Minggu, 09 November 2014

Arior di IDF

Di jakarta langit berwarna orange terbakar begini sulit sekali didapat, harusnya saya keluar dari balkon rumah saya kemudian menatap lekat-lekat keatas. Saat ini langit sedang indah-indahnya. Tapi saya terpaksa urung, masuk kedalam dan membuka komputer. Saya ingin bercerita.

Hari sabtu kemarin, saya dapat undangan menghadiri acara IDF ( Indonesia Dance Festival ). Kebetulan saya kenal beberapa teman didalamnya dan cukup dekat dengan salah satu panitianya. Dari sekian padat acara IDF sejak tanggal 4-8 November kemarin, saya hanya tertarik pada acara yang terakhir yaitu IDF untuk ibu dan anak " Menumbuhkan minat dan bakat anak " . Acaranya berlangsung jam 4 sore di Salihara pasar minggu.

Arior, yang memang sangat menyukai berkumpul denganbanyak orang tentu saja kegirangan saya bawa masuk kedalam ruangan pementasan. Ada sekitar 10 pasang ibu dan anak yang mempersembahkan pertunjukan tari kontemporer dengan tema kehidupan sehari-hari. Menarik dan sangat pas ditonton untuk ibu dan anak. Tentu saja memang pertunjukan kali ini sudah di setting untuk hal tersebut. Tapi kali ini, saya tidak ingin membahas tentang isi dari pertunjukkannya. Tapi saya akan membahas tentang Arior, my partner in crime.

Saya memperhatikan, Arior adalah anak yang sangat maskulin. Dia akan sangat terlihat elegan didepan banyak orang. Arior bisa menatap tajam satu-persatu orang yang baru ditemuinya tanpa rasa takut sedikitpun. Matanya yang coklat bulat membola besar itu menjadi sedemikian berkarakter jika sudah begitu. Saya yakin, andai matanya adalah sungai, Arior entah sudah menenggalamkan berapa banyak orang melului tatapannya saja.

Arior aktif, bahkan sangat aktif. Tapi berbeda dengan anak aktif lainnya, Arior mampu melihat situasi. Saat sedang duduk dihadapan banyak orang, dia akan dengan sangat tenang berwibawa. duduk santai dan damai, tidak membuat saya kewalahan dengan mengejarnya kesana kemari. Seperti saat pertunjukkan dimulai, Arior duduk santai sendiri tanpa saya pangku di matras paling depan panggung pertunjukkan. Mata tajamnya tidak berpindah sedikitpun dari para penari dedepannya. sikapnyatenang sempurna membuat saya geli dan ingin memeluknya. Arior memang sangat paham bagaimana harus bersikap sesuai tempatnya. Saya bangga akan itu.

Setelah pertunjukkan selesai dan sesi diskusi dimulai, sifat aktifnya mulai muncul. Arior mulai berjalan mendekati beberapa orang disekitarnya yang bahkan tidak dia kenal, mengajaknya ngobrol dengan bahasa absurdnya dan bersalaman. Nyaris semua penonton di ruangan itu terbahak dengan sikapnya. Termasuk saya dan papahnya. Bahkan saat ada ibu Retno, sang maestro tari masuk dan menyampaikan salam, Arior adalah orang pertama yang dengan lantang menjawab salamnya sembari melambaikan tangan. Dia membuat terbahak  ( sekali lagi ) penonton yang ada di ruangan itu. ayangnya, saya tidak bisa mengambil gambar karena acara ada didalam ruang teater dengan pencahayaan sangat minim.

