Tuhan, Bisakah aku mengadu padamu, Disini?
Ya Tuhan. aku adalah seburuk-buruk manusia. Bagaimana aku tak pernah mampu bersyukur dengan baik pada-Mu. senyatanya, telah kau beri sebegitu banyak hal baik dan indah. Maka nikmat mana lagi yang telah kudustakan?
Benar, Tuhan. Maka aku memang benar hina, tak pantas dan amat bedosa.
Dan bolehkah Tuhan, aku yang bodoh ini meminta satu saja Tuhan, satu permintaan yang sungguh begitu kuharap bisa menyelamatkan rasa sakitku. Satu permintaan yang mampu menampung semua air mataku, satu permintaan saja Tuhan. Hanya satu saja. Bolehkan?
Satu permintaan itu, Tuhan, adalah satu dari sekian banyak keinginanku. Namun aku mengerti, bahwa demikian buruk aku di dunia, demikian hinanya hingga aku malu untuk menyampaikan semuanya pada-Mu. maka kucukupkan satu, hanya satu yang benar-benar aku tau kelak akan membuatku tenang. Satu untuk kebahagiaan. Tuhan, bukankah aku yang penuh dosa ini masih berhak dan pantas meminta satu saja permintaan? masih boleh kan Tuhan?
Anak perempuanku, Tuhan. Seorang anak yang sangat baik. Sangat manis dan penurut. Hatinya luas dan welas asih. Wajahnya yang bulat menggambarkan tekadnya dalam hidup, penuh keyakinan. Matanya yang bening seperti udara di mandalawangi, sejuk dan menenggelamkan siapapun yang memandangnya. Dan, Ya Tuhan. Dia, anak ku itu, perempuan yang sangat tangguh, Tuhan. Melebihi siapapun. ah, bagaimana aku harus memberitahumu yang Maha mengetahui, bahwa Engkaupun pastilah sudah mengetahui, ia adalah matahari firdausku. kesejukan yang tiada henti bagiku.
Semua menyayanginya, dan kuyakin Engkaupun begitu. Maka Tuhan, satu doa yang ku minta itu untuknya. satu doa yang ku mohon pada-Mu itu atas namanya. Demi Engkau yang telah menciptakan dia dan menitipkannya padaku, aku mohonkan Tuhan. Kabulkankan inginku.
Tuhan, satu doa itu, hanya setetes dari mampuku yang kusanggup. Bahwa akan kuberikan apapun untuk kebahagiaannya termasuk kesakitanku. Bahwa tak ada aral apapun yang mampu membuatku tak mengenangnya termasuk perihku, dan bahwa aku teramat fasih menyebut namanya di tiap malam, sama fasihnya ketika aku bernafas. Ya, Tuhan. benar adanya aku adalah manusia Hina, namun muliakanlah dia. Muliakanlah anakku, Tuhan.
Sudah, hanya itu saja.
Rabu, 08 Mei 2013
Jumat, 26 April 2013
Don't Do It !!
Sudah jam satu pagi. Ini dini hari. saya belum juga memejam.
Saya itu gampang banget marah, emosi, dan meledak akan satu hal. Saya bisa sangat membenci seseorang jika dia melakukan hal tersebut meski bukan sama saya. Dan saya bisa akan berlipat-lipat kali lebih jahat dari monster kalau itu sudah terjadi. hal apa ? : Mengabaikan. So, Don't do it.
saya gak suka mengabaikan, apalagi diabaikan. Itu rasanya sumpah gak enak banget. Jadi saya gak bakalan melakukan itu dan gak suka ada orang yang melakukan itu. terlebih apabila hal tersebut ada disekitar saya. Beneran saya mendadak bisa jadi meletup kayak kawah candradimuka. Panas dan berapi.
Saya ada didalam sebuah Productionhouse besar, berkualitas dengan pemilik yang kompetensinya tidak diragukan lagi. Bertahun saya didalam sana. Tergabung dalam satu Tim yang mewadahi produktifitas PH tersebut, termasuk salah satunya menentukan siapa talent/ aktris yang akan dipakai untuk sebuah produksi. Maka tak jarang, ada yang iseng atau juga serius 'nitip' kesaya supaya bisa main. Dalam hal ini, saya gak suka melakukan itu. tapi bukan KKN ini yang saya maksud, lain waktu kita akan obrolin ini, maybe.
kemarin, iya kemarin banget. Iseng saya liat-liat lemari terbuka ( lebih tepatnya rak buku terbuka ) di sudut ruangan tempat saya beberapa tahun ini meniti karier disitu. Dan saya menemukan hal janggal. setumpukan amplop cokelat masih tertutup rapi, belum dibuka sama sekali, berusia tahunan, dan sangat bau tua tergeletak nyaman disitu. Waktu saya lihat, sampulnya bertuliskan: Talent. Saya melongo. Lihat cap pos dan menunjukkan tanggal sekitar dua tahun lalu. Saya mingkem. Hati saya bergemuruh.
