Lama sekali rasanya saya tidak menulis disini. setahun ada, Guys? * awal yang lebay*
Beberapa saat lalu saya mengalami masa-masa sulit, mengecewakan, menyakitkan dan bikin eneg. Tapi Alhamdulillah, saya mampu melewatinya dan saat ini sedang terbahak menyaksikan masalah tersebut dibelakang saya.
Mas Riyan pernah bilang ke saya, bahwa masalah itu seperti pohon saat kita mendaki gunung. Dia akan terlihat begitu besar ketika kita belum melewatinya. Bagaimanapun juga, masalah adalah badai. Yang akan tetap jadi badai andai kita tidak memaksa untuk berlalu. Jadi melangkahlah seperti pendakian gunung, seberat apapun treknya, sesulit apapun terjalnya rintangan tersebut, mendakilah. Agar kita mampu mengatakan ' badai pasti ber;a;u' dan akhirnya tiba di puncak gunung untuk melihat ke bawah, betapa pohon yang tadinya kita pikir sangat besar, ternyata hanya kecil saja dibawah sana. Saya mengakui, beberapa petuah mas Riyan terbukti benar adanya.
Someday, saya pernah ingin pergi ke Taman Ismail Marzuki dengan naik kereta listrik jabodetabek. Pilihan armada yang menurut saya paling tepat ketika kita sedang terburu-buru dan malas bercengkeraman dengan macet. Kereta jelas moda transportasi bebas hambatan yang akan mengantar kita sampai ke tujuan dengan aman, selamat, sentausa dan bahagia. Tapi kemudian, rencana itu berantakan di tengah jalan.
Ketika berjalan kearah setasiun, saya bertemu sahabat baik yang kebetulan juga akan melakukan perjalanan kearah Monas. Okelah, dia naik mobil merci, AC nya jelas menggiurkan, dan saya mengintip kedalam mobil itu untuk mendapati betapa lagu-lagu Iwan Fals terdengar mengalun disana, ada sekotak es cream vanilla yang rasanya makin menjadi maghnet untuk saya masuk kedalam. Maka, apalah daya saya siang itu, akhirnya berkat suara gahar Bang Iwan, dan creammynya es cream itu, saya masuk kedalam mobil dan menerima tawara tumpangannya. Toh arah kami sama, begitu pikir saya.
Tapi ketika sampai di fly over pasar gembrong, mendadak dia tak turun ke bypass, tapi justru ambil kiri dan berbelok. Saya sontak gelagepan, saya bingung, ini kenapa jadi kesini? Kan harusnya kita turun? Dan sahabat saya itu bilang, dia harus jemput pacarnya dulu di Universitas Mpu Tantular. Omeygot, saya megat megot sekarang ini. mulai menyesali kenapa begitu mudah terbujuk untuk masuk kedalam mobil.
Dan akhirnya, saya terjebak macet. Lalu, saya berfikir, jika harus ke Mpu Tantular dulu, maka saya akan terlambat sampai di TIM dan saya akan sangat menyesalinya. Akhirnya saya bilang ke sahabat saya itu kalau saya mau turun saja, dan akan melanjutkan perjalanan dengan Ojek Motor. Saya berfikir, itu solusi terbaik untuk saya dan sahabat saya. Toh saya tak rugi, begitupun dia. Tak ada yang rugi di sini.
Tapi sahabat saya menolak. Dia bilang saya sudah terlanjur ikut dan semua orang di jalan tadi sudah melihat saya masuk kedalam mobilnya. Jika terjadi apa-apa dengan saya di perjalanan arah TIM nantinya, dia yang akan dimintai pertanggungan jawab. Saya hera, kenapa jadi serumit ini. Saya bukan tanggung jawabnya, dan keselamatan saya bukan jadi kesulitannya. Paranoid yang menurut saya berlebihan itu membuat saya tak nyaman. Saya ingin segera sampai ke TIM dan tak mau menjadi rugi akibat terlambat kesana, bagaimanapun juga, masa depan saya ada di TIM sana. Tapi teman saya tetap keukeuh, saya mengalah.
Saya selalu bermasalah dengan kemacetan. Kadang menjangkit di rasa kantuk, kadang membuat saya mual dan kadang membuat saya jadi hipertensi. Dan kali ini, mual yang saya rasakan. Saya mulai mengalami rasa panik, saya berteriak bahwa saya ingin muntah dan sahabat saya itu harus menepikan mobilnya supaya saya bisa keluar dan tak mengotori karpet mobilnya yang super mewah ini. Tapi sahabat saya menolak, dia bilang saya bohong dan hanya mencipta alasan supaya bisa membuatnya kesal. Saya menyerah dan akhirnya muntah di dalam mobilnya.
