Sabtu, 11 Juni 2016

PMI dalam Hati.

KSR pekalongan. Kesiagaan PMI
Suatu hari pada suatu masa, saya mendapatkan diri saya mendadak terbangun dari tidur yang sangat panjang. Rasanya seperti baru saja di goncang oleh gempa berkekuatan ribuan skala. Suatu hari pada suatu masa itulah dimana saya akhirnya ‘berkenalan’ dengan PMI. Kami berdua resmi menjadi satu pada kala itu.

Harus saya akui, bahwa PMI telah mengibarkan namanya berkali-kali dalam hidup saya. Beragam momen tumpang tindih yang berkaitan dengan PMI. Namun sebagai seorang anak remaja yang belum ‘melek’ guna PMI, saya menafikannya. Kehidupan saya yang damai sentausa, membuat saya tak merasakan membutuhkan PMI secara Artificial.

Segala kesombongan saya berakhir di suatu hari.

Harus saya kisahkan lebih dulu, titik balik saya bersama PMI mengalami metamorfosa yang cukup lama. Dengan cerita yang beragam, berkali-kali dan perlahan-lahan. Saya mengumpulkan setiap remikan kisah tersebut hingga sebuah kisah mahadahsyat lantas menggenapi mozaik dari puzzle cerita saya akan PMI. Saat itulah saya terbangun. PMI telah menyuarakan dirinya dengan utuh di hati saya.

Saya adalah seorang perempuan yang sangat gemar berpetualang. Apa saja saya lakukan demi meladeni hasrat tualang saya. Naik gunung, panjat tebing, rafting, diving, dan begitu banyak kegiatan alam lainnya yang kerap kali saya ikuti. Sampai suatu hari, di kalimati Semeru saya mengalami kram kaki akut. Hal lumrah terjadi bagi pendaki yang kurang mawas diri pada pentingnya pemanasan sebelum mulai ‘manjat’. Tapi kali ini, ketika saya membuka kaki, dua orang teman saya berteriak dan saya melongo sendiri. Telapak kaki kiri saya hitam legam. Saya melihat kontras warna kulit kaki saya dari mata kaki keatas dan mata kaki kebawah bagaikan tiang listrik. Hitam dan putih. Kebal dan baal. Saya bahkan tak merasakan apapun di telapakan tersebut. beragam lintasan pikiran negatif muncul satu-satu. Termasuk diantaranya kerasukan dan terkena setan gunung. Tapi seorang mentor pendakian kali itu dengan tenang mengambil peniti dari dalam kantong belacunya, lantas menusukkan peniti tersebut dengan segera ke setiap punggung jari kaki saya. Perlahan-lahan darah keluar. Dan denyutan mendadak datang. Saya berteriak kesakitan. Kebal dan baal di kaki berubah menjadi kesemutan akut. Kalimati boleh jadi merekam tangisan saya kala itu.

Jefry Pangihutan Hasibuan, adalah nama mentor pendakian saya kala itu. Dia dengan telaten mengurus kaki saya tanpa protes dan mengomel sedikitpun. Selang dua jam kemudian saya sudah bisa dengan lincah melanjutkan kembali pendakian. Satu hal yang saya tau, Kalimat Kajep ( Kak Jefry )mengkonfirmasi sesuatu, “ Aku belajar P3K tadi di PMI. Waktu ada workshop relawan. Kapan-kapan kamu harus ikut belajar. “Satu kisah mulai menampakkan taringnya.

Gempa Jogjakarta di bulan Mei 2006 menjadi salah satu ragam kisah saya dan PMI. Saat menjadi relawan Gempa Jogja tersebut, Tenda saya yang saat itu ada di bawah naungan UPL( Unit Pencinta Lingkungan ) bersebelahan persis dengan tenda PMI. Saya takzim dengan segala kegesitan tim PMI dalam menangani korban gempa. Namun satu cerita kembali menyolek saya dengan perlahan.
Seorang anak kecil berlari tergopoh ke tenda di hadapan saya( tidak bisa saya sebutkan tenda siapa karna berkaitan dnegan salah satu organisasi besar ), entah apa yang anak itu katakan hingga salah satu relawan dari tenda tersebut keluar dan menghampiri kami. “ UPL ada yang bisa di kirim ke kasongan? Bawa nenek anak itu kesini. Dia kena asma” Saya yang saat itu sedang menyantap popmie mendongak dan celingukan. Di tenda hanya tinggal sata dan 2 orang teman yang sedang tertidur. Kami bahkan baru kembali dari Imogiri untuk membantu beberapa korban disana. Sementara saya tau, di tenda depan itu banyak relawan yang masih bebas tugas karena belum mendapat komando langsung dari koordinatornya. “ kami baru saja kembali kak. Di ***** bukannya banyak orang yah kak?” Ketika saya menjawab permintaannya sungguh tak ada maksud apapun dalam benak untuk menolak permintaan anak tersebut menolong neneknya. Tapi entah bagaimana, anak tersebut lantas menangis dan meraung. Seorang perempuan berhijab keluar dari tenda PMI, memeluk anak itu dan menanyakan perihal tangisannya. Lantas dengan segera masuk kedalam tenda dan dalam hitungan detik keluar lagi bersama ketiga temannya membawa drakbar. Saya melongo, malu dan diam. Sekali lagi PMI menyatakan tempatnya di hati kemanusiaan pada saya secara tunai.