Itu amplop berasal dari mana-mana. Ada yang dari Jogja, surabaya, Medan, dan macam-macam lagi. Kondisi belum terbuka dengan waktu tahunan itu membuat saya berfikir, bagaimana bisa kami mengabaikan mereka selama ini. Sementara saya tau, mereka yang ada nun jauh dari tempat saya berdiri sekarang pasti sedang memimpikan menjadi aktris atau aktor terkenal, bisa membiayai kuliah sendiri, menemukan mimpinya, bahkan memperbaiki hidupnya. bagaimana bisa, ternyata amplop yang mereka kirimkan berupa harapan itu masih tergeletak di rak tanpa terbuka sama sekali. Bagai mana bisa, mereka se-terabaikan itu. Saya nyaris menangis.
saya berasal dari kampung. Kota kecil di jawa tengah. Saya bermimpi jadi penulis besar sejak kecil, saya ingin nama saya ada di sebuah novel sebagai penulis, di running tittle layar lebar, atau di majalah-majalah nasional. Saya sempat seperti mereka, mengirim, menunggu, untuk kemudian kecewa. Tapi saya bersyukur karena saya saat itu tidak mengetahui tekhnis mengapa sampai naskah-naskah yang saya kirimkan belum juga mendapat tanggapan. Dan, saya sangat benci keadaan yang sekarang dimana saya menyaksikan sendiri bahkan saya ada didalamnya, didalam sebuah Tim yang mengabaikan harapan-harapan itu. saya menyesal, dan saya benci ada di keadaan ini.
Di tolak itu sakit. terlebih bila passion kita yang di tolak. Tapi itu lebih baik ketimbang kita terus berharap tanpa ujung yang jelas. terlebih, terkadang harapan itu tidak hanya singgah pada diri kita sendiri, tapi juga orang tua kita, sahabat dan orang-orang terdekat. Menyakitkan ketika ternyata bahkan harapan yang kita kirimkan itu bahkan sama sekali tidak mendapat tanggapan.
Tolong jangan pernah putus asa. Karena sesungguhnya, ketika kalian diabaikan, saat itulah Tuhan akan turun tangan. belive me.
Saya itu gampang banget marah, emosi, dan meledak akan satu hal. Saya bisa sangat membenci seseorang jika dia melakukan hal tersebut meski bukan sama saya. Dan saya bisa akan berlipat-lipat kali lebih jahat dari monster kalau itu sudah terjadi. hal apa ? : Mengabaikan. So, Don't do it.
saya gak suka mengabaikan, apalagi diabaikan. Itu rasanya sumpah gak enak banget. Jadi saya gak bakalan melakukan itu dan gak suka ada orang yang melakukan itu. terlebih apabila hal tersebut ada disekitar saya. Beneran saya mendadak bisa jadi meletup kayak kawah candradimuka. Panas dan berapi.
Saya ada didalam sebuah Productionhouse besar, berkualitas dengan pemilik yang kompetensinya tidak diragukan lagi. Bertahun saya didalam sana. Tergabung dalam satu Tim yang mewadahi produktifitas PH tersebut, termasuk salah satunya menentukan siapa talent/ aktris yang akan dipakai untuk sebuah produksi. Maka tak jarang, ada yang iseng atau juga serius 'nitip' kesaya supaya bisa main. Dalam hal ini, saya gak suka melakukan itu. tapi bukan KKN ini yang saya maksud, lain waktu kita akan obrolin ini, maybe.
kemarin, iya kemarin banget. Iseng saya liat-liat lemari terbuka ( lebih tepatnya rak buku terbuka ) di sudut ruangan tempat saya beberapa tahun ini meniti karier disitu. Dan saya menemukan hal janggal. setumpukan amplop cokelat masih tertutup rapi, belum dibuka sama sekali, berusia tahunan, dan sangat bau tua tergeletak nyaman disitu. Waktu saya lihat, sampulnya bertuliskan: Talent. Saya melongo. Lihat cap pos dan menunjukkan tanggal sekitar dua tahun lalu. Saya mingkem. Hati saya bergemuruh.
Itu amplop berasal dari mana-mana. Ada yang dari Jogja, surabaya, Medan, dan macam-macam lagi. Kondisi belum terbuka dengan waktu tahunan itu membuat saya berfikir, bagaimana bisa kami mengabaikan mereka selama ini. Sementara saya tau, mereka yang ada nun jauh dari tempat saya berdiri sekarang pasti sedang memimpikan menjadi aktris atau aktor terkenal, bisa membiayai kuliah sendiri, menemukan mimpinya, bahkan memperbaiki hidupnya. bagaimana bisa, ternyata amplop yang mereka kirimkan berupa harapan itu masih tergeletak di rak tanpa terbuka sama sekali. Bagai mana bisa, mereka se-terabaikan itu. Saya nyaris menangis.