Ketika muntahan saya mengotori mobilnya, sahabat saya marah besar, bahkan pacarnya yang baru masuk mobilpun ikut mengomeli saya. Setelah itu saya ' diminta keluar' saat itu juga dari dalam mobilnya. dalam hati saya bilang " Lah dari awal juga gue emang udah mau naik ojek, Jek!" tapi biarlah.
Beberapa hari kemudian, saya bertemu sahabat saya yang lain, dan dia langsung menegur saya tentang tragedi muntah di mobil sahabat saya itu. Saya bingung, kenapa jadinya cerita menyebar dan saya daji Demons disini? Saya kan udah bilang kalau saya mau muntah, dan dia yang gak percaya. Saya juga udah menolak sejak awak dia memberikan tumpangan, tapi dia menawarkan Lagu Iwan Fals dan sekotak ice Cream. Saya juga udah minta ijin untuk melanjutkan perjalanan naik ojek supaya tidak ada yang dirugikan tapi dia menolak dengan dalih merasa bertanggung jawab atas perjalan dan keselamatan saya. Ini siapa yang lebay sih?
Saya ngomel-ngomel ke mas Riyan saat itu, kenapa sih bisa jadi se absurd ini? Mas Riyan cuma bilang, " Biarin aja orang lain mau ngomongin kejelekan kita, kasih aja. Biar kita simpen yang baik-baik. "
Saya suka heran, kenapa ya orang itu sibuk melihat kesalahan orang lain tanpa mau menelaah kedalam dirinya sendiri? Saya tau saya salah dengan muntah di mobilnya, ya saya akui itu. dan saya tau muntahan saya itu bau dan menjijikan. Saya juga gak mengelak itu. Lalu, bagaimana dengan dia? Saya merasa, gak pernah berhak untuk menghakimi siapapun didunia ini, Karna saya pun punya dosa. Cuma mereka yang gak pernah berbuat dosa yang berhak untuk menyalahkan orang lain. Lagi pula, bukankah mungkin saja kesalahan kita sudah dimaafkan oleh Tuhan? Siapa yang tau?
Kenapa saya memposting ini? Saya cuma pengen kalian mengerti, kalau kita sama sekali gak pantas untuk menjelek-jelekkan orang lain. Betapapun dia memang buruk. Karna sebaik-baiknya manusia, adalah dia yang tidak menilai manusia yang lainnya.
Minggu, 03 Maret 2013
Minggu, 10 Februari 2013
Usaha+Doa x semangat : Sabar = Dream Come True !
" Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi kita "
( Andrea Hirata )
Idiom ciptaan Andea hirata diatas, itu favorit saya banget. Setelah sekian lama saya mencari pepatah, nasehat, kalimat yang pas dan terasa cocok untuk semua harapan saya, baru muncullah idiom itu dalam sampul buku sekuel kedua dari Tetralogi milik Ikal yang berjudul " Sang Pemimpi".
Setelah saya baca dan merasa sejiwa dengan idiom itu, saya menganggap Ikal langsung jadi sahabat saya. Gimanapun juga, mereka yang berani bermimpi, berani menatap mimpinya, berani berjuang dan berdarah-darah untuk mimpinya, yakin dan terus istiqomah dalam membuatnya terwujud, adalah sekutu saya. Bagaimanapun juga, kenal tak kenal, baik atau buruk, ganteng atau cantik, All around with it, they my best friend forever. Bahasa anak gaolnya, BFF. Dan saya yakin, kalian juga, yang masih tetep membaca dan mengikuti tulisan saya di blog ini, juga BFF saya. Kalian juga pasti berani bermimpi, as like me.
Saya banyak mencintai detail-detail dalam hidup. Mulai dari tulisan, gesture, anak-anak, laut, alam, sampai tempe. Dari banyak hal tersebut, satu yang jadi favorit saya, terpancang kuat di hati saya, mengakar dan makin dalam rambatnya ke hidup saya. Itu tidak lain tidak bukan, kita sambut : MENULIS !!!
Menulis, bukan hal baru buat manusia. Dari lahir, batita, balita, remaja sampai nanti Uzur, tulisan itu udah menjadi hari-hari dan kebiasaan di hidup semua orang. Menulis dan tulisan, keduanya terkait dengan satu variabel baru bernama Bahasa. Dimana-mana mereka yang menguasai bahasa akan mampu menguasai dunia. mungkin kalian masih ingat frasa Lingua Franca yang di ajarkan waktu kita SD, bahasa adalah ibu dari semua ilmu pengetahuan. Berangkat dari situ, saya mulai mencinta.
Mempelajari bahasa, menumbuh suburkan cinta saya pada dunia tulisan. Semakin dipupuk, kecintaan saya makin beranak pinak. Saya mulai mencintai aspek-aspek disekililing menulis. Mulai dari teater, musik, tari, tekhnologi, dan Cinta itu sendiri. Saya belajar banyak dari menulis, belajar banyak dari mendalami tulisan-tulisan. Untuk itulah, hingga sekarang ini saya enggan berhenti belajar. Orang yang mencinta, akan selalu ingin dekat dengan yang dicinta. Saya mencintai menulis, dan tanpa belajar saya tau saya akan sampai dititik henti sebuah tulisan. Saya menghindari itu.