Dalam dunia anak, biasanya anak aktif adalah anak aktif. Dia tidak akan mau tau sedang ada acara apa dan dimana. Dia tidak akan peduli apakah itu membuat repot ibunya atau tidak. Tapi arior berbeda, saat dia ada dirumah, di taman bermain, di wahana bermain, Arior sangat tidak bisa dipegang. Tenaganya seperti 1000 gajah dan lincahnya melebihi kupu-kupu. Seringkali karena ulahnya sendiri dia terjatuh dan tanpa menangis kemudian bersemangat untuk bangun lagi. Tapi jika sedang dalam acara yang melibatkan banyak orang, Arior akan sangat tenang. Sangat damai. Meskipun sejujurnya saya tidak akan marah jika dia membuat ulah seperti biasanya, lari-lari, lompat sana sini, jungkir balik di mana-mana, ngotorin baju tanpa perlu lihat tempat, atau berteriak dan merebut microphone di depan manggung. Saya percaya, andaikata dia melakukan itu-pun saya akan meledeninya untuk mengejar, menjaga dan melindunginya. Semuanya akan terasa wajar karena dia memang anak kecil yang sangat aktif. Tapi syukurlah, Arior tidak melakukan itu. Anak baik dan sangat sopan ini selalu membuat saya bangga dengan sikap dan pengertian yang luar biasa. Dengan Arior bersikap kooperatif, maka saya akhirnya mampu menikmati acara diskusi dengan baik, saya bisa menyerap ilmu-ilmu dengan sempurna, dan semoga saya bisa mengaplikasikannya dirumah.

Begitulah Arior, pria kecil dengan sikap yang sungguh menakjubkan. Saya mencintai kedua anak saya sama besar. Tanpa perlu terbagi-bagi. Keduanya sungguh menakjubkan.

oiya, untuk sekedar info, ada perkumpulan ( komunitas ) mamaku penari yang di prakarsai oleh beberapa teman Jebolan Seni Tari IKJ. Dimana komunitas itu ditujukan untuk para penari( mantan Penari ) yang sudah menjadi ibu, atau para ibu yang suka menari, untuk terus mengembangkan hobynya bersama putra putrinya. Infonya ada pada saya dan kalian bisa kontak saya untuk kemudian saya sambungkan langsung pada sekretariat komunitas itu. Serius, mereka sungguh keren dan sangan peduli pada perkembangan anak. Melalui komunitas ini, kalian para ibu tetap bisa fokus dengan perkembangan anak kalian, tapi juga enjoy dengan hidup kalian. Lets Try mom !!

Kamis, 06 November 2014

Please welcome : Airin dan Arior,

Airin Keren, Arior Hebat. Saya punya dua anak yang selalu dan terus bisa di banggakan.

Tahun 2008 Airin lahir. Cantik sekali. Rambutnya hitam legam tebal dan kulitnya putih bersinar. Warna yang kontras itu membuat wajah ayunya makin kentara dan dua mata bulat beningnya jelas terlihat. Dia langsung jadi kebanggaan keluarga. Yudith Airin Puandira.

Mba Ai - beitu kami lantas membiasakan diri memanggilnya- tumbuh menjadi anak yang super penurut. Dia tidak pernah memprotes apapun. Masa kecilnya ia lewati dengan menggambar dan menggambar. Sesekali ia keluar main bersama teman, sesekali ia rewel minta jajan, sesekali ia merengek pada saya. Tapi itu hanya sesekali dan tak pernah bertahan lama. Ia lantas sangat tekun belajar, membantu saya dirumah dan semua hal magic bagi anak kecil lainnya lakukan. Hal itu menambah rasa cinta saya makin besar padanya. Saat ini, ia ada di Jawa tengah, tinggal bersama ibu saya dan menemani beliau sebagai putri yang sangat manis dan pintar. Saya selalu merindukannya, bahkan ketika tertidur sekalipun. Kerinduan itu, lantas menjadi obat untuk setiap sakit dan luka yang ada kemudian.

November 2013, Adiknya lahir. Pria ganteng dengan raut wajah macho dan cerdas. matanya bulat tajam dengan warna kecoklatan di tengah membola. Kulit putih bersih dengan rambut halus membuat dia menjadi sumber energi saya kemudian. Muhammad Arior Kaisar Purnama. Nama itu kelak akan menjadi legenda di dunia ini.

