Minggu pagi ini, saya meradang. disela sakit perut yang terus melilit tubuh saya, menjangkar waktu saya untuk terus-terusan bergulat diatas tempat tidur, menggeliat kesana-sini hanya demi menghilangkan sakitnya meskipun selalu gagal - dan yang akhirnya justru makin menekan perut saya untuk siaga melawan sakit yang melilit- saya juga menahan suatu perasaan gundah. Perasaan dimana hari-hari saya di kristalkan seperti garam. Asin dan keras.
Sudah lebih dari dua minggu ini saya kesulitan mengatur ritme hidup. Jujur saja, saya ini seperti orang gagap yang mendadak bisa bicara lancar. Semakin lancar saya bicara, semakin bingung saya menghentikannya. Sementara saya terbiasa gagap dengan bicara terputus-putus. Analogi itu yang kemudian membawa kesadaran baru, bahwa manusia memang tercipta untuk senantiasa tidak bersyukur. Dan saya malu mengakui bahwa saya termasuk salah satunya.
Ada hal yang menekan hati saya. Demikian dalam tekanan itu sampai saya lupa memaknainya sebagai proses yang mestinya saya protes. Saya justru merasakan tekanan yang dalam itu sebagai konsistensi kepedihan yang terakumulasi dalam hidup saya bertahun-tahun belakangan ini. Mendadak saya merasa harus menebus dosa besar, dosa menjadi penipu. Dosa yang tak akan pernah saya maafkan seumur hidup saya. Bahwa selama ini saya menipu, menipu diri sendiri. Berpura-pura biasa padahal sungguh dalam hati saya perasaan sakit menekan terus. Bertahun saya hidup dalam keterasingan, namun mencoba menjadi yang paling biasa. Akhirnya, pagi ini, semua perasaan itu terakumulasi. Tergenapkan.
Disela sakit yang membelit perut saya, saya paksakan mandi pagi. Saya harus kena air. Untuk alasan apapun, air adalah peredam segala api yang ada. Api di dalam maupun diluar. Saya meredamnya dengan mandi. Matikah api itu? tidak semua, tapi minimal usaha itu membuahkan hasil. Saya tak lagi gelagapan karna tak mampu bernafas, asma akibat banyaknya tekanan di hati.
Biasanya, saya akan langsung pesan tiket pesawat ke lampung dan menyelam di kiluan. Biasanya, saya akan langsung berjalan mengitari pasar tradisional dan bertengger terhenti di tengahnya. Hanya air dan keramahan pasar tradisional yang mampu meluputkan segala tekanan itu, membuatnya terangkat dan terlupakan sekali lagi memberi saya nafas untuk kembali melalui hari-hari saya, dengan menipu kembali.
Kali ini tak biasa. Saya tak lagi berani menghubungi awak Kiluan. Ada tangan besar yang menggenggam saya di Jakarta. Yang menjangkarkan hatinya dan mempercayakan hidupnya pada saya. Saya sudah berjanji, untuk menjaganya sampai saya sendiri tak mampu berdiri. Dan saya belum melihat kemungkinan akan keingkaran janji itu. saya diam bergeming didepan laptop, dengan layar yang menyala pada web pemesanan tour ke kiluan. dengan tangkas saya mengklik tombol exit. saya batal pesan.
Masih saja tak biasa. Saya tak menuju pasar tradisional. Kali ini bukan tangan besar yang membuat saya tak melakukannya.Tapi sebuah kehidupan lain yang hidup dalam diri saya. yang harus saya jaga dan rawat entah sampai kapan. yang eksistensinya membuat saya kehilangan alasan untuk egois. yang akan membuat saya menjadi manusia utuh dan penuh kembali. Saya hidup dan dihidupi olehnya. maka tak mungkin saya melalaikannya.
Kiluan memang berkilauan. Lumba-lumba dan banyaknya terumbu karang yang siap dimangsa oleh kelaparan mata saya jelas santapan lezat yang akan melenakan saya sepanjang waktu. Pasar tradisional juga membuat lupa. suara-suara magis dari para penjual itu senantiasa membuat saya merasa berarti. Merasakan ujung sol sepatu saya yang basah oleh kubangan air di tengah pasar itu membuat hati saya tergetar. mencicipi keramahan udara dan bau amis ikan membuat saya terangsang untuk bangkit dan berdiri, berlari kesana. tapi kali ini saya hanya diam. saya gagu.
Ternyata, tak selama nya saya bisa membahagiakan semua orang. Saya sepagian ini menangisi diri sendiri. menangisi kebodohan saya, menangisi kealpaan saya. inilah hidup yang tak lagi hidup. saya anomali didalamnya.
Tampilkan postingan dengan label my way. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my way. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 10 November 2012
Minggu, 23 September 2012
KULDESAK
Oke, kali ini cerita agak banyak tentang hari Sabtu saya kemarin.
Jadi, ceritanya saya yang udah lamaaaaa banget gak latian teater, pengen latian lagi. lebih tepatnya saya pengen olah tubuh lagi. Gesture saya pasti sudah sangat melemah dan cara saya mengapresiasikan sesuatu pasti sudah standart sekali. saya butuh Charge. berbekal dari itu, saya berangkat ke USNI untuk latihan olah tubuh hari sabtu kemarin.
Kampus USNI itu ada di sebelah Mall Gandaria City. tepatnya, itu entah berapa puluh kilometer dari tempat tinggal saya. Dulu, sewaktu saya rutin latihan, saya kesananya ada yang anterin. Nah, ini saya berangkat berdua sama temen saya ( *namanya Inay,perempuan asli ambon, berperawakan tinggi kurus khas ambon ) naik TransJakarta. sebelum berangkat saya browsing di internet dulu, jalur mana aja yang harus saya tempuh buat bisa sampe di Gandaria. saya mesti naik koridor 11 turun di kampung melayu, pindah ke koridor harmoni, dan barulah ambil koridor lebakbulus dan turun di kebayoran baru. Inay yang saya ceritain itu langsung jiper. " ada baiknya kita naik taksi saja" katanya, saya ngakak. naik taksi bisa 350 rebu, kalo naik transJ cuma 3500. Inay mengkerut.