Banyak impian yang saya tanam di Pohon harapan bernama Menulis. Mulai dari nama besar, eksistensi, materi, hingga persahabatan. Saya tau, harapan-harapan tak sepenuhnya datang sesuai keinginan. Ada kalanya mereka datang terlambat, atau bahkan menyaru seperti bentuk lain. Tapi saya percaya, ketika saya masih berani berharap, saat itulah saya hidup.
Bertahun-tahun, saya hidup dalam keinginan dan cita-cita yang membumbung tinggi. Saya ingin jadi penulis besar, yang mengilhami banyak orang untuk terus bersemangat hidup. Saya ingin karya saya dibicarakan di semua negara, untuk menunjukkan bahwa tak hanya London, Perancis atau Rusia yang memiliki penulis kaliber dengan daya jual tinggi. Saya ingin, imajinasi saya menginspirasi banya manusia, dimana mereka tau bahwa bermimpi itu tidak haram. Saya ingin, selalu ingin begitu.
Someday, seorang yang ada di lingkaran keluarga terdekat saya bicara tentang impian tersebut : " Percuma nulis tiap malam, kalau karya kamu gak pernah muncul dimana-mana." Even, saya tau yang bicara itu bukan sang ahli tekhnologi. Dia pasti gak pernah buka internet. Dia pasti gak tau alamat blog ini, terlebih dia pasti gak pernah nonton tipi, gak pernah baca running titlle di belakang sinetron. Selain itu, dia pasti gaulnya gak keren, gak pernah kenal sama anak-anak milis penulis, atau gabung di PDS juga di TBS. Ya pantes aja dia gak tau karya saya. Itu jadi pelajaran ya buat saya, juga kalian. Tolong, kalo mau ngomong jangan asal ngecap. Kasian kan jadi keliatan oon nya. :p
Itu cuma satu dari jutaan kalimat pedes yang mampir di telinga saya. Bukan sekali dua kali, gak juga sehari dua hari. Tapi berjuta kali dengan hitungan waktu mundur tahunan. Kalian tau itu rasanya gimana? kayak yang di gantung di tiang bendera, kepanasan keujanan, terus kaki kita di kasih kecoak. Pegel, jijik, tapi males teriak. Yang dijadiin bahan buat nakut-nakutin cuma hewan kecil gitu. Gengsi banget mau teriak kan? Nanggung!
Nah, hari Sabtu kemarin. Tuhan menunjukkan pelukan itu. Pelukan di mimpi saya. Pelukan yang ternyata selama ini ada tapi belum saya rasakan. Bukan terlambat datang, tapi memang menunggu waktu yang tepat untuk dilahirkan. Saya tau, kalo Pelukan Tuhan itu datang jauh hari sebelum ini, mimpi saya akan lahir prematur karna saya sendiri belum sepenuhnya siap. Dan dalam hitungan bulan, saya sudah siap jadi ibu dari karya besar tersebut.
Jadi rumus untuk bisa menerima pelukan Tuhan atas mimpi kita cuma satu : Usaha + Doa x semangat : Sabar. Hasilnya kalian bisa rasakan sendiri. Belive me, im not Lie. Satu lagi nih, kalo ada orang disekitar kalian yang sampe tua masih aja sibuk bermimpi, jangan pernah kalian kecam. Karena justru dialah orang yang senantiasa hidup.
Someday, kalo saya punya kesempatan ketemu sodara itu lagi, saya bakalan ngomong : " percuma hidup selama puluhan tahun, kalo cuma bisa nebeng mimpi orang lain. "
Love
_me_
Senin, 28 Januari 2013
Anak Kesayangan atau Ladang Uang?
Seorang teman kantor ( Pak Hakim ) Memberikan saya foto diatas. seketika saya nangis ditempat.
Foto itu cuma gambar anak Orangutan yang begitu sabar menunggui induknya dioperasi. Dan ekspresinya, mengisyaratkan bahwa dia begitu tabah dan kuat. Seorang anak, yang begitu mencintai Ibunya.
DNA kita 99,6 persen identik dengan orangutan. Hanya beda 0,4 persen saja. Bahkan selisih genetika antara orangutan dan gorila itu 1,8 persen. Carolus Lineaus membuat istilah hominidae untuk manusia dan memisahkan orangutan dengan kata pongidae semata supaya tidak dimarahi pihak gereja. Pada dasarnya sebenarnya kita adalah binatang. Binatang yang memiliki kemampuan linguistik karena memiliki Area Broca.
