Kamis, 13 September 2012

Kepadamu.

Kepada suamiku kelak,
Betapa terasa lega setelah aku menemukanmu. sejauh perjalanan yang sudah aku tempuh, sejauh itulah aku berharap kau muncul di setiap episodenya. meskipun baru kini kau menampakkan diri, tapi aku tetap bersyukur. kau datang tepat waktu. kemunculanmu bukan saja membuatku bahagia, namun juga mengajarkan kesedihan, kesakitan. kau memberiku banyak hal untuk membungkus hidup dengan cara sempurna.

Kepadamu kelak imamku di dunia,
Bahwa kau adalah wakil Tuhan yang dikirim untuk menjadi pemimpinku, maka tak ada alasan bagiku untuk menolak semua perintahmu. tak ada keberanianku sedikitpun untuk membangkang aturanmu, atau sekedar menyelamu bicara. bukan karna aku lemah dan tak mampu, tapi justru karena aku sungguh tau kekuatanku sendiri, karna aku tau bahwa aku mampu diam hanya demi sebuah anggukan padamu. aku mampu mengikutimu, sejauh apapun kau mengajakku melangkah, seberat apapun jalan kau kau pilihkan untukku, dan sesulit apapun medan yang kau berikan. aku mampu, karna aku tau, kau satu-satunya orang yang wajib kuikuti.

Kepadamu yang akan menjaminku di akhirat kelak,
aku menghamba padamu, khusuk dalam bahtera yang kau ikat padaku, dan tak mungkin berpaling dari naunganmu, bukan karna aku tergila-gila dan jatuh cinta setengah mati padamu, tapi lebih karena kau adalah penopangku di hari kelak. lalu untuk apa aku berpaling, jika dengan menatapmu saja aku telah merasa cukup. dan untuk apa aku berlari darimu, jika dengan mengikutimu justru aku damai tak terhingga. kau, adalah alasan untuk aku percaya lagi, bahwa segalanya memang akan jadi indah.

Kepadamu yang akan menjadi ayah dari anak-anakku,
Berkali-kali telah kukatakan, anak adalah tempat dimana kelak kita akan berkaca. melihat diri kita sendiri dalam masa depan mereka. bagaimana kita mendidik dan mengajari mereka, maka seperti itulah kita. dan aku yakin padamu, bahwa kau, adalah ayah yang terbaik yang akan mereka punyai, bahwa kau adalah super hero mereka disaat mereka terjatuh nanti, dan kau adalah pria pertama yang akan mereka cintai tanpa alasan. engkau, kelak bukan lagi sekedar ayah bagi anak-anak kita, tapi sahabat, belahan jiwa mereka.

Kepadamu yang telah memilihku menjadi teman hidupku,
berjuta keping terimakasih mungkin tak pernah cukup untuk menyampaikan, betapa aku bahagia dengan ini semua. jadi yang terpilih, jadi yang kau pilih. aku berjanji, akan menemanimu bahkan jika kau sudah bosan denganku. akan tetap menghadirkan makanan kesukaanmu bahkan ketika kau sudah enggan memakannya. akan tetap menyiapkan handuk dan air hangat sepulang kau bekerja di luar rumah. akan tetap mendengarkan keluh kesahmu selelah apapun aku sendiri seharian ini. aku berjanji, janjiku diatas nama-Nya. bahwa kau, adalah alasan utama mengapa aku berdandan cantik setiap hari.

Kepadamu yang kupilih jadi mitra kerjaku dalam meraih Ridha Allah,
Tujuan hidupku surga. aku tak ingin munafik mengatakan dunia tak berarti untukku. tidak sayangku, dunia masih juga penting buatku. bahkan, aku mengaku kini, kadang, dunia justru jadi prioritasku. aku masih terlalu lemah hati, imanku kacau dan perangaiku buruk. maka aku memilihmu untuk mengingatkanku, maka aku menunjukmu dari sekian banyak kemungkinan pria lain yang Tuhan tawarkan. aku mempercayaimu, karna kau satu-satunya yang bisa mengaturku dengan baik. jadi aku mohon, biarkan aku percaya bahwa kau mampu. bahwa kau yang terhebat.

Kepadamu lelakiku.
Aku mencintaimu, Karena Allah.

Senin, 10 September 2012

Selasa Panas.

Selasa. Semoga kalian semua bahagia. Assalamualaikum.

Hari bahkan baru masuk setengah, tapi sudah dua perempuan menangis terisak di kalbu saya. Miris. Saya sampai gak lagi mampu mencerna, dunia ini serba menyakitkan, atau memang kita dilahirkan untuk sakit? itu pilihan ternyata. 

Sebut dia "Nice" ( bukan nama sebenarnya) sosok perempuan manis yang selalu mencoba jadi istri yang baik. Nice dan saya berteman lama, cukup lama untuk membuat saya mengerti mengapa sepagi ini dia nyaris membakar hari saya dengan amarah. Nice menelpon saya setelah subuh. Tepat sedetik sebelum saya kembali memejam. " Lo mesti tolongin gue" . itu kalimat pertama yang saya dengar dari dia. sontak saya duduk tegak, keluar kamar. suara nafas Nice terdengar naik turun menahan amarah. menahan kesakitannya. saya mendapati Nice terisak. mahfum saya tunggu kalimat selanjutnya. 