saya berasal dari kampung. Kota kecil di jawa tengah. Saya bermimpi jadi penulis besar sejak kecil, saya ingin nama saya ada di sebuah novel sebagai penulis, di running tittle layar lebar, atau di majalah-majalah nasional. Saya sempat seperti mereka, mengirim, menunggu, untuk kemudian kecewa. Tapi saya bersyukur karena saya saat itu tidak mengetahui tekhnis mengapa sampai naskah-naskah yang saya kirimkan belum juga mendapat tanggapan. Dan, saya sangat benci keadaan yang sekarang dimana saya menyaksikan sendiri bahkan saya ada didalamnya, didalam sebuah Tim yang mengabaikan harapan-harapan itu. saya menyesal, dan saya benci ada di keadaan ini.
Di tolak itu sakit. terlebih bila passion kita yang di tolak. Tapi itu lebih baik ketimbang kita terus berharap tanpa ujung yang jelas. terlebih, terkadang harapan itu tidak hanya singgah pada diri kita sendiri, tapi juga orang tua kita, sahabat dan orang-orang terdekat. Menyakitkan ketika ternyata bahkan harapan yang kita kirimkan itu bahkan sama sekali tidak mendapat tanggapan.
Tolong jangan pernah putus asa. Karena sesungguhnya, ketika kalian diabaikan, saat itulah Tuhan akan turun tangan. belive me.
Rabu, 03 April 2013
KECEWA ? Wajar.
Assalamualaikum. Lama sekali yah saya gak nyambangin blog. Semoga kalian gak pernah lupa sama saya.
kecewa, kata itu sering banget hinggap di hati manusia. sebuah kata yang pada akhirnya menjadikan kita manusia yang gak bijaksana, gak toleransi atau gak manis lagi. Tapi apapun itu, sangat manusiawi kok andai suatu hari kita dihinggapi rasa kecewa.
Jika kita mengharapkan sesuatu, jangan pernah terlalu berharap. supaya nantinya, ketika kita menemukan kenyataan tidak sesuai dengan apa yang kita prediksikan awalnya, kita gak akan terlampau kecewa dengan yang ada. Mungkin itu klise, tapi ya gitu. Cuma [pake cara itu kita bisa meminimalisir rasa kecewa. Karena sungguh, rasa kecewa itu beneran gak enak sekali rasanya.
Banyak hal yang membuat saya kecewa dalam hidup ini. Saking banyaknya, saya gak bisa lagi menghitung. Saya cuma ingin mencoba selalu bijaksana dalam menyikapi kekecewaan itu. Bagaimanapun juga, saya cuma manusia, saya bukan malaikat yang gak punya marah, saya bukan iblis yang gak punya kebaikan. Saya manusia. Ada marah, ada baik, ada bahagia ada kecewa. Saya manusia, sama seperti kalian semua.
Mas Riyan pernah bermasalah dengan salah satu adiknya karena suatu benda. Mereka berdua menjadi ribut hanya karena salah paham atas kepemilikan benda tersebut. Mas Riyan - karena sedang sangat membutuhkan benda tersebut saat itu - merasa memiliki karena telah membelikan benda itu untuk adiknya. Sedang adiknya, merasa memiliki benda itu sebagai barang privacy nya karena memang itu dibelikan mas Riyan untuk dia. Saya mengelus dada. Manusia, mau saudara kandung sekalipun, masih saja gak bisa luput dari kesalahan. Gimanapun juga, kita mesti maklumin itu.
Saya gak bisa menghujat siapapun yang merasa kecewa atas sikap saya tempo hari. Sikap yang mana? yah, yang mana aja. Tapi, sebaik-baiknya sikap adalah yang tidak menghujat. Kalau kelak kita menemukan kesalahan pada diri orang lain, jangan lantas bahagia atasnya. Jangan sampai di koar-koarkan dengan alasan ' cuma cerita' padahal kalian membuka aib orang tersebut. Sungguh, cuma Tuhan yang berhak mengatakan seseorang itu bersalah atau gak. Kita cuma dikasih rasa kecewa, tapi kita gak bisa mutusin apa orang yang bikin kita kecewa itu beneran salah atau cuma perasaan kita aja yang terlampau sakit karena merasa dikecewakan.
Saya gak berani ngomong banyak, sekarang setiap omongan saya di counter terbalik oleh banyak orang. Seharusnya saya seneng karena saya jadi perhatian banyak orang. Tapi saya sedikit kesal karena orang yang saya anggap paling bijaksana dan tau agama, justru menjadi berpeluang sangat mengerikan ketika tengah dilanda kecewa. Dan siapapun dia, saya gak akan pernah menyalahkannya. Seperti yang saya bilang diatas, cuma Tuhan yang berhak mengatakan seorang itu benar-salah. Dan sekalipun ternyata dia positif bersalah, janganlah pernah menghakimi kesalahannya. Karena, siapa yang tau kalau ternyata dosanya itu telah dimaafkan?