Malam Minggu kemarin, saya dan Mas Riyan sengaja ke Monas. Banjir kemarin menyisakan begitu banyak ketegangan diantara kami. Lihat pohon yang hijau dan semilir angin yang tak berhenti berhembus, membuat kami lebih rileks dari sebelumnya. Terlebih lagi, malam minggu di Monas biasanya begitu banyak komunitas-komunitas menampilkan atraksinya. Seperti komunitas sepeda, komunitas fotografi, dan komunitas Debus Jalanan. Komunitas yang terakhir ini menyisakan kecut di hati saya hingga kini.
Jaman memang semakin maju, begitu banyak anak balita yang kini memiliki kemampuan diatas rata-rata. Tak perlu jauh-jauh, saya akan mencontohkan anak sendiri. Airin, baru berusia 5 tahun, tapi dia akan dengan sangat mudah berkomunikasi dan menghapal banyak hal diluar kepalanya. Ketika saya berusia 5 tahun dahulu, saya yakin saya tak akan seperti Airin. Ini kemajuan, yang berdampak begitu banyak. Positif dan Negatif.
Komunitas Debus Jalanan yang ada di monas kemarin mempertontonkan tindakan kejam menurut saya. Dari namanya saja, kita tau yang namanya debus pasti identik dengan kekerasan dan aksi mengerikan. Mereka yang menjuluki dirinya pemain debus, akan kebal terhadap benda tajam dan berbagai macam tindak kekerasan lainnya. Mereka itu, orang-orang yang kulitnya mungkin telah dilapisi besi.
Kemana saya kecut? Karena komunitas itu menjadikan anak usia sekitar 3 tahun sebagai salah satu pemainnya. Bocah kecil itu di pecut dengan bunyi yang sangat keras namun hanya terbahak. Penonton yang melihat bereaksi macam-macam, ada yang kagum karena kekuatan super yang dimiliki si anak, ada yang tepuk tangan senang, ada yang tertawa bahagia, dan ada yang menangis. golongan yang terakhir itu cuma dihuni oleh satu orang : SAYA.
Mereka tertawa ketika melihat ada seorang anak kecil di cambuk ayahnya? mereka bahagia ketika menyadari seorang pria mungil bertubuh kecil yang dieksploitasi keluarganya? Dan mereka kagum karena ada seorang anak kecil yang di jadikan lahan uang demi kehidupan keluarganya? Dunia sudah jungkir balik.
Lihat Orangutan itu, bagaimana dia begitu mencintai keluarganya, itu adalah efek dari rasa cinta yang juga besar dari ibunya. Mana lah mungkin, seorang anak yang sejak usia 3 tahun sudah di didik sebagai pemain debus dengan mempertontonkan kesaktiannya sebagai bahan candaan akan memiliki kasih sayang seperti orangutan itu? manalah mungkin seorang ayah yang tega menjadikan anak lelakinya yang masih begitu polos bulan-bulanan penonton di monas.
Malam minggu saya jadi kelabu kemarin, cuma gara-gara atraksi kejam tanpa kemanusiaan dari seorang ayah pada anaknya. Untuk itulah saya mengundang kalian semua yang peduli pada nasib bangsa yang kita titipkan di pundak para anak-anak itu kelak, untuk menandatangani petisi yang saya ajukan pada situs Change.org
Caranya gampang, kalian silahkan klik link berikut http://www.change.org/id/petisi/organisasi-debus-jalanan-hentikan-menjadikan-anak-dibawah-umur-eksploitasi-dan-ladang-uang lalu klik Tandatangani yang tercantum di area tersebut. satu tanda tangan kalian sangat bermanfaat bagi anak-anak yang tereksploitasi orang tuanya. Yukk sama-sama luangkan waktu 5 menit saja untuk peduli pada mereka.
Be save Child
Rahmi.
Minggu, 20 Januari 2013
Bukan Banjir Biasa.
Sejak kamis, Jakarta direndam air. Ini bukan sembarang air. Bukan juga iseng-iseng fatamorgana. Tapi ini air yang datang tanpa diminta, tanpa permisi. Jakarta kebanjiran.
Beberapa daerah yang terendam air membuat hati trenyuh. sebut saja kampung melayu yang memang setiap tahunnya jadi langganan dikunjungi dewa Posheidon itu. Atau kawasan Grogol yang bisa buat main selancar para turis karna debit airnya yang luar biasa. Dan juga Pluit. Daerah yang satu ini, letak dimana hati saya tertambat. Hidup saya terpancang. Pluit adalah daerah asal Mas Riyan. Yang kini juga jadi rumah saya, rumah hati saya sepenuhnya.
Kamis pagi air masuk kedalam rumah mas Riyan setinggi mata kaki, waktu membuatnya semakin subur. Air meningkat pesat hingga sedada orang dewasa. Listrik mati dan saya kehilangan kontak dengannya.
Mas Riyan adalah pria yang luar biasa hatinya. Bagi saya dia bukan sekedar pecinta yang serius, tapi dia adalah pria yang memang Tuhan ciptakan nyaris tanpa cacat. Hidupnya penuh dengan perjuangan, dan banjir, kembali membuktikan itu.