Nice adalah istri seorang pengusaha air minum. Cantik, lebih tua 7 tahun dari saya, cerdas dan memiliki kemampuan untuk menjerat lawan jenisnya hanya dengan kerlingan mata kucing nya. saya kenal Nice di acara amal sebuah stasiun televisi swasta tanah air. disitu, saya dan Nice dipasangkan dalam sebuah acara menyambangi rumah jompo. sejak saat itu kami sering ngobrol, hang out bareng, atau sekedar ngerujak di rumahnya yang lebih menyerupai puri ketimbang hunian manusia. 

Pagi tadi, Nice lumpuh. biduk rumah tangganya nyaris hancur hanya dalam hitungan detik. Nice yang merasa selama ini mengabdi dan menghamba pada suami jelas tak rela. saya paham ketakutannya. tapi tak paham kepanikannya. Suaminya, punya istri lagi. 

Nyaris lebih dari setengah jam saya diam mendengarkan Nice bicara meracau sambil terisak. saya gak tau dia ngomong apa aja, suaranya kabur tak jelas. yang saya tau beberapa kali Nice menyebut kalimat " Kurang apa gue?" saya masih diam. sampe di suatu titik saya dengar Nice menghujat suami dan istri mudanya. di titik itu saya angkat bicara, demi menyelamatkannya. karna saya menyayanginya. 

Istri adalah perhiasan suaminya. jadilah istri yang dapat dibanggakan. jadilah istri yang membuat mata suaminya terpaku tak mampu menatap perempuan lain. jadilah istri yang memberikan dedikasi terbaik. Dan ketika semua yang terbaik dari kita itu tak dapat balasan setimpal, maka bersyukurlah. Karna dengan begitu, minimal kita telah menyelamatkan surga kita sendiri. meski saya bukan istri yang seperti itu, tapi saya kelak akan berusaha seperti itu. Ini memang bukan perkara gampang, saya mungkin cuma bisa bicara tanpa bisa melakukannya, tapi percayalah, Tuhan, menitipkan kita pada suami untuk disayang. jadi jika sampai hati kita tersakiti, Tuhan pun akan murka. 

Ketika seorang suami memutuskan untuk menikah lagi, sebenarnya dia telah begitu menyayangi kita. telah dia berikan pintu gerbang surga terdekat tanpa hijab dan perhitungan apapun. syaratnya cuma satu : Ikhlas. tapi manusia, terlebih perempuan, yang hati dan pikiran kadang tak seimbang jelas susah ikhlas. maka dari itu terima lah. Hidup itu seperti di perkosa, ketika kita menolak paksaan itu, rasanya akan jauh lebih sakit. jadi, nikmatilah. berikan kontribusi dan jadilah peserta aktif. 

Dalam kasus Nice, saya jelas tak mungkin memberikan petuah diatas. Hatinya gundah, jiwanya tak tenang. advice semacam itu jelas akan makin membahayakan perasaannya juga hubungan persahabatan kami. tak mungkin saya pertaruhkan itu hanya karna saya berfikir tak awam. maka saya cuma bisa menghayati tangisannya, mencoba ikut prihatin. 

sebelum telpon ditutup, saya sempat mengingatkan Nice satu hal " Jika suamimu bukan sosok yang baik, tetaplah jadi istri yang baik. selamatkan surga mu sendiri." dua detik setelah kalimat saya berhenti, saya dengar nafas panjang tertahan. gemetar saya tau, Nice kembali menangis.

selang sejam setelah telpon Nice, saya didatangi teman. tergopoh-gopoh, nyaris tak berkompromi ketika saya bilang saya harus pergi. dia bahkan rela mengantar saya ke Jeruk purut demi bisa menumpahkan sebab musebabnya diserang kepanikan seperti itu.

" gue di jelek-jelekin di Grup." saya melongo. Pondok kopi- Jeruk purut saya ngakak. 

Namanya Fani ( bukan nama sebenarnya ) temen saya sejak kuliah. periang, heboh dan menarik. didekat Fani artinya tertawa. diradiusnya banyak hal lucu yang bisa kami tertawakan. hidupnya santai dan tanpa masalah. Biasanya, saya yang lari ke pelukannya, merengek dan minta ditenangkan. kali ini saya punya tugas berat. menenangkan gadis periang rasanya perlu kerja ekstra keras

Sepanjang perjalanan saya dengar Fani nyerocos bak petasan banting. cetar cetor tak berhenti. saya bahkan tak diberi kesempatan menyela barang sedetik. Fani emosional, sangat marah. saya sendiri makin masuk kedalam ceritanya, makin merasakan gejolak yang sama. Marah. 