Semoga, siapapun yang membaca postingan saya kali ini, mampu dengan bijak mencerna maksud saya. Mampu dengan legowo saling memaafkan, dan maamampu dengan sikap manusianya saling berfikir jernih menyikapi kondisi yang ada.
Love_ Ami.
kecewa, kata itu sering banget hinggap di hati manusia. sebuah kata yang pada akhirnya menjadikan kita manusia yang gak bijaksana, gak toleransi atau gak manis lagi. Tapi apapun itu, sangat manusiawi kok andai suatu hari kita dihinggapi rasa kecewa.
Jika kita mengharapkan sesuatu, jangan pernah terlalu berharap. supaya nantinya, ketika kita menemukan kenyataan tidak sesuai dengan apa yang kita prediksikan awalnya, kita gak akan terlampau kecewa dengan yang ada. Mungkin itu klise, tapi ya gitu. Cuma [pake cara itu kita bisa meminimalisir rasa kecewa. Karena sungguh, rasa kecewa itu beneran gak enak sekali rasanya.
Banyak hal yang membuat saya kecewa dalam hidup ini. Saking banyaknya, saya gak bisa lagi menghitung. Saya cuma ingin mencoba selalu bijaksana dalam menyikapi kekecewaan itu. Bagaimanapun juga, saya cuma manusia, saya bukan malaikat yang gak punya marah, saya bukan iblis yang gak punya kebaikan. Saya manusia. Ada marah, ada baik, ada bahagia ada kecewa. Saya manusia, sama seperti kalian semua.
Mas Riyan pernah bermasalah dengan salah satu adiknya karena suatu benda. Mereka berdua menjadi ribut hanya karena salah paham atas kepemilikan benda tersebut. Mas Riyan - karena sedang sangat membutuhkan benda tersebut saat itu - merasa memiliki karena telah membelikan benda itu untuk adiknya. Sedang adiknya, merasa memiliki benda itu sebagai barang privacy nya karena memang itu dibelikan mas Riyan untuk dia. Saya mengelus dada. Manusia, mau saudara kandung sekalipun, masih saja gak bisa luput dari kesalahan. Gimanapun juga, kita mesti maklumin itu.
Saya gak bisa menghujat siapapun yang merasa kecewa atas sikap saya tempo hari. Sikap yang mana? yah, yang mana aja. Tapi, sebaik-baiknya sikap adalah yang tidak menghujat. Kalau kelak kita menemukan kesalahan pada diri orang lain, jangan lantas bahagia atasnya. Jangan sampai di koar-koarkan dengan alasan ' cuma cerita' padahal kalian membuka aib orang tersebut. Sungguh, cuma Tuhan yang berhak mengatakan seseorang itu bersalah atau gak. Kita cuma dikasih rasa kecewa, tapi kita gak bisa mutusin apa orang yang bikin kita kecewa itu beneran salah atau cuma perasaan kita aja yang terlampau sakit karena merasa dikecewakan.
Saya gak berani ngomong banyak, sekarang setiap omongan saya di counter terbalik oleh banyak orang. Seharusnya saya seneng karena saya jadi perhatian banyak orang. Tapi saya sedikit kesal karena orang yang saya anggap paling bijaksana dan tau agama, justru menjadi berpeluang sangat mengerikan ketika tengah dilanda kecewa. Dan siapapun dia, saya gak akan pernah menyalahkannya. Seperti yang saya bilang diatas, cuma Tuhan yang berhak mengatakan seorang itu benar-salah. Dan sekalipun ternyata dia positif bersalah, janganlah pernah menghakimi kesalahannya. Karena, siapa yang tau kalau ternyata dosanya itu telah dimaafkan?
Semoga, siapapun yang membaca postingan saya kali ini, mampu dengan bijak mencerna maksud saya. Mampu dengan legowo saling memaafkan, dan maamampu dengan sikap manusianya saling berfikir jernih menyikapi kondisi yang ada.
Love_ Ami.
Minggu, 03 Maret 2013
Cuma Nulis.
Lama sekali rasanya saya tidak menulis disini. setahun ada, Guys? * awal yang lebay*
Beberapa saat lalu saya mengalami masa-masa sulit, mengecewakan, menyakitkan dan bikin eneg. Tapi Alhamdulillah, saya mampu melewatinya dan saat ini sedang terbahak menyaksikan masalah tersebut dibelakang saya.
Mas Riyan pernah bilang ke saya, bahwa masalah itu seperti pohon saat kita mendaki gunung. Dia akan terlihat begitu besar ketika kita belum melewatinya. Bagaimanapun juga, masalah adalah badai. Yang akan tetap jadi badai andai kita tidak memaksa untuk berlalu. Jadi melangkahlah seperti pendakian gunung, seberat apapun treknya, sesulit apapun terjalnya rintangan tersebut, mendakilah. Agar kita mampu mengatakan ' badai pasti ber;a;u' dan akhirnya tiba di puncak gunung untuk melihat ke bawah, betapa pohon yang tadinya kita pikir sangat besar, ternyata hanya kecil saja dibawah sana. Saya mengakui, beberapa petuah mas Riyan terbukti benar adanya.