Sejak kamis hingga sabtu, saya sulit berkomunikasi dengan mas Riyan. sekalipun bisa, saya harus memaksa dia mencari daerah terdekat yang memiliki sambungan listrik untuk me- charge hp nya. dan mencari dalam gulita juga debit air yang tinggi jelas merupakan hal sulit. Saya nelangsa, setiap kali mas Riyan telpon dan berkata dia sengaja berjalan jauh hanya demi mendapatkan satu strip batere di hpnya guna menelpon saya. Romantisme saya saling bertabrakan, antara ingin membiarkan dia tanpa kabar atau memaksanya berjalan untuk memberi kabar.
Sampai sabtu sore hari, akhirnya dia bisa keluar dari banjir dengan berjalan puluhan kilometer dalam debit air yang tinggi hingga bisa bertemu saya. Saat saya melihat dia, saya menyaksikan wajah hector yang lelah. Matanya memang tajam memancarkan semangat, tapi kulitnya makin kusam dan rambutnya berantakan. Saat itu ingin rasanya saya melarang dia kembali ke dalam banjir itu, dan mengikatnya bersama saya. Tapi saya tau, tanggungjawab dan kepeduliannya akan menghalangi saya untuk melakukan itu.
Minggu pagi, saya memaksa ikut mas Riyan menembus air yang belum juga surut di daerah penjaringan, Pluit dalam. Mas Riyan dengan tenang mencoba menahan saya, saya dengan berapi-api memaksa dia membawa sana masuk kedalam. Akhirnya, mengalah dia menuntun saya berjalan masuk kedalam. Saya katakan sekali lagi, BER-JA-LAN.
Kami mulai memasuki daerah banjir tinggi dari wilayah Tiang bendera Kota tua. Air masih setinggi betis. Saya yang memang sudah tak pernah lagi menggenakan celana panjang, dan beralih pada rok panjang atau gamis-gamis masih bisa berjalan dengan santai. sepatu mulai dilepas demi mengurangi berat beban kaki. Saat itu, air masih bersih. Hati saya masih kokoh. Satu hal yang mas Riyan tanamkan dalam diri saya " Apapun yang terjadi, jangan pernah buka Auratmu." dan saya memegang pesan itu dengan teguh.
Makin masuk kedalam, air mulai merambat naik pelan-pelan. dari betis, kemudian lutut hingga airnya sampai ke perut. Desakan debit air yang makin tinggi, juga kotor dan amisnya air membuat saya mulai pusing. Ketinggian air jelas makin memperlambat langkah saya, yang akhirnya juga memperlambat langkah mas Riyan. Saya hanya berdoa dalam hati, bahwa dalam kondisi ini Tuhan memberikan saya kekuatan tambahan agar saya tak merepotkan mas Riyan. Tapi, kali ini Tuhan tidak mengabulkan doa saya.
Tibalah waktu dimana akhirnya saya jadi oknum yang merepotkan. Saya mulai kesulitan berjalan, nafas mulai memburu alias ngos-ngosan. dan mas Riyan yang menyadari itu menatap saya dengan kasihan. " Mau naik perahu?" , mas Riyan mencoba memberi opsi termudah. Saya mencoba untuk terus menggeleng sementara hati saya mengiyakan. Saya enggan terlihat lemah didepannya.
Pluit dalam keluaran penjaringan adalah tujuan kami. Mas Riyan harus membeli makanan untuk di bawa kedalam, Dan semua itu berantakan karna saya gagal masuk kedaerah yang lebih dalam lagi debit airnya. Saya tidak sanggup. Dan mas Riyan memilih mengantar saya kembali ke tempat semula. Padahal perlu kalian tau, mengantar saya kembali ke tempat semula, sama halnya dengan melawan kesulitan besar ketika kami masuk tadi. Saya lelah, sudah sangat lelah.
Dalam kesulitan itu, mas Riyan mati-matian ingin meringankan beban saya. ketika saya mulai melangkah pelan, dia akan menggengam kuat tangan saya dan menarik halus. Ketika langkah saya terhenti karna tersangkut kotoran, maka dia akan berusaha membebaskan kaki saya dari kotoran tersebut. Ketika saya tidak bisa melopat turun, maka dia akan menggendong saya. Dan dia melakukannya tanpa kesulitan, padahal di tubuhnya sudah tergantung satu tas ransel dan satu tas gendong milik saya.
Banjir, mengajarkan saya banyak hal tentang perjuangan. Mas Riyan menunjukkan pada saya bagaimana dia bisa dengan ikhlas melalui itu semua.