beberapa orang di Grup FB nya menghujat Fani karna urusan "duit" saya gak tau darimana asalnya, tapi mendadak Fani jadi punya sangkutan dengan orang yang menghujatnya. yang lebih parah, orang itu ngajakin manusia sekampung buat ikut menghujat Fani. saya mikir, pasti ini yang ngehujat orang marketing deh. Jago bener mempengaruhi orang lain. heheheheeh

Saya heran deh ya, manusia sekarang itu kok hoby bener ya ngomongin kejelekan orang? lidahnya itu kayaknya lincah banget kalo udah ngomongin orang yang jelek-jelek. enteng, gak punya bandul. padahal kan, seharusnya kita melindungi saudara seiman ya? tapi ya sudahlah. toh bukan saya yang nanti nanggung panasnya bakaran di api neraka akan hujatan berlandaskan emosi itu. Saya inget deh, dulu saya pernah diceritain, Rasulullah itu menghujat kaum Yahudi yang menjebak kaumnya hingga kalah perang dengan Qunut setiap kali sholat fardhu. bayangin deh, manusia semulia Rasul, yang jelas dapet surga, dijamin tanpa perlu khawatir, tapi mau ngehujat aja medianya Qunut. lah kita? ebuset, surga masih jauh bung. malah makin di jauhin itu sih. Masya Allah. 

Baiklah. ini jatuhnya saya jadi ikutan ngejelekin orang ya? wahooohhhh. ini niatan saya tuh ngingetin temans semua. kalau masalah itu dateng nya dari diri sendiri. Nice, merasa terasing dengan perasaannya, marah dan kecewa, karna sejatinya Nice merasa memiliki suaminya. padahal, bahkan dirinya sendiripun milik Allah. kita nih kere dari lahir sampe mati. semua yang kita punya itu cuma pinjeman. kelak kalo yang punya minta kita balikin, harusnya kita balikin pinjeman itu utuh tanpa cela, lecet atau bahkan kurang. 

Sedangkan Fani, merasa heboh dengan hal baru yang membuatnya merasa tak nyaman, merasa kalah. padahal, seandainya dia tau, kita justru dijamin menang jika terus berada diagama Islam. agama kemenangan. maka gak perlu risau. semua yang menghujat akan dapat media sendiri untuk kembali dihujat dalam bentuk apapun. Allah baik sekali, jadi gak perlu takut kehilangan teman, jika kita yakin Allah selalu menemani kita. 

salam laper.

Kamis, 06 September 2012

Berpikir lewat pikiranmu.

Aku mencoba berpikir dengan pikiranmu
bahwa bulan merah jambu adalan bulan yang sedang jatuh cinta
dan bulan abu-abu adalah bulan yang kelabu

seperti ketika pikiranmu bertanya-tanya tentang sebuah kota yang terbentuk dari macet dan korupsi
dimana menteri-menteri tak pernah diganti
dan sang presiden terlampau mudah untuk merasa prihatin pada dirinya sendiri. 
untuk kemudian aku bertanya serupa dengan pikiranmu
apakah aku termasuk yang akan dipertahankan atau dilepas ? dibuang atau di biarkan dalam ruang yang masih ber-tema-kan 'seandainya'

aku mencoba berpikir dengan pikiranmu
pikiran yang menurut mu seperti rumah sakit bersalin.
selalu ada bayi yang lahir
puisi, lagu dan foto hasil tanganmu
juga pemberontakan-pemberontakan yang kau gunakan untuk menyakiti diri sendiri
seperti bayi merah yang minta kau dendangkan
aku merintih melihat kau kesakitan
karna selama ini,
aku ternyata berpikir dengan pikiranmu
pikiran yang aku tau hanya kugunakan sebagai rekreasi akhir pekan, pikiran mu
pikiran yang hanya bisa ku selipkan dalam gerakan maha pelan diatas segala kesyahduan milik kita

aku mencoba berpikir tentang pikiranmu
pikiran yang sempat melintas untuk selingkuh
seperti halnya penumpang pesawat yang phobia ketinggian
lalu mengabaikan petunjuk penyelamatan diri 
yang diperagakan oleh pramugari dengan main-main
pikiran yang rela jatuh saat itu juga untuk pikiranku
aku mendadak mulas,
menyadari terlampau banyak kau menyita waktu ku selama ini
hingga kebiasaan menjadi kabur maknanya

aku mencoba berpikir melalui pikiranmu
dimana aku pernah begitu mendominasi dan menjadi ditunggalkan
untuk kemudian ditanggalkan lalu ditinggalkan pemiliknya sendiri
aku mengerti,
kau.
aku.
dia.
dan kita.
sudah terlampau rumit melangkah. 

aku mencoba berfikir melintasi pikiranmu,
dan tertegun,
sudah sebegitu pentingkah aku untukmu? 
karna ternyata, aku telah menemukan dia yang menjadi begitu penting dalam pikiranku.


Senin, 03 September 2012

Just A Moment.

Assalamualaikum. Selamat siang.....