Sampe di kampung melayu, semua masih santai. kita berdua dapet tempat duduk dan masih menikmati kemegahan moda transportasi TransJ. tapi begitu pindah di armada arah harmoni, bencana dimulai. Itu yang namanya manusia udah nyaris gak ada bedanya ama karton bekas. di tumpuk, dilipet dipaksa di masukin ke karung. Saya sama Inay melongo. Kami masih saling lempar senyum sambil geleng-geleng kepala waktu kondektur TransJ menghentikan arus masuk penumpang. masih ada celah untuk bernafas, gitu saya pikir. tapi nyatanya tidak. di Matraman, ada 3 orang turun, tapi 5 orang masuk. nah salah satu orang itu ada yang guedenya kayak Rahwana. saya sama Inay yang kebetulan berdiri di depan pintu tengah, mencoba miring-miring untuk ngasih jalan si Rahwana itu. tapi dia emang gede banget, jadi ternyata bukan cuma saya yang harus miring-miring, tapi juga nenek-nenek yang ada di belakang Inay. Dari hal ini semua terjadi.
Nenek itu terdesak depan belakang, Inay sewot. Saya lebih-lebih. kenapa sih gak berdiri aja di depan pintu. laki-laki kan? gede juga badannya kan? ngapain mesti maksa masuk ke tengah dan bikin desakan lebih ke si nenek. itu juga, penumpang muda-muda yang pada duduk, kenapa sih gak ada rasa pengen mempersilahkan si nenek renta itu duduk? saya spontan ngucap " Astaghfirullah." dan cuma diam. berusaha menahan diri untuk tidak miring kearah si- nenek agar tak mendesaknya lagi. tapi Inay, karna dia ambon manise, maka dia angkat suara. " sudah gila ngana hah? seng ngana lihat ada orang tua di belakang beta !!! " gaya hardikan khas ambon menguar dari mulut manisnya, cukup membuat si rahwana diam. saya nyengir. pasti dia takut kena bacok orang ambon.
Sampai di harmoni, saya dan Inay melongo. baiklah, saya deskripsikan suasana disana. ratusan manusia, membanjiri shelter itu. mengular dalam antrian yang saya yakin baru akan terselesaikan entah berapa jam kedepan. Barbarisme mengalahkan panasnya udara di atas shelter itu. saling sikut dan jambak terjadi ( oke ini lebay) hehehehe. Dan nenek renta itu, berjalan terseok kearah antrian lebak bulus. kami di belakangnya karna jalur kamu sama. herannya, entah mungkin karena jodoh, si rahwana pun sudah berdiri beringas di antrian lebak bulus yang super padat. Inay melengos, mulutnya terkunci karena cubitan saya di pinggangnya. Nenek itu, karena tadi Inay tolong, dalam antrian kali ini memilih berlindung di balik tubuh Inay yang memang semampai. Alhasil posisi kami adalah : Rahwana, Inay, Nenek dan saya. kami berempat, mencoba menyimpan dendam sendiri-sendiri.
Begitu bus datang, orang-orang di belakang kami mendorong. Saya yang ada di belakang nenek berteriak spontan karena terdorong dari belakang " Jangan dorong dong, depan gue nenek-nenek. " Beberapa orang diam, tapi mendadak ada balasan celetukan, " harusnya kalo udah tua gak usah naik busway" kontan saya noleh. suara laki-laki, dari seorang laki-laki muda yang berdandan dandy di bekalang saya. Inay tau saya marah, dengan sigap dia menyentuh pundak saya. Tapi dewa kemarahan sudah datang lebih dulu ketimbang tindakan penyabaran dari Inay. dengan mata melotot, saya tunjuk itu laki-laki. " elo, yang mendingan kagak usah naik TransJ !!! " demi harga diri, laki-laki itu menjawab " urusan gue" saya, tanpa pikir panjang langsung berbalik dari antrian, menyeret si lelaki yang ternyata tingginya tak tergapai, dalam hitungan detik, kami resmi jadi tontonan. Inay geleng kepala. satpam datang melerai kami berdua. Tak tahan dengan emosi, saya tarik kerah bajunya dan saya tonjok mukanya. sejujurnya, kepalan tangan saya yang justru perih setelah memukul mukanya, tapi hati saya terpuaskan. setelah itu dengan bodohnya saya keluar shelter dan mencegat taksi. akhirnya, 3500 ke arah gandaria menjadi 134 ribu rupiah. Inay terbahak sepanjang perjalanan Harmony - Gandaria.
Malamnya, saya, Inay dan teman-teman dari USNI berangkat ke UNJ untuk nonton pementasan teater. setelah sekian lama, akhirnya saya ketemu sama temen-temen lama. malam minggu itu, saya kembali jadi mahasiswa, duduk lesehan di depan panggung, minum kopi sambil makan keripik kentang, terbahak bareng dan ngebanyol bareng. seandainya pun besok kiamat, saya yakin saya masih mampu bilang bahwa saya bahagia pernah mengalami ini semua. heheheheh. tapi bukan itu yang menarik dari pementasan CM di UNJ. ada yang silau selain kebahagiaan bertemu teman lama.
CM UNJ membawakan naskah WS. Rendra ( Mastodon dan burung Kondor ). siapapun tau, itu salah satu masterpiece Rendra. bercerita tentang revolusi amerika dengan bahasa berat dan tokoh yang luar biasa susah. durasi Mastodon dan burung kondor itu sekitar 3,5 jam dengan mobilitas karakter dan dialog super cepat. ketika pertama kali datang, saya yang memang sudah beberapa kali menonton naskah itu digarap oleh beberapa teater lebih memilih ngerumpi berbisik dengan beberapa kawan lama. sampai, saya tertegun dengan munculnya tokoh mastodon. Saya kaget, ini mastodon pertama yang bikin saya deg-degan. dia memiliki vocal kuat dengan vbrasi yang serupa dengan bayangan saya tentang mastodon selama ini. gesture tubuhnya liat dan lentur. cerdas. pikiran pertama yang hinggap di benak saya adalah " Laki-laki ini cerdas !"
First thing saya terbukti benar. di akhir pementasan, saya lihat jam. 2,5 jam total pementasan!! saya makin merinding. gimana bisa, naskah se liar ini, dengan durasi 3,5 jam, mampu digarap hanya dalam waktu 2,5 jam. tanpa mengurangi essensi makna dan roh spiritualnya sama sekali. sutradara secerdas apa yang mampu menggarap ini semua dengan begitu cerdas? saya penasaran. dan saya sontak berdiri dari duduk, ketika MC mengenalkan si tokoh mastodon sebagai sutradara. gila!!! udah main nya keren, cerdas, dia pula yang nyutradai pementasan berdurasi singkat dari naskah berat tanpa mengurangi apapun dalam essensi garapannya. dia, lelaki yang menyilaukan temans. serius.