Tragedi ketiga terjadi di Jakarta tahun 2012. Saat itu saya sudah bekerja menjadi salah satu staff di Dekopin ( departemen koperasi indonesia ). Sekitar jam 17.30 saya dan dua orang teman terhenti di lampu merah pancoran. Kebetulan mobil kami berada di deretan terdepan antrian kendaraan. Datang dari arah gatot subroto, sebuah metromini dengan kecepatan penuh dan di depan mata saya ia menabrak sebuah motor matic yang dikendarai perempuan muda. Motor itu terpelanting ke bahu kolong fly over dan si perempuan pengendaranya terseret motornya sendiri. Teman saya instingtif keluar dari mobil dan berteriak-teriak. Saya menyusulnya berlari di tengah kerumunan ramai pancoran. Dua orang polisi langsung menyeruak diantara kerumunan massa. Teman saya yang mengendarai mobil meneriakkan klaksonnya berkali-kali tanda mita ruang untuk lewat. Perempuan itu bermandi darah. Entah bagaimana asalnya mendadak tubuh saya pun ikut mandi darah. Ternyata tanpa sadar saya telah meraup perempuan itu dalam pelukan saya. Polisi meminta saya minggir karna akan dibuatkan garis polisi, tapi entah karena apa saya mendadak jadi sekuat Rambo. Berbekal ketakutan akan kejadian terburuk, saya dan satu orang teman akhirnya membawa perempuan itu kedalam mobil kami dan pergi menjauh dari kerumunan. Didalam mobil, teman saya mengucapkan kata-kata yang lantas menampar saya “ Kita bawa ke PMI terdekat. Ke rumah sakit kondisi kayak gini bakalan lama.”

Saya melihat dengan mata dan kepala saya sendiri bagaimana PMI dengan cekatan melakukan tindakan penyelamatan pertama. Dengan rakus para dokter dan relawan di sana begitu haus akan menolong korban kecelakaan itu bahkan tanpa perlu tau identitasnya terlebih dahulu. “ tolong dulu aja. “ begitu saya dengar salah satu dokter di PMI memutuskan.

Hari itu juga saya melihat dengan nyata, tindakan yang selama ini telah saya alami mendadak terputar sedemikian acak di ingatan saya. Kejadian kalimati, gempa jogja, Kasus kecelakaan ini, juga beberapa kejadian kecil lainnya seperti saat saya melahirkan anak dan butuh pasokan darah, atau saat kejadian banjir jakarta. Saya secara afirmasi telah sepakat dengan PMI. Mendadak tanpa perlu saling berkata-kata saya menjadi bagian abstrak dari PMI.

Sejak saat itu hingga hari ini, saya mencintai PMI mati-matian. Saya mengagumi PMI dengan hati yang penuh dan utuh. Sebagai bentuk dari terimakasih saya akan kejadian demi kejadian yang terkumpul di hari-hari saya. Tulisan ini saya persembahkan.


facebook : Amoy AiRior
Twitter  : ami_airin 
email    : ami.airin@gmail.com


Rabu, 01 Juni 2016

Memo Penyair dan Pekerjaan Hati.



Senjata penulis adalah kata-kata. Dan kata-kata adalah senjata paling tajam di dunia. 


Saya adalah seorang penulis. Bagaimana bisa dengan sedemikian convidence saya mengatakan ini? sebab tidak ada lagi kemampuan yang bisa saya banggakan selain menulis. Saya mungkin bisa memasak, tapi saya sekedar bisa saja. Hanya demi perut dan kelangsungan rantai makanan keluarga saya terjamin. Saya juga mungkin bisa dikatakan menguasai tekhnik Master Ceremony, beberapa kali jasa Mc saya di pakai oleh lembaga dan instansi pemerintahan, non pemerintahan dan bahkan swasta dengan profesional. Namun saya tidak tergerak untuk mendalaminya. serta beberapa kemampuan ala kadarnya yang lainnya, yang jika saya urutkan satu persatu niscaya postingan ini hanya akan jadi sampah.

Mengapa menulis? karna bagi saya menulis adalah pekerjaan luar biasa yang bisa di katakan lebih mulia dari pada menjadi Ustadz atau bahkan hakim dan jaksa sekalipun. Menulis adalah pekerjaan hati, adalah pekerjaan orang yang merdeka, adalah pekerjaan manusia kreatif, dan adalah pekerjaan insan Tuhan yang di penuhi rasa bersyukur terus menerus. Menulis juga tidak memiliki ketentuan apapun, saya bisa melakukannya di mana-mana. Dimanapun saya bisa menulis, di Blog ini, di halaman media, di buku-buku. Saya juga bisa menulis tanpa ikatan apapun, bisa santai sambil menontoni National geograpic di kamar, bisa dengan daster, atau bisa juga dengan setelan resmi jas blezer dan duduk di balik meja kantoran. Menulis adalah kebebasan, kata-kata tak memiliki ketakutan apapun untuk bersuara, kalimat mendapat tempat dimanapun ia ingin parkir, dan tulisan adalah ungkapan yang tidak akan pernah hilang di telan memori. Selamanya akan tetap ada, tersimpan rapih sebagai dokumen yang tak terbantahkan.

Sebagai seorang penulis tentulah saya ingin karya saya menjadi inspirasi dan bermanfaat bagi banyak orang. Bohong kalau saya tidak ingin tulisan saya hanya di simpan dalam file laptop dan tidak terpublikasikan. Bohong kalau saya tidak ingin menjadi seorang penulis yang karyanya dikenal oleh dunia. Tapi sejujurnya bukan itu tujuan utama saya menulis. Yang pertama adalah karna saya ingin menyelesaikan hidup dengan cara yang Khusnul Khotimah. Saya menulis, karna saya ingin menyelesaikan semua dnegan baik.