Beberapa hari ini banyak kejadian mampir di hidup saya. sebenernya kejadiannya cuma numpang lewat sih, sambil lalu dan mungkin malah gak penting. tapi gak tau kenapa, saya merasa kejadian-kejadian itu mempengaruhi proses hidup saya dari beberapa hari belakangan ini. dan saya ingin merangkumnya jadi satu. disini, di posingan kali ini. meskipun sebenernya, jujur saya agak takut kalian bosen bacanya. atau kalian malah bakalan ngangge saya lebay karna terlalu bernapsu untuk mengambil hikmah dari setiap kejadian. entahlah, yang jelas, apa yang ada didepan saya memang kadang saya perhatikan benar-benar. saya ingin setiap detik dalam hidup saya itu gak sia-sia.

Hari kamis minggu kemarin, saya nongkrong bareng pacar saya di Taman suropati. lagi asyik ngobrol mendadak saya di telpon seseorang. menceritakan masalah pribadinya. seorang perempuan, yang kewalahan menghadapi rasa sakit hatinya. gak mampu mengkoordinasikan hati dan pikirannya, kemudian gagal menyimpulkan solusi untuk permasalahannya, kemudian mengkambinghitamkan lelakinya atas ketak berdayaannya itu. saya marah. bingung tak tau harus berkomentar apa. saking bingungnya, saya sampe gak tau mesti mendefinisikan apa terhadap perasaan kali ini.


Ternyata lagi-lagi perempuan itu tak tersentuh peradaban. Sedih rasanya menyaksikan kaum saya begitu bodoh menghadapi dunia. Seharusnya, perempuan paham apa yang menjadi keinginannya. Seharusnya pula, dalam hal yang terabsurd sekalipun perempuan menyaksikan kehebatannya sendiri dalam kaca benggalanya. Perempuan itu, sudah tangguh sejak dalam kandungan.sejak Tuhan meniupkan roh pada janin dan kemudian memberi gender perempuan. saya marah. Merasa terhina sekaligus sedih. Tapi saya tak bisa memaki, tak bisa menghujat, apa lagi menangis. Apa rasanya coba? Merasakan berbagai emosi tapi tak mampu menghempaskannya.

Mungkin, hati dan perasaannya sakit. Ya jelas lah, perempuan kan menggunakan lebih dari separo hidupnya dengan perasaan. Jadi kalau kemudian hatinya sakit, karena terlampau cepat menghempas rasa sakit dan memberi label kambing hitam pada rasa sakitnya karna lelaki. Tapi? Ya sudah lah. Itu kan sudah suratan. Gimanapun, rasa sakit itu akan sembuh seiring dengan pemahamannya akan hidup. Tidak bisa tidak dipungkiri, waktu akan memberi jawaban dengan kenyataan yang sudah terbungkus rapi fakta yang tak akan mampu terjelaskan. Oleh siapapun. Itu hak veto Tuhan. sayangnya, tak semua manusia, juga perempuan memahami itu. Tapi kenapa? Kenapa saya begitu kesal ketika ada perempuan yang begitu bodoh menampakkan kelemahannya.

Dan lagi, kenapa kebodohan begitu mendominasi hidupnya hanya karena emosi. Lakukan apa yang bisa di lakukan. Tapi yang tak bisa dilakukan? Ya sudaaahhh !!!! tak perlu dilakukan. Jangan memaksa. Jangan membuat jadi kelihatan tak mampu berbuat lebih. Saya masih belum mengerti juga. Tetap tak memahami, bahwa pada dasarnya perempuan justru kuat dengan kelemahannya. Percaya sama saya, jangan pernah menyesal jadi perempuan.  jangan pernah membiarkan kelemahan itu menjadikan kita teraniaya sendiri.

Ada hal yang perlu di jawab !! apakah kita perlu memaki kondisi ketika pada akhirnya kapasitas kita sebagai perempuan tak memadai untuk menerima rasa sakit. Perempuan, pasti sakit jika di nomor sekiankan. Tapi mau apa? Ya sudaaahhh !!! gimanapun, perempuan memang di takdirkan lebih menggunakan hati ketimbang rasio. Dan lelaki, lebih menggunakan pikiran ketimbang perasaannya. keduanya sama-sama memiliki kans untuk sakit hati. Kita di ciptakan untuk tersakiti. Sadar tak sadar. Suka tak suka.

Persekutuan!!! Perempuan kadang mengalami persekutuan dengan iblis. Setan terjahanam yang mendiami perasaan perempuan.

Lalu bagaimana? Mesti apa lagi? Ya sudahlah. 

Saya sampe nyuekin pacar saya malem itu. saya sibuk berfikir, menelpon, ngobrol panjang dan mendiskusikan dari segi manapun atas masalah ini. kemudian bikin pacar saya ( mungkin) bete dengan sikap saya ini * maaf sayang* tapi saya emang begitu. saya gak mau mengendapkan pikiran, lantas membiarkannya gak berguna. apa yang ada di otak saya harus keluar saat itu juga. 

masalah di taman itu selesai dengan sendirinya. gimana gak selesai sendiri, wong itu sebenernya emang bukan masalah saya kok. itu masalah orang lain yang curhat sama saya. kadang saya mikir,sampe kapan saya bisa nyuekin hal-hal yang seharusnya bukan jadi urusan saya. ini kan sebenernya membuang waktu, tapi di sisi lain saya merasa berguna. yawes lah, ambiguitas pikiran ini cuma saya dan Tuhan aja yang ngerti. kalian gak perlu ikut pusing mikirin. 

