Waktu saya ngambil gambar diatas, saya cuma pengen lihat keceriaan mereka diabadikan dalam ingatan saya. saya gak pernah ada tendensi untuk menampilkan mereka di blog atau media online manapun.bagi saya, mereka cuma anak-anak. benar-benar cuma anak-anak. yang gak akan pernah bisa menjadi komoditas apapun yang sifatnya mengunungkan saya atau merugikan siapapun.sekali lagi, cuma anak-anak. dan kata ' cuma' yang saya pakai untuk mereka bukanlah 'cuma' dalamsebuah konotasi negatif, tapi 'cuma' dalam arti harafiah. kalian tau kawans, mereka benar-benar cuma anak-anak.
tapi tadi, saya iseng buka-buka file tentang anak-anak di laptop saya. foto ini tiba-tiba menarik perhatian saya. diantara banyak foto-foto lain yang saya simpan tentang anak-anak dari ujung negeri hingga ke ujungnya lagi. ini yang paling menarik perhatian saya. anak dan laut, komposisi yang bagi saya diluar batas verbal kemampuan berfikir kita. keduanya, harus kita hayati lebih dari sekedar dengan mata telanjang, tapi harus beralatkan hati. dan hati-hati, jangan sampai kalian terjebak dalam penghayatan lahiriah semata. mari ikut saya, menelusuru perjalanan menghayati foto diatas.
laut, sebuah media inspirasi yang maha dahsyat bukan? beberapa orang bahkan menjadikannya ajang merefresh hari-hari mereka, bahasa gaulnya : Refresing. ada bermacam-macam komponen yang mendukungnya. air yang tanpa batas, lalu datang bergelung-gelung ombak dengan suara keras dan digiring angin yang juga menampar-nampar kita, kemudian pasir yang seperti bantal empuk di kaki, pertunjukan live matahari langsung dari ufuknya, dan beberapa ornamen kecil yang menjadikan laut sempurna : kerang, keong, dan ubur-ubur. jika sudah begitu, saya rasanya tidak menginginkan apa-apa lagi.
setiap kali ditanya tentang filosofi kehidupan, saya akan selalu menyebut LAUT. saya ingin hidup seperti laut. bijaksana dan sangat welas asih. laut menampung segala air yang mengalir. dari manapun datangnya. entah itu air sungai yang jernih, air rawa yang hijau, atau air comberan yang kotor. laut senantiasa tak menolak mereka. ditampungnya ai-air itu, dan dijadikannya satu : ASIN. entah itu dari mana asalnya, bersih tidak kandungannya, tapi jika sudah masuk kedalam laut, semua air akan sama. tidak ada bersih-kotor, tidak ada bening-butek, tidak ada apapun. mereka yang datang dari segala penjuru akan bermuara menjadi satu rasa : ASIN. itulah laut. tak membeda.
anak-anak diatas, tidakkah kalian lihat betapa mereka sunggu sederhana. tanpa perasaan lainnya, yang ada hanya bermain, tersenyum. itulah anak-anak. tugas dan kewajibannya adalah tersenyum. kadang kita lupa, seorang anak adalah media kita untuk kehidupan di masa depan. anak-anak tak perlu dituntut menjadi pintar, mereka hanya perlu diberi waktu untuk diri mereka sendiri. dan Simsalabim, jadilah seorang anak yang berkarakter. lalu kenapa, masih saja kita repot-repot untuk menjadikan mereka juara di kelasnya, dengan les ini-itu dan dibekali skill begini begitu. lalu ditakut-takuti akan masa depan, bahwa jika mereka tidak pandai maka mereka hanya akan menjadi sampah di hari tua mereka. lalu mengapa kita harus repot dengan segala hal tersebut, sementara waktu bukanlah parang yang menjerat mereka dengan kencang. waktu sendiri sebuah kebebasan bagi mereka.biarkan anak-anak belajar dengan wajar. memilih masa depannya sendiri, dan bahagia dengan itu semua. bukankah mereka memiliki hidup mereka sendiri kelak. lalu apa lagi?