Oke, saya megap-megap nahan kagum sama dia. beberapa teman mengenalkan pria itu pada saya. namanya Ramon. dewasa dan sangat supel. dia menyikapi pujian dari penonton dengan sangat baik. saya makin gak bisa nafas waktu dia kasih nomer hape nya sama saya. Ya Allah, itu matanya kayak ada kilatan kecerdasan dewa Zeus. aihhh, segala topan badai datang dipikiran saya. malam minggu itu, saya dapat ujian berat dari Allah, berupa pesona Ramon.hehehee
Kuldesak. sabtu kemarin saya kuldesak. dari pagi bete gara-gara transjakarta, malemnya rese sama pikiran gara-gara pria genius. saya harap, Kuldesak ini bikin saya lupa sama sakit yang dulu-dulu.
Jadi, ceritanya saya yang udah lamaaaaa banget gak latian teater, pengen latian lagi. lebih tepatnya saya pengen olah tubuh lagi. Gesture saya pasti sudah sangat melemah dan cara saya mengapresiasikan sesuatu pasti sudah standart sekali. saya butuh Charge. berbekal dari itu, saya berangkat ke USNI untuk latihan olah tubuh hari sabtu kemarin.
Kampus USNI itu ada di sebelah Mall Gandaria City. tepatnya, itu entah berapa puluh kilometer dari tempat tinggal saya. Dulu, sewaktu saya rutin latihan, saya kesananya ada yang anterin. Nah, ini saya berangkat berdua sama temen saya ( *namanya Inay,perempuan asli ambon, berperawakan tinggi kurus khas ambon ) naik TransJakarta. sebelum berangkat saya browsing di internet dulu, jalur mana aja yang harus saya tempuh buat bisa sampe di Gandaria. saya mesti naik koridor 11 turun di kampung melayu, pindah ke koridor harmoni, dan barulah ambil koridor lebakbulus dan turun di kebayoran baru. Inay yang saya ceritain itu langsung jiper. " ada baiknya kita naik taksi saja" katanya, saya ngakak. naik taksi bisa 350 rebu, kalo naik transJ cuma 3500. Inay mengkerut.
Sampe di kampung melayu, semua masih santai. kita berdua dapet tempat duduk dan masih menikmati kemegahan moda transportasi TransJ. tapi begitu pindah di armada arah harmoni, bencana dimulai. Itu yang namanya manusia udah nyaris gak ada bedanya ama karton bekas. di tumpuk, dilipet dipaksa di masukin ke karung. Saya sama Inay melongo. Kami masih saling lempar senyum sambil geleng-geleng kepala waktu kondektur TransJ menghentikan arus masuk penumpang. masih ada celah untuk bernafas, gitu saya pikir. tapi nyatanya tidak. di Matraman, ada 3 orang turun, tapi 5 orang masuk. nah salah satu orang itu ada yang guedenya kayak Rahwana. saya sama Inay yang kebetulan berdiri di depan pintu tengah, mencoba miring-miring untuk ngasih jalan si Rahwana itu. tapi dia emang gede banget, jadi ternyata bukan cuma saya yang harus miring-miring, tapi juga nenek-nenek yang ada di belakang Inay. Dari hal ini semua terjadi.
Nenek itu terdesak depan belakang, Inay sewot. Saya lebih-lebih. kenapa sih gak berdiri aja di depan pintu. laki-laki kan? gede juga badannya kan? ngapain mesti maksa masuk ke tengah dan bikin desakan lebih ke si nenek. itu juga, penumpang muda-muda yang pada duduk, kenapa sih gak ada rasa pengen mempersilahkan si nenek renta itu duduk? saya spontan ngucap " Astaghfirullah." dan cuma diam. berusaha menahan diri untuk tidak miring kearah si- nenek agar tak mendesaknya lagi. tapi Inay, karna dia ambon manise, maka dia angkat suara. " sudah gila ngana hah? seng ngana lihat ada orang tua di belakang beta !!! " gaya hardikan khas ambon menguar dari mulut manisnya, cukup membuat si rahwana diam. saya nyengir. pasti dia takut kena bacok orang ambon.
Sampai di harmoni, saya dan Inay melongo. baiklah, saya deskripsikan suasana disana. ratusan manusia, membanjiri shelter itu. mengular dalam antrian yang saya yakin baru akan terselesaikan entah berapa jam kedepan. Barbarisme mengalahkan panasnya udara di atas shelter itu. saling sikut dan jambak terjadi ( oke ini lebay) hehehehe. Dan nenek renta itu, berjalan terseok kearah antrian lebak bulus. kami di belakangnya karna jalur kamu sama. herannya, entah mungkin karena jodoh, si rahwana pun sudah berdiri beringas di antrian lebak bulus yang super padat. Inay melengos, mulutnya terkunci karena cubitan saya di pinggangnya. Nenek itu, karena tadi Inay tolong, dalam antrian kali ini memilih berlindung di balik tubuh Inay yang memang semampai. Alhasil posisi kami adalah : Rahwana, Inay, Nenek dan saya. kami berempat, mencoba menyimpan dendam sendiri-sendiri.
Begitu bus datang, orang-orang di belakang kami mendorong. Saya yang ada di belakang nenek berteriak spontan karena terdorong dari belakang " Jangan dorong dong, depan gue nenek-nenek. " Beberapa orang diam, tapi mendadak ada balasan celetukan, " harusnya kalo udah tua gak usah naik busway" kontan saya noleh. suara laki-laki, dari seorang laki-laki muda yang berdandan dandy di bekalang saya. Inay tau saya marah, dengan sigap dia menyentuh pundak saya. Tapi dewa kemarahan sudah datang lebih dulu ketimbang tindakan penyabaran dari Inay. dengan mata melotot, saya tunjuk itu laki-laki. " elo, yang mendingan kagak usah naik TransJ !!! " demi harga diri, laki-laki itu menjawab " urusan gue" saya, tanpa pikir panjang langsung berbalik dari antrian, menyeret si lelaki yang ternyata tingginya tak tergapai, dalam hitungan detik, kami resmi jadi tontonan. Inay geleng kepala. satpam datang melerai kami berdua. Tak tahan dengan emosi, saya tarik kerah bajunya dan saya tonjok mukanya. sejujurnya, kepalan tangan saya yang justru perih setelah memukul mukanya, tapi hati saya terpuaskan. setelah itu dengan bodohnya saya keluar shelter dan mencegat taksi. akhirnya, 3500 ke arah gandaria menjadi 134 ribu rupiah. Inay terbahak sepanjang perjalanan Harmony - Gandaria.