Kemaren, lebih tepatnya hari minggu, saya jalan-jalan ( lagi) sama pacar. btw, kalian bosen gak sih kalo saya ngomongin pacar saya melulu? Gak boleh bosen ya, karna kelak laki-laki ini bakalan nemenin saya gak tau sampe kapan, sampe tulisan di blog saya ini muncul ratusan bahkan ribuan, mungkin dia masih bakalan tetep nemenin saya. jadi persiapkan mental kalian untuk sesering mungkin baca tulisan saya yang nyawel-nyawel dia. heheheheheeh

Oke, jadi kemaren ini saya jalan ke Masjid luar batang sama pacar. kebetulan rumahnya deket sama masjid itu. perhatikan kalimat saya baik-baik ya temans, jangan kalian pikir pembicaraan kali ini bentuk makar saya terhadap islam. serius, ini cuma pandangan. cuma pendapat dari pengetahuan saya yang masih dangkal tentang islam. jadi, kalo ada yang gak setuju, saya membuka diri untuk menerima kritikan. 

Saya dateng kesana, ramai. bentuk bangunan masjid itu beda sama masjid yang lain. bangunan utamanya, didalam dan megah. dingin, sejuk. khas udara masjid yang entah kenapa memang selalu adem. di depan bangunan utama, semacam altar. dan altar itu terbagi dua, in door dan outdoor. di ruang dalam altar, ada dua makam. satu dibuat menyerupai kubah besar dan satunya lebih kecil. makam besar itu, milik Habib Husen Al Idrus. yang konon adalah anak dari putri kesayangan Rasulullah SAW. makam kecilnya kabar milik muridnya. kedua makam iulah yang dikerubungi bak semut nemu gula. membuat gelombang yang makin besar, makin ramai. saya tercengang, apa yang mereka lakukan disini??

Saya dan pacar saya masuk, ambil air wudhu dan sholat di bangunan utama. jujur aja, saya takut sholat disitu. melihat gelombang besar yang memenuhi sekitar makam di altar masjid bikin saya bertanya, mereka datang ke masjid itu bukan untuk beribadah, tapi lebih karna mendatangi makam itu. niat awal mereka, saya takut bukan Lillahi ta'ala lagi. sebelum saya sholat berjamaah dengan pacar pun, saya memandangi mereka dulu. lebih karna berusaha memantapkan hati saya sendiri, bahwa saya datang kesini murni karna saya ingin sholat Dzuhur. tidak yang lain. 

setelah sholat dzuhur kami keliling masjid, saya bilang berkali-kali pada diri sendiri " kamu sedang rekreasi ami. bareng pacar" saya beneran takut, saya takut untuk tertarik berdoa didepan makam itu. saya takut, ada sedikit saja hati saya yang memohon tidak kepada-Nya. untunglah, setelah selesai keliling pacar saya ngajak ngopi. dan ngobrol kesana sini, bahkan tidak membicarakan makam itu lagi. saya bersyukur, pikiran saya dialihkan olehNya melalui laki-laki pilihan ini. heheheheh.

setelah ngopi, saya dan pacar kembali ambil air wudhu, sholat ashar. sengaja saya gak mau ikut jamaah maha besar itu. saya takut imamnya punya tendensi lain dalam mengimami sholat kami. disitu, saya lebih percaya diimami pacar saya ketimbang habib atau imam masjidnya sendiri. 

kelar sholat, Masya Allah. saya kaget bukan kepalang. saya gak tau mesti gimana. saya juga bingung mesti jawab apa atas banyaknya pertanyaan di benak saya. tapi yang jelas saya miris. karna saya bingung mau gimana cara menuliskannya,  karna saya gak tau apa yang sebenernya saya rasain.

mereka berkumpul didepan makam, berdengung bagai lebah. membaca surat yasin, membaca dzikir. saya jadi ingat puisi Gusmus : " katanya Allah maha mendengar, lalu kenapa setiap hari kau memanggil-manggil namanya melalui pengeras suara?" saya juga jadi inget kata Hadist yang bilang bahwa kita disarankan untuk memelankan suara ketika membaca Al qur'an atau berdzikir. mendadak, melihat kenyataan didepan saya, semua itu langsung mentah.

Satu-satunya yang saya takutkan adalah ketika saudara seagama saya duduk didepan makam itu, kemudian berharap sesuatu melalui makam itu. Berharap kepada selain Allah meskipun kecil tetap aja terhiung musryik. Saya mikirin, islam itu Rahmatan lil'alamin kok. jadi semua ber hak dengan persepsi masing-masing. tapi, musryik dimana-mana sama hukumannya. dan Allah paling benci dosa itu.

Segalanya cuma bisa saya diskusikan. saya sadar saya bukan siapapun, agama saya juga masih cetek banget. jadi saya cuma bisa menunggu, sambil mengikuti perkembangan yang ada. saya bersyukur, punya pacar yang ngerti gimana ngajarin saya bersikap.