Mas Rior - kami kemudian membiasakan memanggilnya begitu- adalah anak yang super duper aktif. Dia seperti tak punya lelah. Kebalikan dari mba Ai yang super penurut, Mas rior adalah gambaran pemberontak cerdas dengan keberanian bak hercules. Saya terus saja dibuat kewalahan dengan kelakuannya setiap hari, bagai singa yang memimpin, Mas Rior sadar dia bisa jadi pucuk pimpinan sejak kecil. Dia ingin yang terbaik dalam hidupnya, dia tidak suka dibelikan makanan bubur pinggir jalan, dia hanya mau gandum tim keju buatan saya sendiri. Itu salah satu contoh kelakuan hebatnya.

Dua mba dan mas saya ini, selalu membuat saya tak pernah henti bersyukur. Jika mba Ai rela saya tinggal kemana pergi, mas Rior akan selalu ada di depan saya untuk melindungi saya. Mba Ai akan terus menyemangati saya dari belakang, mas Rior yang akan menarik saya untuk berlari kencang. Mba Ai begitu mencintai seni yang merupakan satu bagian dari hidup saya, mas Rior sangat menyukai diskusi yang juga satu bagian dari diri saya. Rasanya, dari dua anak ini kehidupan saya menggenap. Lengkap dan sempurna.

Ketika saya harus bekerja di jakarta, mba Ai merelakan diri terpisah dari saya dan terus membuat saya bersemangat dalam bekerja. Hari-harinya yang tanpa saya diisi dengan kemandirian dan kerelaan yang dalam. Untuk anak sekecil itu, sikap dan sifatnya ini kadang membuat saya nelangsa sekaligus bangga. Saya yang sudah setua ini, merasa tak malu untuk mengakui bahwa tingkat keihklasan saya tertinggal jauh di belakang mba Ai. sangat jauh.

Mas Rior lain lagi, dia adalah anak yang sangat memahami kondisi. Dia selalu saya bawa kemanapun saya pergi. Sejak lahir hingga kini, saya dan dia belum pernah terpisah. Dengan kenyataan tersebut, mas Rior membuat nyaman diri sendiri dengan memahami kondisi perjalanan. Saat temu sastra Asia tenggara kemarin, kami membawa Mas Rior, dengan jadwal kegiatan yang tak berhenti dari pagi hingga tengah malam, Mas Rior kuat dan membuat acara itu rumahnya sendiri. Dia bermain dengan peserta lain yang seumuran saya bahkan jauh lebih tua dari saya. Jika ada kesempatan istirahat dia akan tidur dengan nyaman meski itu harus di bus atau di hall acara. Ada lahan bermain dia gunakan dengan bahagia, ada makanan yang dia bisa konsumsi mas rior akan makan dengan sopan. Kemudian, bukan saya atau ayahnya yang lantas jadi bintang di acara itu, tapi justru dialah super star itu.

Saya merasa inilah kehidupan saya yang luar biasa. Mba Ai dan Mas Rior akan jadi kombinasi yang dahsyat di masa depan. Mba Ai dengan sikap tenangnya dan mas Rior dengan keperkasaannya. Mba Ai adalah perempuan yang sangat lembut penurut, Mas Rior adalah lelaki tangguh pejuang. Fabiayyi Allaa Irobbikuma tukadziban. Maka Nikmat Tuhan mana lagi yang akan aku dustakan.

Senin, 03 November 2014

Dunia Politik Dunia Bintang.

" Dunia politik dunia bintang, dunia pesta pora para binatang. " 
Iwan Fals. 


Lirik lagu diatas rasanya cocok untuk menggambarkan kondisi politik negara kita saat ini. Porak poranda, pesta pora. Belum usai. Dan terus terulang, rakyat yang jadi korbannya. Hanya saja kali ini, Rakyat mulai ikut ambil bagian sebagai pelaku kerusakan. Tentunya dibantu oleh sistem luar bisa bernama media sosial. Aplaus meriah untuk Zukerberg, Dorsey, Morin, Systrom dan Krieger, juga beberapa nama-nama lain sebagai penemu banyaknya jejaring sosial akhir-akhir ini. Dan indonesia, semelek apapun masyarakatnya terhadap internet masih saja tetap gagap akan keadaan ini.
Saya bukan siapa-siapa, bukan pengamat politik yang pandai membaca manuver demi manuver panggung politik, juga bukan ahli tata negara yang terus mencoba mengamati bagaimana pemimpin negeri ini mengatur dan membenahi negaranya. Saya cuma seorang ibu rumah tangga, dengan 2 orang anak. Dan saya penulis. Jadi inilah yang bisa saya lakukan.