saya sering bingung, dalam setiap kesempatan para orang tua sibuk dengan membuat anaknya pintar. padahal saya percaya, anak sudah pintar dari sononya. mereka hanya perlu diberi kepercayaan bahwa mereka pintar, bahwa mereka hebat. bagaimana mungkin mereka bisa percaya bahwa mereka pintar dan hebat, jika setiap harinya orang tua selalu menakut-nakuti mereka dengan adanya idiom bodoh jika tak belajar, nakal jika tak menurut atau menjadi yang terbelakang jika tak berlari. sesungguhnya, tidak ada seorangpun yang menjadikan anak-anak kita bodoh, bahkan tidak juga diri mereka sendiri melainkan justru orang tua-nya lah yang telah tanpa sadar menjadikan anak-anak mereka bodoh, nakal, bandel dst. orang tua sibuk menakut-nakuti, bukan mengajari. sibuk dengan ancaman halusnya, bukan melindungi. jika anak melakukan kesalahan disekolah, lalu dilaporkan pada orang tuanya, mereka sibuk ikut memarahi karna merasa gagal mendidik dan bukannya membela. siapa sebenarnya kita? orang tua atau hakim agung yang selalu memberi keputasan hukuman bagi mereka. siapa kita?
lihatlah foto diatas sekali lagi, dan hayati. mereka cuma anak anak. sekali lagi, benar-benar cuma anak-anak.
Selasa, 21 Februari 2012
Senin, 20 Februari 2012
KINASIH dan BEGRAS part. 14
Sepanjang perjalanan arah kampus, Begras melamun. Cara untuk memikirkan Kinasih dengan lebih intensif adalah melamun. Karna Begras tau, sudah 4 hari Kinasih tidak bisa di hubungi sama sekali. itulah gunanya melamun, Begras masih bisa memenuhi hatinya dengan Kinasih meski tak berbincang dengannya.
" kamu tuh beneran gak pernah ada waktu buat aku Begras. Hari-hari kamu penuh sama teman maya kamu Kinasih itu " Begras diam menunduk sambil mengaduk teh manis nya di kantin kampus siang itu. kalimat Fina serasa menancap didalam hatinya. dulu Begras sangat memuja Fina, selalu ada waktu untuk Fina. dan Kinasih telah merenggut itu semua. dengan menjadikan Begras budak selular. Sayangnya Begras lebih merasa nyaman dengan itu semua. Begras merasa mahal bila bersama Kinasih meskipun tidak nyata adanya.
" Sorry Fin. aku salah. sore ini kamu ada waktu? kita jalan yukk "
" gak bisa. Sore ini aku ada janji sama temen "
" mau kemana ? "
" makan malem "
" sama siapa?"
" rame-rame, Rinto ulang tahun. dia mau trakir. lumayan makan malem gratis. bisa irit biaya anak kost kayak aku "
Begras tergugu. makan malam gratis ternyata jadi kekuatan yang lebih besar dari ajakannya. Semurah itukah Begras dimata Fina? tidak lebih mahal dari sepiring nasi goreng dan juice apel? atau semangkuk bakso dan es jeruk manis? Begras ingat dahulu, saat Begras sakit di rumah. seluruh keluarga sedang pergi keluar kota. Begras menelphone Fina untuk minta dibelikan obat. tubuhnya nyaris tak mampu turun dari tempa tidur. Namun berkali-kali di telpon, Fina tak menjawab. akhirnya Begras menelphone apotek. selang beberapa waktu Begras baru tau, Fina tengah asyik berendam air hangat bersama kawan-kawannya. ngilu di dasar hati Begras mengetahui kenyataannya. Begras juga ingat kemarin, Begras jatuh dari motor dijalan, Fenomena nya sama, di rumah Begras tak ada seorangpun yang bisa dimintai Tolong. kakinya bengkak. Saat itu yang Begras butuhkan jauh lebih sederhana dari obat, yaitu air putih hangat. Begras haus. tapi tak mampu beranjak dari tempat tidur. dan ketika Begras menceritakan hal ini pada Kinasih, selang 10 menit ada orang tiba-tiba masuk kedalam rumah begras membawa 4 botol air mineral literan dan beberapa makanan. tertera tanda tangan Kinasih di nota pembelian. Begras diam. merasa berharga meski hanya air putih yang dia butuhkan.