Oke temans, mari kita sama-sama mengingatkan dan menyelamatkan akhirat kita. Karna konon kabarnya, masuk surga itu harus beramai-ramai. Jadi, yukk rame-rame masuk surga.  












Jumat, 31 Agustus 2012

Buku Putih I: Ideograf ( By : Ade Riyan Purnama )


“Ketika kau berhenti mencari dalam pencarian-pencarian yang kau cari, kau akan dapati yang kau cari”.

Hidup adalah pengembaraan. Pengembaraan menuju pertarungan dengan detik waktu dan detak denyut nadi yang kapan saja bisa berhenti. Dalam perjalannya kita akan bertemu pertigaan, perempatan atau bahkan simpang lima tanpa rambu berpetunjuk.

Mungkin pintu gerbang kedewasaan telah terbuka ketika kita mulai memikirkan arah hidup. Karena hidup adalah jejak langkah diatas pasir yang terbawa ombak dan ketika hamparan pasir itu tak berjejak, pasir itu akan ditapaki jejak-jejak langkah manusia berikutnya.

Pencarian adalah penantian malam sempurna. Seperti raja anjing yang mengaung di atas bukit tertinggi ketika bulan menjadi besar dan berubah menjadi warna merah. Dalam pencariannya manusia bisa berubah menjadi serigala buas di malam purnama dan dengan seketika anjing-anjing gunung yang berwarna putih berbaris dideretan lembah menyaksikan kesempurnaan manusia binatang yang menjadi liar. Dan setelah itu terjadi, matahari di pagi hari tidak tinggal diam, ia selalu menyerang dari ufuk timur dengan segenap cahayanya untuk memotong kuku-kuku serigala dan merontokkan taringnya karena di malam purnama manusia adalah pemangsa paling buas dari para pemangsa.

Alarm disampingku, mulai mengeluarkan bunyi. Itu bertanda hari sudah menjelang pagi pukul 05.30. Kemudian ibuku memberikan selimut dan mengusap sebagian rambutku mengisyaratkan aku harus segera tidur. Karena sudah menjadi kebiasaan setiap hari kelahiranku, ibu selalu mendongeng pukul 00.00 tepat pada malam bulan purnama.

Ibuku selalu bercerita tentang serigala dimalam hari ulang tahunku, tentang manusia yang menjelma menjadi binatang. Namun, aku selalu heran kepada ibuku. Kenapa ia tak pernah bercerita tentang proses sebelum manusia menjadi serigala. Padahal ketika aku membaca buku tentang malam purnama, serigala itu adalah pangeran yang sangat bijaksana kemudian diasingkan ditengah hutan karena dikhianati oleh penasehat  kerajaan yang mengirimkan perempuan cantik untuk menggodanya. Dan ketika pangeran jatuh cinta, perempuan cantik itu selalu mendongengkan malam-malam pangeran sebelum ia tertidur.

Dan tepat pada malam bulan purnama, perempuan cantik itu melepas pakaiannya setelah ia melihat sang pangeran tertidur. Ia mulai memeluk pangeran, memasuki semua tubuhnya kedalam selimut pangeran kemudian mengaitkan kakinya ke dalam kaki pangeran hingga yang terlihat hanya wajah dan bibir yang terus bercerita.

Kemudian tentara-tentara kerajaan masuk menyeret pangeran dari tidurnya dan perempuan cantik itu dengan khusuk berpura-pura tidak tau apa-apa dan perempuan cantik itu berjalan kecil memeluk pangeran seolah-olah semalam terjadi percumbuan yang menghasilkan kenikmatan madu.

Pangeran diarak mengelilingi kampung oleh tentara-tentara kerajaan. Seluruh rakyatnya mencaci, menghina bahkan meludah dan melempari batu ke arah wajah sang pangeran sebelum ia diasingkan. Ternyata dibalik semua itu adalah skenario sang penasehat kerajaan setelah sekian lama ia menginginkan tahta sang pangeran.

Dalam keterasingannya, sang pangeran marah atas pengkhianatan dari cinta yang tulus dan amanah kerajaan yang selama ini dijaganya. Ia temukan luka dalam kedalaman naluri karena  hati sudah tidak menjadi cerminan malam-malam pencarian. Mungkin hidup ini adalah teka-teki piramid yang dibuat fir’aun, ketika kekuatan menjadi trisula untuk menahlukkan rakyatnya dan meniduri setiap perempuan yang ingin ditidurinya.

Dalam keterasingannya pangeran hanya bercermin melihat wajahnya di danau di sebelah timur hutan. Setiap pagi ia menadah tetesan embun yang jatuh dari daun dengan kedua telapak tangannya dan meminumnya. Karena dari tetesan itu, ia merasakan dingin sebelum matahari melenyapkan tetesan-tetesan itu dan kembali mengering.