Banyak sekali komunitas menulis yang saya ikuti sejak dahulu. Mulai dari milis-milis dengan anggota ribuan, hingga grup-grup di media sosial yang berkembang saat ini. Handphone saya bahkan terus-terusan membunyikan notifikasi karna terlampau banyak grup menulis yang saya ikuti. Namun saya adalah sosok yang pemilih, dengan angkuh dan congkaknya saya menjaring semua grup dan hanya aktiv di beberapa grup saja. Grup Memo Penyair dan Grup Supernova adalah salah dua-nya.

Saya akan mengulas salah satu grup yang saya tekuni dan ikut bergerak aktif di dalamnya ini. Yaitu Grup Memo Penyair. Untuk Grup Penulis Supernova, saya akan ulas dipostingan selanjutnya.

Memo Penyair, jika teman-teman semua search di Google pastilah akan menemukan banyak berita mengenai komunitas penyair Nusantara ini. Yah, Grup ini adalah sebuah komunitas atau perkumpulan atau gugus atau apapun namanya yang di koordinatori oleh seorang penyair Solo Sosiawan Leak. Sebuah komunitas yang hingga kini telah menerbitkan 8 buah buku antologi puisi Penyair se-Nusantara.

Saya harus menghela nafas panjang sebentar untuk bisa dengan baik menceritakan tentang Memo penyair dan sepak terjangnya ini.

Membicarakan tentang memo penyair, kita akan membicarakan tentang sebuah proses luar biasa bernama cinta. Seluruh penyair indonesia tumpah ruah bersatu dalam grup ini. Tidak ada batasan. Usia, kemampuan, karya, pengalaman, sebuanya tak menjadikan batas apapun dalam memo penyair. Semua sama, semua bergerak dan terus berkarya. Yang paling indah dari itu semua adalah, bahwa karya memo penyair ini adalah sebuah teriakan untuk Indonesia. Puisi Menolak Korupsi dari jilid 1 - 5, adalah wujud dari teriakan-teriakan penyair se Indonesia akan ketegasan mereka akan korupsi. Memo Untuk Presiden: terhimpun ratusan penyair yang berkolaborasi didalamnya dan semuanya memberi pesan untuk sang presiden. Memo Untuk Wakil Rakyat : Suara penyair yang mengkristal menjadi puisi bagi anggota Dewan di Gedung-gedung pemerintahan. Dan karya yang masih hangat adalah Memo anti Terorisme : adalah sebuah buku dahsyat yang ledakkannya melebihi bom di bodrobudur atau Legian. Semuanya karya penyair nusantara. Semuanya mandiri, semuanya independen. Grup ini bergerak tanpa di sponsori oleh apapun. Tanpa sokongan dana dari siapapun. Seluruh penyair yang tergabung didalamnya, rela memberi sumbangan dnegan tulus, tanpa tendensi. Bersih dan murni.

Kekaguman saya terhadap Memo penyair, tak luput dari kekaguman saya akan sosok luar biasa Sosiawan Leak. Seorang seniman asal solo, yang dengan hati luar biasa telah mengkoordinasikan semua penyair di nusantara. Dari mulai yang sudah berusia tua hingga yang masih sekolah. Semuanya di rengkuh dan di rangkul dengan hati yang besar olehnya. Ia memiliki hati yang sangat luas untuk bisa menampung segala kegelisahan para penyair. Semua karya, ratusan bahkan ribuan puisi yang masuk ke dalam memo penyair tak lepas dan tak luput dari kurasinya. Satu persatu, perlahan-lahan ia menyapa puisi semua penyair. Tak hanya satu-dua penyair, tapi lebih dari 600 penyair! ini bukan hanya kerja berat, ini kerja yang sangat luar biasa. Dan lebih hebatnya lagi - sekali lagi - bahwa ini semua bukan pekerjaan dengan bayaran. Mas Leak tak di bayar, bahkan jikapun ia meminta bayaran, saya percaya tak ada satu instansipun yang mampu membayarnya. Hatinya sangat mahal, sangat kaya dan sangat luas. Tak ada nilai mata uang di dunia ini yang mampu menakarnya.

Keindahan memo penyair tak cukup sampai disini. Setiap buku yang telah di terbitkan biayanya akan menjadi tanggungan seluruh penyair yang masuk di dalamnya. Yah, karna ternyata tak semua puisi bisa masuk dalam Antologi-antologi yang di hasilkan oleh memo penyair ini. Mas leak mengkurasi puisi yang masuk sehingga bisa menjadi layak terbit dan layak baca. disertai dengan keindahan dan paduan yang pas dengan tema yang diusung. Jadi wajar, jika tak semua penyair bisa lolos di buku-buku Memo penyair ini. Kemudian setelah buku terbit, para penyair dari daerah masing-masing akan mengadakan launching dan dialog mengenai isi buku. Hebatnya adalah, acara ini akhirnya menjadi Tur keliling kota Memo penyair di setiap bukunya. Sebab meskipun diadakan di setiap daerah, namun penyair dari daerah lain akan ikut melaksanakan dengan datang menghadiri acaranya. Inilah kekuatan besar itu, inilah gulungan bom yang terus membesar dan akhirnya menjadi ledakan yang dahsyat.