Kini Begras harus menyadari, lebih mahal atau tidak dirinya bukan dari orang lain. Kinasih mengajarkannya untuk selalu bahagia. ada atau tidak orang yang membuatnya bahagia.
Begras kembali melamun. memampukan dirinya untuk tetap melamun.baginya melamun adalah sarana terbaik dalam mengolah rasa. melalum memang pekerjaan pemimpi, tapi Begras memang selalu ingin bermimpi. jarinya reflek menuliskan nama Kinasih di meja kantin. pelan dan hidmat. kesakralan yang agung. Kinasih bukan sekedar sebuah obrolan ringan di telpon, tapi oase yang mampu membuat Begras sadar akan keagungan dirinya sendiri. dan untuk hal itu Begras rela kehilangan. Fina sekalipun. detik itu Begras memahami, hatinya sudah terikat dengan materai milyaran rupiah pada Kinasih. ada atau tidak ada dirinya.
" kamu tuh beneran gak pernah ada waktu buat aku Begras. Hari-hari kamu penuh sama teman maya kamu Kinasih itu " Begras diam menunduk sambil mengaduk teh manis nya di kantin kampus siang itu. kalimat Fina serasa menancap didalam hatinya. dulu Begras sangat memuja Fina, selalu ada waktu untuk Fina. dan Kinasih telah merenggut itu semua. dengan menjadikan Begras budak selular. Sayangnya Begras lebih merasa nyaman dengan itu semua. Begras merasa mahal bila bersama Kinasih meskipun tidak nyata adanya.
" Sorry Fin. aku salah. sore ini kamu ada waktu? kita jalan yukk "
" gak bisa. Sore ini aku ada janji sama temen "
" mau kemana ? "
" makan malem "
" sama siapa?"
" rame-rame, Rinto ulang tahun. dia mau trakir. lumayan makan malem gratis. bisa irit biaya anak kost kayak aku "
Begras tergugu. makan malam gratis ternyata jadi kekuatan yang lebih besar dari ajakannya. Semurah itukah Begras dimata Fina? tidak lebih mahal dari sepiring nasi goreng dan juice apel? atau semangkuk bakso dan es jeruk manis? Begras ingat dahulu, saat Begras sakit di rumah. seluruh keluarga sedang pergi keluar kota. Begras menelphone Fina untuk minta dibelikan obat. tubuhnya nyaris tak mampu turun dari tempa tidur. Namun berkali-kali di telpon, Fina tak menjawab. akhirnya Begras menelphone apotek. selang beberapa waktu Begras baru tau, Fina tengah asyik berendam air hangat bersama kawan-kawannya. ngilu di dasar hati Begras mengetahui kenyataannya. Begras juga ingat kemarin, Begras jatuh dari motor dijalan, Fenomena nya sama, di rumah Begras tak ada seorangpun yang bisa dimintai Tolong. kakinya bengkak. Saat itu yang Begras butuhkan jauh lebih sederhana dari obat, yaitu air putih hangat. Begras haus. tapi tak mampu beranjak dari tempat tidur. dan ketika Begras menceritakan hal ini pada Kinasih, selang 10 menit ada orang tiba-tiba masuk kedalam rumah begras membawa 4 botol air mineral literan dan beberapa makanan. tertera tanda tangan Kinasih di nota pembelian. Begras diam. merasa berharga meski hanya air putih yang dia butuhkan.
Kini Begras harus menyadari, lebih mahal atau tidak dirinya bukan dari orang lain. Kinasih mengajarkannya untuk selalu bahagia. ada atau tidak orang yang membuatnya bahagia.
Begras kembali melamun. memampukan dirinya untuk tetap melamun.baginya melamun adalah sarana terbaik dalam mengolah rasa. melalum memang pekerjaan pemimpi, tapi Begras memang selalu ingin bermimpi. jarinya reflek menuliskan nama Kinasih di meja kantin. pelan dan hidmat. kesakralan yang agung. Kinasih bukan sekedar sebuah obrolan ringan di telpon, tapi oase yang mampu membuat Begras sadar akan keagungan dirinya sendiri. dan untuk hal itu Begras rela kehilangan. Fina sekalipun. detik itu Begras memahami, hatinya sudah terikat dengan materai milyaran rupiah pada Kinasih. ada atau tidak ada dirinya.