Ada ketulusan dari setiap persetubuhan dinginnya malam, seperti  tetesan embun yang dilahirkan pagi hari. Aku kemudian berlari memasuki hutan-hutan yang semakin rimba. Aku marah atas perlakuan perempuan yang aku cintai dan mengkhianatiku. Aku robek-robek bisa ular cobra, aku rontokkan taring buaya dan aku patahkan kaki harimau dan singa. Aku terus berlari menuju puncak gunung tertinggi menjelang malam. Karena malam adalah cahaya bagi para sufi dan mataku semakin liar menerjang apa yang ada dihadapanku. Dan ketika aku berada dipuncak dan bulan menyempurnakan malam purnama, aku menjelma menjadi serigala. Raja hutan diatas segala raja-raja hutan lainnya. Kemarahanku memuncak atas sebuah pengkhianatan dan hatiku terbakar oleh luka.

Aku terus berteriak hingga harimau dan singapun mengurungkan niatnya untuk melihatku. Aku terus berlari menyusuri lembah dan hutan untuk mencari petarung yang lebih tangguh untuk mengobati pesakitanku yang tak dapat terbalut. Aku mematahkan pohon-pohon besar hingga tumbang, aku menghancurkan batu yang menghalangiku dan teriakanku semakin hebat. Burung-burung pun terbangun dari lelapnya, mengepakkan sayapnya kearah yang lebih tinggi menunggu matahari menyadarkan aku dengan sinarnya.

Aku bagaikan api neraka yang berkobar, yang panasnya siap melahap siapa saja bagi yang ingkar. Aku haus akan kesejukan yang menghantarkan aku pada tidur-tidur yang lelap. Kemudian aku menceburkan diri kedalam danau yang dingin, aku cabik-cabik ikan yang ada didalamnya hingga danau itu menjadi merah.

Setelah danau menjadi merah, aku kembali kedaratan mendekati dahan-dahan pohon dan menunggu embun-embun pagi itu menetes sebelum kebuasanku berakhir. Aku memapah kedua telapak tanganku dari daun sampai  kedaun berikutnya dan meminum tetesan embun itu.

Tiba-tiba aku terbangun dengan berlalunya bulan purnama yang menjadikan aku serigala. Pengkhianatan adalah doa tumpukan jerami. Tidak ada pengkhianatan yang tidak disusun sebelumnya. Entah yang berkhianat atau dikhianati, ada kisah perjalanan jejak diatas pasir yang terbawa ombak.

Ada luka diantara janji, ada air mata diantara tanah basah. Ia berjalan menyusuri hutan dengan tergopoh dan masuk kedalam lumpur yang dalam hingga ia tak sanggung keluar. Ditengah ketidak berdayaannya, buaya yang lapar mencabik-cabik tubuhnya. Pangeran itu mati dalam ketidakberdayaan setelah pencarian buasnya berbalut dengan keikhlasan. Ia kembali dalam ketiadaan, menjadi ada. Karena keadaan adanya ada akan kembali ke tiada.

Ia hanya teringat dongeng perempuan yang menghantarkannya sebelum tidur. Dongeng itu menghantarkan aku menjadi serigala buas dengan marahnya dan cabikkan buaya inilah yang mengingatkan aku bahwa aku adalah tetap manusia yang bisa merasakan sakitnya dikhianati, dicintai atau bahkan didustai.  
Purnama..purnama...!

Aku terbangun mendegar panggilan ibuku yang memberi tanda bahwa hari sudah mulai siang. Dengan mengangkat buku malam purnama yang menutupi wajahku, aku mulai bangun dan menaruh buku itu di rak bukuku.

Ibuku memberi namaku Purnama. Entah apa yang terbesit dalam benaknya ketika memberi nama itu. Yang aku tau ibuku adalah salah satu penulis sastra. Penulis sastra yang sama sekali tidak terkenal. Penulis sastra yang harus bekerja kers terlebih dahulu untuk mengumpulkan uang dan  membayar percetakan untuk menerbitkan bukunya. Karena karya sastra ibuku tidak diterima dipenerbit manapun, makanya ia selalu menerbitkan secara indie. Terkadang ibuku pun sering menjual buku-buku karangan almarhum ayahku yang menjadi kado ulang tahunnya.

Terbitan buku pertama ibuku berjudul Purnama. Ia selalu mengatakan kepadaku, kau adalah buku. Buku yang menjadikan aku perempuan seutuhnya, buku yang selalu aku baca. Buku yang mengajarkan ibu arti biadab dan beradab. Kau adalah buku putih diantara coretan perjalan hidup dan kau menjadi sampul putih diantara gelapnya malam ketika bintang berada dalam kekosongan dan tak mengeluarkan kerlip.

Buku ibu terlahir karena buah pemikiran, perjalanan dan kegelisahan sedangkan kau anakku terlahir karena buah ketulusan.

Ibuku selalu bertanya, apakah kau sudah menuliskan kata demi kata disetiap kau ulang tahun. Karena kata ibuku, sebelum ayahku meninggal ia memberikan buku putih kepadaku. Entah apa yang diinginkan ayahku, waktu itu.