Apakah tak ada yang menumpangi Karya-karya ini? saya dengan yakin menjawab TAK ADA ! Memo penyair lahir dan tumbuh dengan snagat mandiri. Beberapa kali saya bertemu mas leak dan mendengarnya bercerita mengenai penawaran dari pihak-pihat yang terkait isi buku, mereka semua menawarkan bantuan dan dengan segenap hati demi perwujudan idealisme yang utuh di TOLAK dengan tegas. Tak ada yang berhak bertendensi di sini. Semua murni karya penyair. Semua murni swadaya penyair. Bersatu untuk negeri, bergerak untuk bangsa !

Bagaimana dengan saya sendiri? Saya telah berhasil ikut setidaknya 5 Buku dari 8 yang telah di terbitkan. Ini jadi prestasi sendiri bagi saya. Pertama karna paling tidak puisi saya layak untuk di baca oleh umum, dan kedua karna dengan saya bisa bergabung akhirnya saya memiliki saudara dari ujung Sabang hingga merauke. Tanpa memo penyair, saya tak akan merasa se-manusia ini.

Tak ada tua-muda, Miskin-kaya, pintar-bodoh, terkenal-tidak terkenal, hebat-payah, atau apapun jenis pemisahan bagi para penyair dalam Komunitas ini. Semuanya sama, semua saudara, semua satu. Semua bergerak. Atas nama bangsa, atas nama kemanusiaan, atas nama kegelisahan, semua mendadak kompak dan bersatu.

Kini Memo Penyair sedang menggodok gagasan untuk buku selanjutnya. Memo Untuk anak Indonesia. Sebuah buku kumpulan puisi yang bertemakan anak Indonesia. Lahir dari keprihatinan kita akan kasus Angeline, Yuyun, pembunuhan dan pemerkosaan terhadap anak, jual beli anak, penyiksaan anak, eksploitasi anak, dan segala kegelisahan penyair mengenai anak Indonesia yang terteror kriminalitas.


Fisik Buku Memo Untuk Presiden
Fisik Buku Memo Untuk Wakil Rakyat

Salah satu gerakan nyata setelah buku terbit di kota Lubuk Linggau

Selepas Acara Launching Memo Anti Terorisme di Jakarta

Salah satu fisik spanduk Memo Penyair pada launching buku Memo Anti terorisme Jakarta

Salah satu fisik Flyer memo Penyair di acara kota tegal

Salah satu penampilan pada acara memo penyair di Lubuk Linggau

Fisik Puisi menolak Korupsi Jilid 4

Sosiawan Leak, Koordinator Memo Penyair



Salah satu fisik Undangan Peluncuran buku memo penyair di jakarta

Fisik Buku Memo Ati Terorisme

Jumat, 15 Januari 2016

FALL 7 TIMES, STAND UP 8 !

I have not failed. I’ve just found 10,000 ways that won’t work.
( Thomas Edison ) 


     Kalimat diatas itu dulu saya pajang besar-besar di atap kamar. Agar setiap kali saya belum berhasil, saya akan menengadahkan keatas dan membaca kalimat itu terus sampai kepala saya sakit.Atau terkadang bahkan saya membacanya sampai terlelap, kemudian terbawa hingga mimpi dan esoknya terbangun sebagai Thomas Edison versi perempuan millenium. 

Sekarang memang saya sudah tak lagi memasang Quotes itu, sebab saya sudah pindahkan di dalam hati. Dan penyebab lainnya adalah, karna secara tidak langsung saya memang telah bertransformasi menjadi manusia yang tidak pernah mau gagal. Saya tidak pernah gagal, saya hanya menemukan 10.000 cara yang tidak berhasil. Yes, it's me !

     Blog ini bercerita tentang harapan. Bahkan saya membuat sebuah jargon di profilenya : " saya gak jual impian, tapi saya jual harapan. " Karena saya tau, impian ada untuk tetap menjadi mimpi. Tapi harapan adalah sebuah keinginan, sebuah cita-cita. Dan itu sah untuk di wujudkan. Saya mengajak semua pembaca blog ini untuk mewujudkan setiap harapan mereka, untuk berani berdiri tegak diatas cita-cita mereka sendiri - meski seluruh dunia menertawakannya. 

Saya pernah bilang untuk jangan pernah menganggap enteng harapan meski itu sangat kecil. Saya juga pernah mengatakan bahwa cuma kita yang tau akan seperti apa cita-cita kita kelak, hanya kita yang berhak untuk memutuskannya. 

Saya ini tipikal manusia yang boleh di bilang keras kepala, saya batu, saya sangat ambisius. Tapi tunggu dulu, ada yang lebih tepat lagi untuk mewakili semua sifat saya itu,yaitu : fokus. Ya, saya fokus terhadap harapan.Saya memandang lurus kedepan, tidak pernah berniat menyerah dan mundur apapun yang menghalangi saya didepan. saya bisa terus-terusan melakukan usaha bahkan hingga puluhan tahun lamanya untuk sebuah cita-cita. Dan usaha tak kenal lelah itu tidak pernah saya sebut kegagalan, meskipun pada kenyataannya saya terus menerus gagal. Saya cuma belum berhasil, itu saja !

beberapa tahun yang lampau, saya pernah hilang di Semeru. Berminggu-minggu, hingga semua orang mengira saya sudah mati. orang tua bahkan sudah menyiapkan batu nisan atas nama saya, semua tim jaga wana selalu menggeleng jika sudah membicarakan tim pendakian saya. Mereka hanya bisa bilang tak ada harapan, kecil harapan untuk bisa menemukan saya dan kawan-kawan lainnya. Dari 8 pendaki yang berangkat, 4 orang telah di temukan dalam kondisi meninggal, kemudian 1 orang ditemukan dalam keadaan gila, 1 orang lagi luka parah,yang terakhir tidak di ketemukan hingga kini. 