Sejujurnya, sejak dahulu saya benci politik. Terutama politik Indonesia. Entah dengan negara lain, tapi saya merasa politik di Indonesia tidak hanya kacau dan busuk melainkan sudah masuk dalam ranah menjijikkan. Tapi kemudian Inay ( almh Sahabat terbaik saya ) mengingatkan, dalam hidup kita harus selalu menggunakan politik. apapun ada politiknya, berteman, tidur, makan, bahkan -maaf- buang air pun ada politiknya. Makan misalnya, kita harus menggunakan politik agar nasi yang kita ambil bisa habis bersamaan dengan lauk yang ada di piring kita. Sehingga kita tidak perlu mengambil kekurangan nasi/ lauk ditengah proses makan itu. Hal sekecil ini, akhirnya mampu menyadarkan saya. Mau tak mau, suka tak suka, hidup kita sudah terjebak dalam suatu  medan perang bernama politik. Maka selayaknya dinikmati saja. 

Saya saat ini bersuai 28 tahun, usia yang sangat belia untuk sok tau tentang politik. Saya pasti diketawain banyak orang setelah memposting ini. Tapi saya gak peduli, sejak awal blog ini kan memang saya tujukan sebagai tempat sampah hati saya. Membuang sebal dan kekacauan pikiran. Saya selalu  merasa lega jika sudah menulis disini. 

Indonesia mengalami perang besar dengan bangsanya sendiri. Perang egosentrisme, dimana semua orang merasa berhak untuk mengatakan tentang haknya tanpa mempedulikan hak orang lain. Dan jika ada yang tidak sejalan dengan pemikirannya : Tendang! Indonesia, terutama masyarakatnya lupa untuk kembali ke diri awal negara besar ini yaitu Bhineka Tunggal Ika. Sejak dahulu, awal terbentuk negara ini memang keberagaman, perbedaan dan persatuan. Kita terdiri dari jutaan pulau yang tersebar dan di pisahkan lautan maha luas, kita terbentuk dari miliaran suku dan etnis juga adat yang jelas berbeda satu sama lain. Lalu, sekarang kemudian kita terpecah membelah hanya karena 2 perbedaan : Koalisi Merah-putih dan koalisi Indonesia hebat. Ada apa ini?!

Semua masyarakat, dari mulai sahabat saya, teman dekat, kenalan, om, tante, kakak-adik, ayah-ibu, semuanya berperang dengan saudara yang berbeda paham. berbeda pilihan. Ada kalimat yang bikin saya jengkel setengah matai : " Kita begini, karna pemerintahnya lebih-lebih. Pemerintahnya menstimulus kita untuk saling membenci. Masing-masing koalisi mengirimkan manuvernya dan membuat pendukungnya saling membenci satu-sama lain. "

Helloooo, ingat saya dulu pernah bilang Bahwa : Objektifitas adalah Subjektifitas+subjektifitas. Semua pendapat objektif itu hanyalah kumpulan kesepakatan bersama dapi pendapat subjektif beberapa orang yang merasa sepaham. Mau contoh konkritnya ? yuukk saya kasih tau :
Gelas misalnya. Siapa yang sepakat bahwa tempat minum kita yang berbentuk cekung dan memanjang keatas itu bernama gelas? apa itu muncul dengan sendirinya? Jelas tidak. Kesepakatan penyebutan tempat minum hingga di sebut Gelas melalui proses pengumpulan pendapat satu-satu manusia. Yang biasa kita sebut dengan pendapat subjektif. Kemudian ketika pendapat-pendapat subjektif itu mulai terkumpul dan tersepakati, maka jadilah pendapat objektif yang mengatakan bahwa benda tersebut bernama gelas.