Malamnya, saya, Inay dan teman-teman dari USNI berangkat ke UNJ untuk nonton pementasan teater. setelah sekian lama, akhirnya saya ketemu sama temen-temen lama. malam minggu itu, saya kembali jadi mahasiswa, duduk lesehan di depan panggung, minum kopi sambil makan keripik kentang, terbahak bareng dan ngebanyol bareng. seandainya pun besok kiamat, saya yakin saya masih mampu bilang bahwa saya bahagia pernah mengalami ini semua. heheheheh. tapi bukan itu yang menarik dari pementasan CM di UNJ. ada yang silau selain kebahagiaan bertemu teman lama.
CM UNJ membawakan naskah WS. Rendra ( Mastodon dan burung Kondor ). siapapun tau, itu salah satu masterpiece Rendra. bercerita tentang revolusi amerika dengan bahasa berat dan tokoh yang luar biasa susah. durasi Mastodon dan burung kondor itu sekitar 3,5 jam dengan mobilitas karakter dan dialog super cepat. ketika pertama kali datang, saya yang memang sudah beberapa kali menonton naskah itu digarap oleh beberapa teater lebih memilih ngerumpi berbisik dengan beberapa kawan lama. sampai, saya tertegun dengan munculnya tokoh mastodon. Saya kaget, ini mastodon pertama yang bikin saya deg-degan. dia memiliki vocal kuat dengan vbrasi yang serupa dengan bayangan saya tentang mastodon selama ini. gesture tubuhnya liat dan lentur. cerdas. pikiran pertama yang hinggap di benak saya adalah " Laki-laki ini cerdas !"
First thing saya terbukti benar. di akhir pementasan, saya lihat jam. 2,5 jam total pementasan!! saya makin merinding. gimana bisa, naskah se liar ini, dengan durasi 3,5 jam, mampu digarap hanya dalam waktu 2,5 jam. tanpa mengurangi essensi makna dan roh spiritualnya sama sekali. sutradara secerdas apa yang mampu menggarap ini semua dengan begitu cerdas? saya penasaran. dan saya sontak berdiri dari duduk, ketika MC mengenalkan si tokoh mastodon sebagai sutradara. gila!!! udah main nya keren, cerdas, dia pula yang nyutradai pementasan berdurasi singkat dari naskah berat tanpa mengurangi apapun dalam essensi garapannya. dia, lelaki yang menyilaukan temans. serius.
Oke, saya megap-megap nahan kagum sama dia. beberapa teman mengenalkan pria itu pada saya. namanya Ramon. dewasa dan sangat supel. dia menyikapi pujian dari penonton dengan sangat baik. saya makin gak bisa nafas waktu dia kasih nomer hape nya sama saya. Ya Allah, itu matanya kayak ada kilatan kecerdasan dewa Zeus. aihhh, segala topan badai datang dipikiran saya. malam minggu itu, saya dapat ujian berat dari Allah, berupa pesona Ramon.hehehee
Kuldesak. sabtu kemarin saya kuldesak. dari pagi bete gara-gara transjakarta, malemnya rese sama pikiran gara-gara pria genius. saya harap, Kuldesak ini bikin saya lupa sama sakit yang dulu-dulu.
Rabu, 29 Agustus 2012
bebaskan mimpimu, nak !
Ini masih pagi, dan saya udah nyaris menandaskan dua gelas kopi hitam cuma gara-gara lidah nyecap-nyecap gak karuan. Kambing hitam dari segala macam bentuk makian akan ketikdakmampuan saya untuk bertahan hidup dalam kubangan Insomniers adalah kopi. dan dalam semesta saya, kopi selalu tampil cantik setiap kali di hidangkan. membuat saya ingin selalu menyeruputnya tanpa sisa. tanpa ampun.
Tapi postingan kali ini saya gak membicarakan kopi. saya ingin membicarakan masalah cita-cita. impian. harapan. mari kita mulai.
Saya dulu penari. Oke. Stop. Don't laughing it. tapi serius. saya dulu penari. terlepas dari sekarang saya berhijab dan menutup tubuh saya rapet-rapet, saya ini mantan penari. penari apapun. saya dipersiapkan untuk jadi penari. bukan penari biasa. sampai sekarang saya masih menguasai tari tradisional daerah Indonesia, kontemporer dan modern. tak cukup sampai disitu, saya penari.bukan sekedar menari. tapi penari. saya dibekali ilmu pengetahuan merawat kulit dan tubuh. dibekali dengan anggah-ungguh sebagai penari profesional, di jejali dengan tata krama yang santun sebagai ambasador keluwesan liukan tubuh. saya dulu penari. sekarang tidak.
Pagi tadi, ayah saya mamerin foto anak perempuan saya yang sedang belajar tari. Anak saya itu suka menggambar. saya dulu penari, dan pagi tadi saya melihat anak saya menari melalui foto ayah saya. sudahkah kalian temukan jalinan embrio yang menyusun jalur merah di kenyataan ini? jika belum, silahkan baca paragraf selanjutnya.
kenapa saya sekarang tak menari lagi? Saya malu membuka aurat saya. memamerkan lekukan dengan gerakan yang disengaja. Tarian memang indah, tapi saya mau menari di surga saja besok. jadi, saya berhenti menari karna memang ingin berhenti. tak ada tragedi dahsyat selain rasa malu saya sendiri yang menghentikan saya menari.
Anak saya luwes dalam menari. kebayang dong gimana happy nya saya. tapi sekali lagi, saya tau bahkan mungkin lebih tau dari siapapun bahwa anak saya lebih suka menggambar. saya gak mau, dia akhirnya jadi penari karna merasa harus melanjutkan cita-cita saya yang memang saya padamkan dengan sekam sendiri. saya ingin anak saya menjalani hidupnya sendiri. menjalani mimpinya sendiri. jadi pelukis atau penari, terserah dia.
saya memang orang tuanya, wajib mengarahkannya. tapi saya tak ada keinginan untuk memaksanya. bahkan untuk mengarahkannya pun saya ingin dia mengalir dengan sendirinya. terlalu membebaskan? ah, saya rasa tidak. anak saya memiliki pola pikir terkonsep yang baik. sejak kecil diamemang terlatih untuk menentukan segalanya dengan independent. apa ini tidak terlalu pagi untuk seorang gadis kecil berusia 4,5 tahun? jelas tidak. pola pikir dibentuk sejak manusia mulai berfikir. bahkan pola pikir yang terbentuk sejak masih anak-anak akan sangat berpengaruh bagi perkembangannya kelak ketika dewasa. Indonesia, terlalu mengkotakkan pera orang tua hingga akhirnya justru menjadikan orang tua seperti dewa yang berhak mengatur hidup anaknya. salah kaprah.
jadi, tadi setelah saya liat foto anak saya yang sedang berlatih tari, saya langsung telpon dia. saya pastikan dia bahagia dengan kegiatannya. saya lupa persisnya seperti apa obrolan kami.
saya : " kamu abis latian nari ya Ai?"
