukis Kin ada didalamnya. Dan shiwa itu merasuk dalam tubuh ayahnya. Kin merosot dilanai, meraupi satu demi satu kepingan piala yang telah hancur. Kin serasa memunguti hatinya sendiri. menatap perjuangan keras yang dengan sekali hentak hancur oleh tangan baja ayahnya. tidak, sakitnya tidak lagi ada di relung hati tapi sudah mulai merasuk kedalam darah. mengalir deras membanjiri tubuhnya. Ibunya ikut menangis menyaksikan Kin masih berusaha menyelamatkan piala yang tengah hancur. lagi ayahnya kembali kekamar itu. kali ini membawa linggis. Kin gemetar menyadari tujuan perusakan selanjutnya. lemari sudut yang lain. Tidak, nyawaku disana. Lukisanku. Kin sontak berdiri. ayahnya siap menghentakkan linggis itu ke pintu lemari. Kin jauh lebih cepat, menerjang menghalangi pembobolan. terlambat ! linggis sudah terdorong tenaga super sonic ayahnya. Kin membiarkan Linggis itu mengenai paha kirinya, memuncratkan darah. warna merah paling sempurna.
Kinasih masih menggigil mengenang itu semua. tubuhnya berkeringat. dirabanya jahitan panjang di paha kiri kakinya. rasa sakit muncul di organ dalam. hati yang tersayat-sayat.
" Kin janji akan jadi juara kelas lagi Yah. Kin janji " Kin memegangi paha kiri yang banjir darah. ibunya sudah datang dengan membawa banyak kain. tetesan darah sudah sampai di kaki ayahnya. Linggis sudah tergeletak jatuh. Kin masih merapal kalimat " jangan di hancurkan lagi yah. Kin janji " segalanya berakhir sudah sejak saat itu. hatinya sebeku linggis itu. Kin belajar seperti robot. tak ada ruang untuk dibiarkan imajinasi mengganggu waktunya.nilai-nilai memuaskan selalu Kin dapatkan. Beasiswa kuliah di perancis dan All England menari di meja makannya. prestasinya gemilang, namun sayang hidupnya tak lagi sama. tak ada keluarga lagi dalam diri Kin. seluruh keluarga mencoba membujuknya, menyadarkannya untuk kembali menjadi anak manis. termasuk Pratiwi. bukan hanya membuang waktu, tapi segala jenis usaha itu justru mubazir. sepercuma menabur garam dilaut. sebodoh memberi gula pada teh hijau. dan semustahil gantung diri di pohon salak.
Kin memutuskan pergi dari rumah dengan cara yang baik. Beasiswa Perancisnya. dia membawa seluruh nyawa dan hidupnya dalam lemari itu.diperlukan jasa cargo dengan biaya yang relatif bikin ibu nya pingsan. Tidak ada lagi alasan dia harus tinggal. kepergiannya, justru kepulangan yang sesungguhnya. kepulangan pada dirinya sendiri. sejak saat itu, kedua orang tua dan seluruh keluarganya ( termasuk si Pratiwi ) tak ada yang bisa menyentuh Kin. tidak melalui manapun. dan sudah dua tahun belakangan ini, Kin bahkan benar-benar menghilangkan jejak. dan jadilah dia disini. menggigil mengingat nama itu. nama yang paling malas dia sebutkan. Pratiwi.
setelah telephone ditutup Kinasih membanting tubuhnya ke kursi malas dibalkon kamarnya. menatap lurus kearah pohon rambutan yang tumbuh lebat di rumah tetangga depan. aku bukan dukun Be, tapi aku tau dari rasa yang merambatiku. aku benci nama Pratiwi. sebenci aku dengan paprika.Kinasih beringsut melorot dari duduknya. setengah badannya sudah dilahap oleh sofa. perlahan Kinasih memeluk lutut, menggigil di tengah merahnya langit petang itu.
" kenapa sih mbak, kamu selalu berusaha menyalahkan orang tua atas apa yang kamu alami sekarang? " Pratiwi menatap Kin sayu. Kin makin benci. dia, Pratiwi, tidak akan pernah bisa merasakan apa yang dirasakannya " untuk anak perempuan seperti kamu, yang hidupnya bergelimang perhatian dari orang tua. tidak akan pernah bisa membuat aku menjawab pertanyaan kamu. kita berada di voltase yang berbeda " Pratiwi masih tak mau kalah " mbak, mencobalah untuk dekat dengan orang tua. bersikap baiklah terhadap mereka. bicaralah dengan lemah lembut " Kin makin muak. dengan bergegas di tinggalkan perempuan muda itu sendiri dikamarnya. Kin mengumpat. membanting pintu kamarnya dengan gemas.