Apa urusannya dengan politik kita? Ya itu tadi, bahwa kita ikut ambil bagian dari perpecahan ini. Bahwa sebab kita mau saja di pecah belah dan ikut pendapat subjektif dari satu-satu orang di masing-masing koalisi akhirnya membuat pendapat mereka absah dan di sepakati bersama. kemudian perpecahan itu muncul, lantas kita lari dari tanggung jawab dengan melemparkan sebab itu pada orang diatas kita. Sama hal nya dengan korupsi. Kita di bawah teriak-teriak korupsi ini itu, tapi kita sendiri secara gak sadar melakukan hal yang sama. Kita ketilang dan lebih milih bayar ditempat, kita urus BPJS aja lebiih milih nitip ke orang, kita urus sekolah anak kita aja malas menunggu lama dan memilih membayar lebih demi cepat selesai. Apa itu namanya? selain kita mendukung adanya tindak korupsi, kita juga sebenarnya telah melakukan hal yang sama. Podo wae sami mawon.Kasus hukum pun begitu, Maskapai yang tidak representatif diteriaki suruh ditutup, tapi kita tetep aja make jasanya ketika butuh armada untuk transportasi. Kita sebal karena salah satu provider sinyalnya jelek, tapi tetep aja bertahan menggunakannya. Ya mau bagaimana itu semua bisa tuntas kalau kita mendukung kok keburukan itu.

Kita itu harusnya kompak, saling mendukung dan saling menerima. Koalisi merah putih harus menerima dan mendukung Presiden Joko Widodo dalam pemerintahan 5 tahun kedepan. Pun begitu sebaliknya dengan Koalisi Indonesia Hebat, ayolah untuk menerima dan mendukung pimpinan kabinet di parlemen. Dan kita sebagai masyarakat dibawah mereka, gak perlu sok tau dengan menelaah ini itu yang justru lantas ikut dalam kancah perseteruan. Bikin panas suasana. Ini era dunia cyber, tapi belum tentu kita menguasai cyber. Jadi inget kasus Ahmad dhani tentang sumpahnya -maaf- Memotong kelamin jika orang yang didukungnya kalah. Ngeri banget lihat para pendukung dari halaman seberang meminta sumpah itu terlaksana. PAdahal, mereka itu gak menguasai twitter, medsos dimana sumpah itu keluar melalui akun milik Dhani. Saya aja yah yang bukan IT, ngerti kalo itu cuma photoshop. Cuma editan. Tapi saat itu percuma ngasih tau mereka, mengingatkan bahwa mereka sudah jahat memfitnah orang. terlepas dari sejujurnya saya secara pribadi kurang sreg dengan Dhani sendiri. Juga tentang abang tukang sate itu. Para pendukung Prabowo lantas ambil bangian dengan mencaci maki penangkapannya, padahal si tukang sate itu memang salah kook. Dia jahat loh dengan mengedit foto begitu. meski kita semua tau itu gak benar, tapi tetap saja itu hal jahat. Pak presiden harusnya kita hormati, kita lindungi dan kita dukung supaya hidup kita sejahtera. Bukan dengan terus mencari kesalahannya meski kita gak memilih dia saat pemilu kemarin. Mana ada sih manusia yang sempurna. Rasulullah saja beberapa kali di tegur Allah karena kesalahannya kok.

Belajarlah jadi manusia yang bijaksanasini, bisa menyaring semua informasi dan memfilternya untuk mengambil yang baik saja. Belajarlah untuk tepo seliro dan gak ikutan ngomporin suasana makin panas. Toh kita gak ada untungnya dengan begitu. Gak akan bikin hidup kita sejahtera. Terima apa yang ada dan berbahagialah dengan itu semua. disitu letak kesejahteraan yang sesungguhnya.

-Love-

Ami. 




Jumat, 12 September 2014

Kehidupan-Ku.