Airin : " Iya mah."
Saya : " Suka? "
Airin : " biasa aja."
Saya : " Lebih suka mana sama gambar?"
Airin : " Ya gambar dong."
Saya :" Latian narinya buat apa sih?"
Airin : " gak tau uh bu guru yang suruh."
saya diam. pelan menutup pembicaraan. setelah itu hati saya terbahak. Anak saya tak ingin jadi penari. saya tau itu. dan saya tak ingin anak saya melakukan hal yang tak dia sukai meski semua orang mengatakan dia mampu melakukannya.
oh iya, jadi pacar saya itu penulis juga. suka sekali menulis. maka sejak hari ini dia saya tahbiskan jadi pengisi tetap di blog saya ini. maka jika ada penulis lain yang mampir nulis di sini, maka itu memang pacar saya, bukan orang iseng yang nge hack pasword blog. oke temans. selamat siang. selamat jatuh cinta bagi yang sedang jatuh cinta.
Tapi postingan kali ini saya gak membicarakan kopi. saya ingin membicarakan masalah cita-cita. impian. harapan. mari kita mulai.
Saya dulu penari. Oke. Stop. Don't laughing it. tapi serius. saya dulu penari. terlepas dari sekarang saya berhijab dan menutup tubuh saya rapet-rapet, saya ini mantan penari. penari apapun. saya dipersiapkan untuk jadi penari. bukan penari biasa. sampai sekarang saya masih menguasai tari tradisional daerah Indonesia, kontemporer dan modern. tak cukup sampai disitu, saya penari.bukan sekedar menari. tapi penari. saya dibekali ilmu pengetahuan merawat kulit dan tubuh. dibekali dengan anggah-ungguh sebagai penari profesional, di jejali dengan tata krama yang santun sebagai ambasador keluwesan liukan tubuh. saya dulu penari. sekarang tidak.
Pagi tadi, ayah saya mamerin foto anak perempuan saya yang sedang belajar tari. Anak saya itu suka menggambar. saya dulu penari, dan pagi tadi saya melihat anak saya menari melalui foto ayah saya. sudahkah kalian temukan jalinan embrio yang menyusun jalur merah di kenyataan ini? jika belum, silahkan baca paragraf selanjutnya.
kenapa saya sekarang tak menari lagi? Saya malu membuka aurat saya. memamerkan lekukan dengan gerakan yang disengaja. Tarian memang indah, tapi saya mau menari di surga saja besok. jadi, saya berhenti menari karna memang ingin berhenti. tak ada tragedi dahsyat selain rasa malu saya sendiri yang menghentikan saya menari.
Anak saya luwes dalam menari. kebayang dong gimana happy nya saya. tapi sekali lagi, saya tau bahkan mungkin lebih tau dari siapapun bahwa anak saya lebih suka menggambar. saya gak mau, dia akhirnya jadi penari karna merasa harus melanjutkan cita-cita saya yang memang saya padamkan dengan sekam sendiri. saya ingin anak saya menjalani hidupnya sendiri. menjalani mimpinya sendiri. jadi pelukis atau penari, terserah dia.
saya memang orang tuanya, wajib mengarahkannya. tapi saya tak ada keinginan untuk memaksanya. bahkan untuk mengarahkannya pun saya ingin dia mengalir dengan sendirinya. terlalu membebaskan? ah, saya rasa tidak. anak saya memiliki pola pikir terkonsep yang baik. sejak kecil diamemang terlatih untuk menentukan segalanya dengan independent. apa ini tidak terlalu pagi untuk seorang gadis kecil berusia 4,5 tahun? jelas tidak. pola pikir dibentuk sejak manusia mulai berfikir. bahkan pola pikir yang terbentuk sejak masih anak-anak akan sangat berpengaruh bagi perkembangannya kelak ketika dewasa. Indonesia, terlalu mengkotakkan pera orang tua hingga akhirnya justru menjadikan orang tua seperti dewa yang berhak mengatur hidup anaknya. salah kaprah.
jadi, tadi setelah saya liat foto anak saya yang sedang berlatih tari, saya langsung telpon dia. saya pastikan dia bahagia dengan kegiatannya. saya lupa persisnya seperti apa obrolan kami.
saya : " kamu abis latian nari ya Ai?"
Airin : " Iya mah."
Saya : " Suka? "
Airin : " biasa aja."
Saya : " Lebih suka mana sama gambar?"
Airin : " Ya gambar dong."
Saya :" Latian narinya buat apa sih?"
Airin : " gak tau uh bu guru yang suruh."
saya diam. pelan menutup pembicaraan. setelah itu hati saya terbahak. Anak saya tak ingin jadi penari. saya tau itu. dan saya tak ingin anak saya melakukan hal yang tak dia sukai meski semua orang mengatakan dia mampu melakukannya.
oh iya, jadi pacar saya itu penulis juga. suka sekali menulis. maka sejak hari ini dia saya tahbiskan jadi pengisi tetap di blog saya ini. maka jika ada penulis lain yang mampir nulis di sini, maka itu memang pacar saya, bukan orang iseng yang nge hack pasword blog. oke temans. selamat siang. selamat jatuh cinta bagi yang sedang jatuh cinta.
Rabu, 18 Juli 2012
Surat Dini Hari untuk si kecil.
Ketika kamu terbangun nanti, Nak....
Mama sudah tak ada menyambut geliat malasmu yang merengek minta susu dengan hardikan lagi. malam tadi, mama telah menyiapkan sejumlah rencana untuk meninggalkanmu ketika masih terlelap. maafkan mama untuk itu, tapi mama harus berusaha menemukan takdir terbaik kita. meski harus dengan meninggalkanmu.