Minggu, 19 Februari 2012
KINASIH dan BEGRAS part. 13
Sudah empat kali putaran Kinasih mengitari kamarnya sendiri. Melirik jam dinding yang dirasanya melaju bagai siput menggendong samudra. bukan hanya lambat, tapi bahkan tak bergerak. matanya nanar bergantian menatap jarum jam dan penanggalan. " tiga menit lagi " bisik nya. spidol merah terhunus bak pisau tukang jagal. Ketika detik melaju, jarum menit dan jam bertumpuk di angka 12, Kinasih gesit menuju penanggalan. lalu menyilang salah satu tanggal dimana hari itu baru masuk sekitar semenit lalu. Jarum jam bergeser ke satu koordinat. dan tanda silang tebal sudah tegas terpatri di tanggal itu. 17 Oktober.
17 Oktober 1988 Kinasih lahir. 17 Oktober 1991 adik lelakinya lahir. hari ini, 17 Oktober 2011 baru masuk selama 2 jam. tapi Kinasih sudah pucat di dalam bak kamar mandinya. merendam seluruh tubuhnya sejak angka di jam itu menunjukkan tanggal yang dihindarinya. tanggal kelahirannya, dan adik lelakinya. Kinasih ingin cuci otak.
17 Oktober 2006, Kinasih memeluk Saputra erat di depan teman-temannya yang riuh berteriak menyanyikan lagu ulang tahun. Jarum jam menunjukkan angka 00.06 tapi bertubi-tubi hadian menumpuk di sudut ruangan. dan disudut matanya, ada air yang menunggu untuk jatuh di pipi. Kinasih tertidur lelap hingga pagi.
Kinasih terhenti di belokan tangga menuju ruang bawah rumahnya. Ayah dan ibunya sedang memeluk adiknya, Dani. saling mengucapkan doa. Kinasih terdiam. lalu kembali ke kamarnya. batal berangkat kuliah. rasanya, kelahiran bukanlah sebuah parade kebahagiaan disini. malam itu, Kinasih mendengar lantunan lagu selamat ulang tahun yang dinyanyikan ayah dan ibunya dari bawah. sayup-sayup lagu itu menusuk-nusuk telinganya hingga menembus kerongkongan dan turun ke hati. segala yang dia miliki rela ditukarkan dengan penyumbat berkualitas erbaik di dunia. Sejenak Kinasih ingin tuli.
nyaris tengah malam, ibunya mengetuk pintu kamar. ketika mendapati Kinasih yang masih duduk di depan meja belajar, perempuan itu memeluk nya . mengucapkan kalimat "selamat ulang tahun " dengan berbisik. Kinasih merasakan punggungnya basah. hari akan masuk tanggal 18 Oktober 2006, dan ibu nya baru saja mengucapkan selamat ulang tahun dengan suara berbisik. akankah kelahiran bagi nya masih sebuah pesta pora? keduanya tak pernah resmi berpelukan, Kinasih bahkan tak menggerakkan tangannya sama sekali.
17 Oktober 2011. disudut kamarnya Kinasih duduk memeluk lutut erat. seakan takut tubuhnya sendiri hancur seperti hatinya. Ritual tahunan itu selalu semakin menyakitkan setiap tahunnya. andai saja dia tak lahir di tanggal yang sama dengan adik lelakinya, andai saja dia tidak pernah ingat hari dan tanggal. andai saja dia tak pernah dilahirkan.
17 Oktober 2008 pagi, saputra berteriak emosi didepan Kinasih yang hanya bisa mengangkat wajahnya tinggi agar tak turun air mata. mencoba tersenyum ditengah geraman keras Saputra yang sebenarnya adalah geramannya sendiri. kedua tangan Kinasih saling meremas satu sama lain, menguatkan agar tak terus menerus gemetar dan berkeringat dingin menahan sakit yang terus menusuk di hatinya. di tekannya dada agar mampu menghentikan gemuruh angin yang entah masuk dari lubang mana kedalam dadanya. sayang sekali, pagi di tanggal itu sepertinya seluruh organ tubuhnya sedang berkhianat bersama untuk tidak mematuhi perintahnya. matanya tetap mengeluarkan air, tangannya tetap bergetar, tubuhnya lungrah di makan linu di hati.