Suamiku,
Jika kau purnama utuh maka sungguh begitulah kau adanya. Bulat terang sempurna. Laksana bola api yang membakar langit. Kau meneduhkan sekaligus menyilaukan. Dalam balutan asmara aku mengagumimu serupa gadis penjual bunga menyanjung dagangannya. Kaulah matahari malam di labirin firdausku. Aku menemukanmu, saat jalan terjal dan panjang merobek aus roda kemudi hidupku. Bagai sang Khrisna, senyummu abadi merusak kokohnya naluri perkasaku. Biarkan aku lelah di dalam lautan tasbihmu. Engkaulah itu, purnama di tiap malamku.

Airinku,
Adalah matamu yang putih serupa salju. Putri sulung kerajaan purnama yang berbudi lembut lagi halus. Sebarkan wangimu dan harumkan noktah ini. Ketenangan sempurna yang membaluri tubuhmu lebih mahal dari hidupku sendiri. Dalam keikhlasanmu, cinta tak bisa berkata-kata. Lautan takut kau kalahkan, dan samudra bertekuk dalam belaimu. maka biarkanlah Nak, aku kalah dan haus nasehatmu. Engkaulah itu, keseimbangan yang menggelayuti hidupku.

Ariorku,
Satria piningit dalam kalbuku. Bagai jalasutera, kau menyebarkan jaring cinta yang tak kasat mata, tak henti-henti. Menyentuhmu adalah jebakan akan cinta itu sendiri. Jutaan waktu mencoba menggadaikan kemilau kuasanya, kau cukup diam dan menyanjung diri. Bagai oase tak berkesudahan, naluri puncak tertinggi kau genggam sejak lahir. Dalam maghligai nestapa, kaulah sang penyelamatku. Yang terus saja meracuniku dengan rasa haru bak amazon membelah hutan perkasa. Engkaulah nak, yang kelak akan melindungi kami semua.

Halilintarku,
Menunggumu lahir bagai impian yang siap menjadi nyata. kelopak hidup kami sebarkan dengan doa dan harapan. Dan apakah harapan itu? adalah engkau yang memupuk kesadaran bahwa hidup akan terus berisi impian. Kini waktu bagai buih yang mengejarku, menuntutku untuk segera kembali melahirkan manusia cemerlang sepertimu. kelak nak, biarkan keberanian yang akan membuatmu terus bersinar. Engkaulah itu, yang nantinya akan memagari kami dengan kobaran api tak tertembus. Hidup adalah nadi di tanganmu.


Minggu, 03 Agustus 2014

Anak-anakku.

Saat ini sudah tengah malam. Dua orang pria purnama mengelilingi saya dengan dengkur lelapnya. Saya masih tetap gagal memejam. Karna itu, saya ada disini sekarang. Assalamualaikum.

Postingan pertama saya kemarin setelah mengalami libur panjang medapat respon bermacam. Saya yang sempat menutup semua akun sosial media karna ingin fokus menjdi istri dan ibu merasakan kehausan pengikut blog ini kemarin. Facebook lama saya memang sudah tidak pernah saya buka lavi, otomatis pesan dari mereka yang menanyakan kapan saya membuat postingan lagi tidak terbaca. Saya menyesal untuk itu.

Kali ini, izinkan saya menulis tanpa konsep. Sebut saja ini adalah postingan acak adut. Postingan tentang banyak kegelisahan yang belum sempat saya tuliskan disini. Tentang banyak hal yang saya alami, atau sekedar saya lihat, atau juga merupakan pengalaman dari orang disekitar saya, yang memang belum sempat saya uraikan disini. Sebegitu banyaknya, sampai saya yakin postingan kali ini akan menjadi tak berkonsep. Izinkan saya memuntahkan segalanya disini sekarang. Dan saya mohon, jangan tutup dulu laman ini sebelum kalian membacanya hingga selesai. Meskipun kita tidak saling mengenal, paling tidak saya tau, ada orang lain diluar sana yang sedang mendengarkan keluhan saya. Selamat menjadi ' pendengar' di postingan kali ini.