Ketika kamu terbangun nanti, Nak...
mama sudah ada di seperempat perjalanan menuju kota besar yang menawarkan beragam harapan. mama akan kembali, dengan bongkahan takdir terbaik yang Tuhan siapkan dengan disembunyikan diantara tumpukan masalah dan kerja keras yang harus mama lakoni. takdir itu, jugalah yang terbaik untukmu.
Ketika kamu terbangun nanti, Nak....
Tak akan kamu dapati lagi tawa mama yang tak bisa mama tahan karna melihat tingkahmu yang ajaib. mungkin kamu akan menangis sebal karna kecewa ketika mendapati mama tak ada lagi disisimu, dan mungkin mamapun akan menangis sedih ketika menyadari betapa kamu menginginkan mama ada disamping kamu selalu tapi tak bisa mama penuhi. Mama tau, dalam tangisan itu, Allah telah menyimpan butiran air mata kita sebagai berlian yang akan kita tuai kelak jika mampu bersabar. maka, maafkan mama Nak, jika meminta ini darimu. mama mohon : bersabarlah.cuma itu yang kita bisa sekarang.
Nak, dalam setiap usaha mama, kamu terus tersenyum didepan mata mama. membuat mama yang lelah tanpa hasil, mendadak terbangun dan bersemangat lagi. kita bisa melaluinya !!! mama yakin itu. Maka, teruslah kau tumbuh, berkembang. teruslah tertawa, menangis. tak akan ada kesulitan yang tak bisa kita kita lewati selama kamu masih percaya mama, dan selama kamu masih mengharapkan mama kembali.
Nak, tak akan Tuhan memberi takdir yang tak baik untuk kita. yakin lah Nak. meskipun kamu masih terlalu kecil untuk mengerti, tapi mama yakin kau akan percaya bahwa segalanya akan baik. meskipun mama terpisah jauh dan tak bisa menyakinkan kamu untukselalu tabah, sejujurnya mama sendiri justru mencuri ketabahanmu. ah, kamu yang selama ini selalu mengajari mama untuk tabah dan kuat, maka tak perlu lah segala nasehat mama tentang ketabahan itu untukmu. kau jauh lebih bisa dari mama sendiri.
Jika kamu terbangun nanti, Nak...
sadarilah. Bahwa mama ternyata selalu jatuh cinta setiap saat. padamu, pada tawa riang dan tangis menyayatmu. pada tingkah ajaib dan mengagumkanmu. pada semua yang tumbuh dalam perkembanganmu. ternyata cinta mama, telah jauh-jauh hari berhenti di kamu, Nak. dan tak bisa mengalir lagi.
Ps : catatan ini dibuat dalam Bus menuju Jakarta. dengan lelehan air mata yang lebih menyerupai air hujan. penumpang disebelah saya bolak balik nengok dan heran.mungkin merasa takjub melihat saya menangis sesenggukan sambil terus menulis. saya sendiri,setelah selesai menulis ini langsung tertidur.
Mama sudah tak ada menyambut geliat malasmu yang merengek minta susu dengan hardikan lagi. malam tadi, mama telah menyiapkan sejumlah rencana untuk meninggalkanmu ketika masih terlelap. maafkan mama untuk itu, tapi mama harus berusaha menemukan takdir terbaik kita. meski harus dengan meninggalkanmu.
Ketika kamu terbangun nanti, Nak...
mama sudah ada di seperempat perjalanan menuju kota besar yang menawarkan beragam harapan. mama akan kembali, dengan bongkahan takdir terbaik yang Tuhan siapkan dengan disembunyikan diantara tumpukan masalah dan kerja keras yang harus mama lakoni. takdir itu, jugalah yang terbaik untukmu.
Ketika kamu terbangun nanti, Nak....
Tak akan kamu dapati lagi tawa mama yang tak bisa mama tahan karna melihat tingkahmu yang ajaib. mungkin kamu akan menangis sebal karna kecewa ketika mendapati mama tak ada lagi disisimu, dan mungkin mamapun akan menangis sedih ketika menyadari betapa kamu menginginkan mama ada disamping kamu selalu tapi tak bisa mama penuhi. Mama tau, dalam tangisan itu, Allah telah menyimpan butiran air mata kita sebagai berlian yang akan kita tuai kelak jika mampu bersabar. maka, maafkan mama Nak, jika meminta ini darimu. mama mohon : bersabarlah.cuma itu yang kita bisa sekarang.
Nak, dalam setiap usaha mama, kamu terus tersenyum didepan mata mama. membuat mama yang lelah tanpa hasil, mendadak terbangun dan bersemangat lagi. kita bisa melaluinya !!! mama yakin itu. Maka, teruslah kau tumbuh, berkembang. teruslah tertawa, menangis. tak akan ada kesulitan yang tak bisa kita kita lewati selama kamu masih percaya mama, dan selama kamu masih mengharapkan mama kembali.
Nak, tak akan Tuhan memberi takdir yang tak baik untuk kita. yakin lah Nak. meskipun kamu masih terlalu kecil untuk mengerti, tapi mama yakin kau akan percaya bahwa segalanya akan baik. meskipun mama terpisah jauh dan tak bisa menyakinkan kamu untukselalu tabah, sejujurnya mama sendiri justru mencuri ketabahanmu. ah, kamu yang selama ini selalu mengajari mama untuk tabah dan kuat, maka tak perlu lah segala nasehat mama tentang ketabahan itu untukmu. kau jauh lebih bisa dari mama sendiri.
Jika kamu terbangun nanti, Nak...
sadarilah. Bahwa mama ternyata selalu jatuh cinta setiap saat. padamu, pada tawa riang dan tangis menyayatmu. pada tingkah ajaib dan mengagumkanmu. pada semua yang tumbuh dalam perkembanganmu. ternyata cinta mama, telah jauh-jauh hari berhenti di kamu, Nak. dan tak bisa mengalir lagi.
Ps : catatan ini dibuat dalam Bus menuju Jakarta. dengan lelehan air mata yang lebih menyerupai air hujan. penumpang disebelah saya bolak balik nengok dan heran.mungkin merasa takjub melihat saya menangis sesenggukan sambil terus menulis. saya sendiri,setelah selesai menulis ini langsung tertidur.
Sabtu, 30 Juni 2012
Ah, Kau, Waktu.
Waktu tak kenal waktu.
bergerak membuat - meninggalkan jejak
tak ada yang tau kapan tak ada lagi waktu
atau waktu akan terus membuat waktu
siapa tau, aku sendiri waktu.