Someday, saya pernah ingin pergi ke Taman Ismail Marzuki dengan naik kereta listrik jabodetabek. Pilihan armada yang menurut saya paling tepat ketika kita sedang terburu-buru dan malas bercengkeraman dengan macet. Kereta jelas moda transportasi bebas hambatan yang akan mengantar kita sampai ke tujuan dengan aman, selamat, sentausa dan bahagia. Tapi kemudian, rencana itu berantakan di tengah jalan.
Ketika berjalan kearah setasiun, saya bertemu sahabat baik yang kebetulan juga akan melakukan perjalanan kearah Monas. Okelah, dia naik mobil merci, AC nya jelas menggiurkan, dan saya mengintip kedalam mobil itu untuk mendapati betapa lagu-lagu Iwan Fals terdengar mengalun disana, ada sekotak es cream vanilla yang rasanya makin menjadi maghnet untuk saya masuk kedalam. Maka, apalah daya saya siang itu, akhirnya berkat suara gahar Bang Iwan, dan creammynya es cream itu, saya masuk kedalam mobil dan menerima tawara tumpangannya. Toh arah kami sama, begitu pikir saya.
Tapi ketika sampai di fly over pasar gembrong, mendadak dia tak turun ke bypass, tapi justru ambil kiri dan berbelok. Saya sontak gelagepan, saya bingung, ini kenapa jadi kesini? Kan harusnya kita turun? Dan sahabat saya itu bilang, dia harus jemput pacarnya dulu di Universitas Mpu Tantular. Omeygot, saya megat megot sekarang ini. mulai menyesali kenapa begitu mudah terbujuk untuk masuk kedalam mobil.
Dan akhirnya, saya terjebak macet. Lalu, saya berfikir, jika harus ke Mpu Tantular dulu, maka saya akan terlambat sampai di TIM dan saya akan sangat menyesalinya. Akhirnya saya bilang ke sahabat saya itu kalau saya mau turun saja, dan akan melanjutkan perjalanan dengan Ojek Motor. Saya berfikir, itu solusi terbaik untuk saya dan sahabat saya. Toh saya tak rugi, begitupun dia. Tak ada yang rugi di sini.
Tapi sahabat saya menolak. Dia bilang saya sudah terlanjur ikut dan semua orang di jalan tadi sudah melihat saya masuk kedalam mobilnya. Jika terjadi apa-apa dengan saya di perjalanan arah TIM nantinya, dia yang akan dimintai pertanggungan jawab. Saya hera, kenapa jadi serumit ini. Saya bukan tanggung jawabnya, dan keselamatan saya bukan jadi kesulitannya. Paranoid yang menurut saya berlebihan itu membuat saya tak nyaman. Saya ingin segera sampai ke TIM dan tak mau menjadi rugi akibat terlambat kesana, bagaimanapun juga, masa depan saya ada di TIM sana. Tapi teman saya tetap keukeuh, saya mengalah.
Saya selalu bermasalah dengan kemacetan. Kadang menjangkit di rasa kantuk, kadang membuat saya mual dan kadang membuat saya jadi hipertensi. Dan kali ini, mual yang saya rasakan. Saya mulai mengalami rasa panik, saya berteriak bahwa saya ingin muntah dan sahabat saya itu harus menepikan mobilnya supaya saya bisa keluar dan tak mengotori karpet mobilnya yang super mewah ini. Tapi sahabat saya menolak, dia bilang saya bohong dan hanya mencipta alasan supaya bisa membuatnya kesal. Saya menyerah dan akhirnya muntah di dalam mobilnya.
Ketika muntahan saya mengotori mobilnya, sahabat saya marah besar, bahkan pacarnya yang baru masuk mobilpun ikut mengomeli saya. Setelah itu saya ' diminta keluar' saat itu juga dari dalam mobilnya. dalam hati saya bilang " Lah dari awal juga gue emang udah mau naik ojek, Jek!" tapi biarlah.
Beberapa hari kemudian, saya bertemu sahabat saya yang lain, dan dia langsung menegur saya tentang tragedi muntah di mobil sahabat saya itu. Saya bingung, kenapa jadinya cerita menyebar dan saya daji Demons disini? Saya kan udah bilang kalau saya mau muntah, dan dia yang gak percaya. Saya juga udah menolak sejak awak dia memberikan tumpangan, tapi dia menawarkan Lagu Iwan Fals dan sekotak ice Cream. Saya juga udah minta ijin untuk melanjutkan perjalanan naik ojek supaya tidak ada yang dirugikan tapi dia menolak dengan dalih merasa bertanggung jawab atas perjalan dan keselamatan saya. Ini siapa yang lebay sih?