" mereka merayakan ulang tahun adik mu besar-besaran, tapi tak memberimu ucapan selamat sama sekali? keterlaluan !!!"
" Sapu, tahun ini Dani 17 tahun. jadi wajar aja ada perayaan besar "
" 17 tahun untuk adikmu, apa berarti larangan memberimu doa dan ucapan selamat ?"
Kinasih diam. tak memiliki jawaban apapun untuk mejawabnya. Sapu, sebenarnya aku tak butuh doa, tak butuh ucapan atau hadiah apapun . yang aku butuhkan hanya di panggil turun kebawah untuk dinyanyikan selamat ulang tahun dan di bolehkan meniup lilin diatas kue bersama Dani. apakah keinginan itu terlampau muluk?
17 Oktober 2011. Kinasih menghitung detik demi detik di tanggal ini. menunggu berlalunya hari ini. makin Kinasih menghitung makin tau bahwa telah dirasakannya seluruh kesakitan bertahun. lalu gamang mengeluarkan mainan lilin listrik,menyalakan saklarnya. dengan suara lirih bergetar Kinasih menyanyi
" selamat ulang tahun. selamat ulang tahun. selamat ulang tahun Dani. semoga panjang umur "
Kinasih bahkan tak ingin menyayikan lagu itu untuk dirinya sendiri.
Jumat, 17 Februari 2012
KINASIH dan BEGRAS part. 12
Ada kalanya kesendirian adalah teman yang sangat mengerti kebutuhan kita saat itu. Dan Kinasih telah berteman baik dengan kesendirian. Absurd mungkin, bagaimana bisa dengan sendiri Kinasih justru merasa lengkap. sebuah perasaan total yang kurang dipahami siapapun. Kinasih merelakan sebagian telinganya untuk menjadi penjamin kesendirian itu dengan mendengarkan beragam keluhan orang via internet. memahami masalah tiap-tiap orang, membantu menyelesaikannya. baginya, kehidupan tidak sebatas bertatap muka. Kinasih sudah lelah dengan segala macam jenis pertemuan.
siap itu jemari Kinasih sibuk menekan tuts-tuts dalam keyboard laptopnya. meracik kalimat solusi bagi permasalahan orang lain. suatu pertanyaan yang paling sering ditanyakan :
" bagaimana saya bisa menjadi diri sendiri ditengan petunjuk yang begitu banyak dari orang tua saya ? tidak mengikuti petunjuk mereka dianggap tidak menghargai, mengikuti terkadang tidak sesuai dengan kata hati. apa yang harus saya lakukan mbak Kinasih ? "
- Maria -
siap itu jemari Kinasih sibuk menekan tuts-tuts dalam keyboard laptopnya. meracik kalimat solusi bagi permasalahan orang lain. suatu pertanyaan yang paling sering ditanyakan :
" bagaimana saya bisa menjadi diri sendiri ditengan petunjuk yang begitu banyak dari orang tua saya ? tidak mengikuti petunjuk mereka dianggap tidak menghargai, mengikuti terkadang tidak sesuai dengan kata hati. apa yang harus saya lakukan mbak Kinasih ? "
- Maria -
Kinasih diam menatap layar laptop. kenapa manusia selalu berkutat dipermasalahan yang sama. bahkan terkadang permasalahan satu orang bisa jadi cerminan masalah orang lain. Kinasih ingat dirinya sendiri ketika berusia 16 tahun. Dirinya sendiripun pernah mempertanyakan hal yang sama dengan Maria. bagaimana mungkin seorang yang sangat mencintai lukisan harus berkuliah di jurusan tekhnik kimia dan berkutat dengan segala macam reaksi kimia bukannya cat warna dan kanvas? Kinasih tidak mengerti, mengapa dia harus berjuang bukan demi dirinya sendiri, tapi demi sebuah prestasi yang disebut berbakti pada orang tua. Bagaimana mungkin orang tua menuntut anaknya untuk berbakti dengan menekankan pentingnya belajar kimia? Kinasih selalu bertanya, dan selalu mendapat cibiran dari semua orang. Dari saudaranya, adiknya, kakaknya, sepupunya, tetangganya, budenya, om nya, tantenya. semuanya. bagi mereka tidak akan ada salahnya kuliah dimanapun, bahkan saudara sepupu