Sering kali, saya menguraikan tentang kesenjangan hubungan antara anak dan orang tua. Kali ini, sekali lagi saya ingin mengulasnya lebih jelas. Anak adalah amanah dari Tuhan. Begitu banyak perempuan yang ingin mengandung, tapi belum juga diberi karunia itu. Padahal mungkin dia sudah cukup mampu. Sudah kaya, sudah matang usia, sudah memiliki suami, sudah mengerti psikologis mendidik anak, sudah siap segalanya. Tapi, Tuhan belum juga memberinya anak. Kenapa? banyak alasannya. Yang jelas, Tuhan pasti lebih tau dari kita. Tapi, ada satu kemungkinan yang bisa saya jadikan sample, adalah kemungkinan bahwa yang bersangkutan belum siap ketika membesarkannya kelak. Bukan secara ekonomi, tapi secara bathin.

Jauh hari sebelum ini, di blog ini, di facebook, di twitter, di kontak bbm, saya sering menerima PM, DM dan sejenisnya dari banyak orang. Terutama remaja tanggung. Ada saja yang mereka keluhkan. Tapi lebih mayoritas mereka mengeluhkan: yang orang tuanya tidak bisa menjadi pendengar yang baik, yang orang tuanya gak asik, yang orang tuanya gak memahami dia, yang orang tuanya menyebalkan, yang ini-itu dan segala macam hal negatif tentang orang tua mereka. Saya selalu gagal memahami, kenapa mereka yang jelas bukan anak saya, bahkan kenal pun tidak - malah banyak yang belum pernah bertatap muka- jadi lebih percaya pada saya, orang yang hanya mereka lihat dari tulisannya. Mereka lebih menikmati curhat dengan saya ketimbang dengan ibu kandung mereka, lebiih nyaman untuk bicara jujur pada saya ketimbang ayahnya. Padahal saya ini siapa? kami tidak saling kenal. Sejak itu, saya yakin, ada yang salah pada pola asuh orang tua kita terhadap anaknya. Kenapa saya yakin? Karena saya mengalami hal yang sama.

Entah mengapa, sejak dahulu, saya termasuk anak yang introvert terhadap orang tua saya. Saya lebih baik diam jika memiliki masalah, menangis sendiri di kamar, atau paling banter saya nulis. Saya juga lebih memilih tak bercerita terhadap orang tua saya, malah, saya cenderung lebih memilih berbohong pada mereka jika memiliki masalah. entah mengapa, rasanya saya sungkan. Aneh, padahal saya ada di perut ibu saya lebih dari 9 bulan, saya numpang bernafas, numpang makan, bergerak, dan keluar dari sana dengan pertaruhan nyawa ibu saya. Lalu kenapa saya harus sungkan? Jawabannya ada di sistem mendidik dan mengasuh.