Be, aku tak pernah bisa melupakan siang itu. entah apa namanya, tapi radar penolakan selalu berbunyi jika aku berdekatan dengan setiap orang yang bernama Pratiwi. Kinasih makin menelungkup seperti udang. langit makin merah, dan hatinya pun marah.
Kin berteriak histeris ketika satu lagi piala kebanggaannya jatuh dan terbelah jadi tiga. hatinya ikut terbelah. dilantai itu sudah ada lebih dari sepuluh piala yang hancur. rumah Kin tak ada gempa.juga tak ada angin ribut. piala itu hancur bukan tanpa alasan. ada dewa shiwa mengunjungi kamarnya, menghancurkan isi lemari kesayangan Kin. nyaris lebih dari 100 piala kejuaraan melukis Kin ada didalamnya. Dan shiwa itu merasuk dalam tubuh ayahnya. Kin merosot dilanai, meraupi satu demi satu kepingan piala yang telah hancur. Kin serasa memunguti hatinya sendiri. menatap perjuangan keras yang dengan sekali hentak hancur oleh tangan baja ayahnya. tidak, sakitnya tidak lagi ada di relung hati tapi sudah mulai merasuk kedalam darah. mengalir deras membanjiri tubuhnya. Ibunya ikut menangis menyaksikan Kin masih berusaha menyelamatkan piala yang tengah hancur. lagi ayahnya kembali kekamar itu. kali ini membawa linggis. Kin gemetar menyadari tujuan perusakan selanjutnya. lemari sudut yang lain. Tidak, nyawaku disana. Lukisanku. Kin sontak berdiri. ayahnya siap menghentakkan linggis itu ke pintu lemari. Kin jauh lebih cepat, menerjang menghalangi pembobolan. terlambat ! linggis sudah terdorong tenaga super sonic ayahnya. Kin membiarkan Linggis itu mengenai paha kirinya, memuncratkan darah. warna merah paling sempurna.
Kinasih masih menggigil mengenang itu semua. tubuhnya berkeringat. dirabanya jahitan panjang di paha kiri kakinya. rasa sakit muncul di organ dalam. hati yang tersayat-sayat.
" Kin janji akan jadi juara kelas lagi Yah. Kin janji " Kin memegangi paha kiri yang banjir darah. ibunya sudah datang dengan membawa banyak kain. tetesan darah sudah sampai di kaki ayahnya. Linggis sudah tergeletak jatuh. Kin masih merapal kalimat " jangan di hancurkan lagi yah. Kin janji " segalanya berakhir sudah sejak saat itu. hatinya sebeku linggis itu. Kin belajar seperti robot. tak ada ruang untuk dibiarkan imajinasi mengganggu waktunya.nilai-nilai memuaskan selalu Kin dapatkan. Beasiswa kuliah di perancis dan All England menari di meja makannya. prestasinya gemilang, namun sayang hidupnya tak lagi sama. tak ada keluarga lagi dalam diri Kin. seluruh keluarga mencoba membujuknya, menyadarkannya untuk kembali menjadi anak manis. termasuk Pratiwi. bukan hanya membuang waktu, tapi segala jenis usaha itu justru mubazir. sepercuma menabur garam dilaut. sebodoh memberi gula pada teh hijau. dan semustahil gantung diri di pohon salak.
Kin memutuskan pergi dari rumah dengan cara yang baik. Beasiswa Perancisnya. dia membawa seluruh nyawa dan hidupnya dalam lemari itu.diperlukan jasa cargo dengan biaya yang relatif bikin ibu nya pingsan. Tidak ada lagi alasan dia harus tinggal. kepergiannya, justru kepulangan yang sesungguhnya. kepulangan pada dirinya sendiri. sejak saat itu, kedua orang tua dan seluruh keluarganya ( termasuk si Pratiwi ) tak ada yang bisa menyentuh Kin. tidak melalui manapun. dan sudah dua tahun belakangan ini, Kin bahkan benar-benar menghilangkan jejak. dan jadilah dia disini. menggigil mengingat nama itu. nama yang paling malas dia sebutkan. Pratiwi.
Langganan:
Postingan (Atom)