sepermainannya sejak kecil dengan enteng menjawab " ah, aku kuliahnya di pertanian toh sekarang jadi pegawai Bank. apa masalahnya ? " Masalah besar sister. Itu masalah besar buatku. bahwa dengan kamu bekerja di bank sementara notabene kamu kuliah di pertanian, menunjukkan bahwa kamu tidak memiliki keyakinan akan diri kamu sendiri. kepribadian yang menyerah untuk mengikuti hidup dan tidak dapat mengaturnya sebagai diri sendiri. aku menolak keras nasibku seperti kamu. dan sejak perbincangan itu, Kinasih malas bertanya. baginya bertanya pada mereka yang tidak memiliki hidup sama saja bertanya dengan benda usang. Kinasih pun marah. menghujat. sayangnya,kelakuan itu justru membuat Kinasih dimusuhi sana-sini. kegiatan melawan arusnya menjadi pertentangan semua pihak. dan semuanya menjadikan Kinasih contoh buruk : seorang durhaka dan pembangkang. pedas.
" bersyukurlah kamu masih bisa diberi keyakinan bahwa petunjuk mereka tidak senada dengan kata hati kamu. banyak orang yang hanya mengikuti petunjuk tanpa tau arah dan tujuan hidupnya. lalu untuk apa mereka mengikuti petunjuk-petunjuk itu? hanya untuk mengikuti etika setempat. agar dianggap bermoral dan berbakti. HB Jassin pasti menangis di alam sana jika tau anak cucunya seenaknya sendiri membuat definisi baru tentang berbakti dan bermoral. Maka sebaiknya kamu yakin, teguh akan diri kamu sendiri. mengikuti kata hati adalah hal yang sering disarankan oleh para konselor dan psikolog, tapi paling sering tidak dilakukan oleh sebagian orang. Kemudian bersabarlah, Karna hanya dengan begitu kamu akan semakin mengenal diri kamu sendiri . Regrads : Kinasih "
Kinasih meringis miris. hanya itu yang bisa dia sarankan. Bahwa kenyataan pahit yang dialaminya telah memberi banyak pelajaran untuk tidak memaksakan diri berbuat sekehendak hatinya. Bahwa menjadi pelukis adalah cita-citanya, bukan cita-cita keluarganya. dan Kinasih sebagai warga keluarga yang baik harus mengikuti etika yang diberlakukan dikeluarga itu. Jika tidak,maka jangan harap kamu akan dilihat sebagai suatu pribadi yang utuh. Kamu hanya akan menjadi hatu yang tidak menjejak tanah di tengah keharmonisan keluarga dengan keteraturan yang sudah berlaku secara turun temurun. Kinasih memeluk guling sambil terus melihat berbagai macam pertanyaan yang mampir di webnya.menjawab satu persatu dan kembali mempertanyakan pada dirinya sendiri. sudahkan dia yakin atas apa yang dilakukannya kini? Kinasih meringis memainkan ujung kain gulingnya. Pikirannya meracau jauh ke masalalu.
" kalau kamu sudah gak mau papa atur, ya sudah. hidup sendiri sana, tapi awas!!! jangan pernah meminta bantuan papa jika suatu hari kamu mendapat masalah "
Kinasih duduk tegak.apa ini ?pasar malam peringatan tujuh belas Agustus. Dimana semuanya wajib hadir dan bahagia sementara hatinya terus bergolak mempertanyakan kemerdekaannya sendiri? bukankah itu sama ibaratnya dengan seorang istri yang menginginkan dirinya hamil tapi tak pernah luput mengkonsumsi microgynon? bagaimana mungkin dia bisa hidup dengan kondisi serba dilematis begitu. bagaimana mungkin dia harus mengikuti semua aturan yang tidak sesuai dengan pemahamannya tentang hidup hanya karna takut tidak dibantu jika memiliki masalah kelak. Kinanti merasa menjadi mahluk imbisil.
akhirnya Kinasih menutup laptop. kemudian duduk didepan tanaman anggreknya. menyesapi bahwa kehidupan akan selalu memiliki hak yang paling hakiki. dan Kinasih tau, dirinya bukan milik siapapun. dia adalah milik sang maha agung. lembaranpun ditutup. Kinasih lelah.