Awalnya saya termasuk dalam sensus yang tidak di temukan, hingga di suatu hari saya pulang sendirian ke pos Jagawana dengan tubuh sudah lebih lebat dari simpanse. Semua tim menatap saya seperti menemukan artefak kuno bersejarah, bahkan ada yang tak berani mendekat karena khawatir itu bukan asli saya melainkan siluman yang menyamar jadi saya. 

Tak bisa saya ceritakan dengan detail bagaimana saya di semeru bisa hidup, tapi saya bisa membuktikan bahwa dari kejadian itu fokus akan harapan adalah big issue buat saya. 

Setiap hari disana saya lalui dengan mencari jalan pulang, entah apa yang terjadi tapi setiap kali matahari menyingsing saya akan mulai berjalan dan menandai lokasi yang saya lewati, dan setiap kali hari gelap saya akan berhenti untuk melihat sudah sejauh mana saya menemukan jalan pulang atau semakin jauh tersesat kedalam rimba semeru. saat itu saya ingat seorang teman pernah memberikan lembaran kertas berisi puisi, saya hafal isinya diluar kepala : 
Setiap kali fajar menyingsing,
seekor rusa terjaga,
ia tahu hari ini ia harus lari lebih cepat dari seekor singa tercepat.
Jika tidak, ia akan terbunuh. 
Setiap kali saat fajar menyingsing,
seekor singa terbangun dari tidurnya.
Ia tahu hari ini ia harus mampu mengejar rusa yang paling lambat.
Jika tidak, ia akan mati kelaparan.
Tak masalah apakah kau seekor rusa,
atau seekor singa.
Karena setiap kali fajar menyingsing,
sebaiknya engkau mulai berlari.

     Puisi itulah yang jadi cemeti saya. Saya tak pernah melihat seberapa banyak lintah hinggap didalam raincut yang saya kenakan, tak perlu juga saya mengobati luka akibat goresan belukar yang ada di telapak tangan juga pipi, atau tak akan pernah saya membiarkan ketakutan menyergap saya meskipun saat itu saya ada di tengah kumparan pohon raksasa dengan belantara yang maha dahsyat. Saya tau, entah berapa mil jauhnya banyak orang sedang mengkhawatirkan keadaan saya, jadi saya harus menyelesaikan porsi saya untuk bisa keluar dari semeru. Satu-satunya yang bisa menghalangi saya untuk tetap mencari jalan pulang adalah maut. 

      Seperti halnya saat saya menjadi sekjen HMI pusat. saat itu, presiden HMI memerintahkan saya untuk bisa koordinasi dengan beberapa alumnus, salah satunya adalah Akbar Tanjung. Betapa susahnya tugas itu, rasanya mustahil bisa membuat schedule dengan beliau. Dan memang benar, 4 hari saya memohon jadwal darinya selalu mendapat respon negatif. Akhirnya pada subuh di hari kelima, saya beranikan diri untuk meminta agendanya seharian. Saya memutuskan berkoordinasi di jalanan, didalam mobil saat beliau berotasi dari satu tempat ketempat lainnya. Jadi, saya menunggu beliau di depan rumahnya lalu ikut kedalam mobilnya untuk berangkat ke lokasi pertama di jadwalnya. didalam mobil itulah saya berdiskusi. Lalu tiba di lokasi saya menunggu beliau sampai selesai, lalu ikut beliau lagi ke lokasi berikutnya dengan tujuan berdiskusi didalam mobil. Terus begitu hingga akhirnya saya merasa telah cukup berdiskusi. melelahkan memang, tapi tugas itu selesai dengan baik. 

    Apa sih yang ingin saya sampaikan dari kisah panjang lebar ini? tentu saja banyak, tapi yang paling penting adalah tentang semangat dan harapan. Saya ingin banget pembaca blog ini tau,bahwa gagal itu lebih baik dari pada tidak pernah mencoba sama sekali. Takut salah sebelum mencoba adalah salah satu kegagalan itu sendiri, saya selama ini selalu memilih untuk salah karna dengan begitu saya jadi tau bahwa itulah kesalahannya. 

    Kolonel Harland Sanders, sang owner KFC - pemilik waralaba besar yang sudah mendunia - bahkan harus mengalami kegagalan sebanyak 1009 kali. Wow !!!, bisa dibayangkan bagaimana beliau melewati setiap kegagalan itu hingga akhirnya bisa sampai di hitungan ke 1009. dan bisa kalian bayangkan juga jika dia berhenti pada usahanya yang 1008, maka ia tidak akan pernah memiliki KFC. Meskipun ketika dia berhenti di usahanya yang 1008 - misalnya - itu adalah hal yang sudah sangat luar biasa. Tapi sekali lagi, ia fokus pada cita-citanya. Karna kita memang tidak akan pernah tau pada usaha keberapa keberhasilan itu akan datang. Jadi kalau kita baru mencoba sebanyak 100-200 kali dan semuanya gagal lantas kita putus asa, gak malu tuh sama sang kolonel? satu lagi, yang paling mengesankan dari beliau adalah karena semua usahanya itu dilakukan di usia yang sudah cukup tua : 65 tahun. Jadi siapa bilang harapan dan impian adalah milik kaum muda. Siapa yang mengkultuskan bahwa yang tua sudah saatnya menunggu ajal ? siapa? coba itu ketemu sama kolonel sanders, bisa di doorr ditempat anda. :) 