Saya ngomel-ngomel ke mas Riyan saat itu, kenapa sih bisa jadi se absurd ini? Mas Riyan cuma bilang, " Biarin aja orang lain mau ngomongin kejelekan kita, kasih aja. Biar kita simpen yang baik-baik. "
Saya suka heran, kenapa ya orang itu sibuk melihat kesalahan orang lain tanpa mau menelaah kedalam dirinya sendiri? Saya tau saya salah dengan muntah di mobilnya, ya saya akui itu. dan saya tau muntahan saya itu bau dan menjijikan. Saya juga gak mengelak itu. Lalu, bagaimana dengan dia? Saya merasa, gak pernah berhak untuk menghakimi siapapun didunia ini, Karna saya pun punya dosa. Cuma mereka yang gak pernah berbuat dosa yang berhak untuk menyalahkan orang lain. Lagi pula, bukankah mungkin saja kesalahan kita sudah dimaafkan oleh Tuhan? Siapa yang tau?
Kenapa saya memposting ini? Saya cuma pengen kalian mengerti, kalau kita sama sekali gak pantas untuk menjelek-jelekkan orang lain. Betapapun dia memang buruk. Karna sebaik-baiknya manusia, adalah dia yang tidak menilai manusia yang lainnya.
Beberapa saat lalu saya mengalami masa-masa sulit, mengecewakan, menyakitkan dan bikin eneg. Tapi Alhamdulillah, saya mampu melewatinya dan saat ini sedang terbahak menyaksikan masalah tersebut dibelakang saya.
Mas Riyan pernah bilang ke saya, bahwa masalah itu seperti pohon saat kita mendaki gunung. Dia akan terlihat begitu besar ketika kita belum melewatinya. Bagaimanapun juga, masalah adalah badai. Yang akan tetap jadi badai andai kita tidak memaksa untuk berlalu. Jadi melangkahlah seperti pendakian gunung, seberat apapun treknya, sesulit apapun terjalnya rintangan tersebut, mendakilah. Agar kita mampu mengatakan ' badai pasti ber;a;u' dan akhirnya tiba di puncak gunung untuk melihat ke bawah, betapa pohon yang tadinya kita pikir sangat besar, ternyata hanya kecil saja dibawah sana. Saya mengakui, beberapa petuah mas Riyan terbukti benar adanya.
Someday, saya pernah ingin pergi ke Taman Ismail Marzuki dengan naik kereta listrik jabodetabek. Pilihan armada yang menurut saya paling tepat ketika kita sedang terburu-buru dan malas bercengkeraman dengan macet. Kereta jelas moda transportasi bebas hambatan yang akan mengantar kita sampai ke tujuan dengan aman, selamat, sentausa dan bahagia. Tapi kemudian, rencana itu berantakan di tengah jalan.
Ketika berjalan kearah setasiun, saya bertemu sahabat baik yang kebetulan juga akan melakukan perjalanan kearah Monas. Okelah, dia naik mobil merci, AC nya jelas menggiurkan, dan saya mengintip kedalam mobil itu untuk mendapati betapa lagu-lagu Iwan Fals terdengar mengalun disana, ada sekotak es cream vanilla yang rasanya makin menjadi maghnet untuk saya masuk kedalam. Maka, apalah daya saya siang itu, akhirnya berkat suara gahar Bang Iwan, dan creammynya es cream itu, saya masuk kedalam mobil dan menerima tawara tumpangannya. Toh arah kami sama, begitu pikir saya.
Tapi ketika sampai di fly over pasar gembrong, mendadak dia tak turun ke bypass, tapi justru ambil kiri dan berbelok. Saya sontak gelagepan, saya bingung, ini kenapa jadi kesini? Kan harusnya kita turun? Dan sahabat saya itu bilang, dia harus jemput pacarnya dulu di Universitas Mpu Tantular. Omeygot, saya megat megot sekarang ini. mulai menyesali kenapa begitu mudah terbujuk untuk masuk kedalam mobil.
Dan akhirnya, saya terjebak macet. Lalu, saya berfikir, jika harus ke Mpu Tantular dulu, maka saya akan terlambat sampai di TIM dan saya akan sangat menyesalinya. Akhirnya saya bilang ke sahabat saya itu kalau saya mau turun saja, dan akan melanjutkan perjalanan dengan Ojek Motor. Saya berfikir, itu solusi terbaik untuk saya dan sahabat saya. Toh saya tak rugi, begitupun dia. Tak ada yang rugi di sini.
Tapi sahabat saya menolak. Dia bilang saya sudah terlanjur ikut dan semua orang di jalan tadi sudah melihat saya masuk kedalam mobilnya. Jika terjadi apa-apa dengan saya di perjalanan arah TIM nantinya, dia yang akan dimintai pertanggungan jawab. Saya hera, kenapa jadi serumit ini. Saya bukan tanggung jawabnya, dan keselamatan saya bukan jadi kesulitannya. Paranoid yang menurut saya berlebihan itu membuat saya tak nyaman. Saya ingin segera sampai ke TIM dan tak mau menjadi rugi akibat terlambat kesana, bagaimanapun juga, masa depan saya ada di TIM sana. Tapi teman saya tetap keukeuh, saya mengalah.