Beberapa daerah yang terendam air membuat hati trenyuh. sebut saja kampung melayu yang memang setiap tahunnya jadi langganan dikunjungi dewa Posheidon itu. Atau kawasan Grogol yang bisa buat main selancar para turis karna debit airnya yang luar biasa. Dan juga Pluit. Daerah yang satu ini, letak dimana hati saya tertambat. Hidup saya terpancang. Pluit adalah daerah asal Mas Riyan. Yang kini juga jadi rumah saya, rumah hati saya sepenuhnya.
Kamis pagi air masuk kedalam rumah mas Riyan setinggi mata kaki, waktu membuatnya semakin subur. Air meningkat pesat hingga sedada orang dewasa. Listrik mati dan saya kehilangan kontak dengannya.
Mas Riyan adalah pria yang luar biasa hatinya. Bagi saya dia bukan sekedar pecinta yang serius, tapi dia adalah pria yang memang Tuhan ciptakan nyaris tanpa cacat. Hidupnya penuh dengan perjuangan, dan banjir, kembali membuktikan itu.
Sejak kamis hingga sabtu, saya sulit berkomunikasi dengan mas Riyan. sekalipun bisa, saya harus memaksa dia mencari daerah terdekat yang memiliki sambungan listrik untuk me- charge hp nya. dan mencari dalam gulita juga debit air yang tinggi jelas merupakan hal sulit. Saya nelangsa, setiap kali mas Riyan telpon dan berkata dia sengaja berjalan jauh hanya demi mendapatkan satu strip batere di hpnya guna menelpon saya. Romantisme saya saling bertabrakan, antara ingin membiarkan dia tanpa kabar atau memaksanya berjalan untuk memberi kabar.
Sampai sabtu sore hari, akhirnya dia bisa keluar dari banjir dengan berjalan puluhan kilometer dalam debit air yang tinggi hingga bisa bertemu saya. Saat saya melihat dia, saya menyaksikan wajah hector yang lelah. Matanya memang tajam memancarkan semangat, tapi kulitnya makin kusam dan rambutnya berantakan. Saat itu ingin rasanya saya melarang dia kembali ke dalam banjir itu, dan mengikatnya bersama saya. Tapi saya tau, tanggungjawab dan kepeduliannya akan menghalangi saya untuk melakukan itu.
Minggu pagi, saya memaksa ikut mas Riyan menembus air yang belum juga surut di daerah penjaringan, Pluit dalam. Mas Riyan dengan tenang mencoba menahan saya, saya dengan berapi-api memaksa dia membawa sana masuk kedalam. Akhirnya, mengalah dia menuntun saya berjalan masuk kedalam. Saya katakan sekali lagi, BER-JA-LAN.
Kami mulai memasuki daerah banjir tinggi dari wilayah Tiang bendera Kota tua. Air masih setinggi betis. Saya yang memang sudah tak pernah lagi menggenakan celana panjang, dan beralih pada rok panjang atau gamis-gamis masih bisa berjalan dengan santai. sepatu mulai dilepas demi mengurangi berat beban kaki. Saat itu, air masih bersih. Hati saya masih kokoh. Satu hal yang mas Riyan tanamkan dalam diri saya " Apapun yang terjadi, jangan pernah buka Auratmu." dan saya memegang pesan itu dengan teguh.
Makin masuk kedalam, air mulai merambat naik pelan-pelan. dari betis, kemudian lutut hingga airnya sampai ke perut. Desakan debit air yang makin tinggi, juga kotor dan amisnya air membuat saya mulai pusing. Ketinggian air jelas makin memperlambat langkah saya, yang akhirnya juga memperlambat langkah mas Riyan. Saya hanya berdoa dalam hati, bahwa dalam kondisi ini Tuhan memberikan saya kekuatan tambahan agar saya tak merepotkan mas Riyan. Tapi, kali ini Tuhan tidak mengabulkan doa saya.
Tibalah waktu dimana akhirnya saya jadi oknum yang merepotkan. Saya mulai kesulitan berjalan, nafas mulai memburu alias ngos-ngosan. dan mas Riyan yang menyadari itu menatap saya dengan kasihan. " Mau naik perahu?" , mas Riyan mencoba memberi opsi termudah. Saya mencoba untuk terus menggeleng sementara hati saya mengiyakan. Saya enggan terlihat lemah didepannya.
Pluit dalam keluaran penjaringan adalah tujuan kami. Mas Riyan harus membeli makanan untuk di bawa kedalam, Dan semua itu berantakan karna saya gagal masuk kedaerah yang lebih dalam lagi debit airnya. Saya tidak sanggup. Dan mas Riyan memilih mengantar saya kembali ke tempat semula. Padahal perlu kalian tau, mengantar saya kembali ke tempat semula, sama halnya dengan melawan kesulitan besar ketika kami masuk tadi. Saya lelah, sudah sangat lelah.