( Dharmadi / Tentang Waktu.)
Tiba-tiba, entah dari mana datangnya, saya tersadar. Ini sudah di tahun 2012. Dan Zaapppp!!!! saya menoleh. Oh, oke. ini bukan di hari kiamat. Gossip itu hoax belaka ternyata.
Ah, saya tertidur terlampau lama. banyak hal yang terlewatkan atau bahkan tidak saya lewati. mendadak saya menyesal berkepanjangan untuk selanjutnya mengutuk diri sendiri. kemana aja selama ini, ngapain aja sih? sampai-sampai begini-begini aja. ah,waktu, bagaimana bisa kau begitu cepat meninggalkanku. atau mungkin aku yang lamban dan malas berjalan?
beberapa waktu lalu, saya ada di sebuah tempat makan fastfood. didepan saya ada sepasang muda-mudi yang pacaran tapi sibuk berantem. yang cewek, mungkin karna kodratnya, nyerocos gak berhenti. sementara yang cowok cuek. malah sibuk ngaduk-ngaduk coffe cup yang saya yakin udah abis isinya dari tadi. saya tertarik banget, bukan karna saya bahagia ketika orang lain mengalami hal buruk. tapi pemandangan itu mengasyikan saya. pada akhirnya, saya sibuk menerka, membaca gerak bibir, atau malah membuat dialog baru dengan kondisi pertengkaran mereka itu. tapi ada yang kemudian menggerogoti hati saya diam-diam, yaitu perasaan de-javu. ah, dulu saya pernah seperti itu. entah dengan pacar saya yang mana, tapi saya pernah begitu. saya mencoba mengingat-ingat. dan ingatan saya buruk,saudara. saya gak berhasil menemukan pastinya, kapan saya ada diposisi mereka. tapi yang saya ingat, itu terjadi saat masa-masa SMU. sekitar tahun 2002. dan saya merunut. tahun 2002, dan sekarang 2012. artinya sudah 10 tahun!!! saya kagum sendiri. jadi saya sudah berjalan selama 10 tahun sejak masa SMU? mendadak saya berkaca tanpa cermin. jadi sudah 10 tahun? sudah sebegitu lamanya? angka 10 tiba-tiba terasa bagaikan gelombang besar yang membekukan saya. mengingat, menelaah, sampai menyadari. bahwa saya belum jadi apa-apa, belum menghasilkan apapun, bagi siapapun. ah waktu, kau membuat aku tak sanggup mengelak. bahwa mau tak mau, suka tak suka kenyataan bicara : saya menua.
kemarin, waktu saya naik kereta ekonomi dalam kota, saya di kagetkan oleh seorang anak kecil yang menggoyang-goyangkan kaki saya. meminta uang. " untuk makan bu." Saya kaget. spontan langsung mengangsurkan koin 500 perak. anak itu pergi. saya diam. berfikir. bukan kasihan, karna saya tau dia tidak semenderita itu. yang saya pikirkan adalah kalimatnya itu " Untuk makan Bu." dia manggil saya Bu, dari kata dasar IBU. yang artinyaaaaaaa, saya udah pantes dipanggil ibu. yayaya, saya emang udah jadi Ibu kok. anak saya satu, umur 4 tahun, cantik dan berbola mata salju. bukan masalah saya gak mau dipanggil ibu, saya itu malah mikirin : anak saya. bahwa hidupnya, masa depannya, milik dia sendiri. tapi, saya diberi tanggung jawab oleh Tuhan untuk mendampinginya, memberinya fasilitas dan menjaganya. bahkan membayangkan anak saya makan cuma sama tempe tahu, atau nugget aja saya sedih. gimana saya membayangkan anak saya ada di bordes kereta dan melakukan hal seperti si anak tadi? GILA!!! saya langsung menghitung. 4 tahun, usia anak saya. dan 4 tahun sudah saya jadi ibu. apa yang sudah saya lakukan? saya ini ngapain aja selama 4 tahun? ya Ampun. Main ayunan sambil makan ice cream? sampai selama ini saya baru bangun. hey kau, Waktu. lecutlah kuda di semangatku, agar aku bisa melampauimu.
saya merasa habis. meradang, begitu cepat waktu yang mengelilingi saya. jadi bagaimana? apa yang bisa saya lakukan selain menyempurnakan langkah kaki dan terus berjalan, atau berlari. dan kau waktu, teruslah melecut.
Kamis, 28 Juni 2012
Penasaran, Tolong !!!!
Malaaaammmmmm. Apakadabra kawans? sekarang baru jam setengah sebelas malam. Malam Jumat pula, gimana kalau kita nembang Durmo? #ini apa sih?# heheheheh sorry saya lagi gak jelas nih. lagi sebel. Sebeeeellll banget.
Jadi gini loh, tadi dijalan, saya tiba-tiba mendapatkan beberapa kalimat hingga bisa jadi paragraf. Sayangnya saya lagi di metromini dan kondisi berdiri. Penuh, sesak, didorong-dorong. Terus hp saya mati. Neraka banget deh itu. Pengen banget saya tulis itu ide, tapi gimana caranya? masa lagi kondisi gitu saya ambil buku dan nulis sih? kan imbisil banget. Sementara nyari pegangan biar gak jatuh aja udah setengah mati susahnya. Akhirnya saya coba merapal kalimat-kalimat itu. Komat-kamit. Kayak mbah dukun ngerapal mantra. Dan hasilnya, begitu saya nyampe rumah JENG-JENG : Saya lupa!!!!! tau gak itu rasanya kayak apa? Kayak lagi nyari alamat rumah orang, tapi ternyata salah nulis kompleks perumahan. Muter-muter gak jelas nyari gangnya, taunya orang yang dicari ada di kompleks sebelah. Kesel, tapi gak bisa marah karna kesalahan ada di kita. Dan itu beneran bikin emosi banget. Serius.