Saya selalu bermasalah dengan kemacetan. Kadang menjangkit di rasa kantuk, kadang membuat saya mual dan kadang membuat saya jadi hipertensi. Dan kali ini, mual yang saya rasakan. Saya mulai mengalami rasa panik, saya berteriak bahwa saya ingin muntah dan sahabat saya itu harus menepikan mobilnya supaya saya bisa keluar dan tak mengotori karpet mobilnya yang super mewah ini. Tapi sahabat saya menolak, dia bilang saya bohong dan hanya mencipta alasan supaya bisa membuatnya kesal. Saya menyerah dan akhirnya muntah di dalam mobilnya.
Ketika muntahan saya mengotori mobilnya, sahabat saya marah besar, bahkan pacarnya yang baru masuk mobilpun ikut mengomeli saya. Setelah itu saya ' diminta keluar' saat itu juga dari dalam mobilnya. dalam hati saya bilang " Lah dari awal juga gue emang udah mau naik ojek, Jek!" tapi biarlah.
Beberapa hari kemudian, saya bertemu sahabat saya yang lain, dan dia langsung menegur saya tentang tragedi muntah di mobil sahabat saya itu. Saya bingung, kenapa jadinya cerita menyebar dan saya daji Demons disini? Saya kan udah bilang kalau saya mau muntah, dan dia yang gak percaya. Saya juga udah menolak sejak awak dia memberikan tumpangan, tapi dia menawarkan Lagu Iwan Fals dan sekotak ice Cream. Saya juga udah minta ijin untuk melanjutkan perjalanan naik ojek supaya tidak ada yang dirugikan tapi dia menolak dengan dalih merasa bertanggung jawab atas perjalan dan keselamatan saya. Ini siapa yang lebay sih?
Saya ngomel-ngomel ke mas Riyan saat itu, kenapa sih bisa jadi se absurd ini? Mas Riyan cuma bilang, " Biarin aja orang lain mau ngomongin kejelekan kita, kasih aja. Biar kita simpen yang baik-baik. "
Saya suka heran, kenapa ya orang itu sibuk melihat kesalahan orang lain tanpa mau menelaah kedalam dirinya sendiri? Saya tau saya salah dengan muntah di mobilnya, ya saya akui itu. dan saya tau muntahan saya itu bau dan menjijikan. Saya juga gak mengelak itu. Lalu, bagaimana dengan dia? Saya merasa, gak pernah berhak untuk menghakimi siapapun didunia ini, Karna saya pun punya dosa. Cuma mereka yang gak pernah berbuat dosa yang berhak untuk menyalahkan orang lain. Lagi pula, bukankah mungkin saja kesalahan kita sudah dimaafkan oleh Tuhan? Siapa yang tau?
Kenapa saya memposting ini? Saya cuma pengen kalian mengerti, kalau kita sama sekali gak pantas untuk menjelek-jelekkan orang lain. Betapapun dia memang buruk. Karna sebaik-baiknya manusia, adalah dia yang tidak menilai manusia yang lainnya.
Minggu, 10 Februari 2013
Usaha+Doa x semangat : Sabar = Dream Come True !
" Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi kita "
( Andrea Hirata )
Idiom ciptaan Andea hirata diatas, itu favorit saya banget. Setelah sekian lama saya mencari pepatah, nasehat, kalimat yang pas dan terasa cocok untuk semua harapan saya, baru muncullah idiom itu dalam sampul buku sekuel kedua dari Tetralogi milik Ikal yang berjudul " Sang Pemimpi".
Setelah saya baca dan merasa sejiwa dengan idiom itu, saya menganggap Ikal langsung jadi sahabat saya. Gimanapun juga, mereka yang berani bermimpi, berani menatap mimpinya, berani berjuang dan berdarah-darah untuk mimpinya, yakin dan terus istiqomah dalam membuatnya terwujud, adalah sekutu saya. Bagaimanapun juga, kenal tak kenal, baik atau buruk, ganteng atau cantik, All around with it, they my best friend forever. Bahasa anak gaolnya, BFF. Dan saya yakin, kalian juga, yang masih tetep membaca dan mengikuti tulisan saya di blog ini, juga BFF saya. Kalian juga pasti berani bermimpi, as like me.
Saya banyak mencintai detail-detail dalam hidup. Mulai dari tulisan, gesture, anak-anak, laut, alam, sampai tempe. Dari banyak hal tersebut, satu yang jadi favorit saya, terpancang kuat di hati saya, mengakar dan makin dalam rambatnya ke hidup saya. Itu tidak lain tidak bukan, kita sambut : MENULIS !!!