Dalam kesulitan itu, mas Riyan mati-matian ingin meringankan beban saya. ketika saya mulai melangkah pelan, dia akan menggengam kuat tangan saya dan menarik halus. Ketika langkah saya terhenti karna tersangkut kotoran, maka dia akan berusaha membebaskan kaki saya dari kotoran tersebut. Ketika saya tidak bisa melopat turun, maka dia akan menggendong saya. Dan dia melakukannya tanpa kesulitan, padahal di tubuhnya sudah tergantung satu tas ransel dan satu tas gendong milik saya.
Banjir, mengajarkan saya banyak hal tentang perjuangan. Mas Riyan menunjukkan pada saya bagaimana dia bisa dengan ikhlas melalui itu semua.
Senin, 14 Januari 2013
Cuma ilang, Bukan habis.
Sabar itu perintah Illahi, Jadi sabar itu gak boleh ada batasnya.
Manusia itu kan kadang sombong ya, lupa kalau dia punya segudang kekurangan yang mungkin jadi halangan buatnya mulia dimata penciptanya. Sombongnya itu, bikin manusia jadi mahluk yang senantiasa merugi.
Seharian saya dikasih banyak hal sama Allah. Menawarkan banyak kejadia yang membekas dan gak mungkin saya lupain. Tanggal ini, hari ini, tahun ini, gak bakalan pernah saya lupain seumur hidup saya. Apapun yang kelak terjadi sama saya besok, saya bakalan inget hari ini sejelas saya liat sendok makan didepan saya sekarang.
Seandainya bisa, saya pengen banget bilang sama kalian kalo sekarang ini saya ibarat hp yang abis batu batere. kedip-kedip terus tapi gak bisa mati. Dipake buat nelpon yang ada nanti malah nge hang. Dipake sms layarnya udah burem banget karna gak kuat buat nampilin cahaya akibat gak ada baterenya. seperti kata pepatah, Mati segan hidup tak mau. Apatis banget. Tapi sayang, saya jelas bukan tipe manusia lemah macam itu. Masa gitu aja saya mau laporan sama kalian kalo saya lagi kehilangan daya? Hopeless? Jelas bukan sifat saya.
Ceritanya, saya dikagetkan sama hal menyakitkan siang tadi. Waktu saya buka PC komputer ..... Taraaaaaaaa!!!! file saya hilang semua. Hilang semua. SEMUA. Oke saya tegaskan sekali lagi SE-MU-A. Mulai dari sinopsis-sinopsis yang saya buat, laporan-laporan bacaan skenario, plot-plot cerita, skenario non final, sampai beberapa cerpen. Ludes hilang dimakan rayap. Mendadak rasanya saya gak punya tulang. Gak mampu nopang badan sendiri.
Entah gimana saya menceritakan disini, tapi yang jelas perasaan saya tadi benar-benar gak bisa saya definisikan lagi. Mau marah, tulisan saya udah ilang. Marah, gak bisa bikin tulisan saya balik. Mau diem, mana mungkiiiinnnnnn, itu karya saya yang diciptakan dengan bulir-bulir keringat ide dan airmata imajinasi. Mau sabar, Masya Allah.... saya bingung gimana caranya sabar tadi. Itu, bener-bener gak bisa lagi cerita gimana rasanya. Gak ada satu pun jenis emosi yang bisa mewakili perasaan saya tadi.
Mendadak saya merasa insecure. Semua orang saya curigai. Siapapun yang ada di depan saya, kena semburan emosi saya. Tanpa pilih kasih, saya pukul rata berbagi emosi hari ini, termasuk sama Mas Riyan.
Saya bahkan sempat adu argumen sama Mas Riyan. Ngotot marah tanpa alasan, padahal dia kan gak tau apa-apa ya. Suka kasian saya sama dia, kena getah melulu tanpa pernah makan buahnya.
Untung, saya dikasih sama Allah pasangan yang super sabar. Pasangan yang bisa ngertiin saya tanpa batas. Kelar emosi meluap tak tertahankan, saya dibawa mas Riyan makan di pinggir jalan. Ngobrol santai disana. Lagi-lagi, Mas Riyan yang bisa buka pikiran saya. Bisa buka emosi saya jadi wujud syukur.
Katanya, " Kalau orang lagi dikasih cobaan/azab sama Allah, itu tandanya dia lagi mau dinaikin kelasnya. Bersyukur dong mau di naikin kelas." Terus mas Riyan cerita kisahnya nabi Daud, Salah satu Rasul Allah itu dikasih ujian maha berat dengan diambil semua harta miliknya, diberi penyakit dan akhirnya meninggal dalam penyakit itu. Tapi Nabi Daud tetap sabar. Bersyukur menghadapi itu semua.
Saya diem, malu sama Nabi Daud - meski kelas iman saya jelas bukan level soerang nabi- tapi masa iya, saya yang cuma keilangan tulisan bisa seterpuruk ini. Yaelah, saya kan masih punya ingatan, masih bisa saya tulis ulang. Masih punya mata yang sehat juga buat ngeliat. Tulisan saya itu cuma ilang, bukan abis. Terus masalahnya apa? Ya gak ada ternyata. Hehehe.