     Jadi, silahkan dekatkan harapan kalian. Dan jangan pernah menoleh sebelum berhasil, jangan pernah berhenti sebelum nafas sampai di kerongkongan. Jangan pernah mengkhianati diri sendiri dengan berpura-pura ikhlas menerima kenyataan bahwa anda gagal. Jangan pernah sejahat itu pada pribadi anda sendiri. Ayo, kita raih semuanya. You Can !! 


love _me_

Rabu, 06 Januari 2016

IMPIAN TERBESAR ? SILAHKAN DATANG !

Lama sekali rasanya saya gak menyapa lewat blog ini. Klise yah kalau saya bilang betapa sibuknya sampai bahkan saya gak sempat menulis. Dan sangat arogan kalau saya bilang saya gak berusaha untuk menyempatkan menulis. alasan paling masuk akal kenapa saya jadi lama sekali gak menulis di blog adalah kemalasan itu sendiri. Saya sedang sangat menikmati peran sebagai ibu, sebagai istri dan sebagai seorang manusia yang memutuskan fokus ke keluarga. Dan sejujurnya, itu memang membuat saya jadi malas menulis.

Berkali-kali saya ceritakan disini, kalau passion saya, cita-cita saya , impian terbesar saya ada di pendidikan anak-anak. Saya cinta menulis, saya bahkan selalu merasa terjun bebas setiap kali menuliskan sesuatu dan menyampaikannya melalui apapun. saya juga sangat jatuh hati pada alam, saya naik gunung sampai lupa pulang, diving sampai lupa mendarat, atau caving sampai lupa bahwa saya bukanlah mahluk melata tapi manusia sejati. Atau yang nyaris tak pernah luput dari hari-hari saya adalah teater, Panggung baca puisi atau sekedar tampil dalam tarian kontemporer. Dalam dunia panggung itulah cinta dan segenap hati saya telah habis terlumat. Namun jangan salah, dibalik 3 dunia itu ada satu dunia yang merangkum hasrat terpendam saya. Dunia yang untuk membicarakannya saya seperti mencecap garam sejuta ton banyaknya, dunia dimana tak ada kata yang pantas untuk saya ejawantahkan demi mendefinisikan kecintaan saya padanya, dan dunia dimana hati saya menggelepar bagai ikan kekurangan air : Dunia Pendidikan Anak. Dan impian terbesar saya ada di sana.

Saya percaya bahwa takdir akan menuntun kita pada suatu kejadian yang tak terelakkan. Seperti saya yang telah menulis novel sejak berapa tahun lamanya, namun enggan mengirim pada penerbit karena merasa belum pantas atau belum memadai. Namun suatu hari, di siang yang terik dan di saat yang tak terduga saya berkenalan dengan salah satu pemilik penerbitan. Perbincangan dan obrolan sampai pada meletakkan visi misi yang ternyata sepaham, dari situlah lantas novel saya terlahir. Rahim yang kita tak pernah bisa memilih, novel saya menjadi anak dari kandungan sebuah penerbit dimana saya tak pernah bisa menentukan ibunya. Itulah takdir, itulah kesepakatan semesta. Saya mengakui dan menerimanya dengan utuh.

Seperti itulah juga Sekolah yang saya impikan. Mati-matian saya gelisah disetiap malam, ketakutan disetiap siang, dan menangis disetiap mimpi. Saya melihat betapa masa depan anak-anak di Indonesia telah tergadaikan oleh kurikulum yang menjadikan mereka sebatas robot penghapal belaka. Kemampuan terbaik mereka hanya pada nilai sepuluh atau IPK tertinggi, tapi melupakan essensi pendidikan itu sendiri. Mereka hebat ketika bisa menjadi yang terbaik dan menjadi tak berarti ketika mereka membantu sesama. Orang tua mendadak memojokkan anak-anaknya untuk ikut les ini itu demi membungkam ocehan semua orang tentang anak-anak kebanggaannya. Perlombaan itu hanyalah sebuah posisi, dimana anak-anak adalah tumbalnya dan orang tua adalah tukang jagal tanpa adab yang normatif.

Saya ingin memiliki sekolah dimana tak ada guru atau murid, semuanya belajar bersama didalamnya. saling mengajari dan saling belajar. Sekolah dimana tak ada yang peduli pada nilai akhir anak-anak, tapi sangat menghargai proses mereka dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. Kelas dimana tak ada perintah untuk mengerjakan tugas apa tapi hanyalah ada keputusan dan kesepakatan bersama tentang jenis pelajaran yang akan mereka lakukan hari ini. sekolah dimana tak ada dikte dari guru tentang satu di tambah satu adalah dua, tapi hanya ada tangn terbuka para guru untuk menuntun siswanya mendapatkan hasil dari penjumlahan tersebut.  Saya memimpikan itu setiap saat, hasrat saya lebur dalam sekolah impian itu.