Anakmu bukanlah milikmu.
Mereka putra-putri kehidupan yang rindu pada dirinya.
Lewat kau mereka lahir, namun bukan dari engkau.
Meski mereka bersamamu, mereka bukan hakmu.
Berikan kasih sayangmu, namun jangan paksakan kehendakmu.
Sebab mereka punya alam pikiran sendiri.
Berikan tempat pada raganya, tetapi tidak untuk jiwanya.
Sebab jiwa mereka penghuni masa depan yang tidak dapat kau kunjungi, bahkan tidak di dalam mimpimu.
Kau boleh berusaha menyerupai mereka, namun tidak membuat mereka menyerupaimu.
Sebab kehidupan tidak berjalan mundur. Juga tidak tenggelam di masa silam.
( Kahlil Gibran * Anak-Anakmu )
Itu puisi Gibran yang paling saya suka. Sejak membaca puisi itu tahun 96 ( saat itu saya masih SMP ) saya langsung bermimpi memiliki kehidupan seperti itu. Impian itu, yang menjadikan ekspektasi saya terhadap keluarga keluar jauh dari yang ditanamkan orang tua saya. Kemudian setelah itu, saya berubah menjadi alien. Saya menjadi anak yang sangat berbeda dengan anak lain. Saya jadi pembangkang, saya selalu merasa apa yang orang tua saya putuskan untuk saya tak pernah benar, saya selalu jadi jiwa yang pengecut. Selalu menyalahkan orang tua saya atas apa yang terjadi pada diri saya. Banyak hal yang saya alami, tentunya tidak mungkin saya ceritakan disini, tapi sejak itu, hingga kemarin sekitar setahun lalu, saya menjadi seorang anak yang selalu mencari. Selalu merasa tidak bahagia. Hingga setahun lalu, saya menemukan apa yang saya cari. Kehidupan saya akhirnya menggenap. Kemudian saya merasa yakin, kali ini saya tak perlu lagi menyalahkan siapapun. 
Apapun yang saya alami, tidak perlu kalian jadikan patokan meski memang kalian tidak mengetahui hal tersebut. Tapi yang ingin saya sampaikan disini bahwa, berilah diri kalian sendiri jiwa untuk mengasuh anak kalian. Jadikah diri kalian sendiri ketika berbicara dengan anak kalian. Selama ini, saya selalu mengenal ibu saya sebagai perempuan yang melahirkan saya, perempuan yang mengasuh saya, perempuan yang membesarkan saya. Hanya itu saya. Tapi saya tidak mengenal ibu saya sebagai manusia seutuhnya. Sebagai seorang Zubaida Widhiana. Begitupun mama saya, dia mengenal saya sebagai anak yang dia lahirkan dari rahimnya, sebagai anak yang dia besarkan, sebagai si upik yang harus terus dipantau, mama saya lupa untuk mengenal saya sebagai manusia. Sebagai Rahmi Isriana saja. Sebutan mama dan anak, memang terasa agung, namun sebenarnya itu melenakan. Memberikan saya dan mama saya batasan, sehingga ketika saya ingin menyampaikan sesutau, sebutan itu terasa sebagai tembok tinggi yang memagari saya dan mama. Saya merasa harus menata kalimat saya supaya tidak menyinggung perasa mama, supa tidak disebut durhaka, supaya tidak begini-begitu. akhirnya, apa yang akan saya sampaikan jadi mentah. Tidak keluar. Gagal. 

Ada pula seorang ibu yang kelewat sayang pada anaknya hingga tanpa sadar menjerumuskan anaknya dalam lingkaran durhaka. Melayani anaknya sampai si anak tidak memiliki celah untuk belajar madiri. Ibu akan kesulitan dan kerepotan, anak pun tidak akan pernah mampu untuk keluar dari dunia kanak-kanaknya. Tidak ada yang diuntungkan dari pola asuh memanjakan seperti ini. Saya bukan tuhan, tapi di dunia belahan manapun saya menemui tidak ada seorang anak yang berhasil dan sukses di hari tuanya jika pola asuhnya dimanjajan. Makan dilayani, tidak bisa bangun jika tidak dibangunkan, mengambil minum harus diladeni, pakaian disiapkan . Dan segala propagansa pengasuhan yang bersembunyi di balik tabir bernama kasih sayang yang sesungguhnya justru tidak menyayangi anaknya. Bisa dibayangkan, jika suatu hari Ibu dipanggil lebih dahulu oleh Tuhan, bagaimana nasib anak manja yang bahkan tidak tau dimana tempat gelas disimpan dirumahnya sebab selalu diambilkan jika butuh gelas. 

Saya 
bukan anak yang hebat, juga bukan orang tua yang luar biasa. Tapi saya berusaha menjadikan anak-anak saya kelak mampu berdiri diatas dirinya sendiri. Dan itu semua harus dimulai sejak dini. Dari mulai hal terkecil seperti mengambil nasi sendiri hingga hal kompleks seperti transformasi status tersebut. Dan apakah saya siap untuk itu? Apakah kalian siap? Harus siap!! Pertunjukan akan erus berjalan dengan atau tanpa kalian didalamnya. 

Love ; me