Kamis, 16 Februari 2012
KINASIH dan BEGRAS part. 11
Begras berdiri mematung. sudah nyaris sepuluh jam Kinasih tidak mengangkat telponnya. dan nyaris sepuluh jam pula Begras rela memberikan sebelah telinganya hanya unuk sebuah dering di telepon genggamnya. terakhir Kinasih menelpon, hanya bilang akan mengganti nomer Hp karna keberadaannya telah terlacak Saputra, sang mantan pacar yang tempo hari pernah jadi bahan obrolan mereka. Yang artinya pula, ada indikasi Kinasih telah bertemu Saputra belum lama ini, dan indikasi itu mengarah pada ketepatan serta keakuratan. ada kalanya Begras merasa konyol, bertemu bahkan belum,mengetahui wajahnya saja tidak, namun hatinya seperti belepotan darah ketika mengetahui ada yang tidak beres dengan Kinasih. Apakah terlalu amoral perasaannya ini?
berkali-kali layar ponsel itu diusapnya. belum juga ada sms atau telepon masuk. Begras menutup pintu kamar pelan. sepelan perasaannya yang mulai tidak berdenyut lagi.lemah.mungkin sekarang adalah saat kehancuran komunikasi menjadi ajang bunuh diri massal.
jarum jam mulai bergerak secepat kuda pacu. melesat bak tercambuk jalinan belati. tanpa ampun atau kompromi. detiknya tak melambat setatap matapun. kini mulai merangkak di angka 3 dini hari. jarum itu laksana pedang samurai yang mencacah harga diri Begras. mencacah keberadaannya karna dia rela diabaikan
Begras malas mengambil handuk pagi itu. malas mandi malas membersihkan diri. Begras tak ingin ada satu titik debu yang menghilang dari tubuhnya kini.betapa Kinasih memberikan rasa sepi yang begitu nyata tanpa telepon darinya. bahkan untuk itu, Begras rela tubuhnya tertempeli kotoran biawak andai itu harga yang harus jadi pengganti pendengarannya akan suara Kinasih. sayanganya, Biawak sedang tak ingin mengotori manusia manapun termasuk Begras, maka tak ada pula suara Kinasih di pendengarannya. pagi itu merayap seperti ular, yang siap memangsa jika targetnya terlalu lamban. Begras adalah target buruan selanjutnya. jangan lengah.
siang hari, rayapan ular makin mendekati serigala. mengaum tanpa kenal matahari, padahal diluar sana matahari seterang matanya. dan matanya adalah sang pecinta yang putus asa. tetap tak ada telepon dari Kinasih. Begras ingin menyerahkan diri pada siapapun kini. rasanya menjadi anomali ketika harus bertatapan dengan layar ponsel tanpa nama yang mengudara di dalamnya.Kinasih seperti tak terjangkau,meski mereka baru saja tidak berkomunikasi selama 26 jam. jika sajabunuh diri bukan dosa besar, Begras sudah memotong lehernya untuk dijadikan tumbal atau mangsa serigala kelaparan. Modusnya sederhana : sebuah penantian akan telepon dari seorang Kinasih. begitu mudah.
hingga sore hari, Begras masih tetap belum memotong lehernya. sebentuk rasa rindu mulai berkenalan kini. Tak ada lagi amarah. hanya perasaan ingin mendengar suara ' hallo ' atau ' hai' sedetik saja.sayangnya, kebesaran dua kata itu bak sutera di tanah etiopia.mustahil dan sangat sulit. Begras makin menikmati, perasaan ingin mati. Kiamat kecilnya.