Tapi sekali lagi, saya butuh takdir untuk menjalaninya. Saya mendengar tentang metode montessori sudah sejak tahun 2000. Beberapa sekolah telah menerapkan metode tersebut namun entah karena apa saya enggan mencari tau tentangnya. Padahal tahun itu internet sudah mulai ramah pada masyarakat indonesia termasuk saya. Tapi jari-jari saya tidak pernah tergerak untuk mencari tau tentangnya lebih lanjut. Dan bagaimanapun takdir memang belum menemukan saya dengan montessori kala itu. Beberapa sahabat saya sudah ada yang menjadi guru dan tidak ada satupun yang tertarik menceritakan tentang metode itu pada saya. Tidak ada satupun. Sampai hari itu terjadi, hari dimana saya dikenalkan oleh seorang dokter spesialis anak nan cantik jelita : Trully Kusumawardhani.

pekerjaan suami saya yang seorang reporter majalah tumbuh kembang anak kala itu, memungkinkan dia untuk bersinergi dengan banyak psikolog atau juga dokter anak. Dari sekian banyak dokter anak yang dikenalnya, Ibu TRully ini entah mengapa masuk dalam benak saya. Lucunya adalah, bahkan sebelum saya dikenalkan kepada dokter ini, saya bahkan telah jatuh hati pada sikapnya. Saya ingat betul, suami saya menceritakan setiap karakter narasumber yang ditemuinya setiap malam pada saya, tak terkecuali dokter Trully. Dan entah mengapa, meskipun setiap berita yang dibuat oleh suami saya selalu melahap untuk membacanya, tapi berita tentang dokter trully ini begitu hangat masuk ke hati saya. Ini bukan lebay, tapi saya tau inilah saatnya semesta bicara. Takdir menuntun saya kearah montessori melalui dokter Trully.

Siapa yang bisa menduga, cita-cita terbesar saya ada di metode montessori. Dan siapa yang bisa menebak, saya membutuhkan 16 tahun untuk mencari metode tersebut hingga akhirnya menemukannya melalui seorang Dokter spesialis Anak.

Saya jelas belum jadi expert di bidang montessori, ibu Trully adalah perempuan berjasa besar yang mendukung kebutuhan dan kehausan saya akan ilmu tersebut. salah satu jalan yang menurut saya sangat berpengaruh bagi takdir besar ini adalah langkahnya mendaftarkan saya kesebuah pendidikan singkat tentang montessori. Dan saya harus membungkuk untuk kehormatan tak terkira ini padanya.

Saat ini, saya mulai sedikit demi sedikit menapaki cita-cita dan hasrat terbesar ini. Betapa saya sangat berterimakasih pada lelaki yang terus mendukung saya selama ini, betapa besar hati saya untuk tak henti berterimakasih padanya The real man, Ade Riyan Purnama. Dan entah sudah berapa kali saya sebutkan, namun rasanya tak pernah bisa habis saya berterimakasih padanya , Terimakasih ibu, terimakasih guru saya : Trully Kusumawardhani.

dan terimakasih pada hidup, pada masa yang waktunya memampukan saya untuk terus menjejak. untuk terus bisa bermimpi dan berusaha mewujudkannya. terimakasih.

Love

-Me_

Sabtu, 11 April 2015

Persahabatan itu....

Senin pagi adalah hari dimana kenangan tentang banyak hal di belakang bersliweran dengan ganas. Saya terapung di tengah itu semua.

Entah kenapa, mendadak saya merindukan Inay, Shinta, Prita, dan Paquita. Sahabat saat kuliah itu membuat saya melihat betapa hidup sudah berlari dengan sangat cepat. Saya sudah berdiri di sini dengan suami dan 2 orang anak. mereka sudah pergi entah kemana dan berpetualang dengan sayapnya. Saya merindukan nuansa dimana kepakan sayap saya menunjukkan arah yang jelas pada mereka.

Inay adalah manusia Independent pertama yang mengajari saya bagaimana cara hidup dengan sangat tegar. Ditengah kesendiriannya yang mutlak, Inay mengingatkan saya pada sosok patung Liberty yang cantik namun kesepian ditengah laut. Meskipun semua orang memuja dan mengagumi kecantikannya yang megah. Liberty tetap saja sendiri. Ia begitu anggun berdiri tanpa pernah tergoyahkan oleh badai macam apapun. Begitulah Inay di mata saya. Ialah manusia tanpa alamat yang kerap kali begitu saya rindukan sampai sesak nafas, tapi kakinya yang tak pernah bisa dikat bumi membuat Inay terus saja berpetualang kesana kemari. Terakhir kepulangannya dari perancis dan lantas langsung kabur ke makassar dan ambon membuat saya kehilangan dia sampai saat ini.

Shinta lain lagi. Dia itu sosok dewi khayangan yang mendadak jatuh terpeleset ke bumi dan tak bisa balik naik lagi keatas. Wajahnya yang super ayu, kelembutannya yang tak bisa diejawantahkan dengan kata-kata, kebaikan hatinya yang kadang bikin saya jengkel sendiri, dan kepolosannya yang saya liat sebagai kekuatannya selalu. Shinta mengajarkan saya tentang bagaimana menjadi ibu yang baik untuk anak-anak. Bagaimana menjadi istri sholehah perhiasan suami di dunia dan akhirat, bagaimana memanagemen keluarga supaya menjadi tak hanya sakinah mawaddah warohmah, tapi juga bisa saling menjadi berkah. Ia kerap kali menangis untuk saya ketika pada waktunya saya menyerah untuk suatu hal. Baginya, hidup adalah takdir yang terus saja indah meski pada kenyataannya sangat menyakitkan. dia itu super positif untuk semua hal.