Akupun belum pernah bertemu dengan ayahku. Kata ibuku, ayahku meninggal ketika aku dalam kandungan delapan bulan.Menurut cerita ibuku,  ayahku  adalah sastrawan besar yang berhenti menulis setelah mendapat nobel sastra se Asia Tenggara dan bertemu dengan ibuku. Karena menurut ayahku, ibuku adalah puisi paling murni. Ia menemukan guratan keindahan setelah mengenal ibuku diatas kata-kata yang tak terbatas.

Tapi aku masih bingung, kenapa ayaku hanya meninggalkan buku putih saja kepadaku. Tanpa ada garis-garis untuk menulis seperti pada buku umumnya dan  buku putih tersebut didalamnya tak terdapat garis tepi. Hanya buku puith dan benar-benar putih.
Ibuku memintaku untuk menuliskan kisah hidup setiap ulang tahunku. Umurku kini 25 tahun, tetapi belum ada satu katapun yang aku tulis. Rasanya aku memang tidak berbakat untuk menjadi penulis walaupun kedua orangtuaku adalah penulis.

Aku bingung mau memulai dari mana tulisanku. Sebab menulis menurutku, bukan hanya ungkapan rasa. Ada jarak diantara pena dan buku putih yang kupunya. Menulis menurutku seperti memotong bawang merah yang diiris-iris menjadi bagian-bagian. Yang udaranya  bisa mengeluarkan air mata walaupun pisaunya tidak mengenai unjung telunjukku.

Coba kita bayangkan, ketika ada penulis menuliskan biography tentang kepedihan dalam perjalannya. Dan kemudian ia menuangkan dalam tulisannya. Ia harus mengulang rekaman jejak saat ia jatuh dalam luka, atau ketika ia putus asa dan hampir bunuh diri. Bagaimana kita mengingat-ingat kembali kesulitan dalam hidup, berharap bagi pembaca dapat mengambil manfaat dari apa yang dituliskannya. Itu pekerjaan yang menyakitkan.

Itu hal yang menyebalkan bagiku ketika aku harus mengingat-ingat hal yang tak kusukai. Aku baru ingat, ketika aku berumur tujuh tahun dan mulai masuk Sekolah kelas satu SD. Aku pernah menaruh permen karet dibangku ibu guruku. Kemudian setelah ibu guruku tau aku yang menaruh permen karet diatas bangkunya. Ia menggeledah tasku, mencari permen-permen karet yang belum aku kunyah sebelum aku menaruhnya di bangku-bangku yang lain.

 Ibu guruku tidak menemukan permen karet didalam tasku, ia hanya menemukan buku putih. Kemudian aku dikenakan sanksi untuk menuliskan, “AKU TIDAK AKAN MENARUH PERMEN KARET DI BANGKU SEKOLAH”. Aku membantah ibu guruku, aku lebih memilih bernyanyi balonku ada lima. Walaupun sebenarnya aku tidak punya balon satupun. Karena balon yang kubeli selalu aku tusukkan jarum untuk mengagetkan orang-orang disekelilingku.

Bayangkan ketika kita melakukan kesalahan kita akan dihukum untuk menulis kesalahan-kesalah kita dan berulang-ulang. Bukankah itu akan menimbulkan kita akan melakukan hal sama. Karena tulisan-tulisan tersebut akan tersimpan dan menjadi permanen dalam memori kita. Mungkin kalau aku tidak mengajukan hukuman menyanyi, sampai sekarang aku akan terus menerus menaruh permen karet di bangku sekolah. Karena menulis kesalahan dalam satu buku akan menimbulkan kita mengulanginya.

Kata ibu guruku, aku anak yang nakal. Namun, ibuku selalu membela. Bukankah anak kecil yang nakal adalah anak yang pintar. Anak kecil yang nakal adalah anak yang kreatif, mungkin hanya perlu bimbingan saja. Ia menaruh permen karet diatas bangku ibu guru karena mungkin ia tidak tahu dimana tempat sampah. Setelah ibu menunjukkan dimana cara membuang permen karet saya rasa ia akan lebih disiplin dari anak-anak yang lain.
Aku selalu senyum-senyum sendiri ketika ingat hal itu. Ibuku memang pintar berdalih. Ia dulu bintang teater pada jamannya. Jadi wajar ketika pola pikirnya agak terbalik dari perempuan-perempuan yang menempuh ilmu akademisnya yang hanya duduk dibangku kuliah saja.

Aku kemudian masuk ke dalam kamarku merogoh buku putih yang ada dalam tasku dan pulpen setelah selesai cuci muka ala koboi dikamar mandi. Aku menghampiri ibuku yang sedang melamun melihat sketsa lukisannya yang dibuat ayahku sambil memainkan biola putih kado yang diberikan ayahku sewaktu ibuku ulang tahun yang ke 23.

Aku duduk disebelahnya, meminta ibu untuk menceritakan kisah-kisah ayahku. Walaupun aku tau, disetiap pegulangan masa lalu ada luka yang akan terbuka. Namun aku siap, menuliskan semuanya. Karena “jejak langkah diatas pasir akan terbawa ombak dan ketika hamparan pasir itu tak berjejak, pasir itu akan ditapaki jejak-jejak langkah manusia berikutnya”.