malamnya,Begras terduduk di pinggir tempat tidurnya.menyesapi setiap sms Kinasih yang pernah mampir ke Hp nya. apakah Kinasih merasakan hal yang sama setiap kali ponselnya mengedipkan nama Begras disana?seperti ada jutaan mercon yang berteriak di otaknya,minta diledakkan. Begras beringsut mematik api.menatap terangnya. ingin membakar rumah, sayangnya sudah tak butuh api untuk kegiatan bakar membakar kini. cukup dengan hatinya, Begras yakin sudah bisa membakar seluruh dunia. cukup dengan hatinya yang berkobar.
Kinasih masih tak ada kabar. dan Begras sudah ingin menelan seribu pil untuk menghilangkan ingatan.
berkali-kali layar ponsel itu diusapnya. belum juga ada sms atau telepon masuk. Begras menutup pintu kamar pelan. sepelan perasaannya yang mulai tidak berdenyut lagi.lemah.mungkin sekarang adalah saat kehancuran komunikasi menjadi ajang bunuh diri massal.
jarum jam mulai bergerak secepat kuda pacu. melesat bak tercambuk jalinan belati. tanpa ampun atau kompromi. detiknya tak melambat setatap matapun. kini mulai merangkak di angka 3 dini hari. jarum itu laksana pedang samurai yang mencacah harga diri Begras. mencacah keberadaannya karna dia rela diabaikan
Begras malas mengambil handuk pagi itu. malas mandi malas membersihkan diri. Begras tak ingin ada satu titik debu yang menghilang dari tubuhnya kini.betapa Kinasih memberikan rasa sepi yang begitu nyata tanpa telepon darinya. bahkan untuk itu, Begras rela tubuhnya tertempeli kotoran biawak andai itu harga yang harus jadi pengganti pendengarannya akan suara Kinasih. sayanganya, Biawak sedang tak ingin mengotori manusia manapun termasuk Begras, maka tak ada pula suara Kinasih di pendengarannya. pagi itu merayap seperti ular, yang siap memangsa jika targetnya terlalu lamban. Begras adalah target buruan selanjutnya. jangan lengah.
siang hari, rayapan ular makin mendekati serigala. mengaum tanpa kenal matahari, padahal diluar sana matahari seterang matanya. dan matanya adalah sang pecinta yang putus asa. tetap tak ada telepon dari Kinasih. Begras ingin menyerahkan diri pada siapapun kini. rasanya menjadi anomali ketika harus bertatapan dengan layar ponsel tanpa nama yang mengudara di dalamnya.Kinasih seperti tak terjangkau,meski mereka baru saja tidak berkomunikasi selama 26 jam. jika sajabunuh diri bukan dosa besar, Begras sudah memotong lehernya untuk dijadikan tumbal atau mangsa serigala kelaparan. Modusnya sederhana : sebuah penantian akan telepon dari seorang Kinasih. begitu mudah.
hingga sore hari, Begras masih tetap belum memotong lehernya. sebentuk rasa rindu mulai berkenalan kini. Tak ada lagi amarah. hanya perasaan ingin mendengar suara ' hallo ' atau ' hai' sedetik saja.sayangnya, kebesaran dua kata itu bak sutera di tanah etiopia.mustahil dan sangat sulit. Begras makin menikmati, perasaan ingin mati. Kiamat kecilnya.
malamnya,Begras terduduk di pinggir tempat tidurnya.menyesapi setiap sms Kinasih yang pernah mampir ke Hp nya. apakah Kinasih merasakan hal yang sama setiap kali ponselnya mengedipkan nama Begras disana?seperti ada jutaan mercon yang berteriak di otaknya,minta diledakkan. Begras beringsut mematik api.menatap terangnya. ingin membakar rumah, sayangnya sudah tak butuh api untuk kegiatan bakar membakar kini. cukup dengan hatinya, Begras yakin sudah bisa membakar seluruh dunia. cukup dengan hatinya yang berkobar.
Kinasih masih tak ada kabar. dan Begras sudah ingin menelan seribu pil untuk menghilangkan ingatan.
Langganan:
Postingan (Atom)