Nugrahening Prita. Sahabat saya yang satu ini adalah yang paling berpengaruh dalam hal mengajarkan disiplin dan konsistensi. kecintaannya pada dunia anak membuat saya dan Prita bersekutu dalam membesarkan suatu sekolah untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Kalau Shinta adalah dewi khayangan yang lembut dan sangat amat cantik luar dalam, Prita adalah dewi khayangan versi Xena the warrior Princess. Kebaikan dan sikap positifnya sama, tapi Prita adalah petarung sejati yang tak kenal rintangan apapun. Kalau Shinta memilih mundur dari karier cemerlangnya demi keluarga, kalau Prita hanya bisa fokus pada kariernya sebab ia belum dikaruniai anak. Prita begitu teguh saat berusaha membantu Reno - seorang anak penderita disleksia- yang bahkan oleh orang tuanya sudah nyaris dikirim ke sekolah militer demi membuatnya tak nakal lagi. Prita keukeuh merawat Adit yang bahkan mengangkat kepala saja tak bisa, pertumbuhannya lambat sekali dan sama sekali tak bisa berkomunikasi dengan siapapun. Saya melihat sendiri bagaimana usahanya pada kedua anak ini berhasil meski membutuhkan waktu bertahun-tahun lamanya. Baginya, anak-anak itu adalah surga dunia yang menakjubkan. Bagi saya, Prita lah yang menakjubkan.

Lain Inay, Shinta dan Prita. Lain pula Paquita. Ialah sahabat sunda saya yang paling ajaib. Paquita adalah perempuan cantik asli bogor yang sangat amat sunda sekali. Putih, anggun, cantik dan perempuan. Kami berlima sangat senang keliling dunia. Biasanya sebuah bencana menyatukan kami. Sebab persahabatan kami disatukan sebuah lembaga bernama BEM, sebab kami masing-masing terpisah kota ( Inay di semarang, Prita solo, Paquita jakarta, Shinta Surabaya, saya sendiri Purwokerto ), dan sebab kami di kumpulkan dalam satu kecintaan untuk selalu menjadi relawan bagi setiap bencana yang terjadi. Gempa Jogja, Tsunami Aceh, Perang Palestine, letusan Merapi, dan banyak lagi yang membuat kami bertemu di satu titik destinasi itu. Dan Paquita, adalah pemandu sorak diantara kami. Ialah yang selalu meramaikan suasana. Ketegangan lantas menjadi cair dengan kedatangannya. keadaan kaku dan senyap akan berubah jadi cair hingar bingar jika Paquita mulai berceloteh. Dialah sang pembawa berita baik. Apapun yang terucap dari mulutnya selalu membuat kami tertawa meski itu berita miris. Hidup baginya enteng saja.

Saya sendiri adalah yang paling serius diantara mereka. Saya seorang yang amat konseptual. Bagi saya segalanya harus berjalan sesuai aturan yang sudah disepakati. Saya tanpa kompromi. Saya sangat saklek dan kaku. Tapi saya juga yang paling mudah menangis jika sesuatu terjadi pada mereka berempat. Sebab saya adalah yang termuda, saya juga yang paling sering membuat ulah untuk lantas dilindungi oleh kedewasaan mereka. Sebab itu pula, bagi saya mereka adalah malaikat yang sengaja menjaga saya di Dunia.

Kini di Jakarta, tinggal saya dan Paquita. Ialah sosok terakhir yang masih bisa saya peluk hingga kini. Ketiga sahabat lainnya berada jauh tak terjangkau, tapi saya percaya mereka bertiga akan tetap bisa menjaga saya dan Paquita disini. Kami memang tak selalu bersama, tapi kami tak terpisahkan. Inay, adalah orang pertama yang akan menelpon saya pada ulang tahun saya, meski ia tengah berada di Perancis saat itu. Meski hanya beberapa detik karna Roaming membuat pulsa kami berdua membengkak, tapi Ia adalah orang yang selalu ingat kapan saya harus di semangati. Shinta, meskipun jauh di surabaya adalah dewi penyelamat ekonomi saya. Kapanpun saya butuh aminusi dan bahan bakar, dia akan mencoba membatu tanpa perlu bertanya apa-apa lagi. Baginya uangnya adalah uang kami semua. Prita, dia adalah manusia dengan pintu kemana saja. Pagi masih di Jogja, sore hari mendadak dia sudah nongol di depan kantor saya. Paquita, meskipun dialah yang paling lelet, tapi sesungguhnya dia adalah sahabat paling setia yang pernah ada.

Hari ini saya memahami, bahwa kami berlima ditakdirkan untuk saling mengisi satu sama lain. Kami berlima sudah seperti saudara kandung meski hanya dipertemukan. " Mau lo sesalah apapun, didepan banyak orang gw akan tetep belain lo. Nanti di belakang, siap-siap gw keramas lo. " Begitulah Inay. Dia kerap kali membela saya meskipun itu adalah kesalahan. Tapi setelah itu, saya bisa jadi bahan caci maki dan omelannya. Dia konsisten melakukan itu. Prita adalah yang paling bijak. Dia akan menjadi penerah yang super detail di setiap masalah yang ada. Shinta ibu sabar yang baik hati. Dan Paquita, sekali lagi dialah yang paling luar biasa lugu. Tapi kami semua menyayangi keluguannya.

Dari sini saya percaya, dimanapun kami berada kini, persahabatan kami akan melebihi kentalnya darah sekalipun. Kadang saudara justru tak bisa seperti ini. Tapi kami sudah menjadi saudara meski tak lahir dari rahim yang sama.