Menulis, bukan hal baru buat manusia. Dari lahir, batita, balita, remaja sampai nanti Uzur, tulisan itu udah menjadi hari-hari dan kebiasaan di hidup semua orang. Menulis dan tulisan, keduanya terkait dengan satu variabel baru bernama Bahasa. Dimana-mana mereka yang menguasai bahasa akan mampu menguasai dunia. mungkin kalian masih ingat frasa Lingua Franca yang di ajarkan waktu kita SD, bahasa adalah ibu dari semua ilmu pengetahuan. Berangkat dari situ, saya mulai mencinta.
Mempelajari bahasa, menumbuh suburkan cinta saya pada dunia tulisan. Semakin dipupuk, kecintaan saya makin beranak pinak. Saya mulai mencintai aspek-aspek disekililing menulis. Mulai dari teater, musik, tari, tekhnologi, dan Cinta itu sendiri. Saya belajar banyak dari menulis, belajar banyak dari mendalami tulisan-tulisan. Untuk itulah, hingga sekarang ini saya enggan berhenti belajar. Orang yang mencinta, akan selalu ingin dekat dengan yang dicinta. Saya mencintai menulis, dan tanpa belajar saya tau saya akan sampai dititik henti sebuah tulisan. Saya menghindari itu.
Banyak impian yang saya tanam di Pohon harapan bernama Menulis. Mulai dari nama besar, eksistensi, materi, hingga persahabatan. Saya tau, harapan-harapan tak sepenuhnya datang sesuai keinginan. Ada kalanya mereka datang terlambat, atau bahkan menyaru seperti bentuk lain. Tapi saya percaya, ketika saya masih berani berharap, saat itulah saya hidup.
Bertahun-tahun, saya hidup dalam keinginan dan cita-cita yang membumbung tinggi. Saya ingin jadi penulis besar, yang mengilhami banyak orang untuk terus bersemangat hidup. Saya ingin karya saya dibicarakan di semua negara, untuk menunjukkan bahwa tak hanya London, Perancis atau Rusia yang memiliki penulis kaliber dengan daya jual tinggi. Saya ingin, imajinasi saya menginspirasi banya manusia, dimana mereka tau bahwa bermimpi itu tidak haram. Saya ingin, selalu ingin begitu.
Someday, seorang yang ada di lingkaran keluarga terdekat saya bicara tentang impian tersebut : " Percuma nulis tiap malam, kalau karya kamu gak pernah muncul dimana-mana." Even, saya tau yang bicara itu bukan sang ahli tekhnologi. Dia pasti gak pernah buka internet. Dia pasti gak tau alamat blog ini, terlebih dia pasti gak pernah nonton tipi, gak pernah baca running titlle di belakang sinetron. Selain itu, dia pasti gaulnya gak keren, gak pernah kenal sama anak-anak milis penulis, atau gabung di PDS juga di TBS. Ya pantes aja dia gak tau karya saya. Itu jadi pelajaran ya buat saya, juga kalian. Tolong, kalo mau ngomong jangan asal ngecap. Kasian kan jadi keliatan oon nya. :p
Itu cuma satu dari jutaan kalimat pedes yang mampir di telinga saya. Bukan sekali dua kali, gak juga sehari dua hari. Tapi berjuta kali dengan hitungan waktu mundur tahunan. Kalian tau itu rasanya gimana? kayak yang di gantung di tiang bendera, kepanasan keujanan, terus kaki kita di kasih kecoak. Pegel, jijik, tapi males teriak. Yang dijadiin bahan buat nakut-nakutin cuma hewan kecil gitu. Gengsi banget mau teriak kan? Nanggung!
Nah, hari Sabtu kemarin. Tuhan menunjukkan pelukan itu. Pelukan di mimpi saya. Pelukan yang ternyata selama ini ada tapi belum saya rasakan. Bukan terlambat datang, tapi memang menunggu waktu yang tepat untuk dilahirkan. Saya tau, kalo Pelukan Tuhan itu datang jauh hari sebelum ini, mimpi saya akan lahir prematur karna saya sendiri belum sepenuhnya siap. Dan dalam hitungan bulan, saya sudah siap jadi ibu dari karya besar tersebut.
Jadi rumus untuk bisa menerima pelukan Tuhan atas mimpi kita cuma satu : Usaha + Doa x semangat : Sabar. Hasilnya kalian bisa rasakan sendiri. Belive me, im not Lie. Satu lagi nih, kalo ada orang disekitar kalian yang sampe tua masih aja sibuk bermimpi, jangan pernah kalian kecam. Karena justru dialah orang yang senantiasa hidup.
Someday, kalo saya punya kesempatan ketemu sodara itu lagi, saya bakalan ngomong : " percuma hidup selama puluhan tahun, kalo cuma bisa nebeng mimpi orang lain. "
Love
_me_
Langganan:
Postingan (Atom)