Terus ngapain saya cerita panjang lebar? Ya cuma mau ngasih tau aja, kalo jadi orang yang sabar itu ternyata enak. Beneran deh. Gak percaya? Cobain aja. Dan buktikan sendiri.
Salam
Me.
Manusia itu kan kadang sombong ya, lupa kalau dia punya segudang kekurangan yang mungkin jadi halangan buatnya mulia dimata penciptanya. Sombongnya itu, bikin manusia jadi mahluk yang senantiasa merugi.
Seharian saya dikasih banyak hal sama Allah. Menawarkan banyak kejadia yang membekas dan gak mungkin saya lupain. Tanggal ini, hari ini, tahun ini, gak bakalan pernah saya lupain seumur hidup saya. Apapun yang kelak terjadi sama saya besok, saya bakalan inget hari ini sejelas saya liat sendok makan didepan saya sekarang.
Seandainya bisa, saya pengen banget bilang sama kalian kalo sekarang ini saya ibarat hp yang abis batu batere. kedip-kedip terus tapi gak bisa mati. Dipake buat nelpon yang ada nanti malah nge hang. Dipake sms layarnya udah burem banget karna gak kuat buat nampilin cahaya akibat gak ada baterenya. seperti kata pepatah, Mati segan hidup tak mau. Apatis banget. Tapi sayang, saya jelas bukan tipe manusia lemah macam itu. Masa gitu aja saya mau laporan sama kalian kalo saya lagi kehilangan daya? Hopeless? Jelas bukan sifat saya.
Ceritanya, saya dikagetkan sama hal menyakitkan siang tadi. Waktu saya buka PC komputer ..... Taraaaaaaaa!!!! file saya hilang semua. Hilang semua. SEMUA. Oke saya tegaskan sekali lagi SE-MU-A. Mulai dari sinopsis-sinopsis yang saya buat, laporan-laporan bacaan skenario, plot-plot cerita, skenario non final, sampai beberapa cerpen. Ludes hilang dimakan rayap. Mendadak rasanya saya gak punya tulang. Gak mampu nopang badan sendiri.
Entah gimana saya menceritakan disini, tapi yang jelas perasaan saya tadi benar-benar gak bisa saya definisikan lagi. Mau marah, tulisan saya udah ilang. Marah, gak bisa bikin tulisan saya balik. Mau diem, mana mungkiiiinnnnnn, itu karya saya yang diciptakan dengan bulir-bulir keringat ide dan airmata imajinasi. Mau sabar, Masya Allah.... saya bingung gimana caranya sabar tadi. Itu, bener-bener gak bisa lagi cerita gimana rasanya. Gak ada satu pun jenis emosi yang bisa mewakili perasaan saya tadi.
Mendadak saya merasa insecure. Semua orang saya curigai. Siapapun yang ada di depan saya, kena semburan emosi saya. Tanpa pilih kasih, saya pukul rata berbagi emosi hari ini, termasuk sama Mas Riyan.
Saya bahkan sempat adu argumen sama Mas Riyan. Ngotot marah tanpa alasan, padahal dia kan gak tau apa-apa ya. Suka kasian saya sama dia, kena getah melulu tanpa pernah makan buahnya.
Untung, saya dikasih sama Allah pasangan yang super sabar. Pasangan yang bisa ngertiin saya tanpa batas. Kelar emosi meluap tak tertahankan, saya dibawa mas Riyan makan di pinggir jalan. Ngobrol santai disana. Lagi-lagi, Mas Riyan yang bisa buka pikiran saya. Bisa buka emosi saya jadi wujud syukur.
Katanya, " Kalau orang lagi dikasih cobaan/azab sama Allah, itu tandanya dia lagi mau dinaikin kelasnya. Bersyukur dong mau di naikin kelas." Terus mas Riyan cerita kisahnya nabi Daud, Salah satu Rasul Allah itu dikasih ujian maha berat dengan diambil semua harta miliknya, diberi penyakit dan akhirnya meninggal dalam penyakit itu. Tapi Nabi Daud tetap sabar. Bersyukur menghadapi itu semua.
Saya diem, malu sama Nabi Daud - meski kelas iman saya jelas bukan level soerang nabi- tapi masa iya, saya yang cuma keilangan tulisan bisa seterpuruk ini. Yaelah, saya kan masih punya ingatan, masih bisa saya tulis ulang. Masih punya mata yang sehat juga buat ngeliat. Tulisan saya itu cuma ilang, bukan abis. Terus masalahnya apa? Ya gak ada ternyata. Hehehe.
Terus ngapain saya cerita panjang lebar? Ya cuma mau ngasih tau aja, kalo jadi orang yang sabar itu ternyata enak. Beneran deh. Gak percaya? Cobain aja. Dan buktikan sendiri.
Salam
Me.
Langganan:
Postingan (Atom)