Saya penasaran. Sampe sekarang saya masih penasaran. Bahkan saya sampe pengen balik lagi naik metromini itu biar biasa ngerasain nuansa nya, mungkin dengan begitu ingatan saya bisa balik lagi. Tapi Insya Allah saya masih agak waras walo cuma sedikit. Saya berfikir mungkin emang itu kalimat bukan jodoh saya. *ohhhhh, saya patah hati sebelum bisa menjalin hubungan dengan kalimat itu*
Ngomong-ngomong masalah penasaran, saya ini emang tipe manusia yang kalo udah penasaran bisa jadi human yang paling nyebelin sedunia akhirat. Bisa beneran saya cari tau meski itu harus menempuh medan perang Barata Yudha sekalipun #oke ini lebay# . Padahal, saya itu gampang banget penasaran sama sesuatu, bahkan hal kecil yang orang lain gak aware, bisa bikin saya aware. Penasaran. Dan lantas bertindak menempuh marabahaya. Jadi bisa kalian bayangin kan gimana repotnya hidup saya ngurusin si 'penasaran' yang nyaris tiap saat ngedor-ngedor pikiran saya.
Suatu hari, saya naik transportasi umum bernama KRL. Nah, kebetulan banget tuh, saya naik di jam-jam orang pada pulang kantor. Penuh dong. Akhirnya saya putusin buat nunggu barang sejam-dua jam di stasiun ( Waktu itu di stasiun Gondangdia) sambil ngobrol sama beberapa pengamen stasiun. Nah, ada satu kereta ekonomi masuk, kereta jurusan Bogor. Apakah kalians tau kawans, ya ampuuunnnn.... itu yang namanya orang-orang atapers ( penumpang kereta di atap) beneran banyak lho. Banyak banget malah. Di situ saya liat beberapa orang masih ada yang naik ke atap. Saya perhatiin bener. Dan tiba-tiba, si 'penasaran' menggoda saya. " Apa ya rasanya naik kereta di atap gitu?" oh tidak, sejak saat itu bumi gonjang-ganjing. Saya gak bisa tidur, gak bisa makan, pokoknya saya penasaran banget sama rasa naik kereta di atap. Setelah tiga hari si penasaran gak pergi-pergi padahal udah diusir dengan berbagai cara, akhirnya saya putuskan. ' oke, kita jadi atapers hari ini'. maka siang itu, jam 3 sore saya meluncur ke stasiun tebet. Dan saya terpaksa nunggu sejam disana karna jam pulang kerja sekitar jam 5an. Pas waktunya tiba, saya beraksi. Jumpalitan naik ke atap kereta dengan pijakan pada jendela. Itu kaki saya udah kesana kemari gak jelas. Sampe akhirnya: SAYA ADA DI ATAP KERETA. Kereta jalan pelan. Saya masih sanggup tenang. Begitu kereta mulai ngebut saya deg-degan. Begitu ngebut banget, saya panik. Langsung pegangan orang disebelah saya. Padahal gak tau siapa. Kalian tau gak itu rasanya apa? Kayak naik wakeboard ( olah raga air yang dimainkan dengan cara menaiki sebuah papan yang kemudian ditarik dengan tali, untuk orang Jakarta, kalian bisa menemukan olah raga ini di danau sunter) tapi ini ditarik sama pesawat terbang. Gila, beneran berasa melayang-layang diudara. Tamparan angin paling keras yang saya rasain seumur hidup saya. Padahal, saya pernah nyoba paraselling, pernah speedboat, pernah nyelem #lho gak nyambung#, gak ada yang sedahsyat ini rasanya angin nampar-nampar muka. Saya jelas takut banget, bayangan malaikat pencabut nyawa melintas ikut kecepatan kereta. Tapi lewat stasiun pasar minggu, saya mulai terbiasa. Saya mulai berani tengak-tengok. dan apa saudara?? itu ternyata saya perempuan sendirian di atap. Ebuset, saya cengo. Dan ternyata atapers yang lain lebih cengo lagi. Buktinya, pas lagi saya turun di stasiun depok, beberapa atapers yang sama-sama turun langsung menghampiri saya dan bilang " keren banget lo, berani." saya cuma mesam-mesem, dalam hati saya bersumpah gak bakalan penasaran sama hal-hal yang deket sama kematian.
Tapi ternyata, janji tinggal mimpi. Suatu hari, saya di datangi si om 'penasaran' itu lagi. Mana sama-sama berhubungan dengan kereta pula. Jadi, saya waktu itu pulkam. Naik kereta. Kebetulan gak terlalu sesak, jadi saya nyobain bisnis. Biar bisa jajan ditengah jalan. Nah, pas lagi mau masuk stasiun Karawang, kondekturnya meriksa tiket. Saya nyiapin dong. Tapi sebelah saya gelisah. Duduknya megat-megot gak karuan. Terus pas pak kondektur udah deket, dia pergi permisi. Katanya mau ke toilet. Melihat ada penumpang yang mau pergi, spontan si kondektur menegur. Tapi mas nya malah mempercepat langkah dan lari. Polisi yang ngawal kondektur itu sigap, dia ikutan lari sambil meneriakkan kalimat-kalimat ancaman. Tapi si mas itu terus lari. Saya merhatiin dan geli sendiri. Saya sih mikir, mas-mas itu bisa selamat cuma kalo dia lompat dari kereta. Cuma itu caranya. Dan tiba-tiba, ada yang muncul di pikiran saya.sebuah penasaran yang hina banget : " Gimana ya sensasinya kejar-kejaran sama polisi didalem kereta?" ENG ING ENG. Terima kasih. Saya beneran penasaran. Saya sibuk nanya-nanya ke orang, kapan sih ada pemeriksaan tiket lagi? beberapa bilang di Cirebon, beberapa lagi bilang di Indramayu, beberapa lagi geleng-geleng, malah ada yang gak jawab karna gak denger saya nanya apa, budeg. #astaghfirulloh#. Saya nunggu dengan sabar. Dan prediksi di stasiun Cirebon yang menang. Saya lihat di gerbong depan saya, kondektur sudah mencabut tiket-tiket penumpang untuk dilubangi. Saya ambil sikap. Menggendong ransel dan duduk tegak. Sebelah saya heran " turun di Cirebon mbak?" saya menggeleng " Purwokerto pak." beliaunya makin bingung. Saya cuek. NAH !!! pas kondekturnya ada di tiga kursi sebelum saya, mendadak saya berdiri. Terus lari. Polisi merasa dapet mangsa. Ikut lari sambil meneriaki saya " woii, ada cewek cantik lari." dan saya juga mendengar dia bilang " ya ampun mbak, cantik-cantik kok larinya kenceng" #oke ini hoax# heheheh. Sampe di gerbong terakhir, saya berhenti. Buntu. Pak polisinya senyum-senyum. Saya bales senyum juga. Dia nanyain mana tiket saya, langsung saya keluarin. DENG DENG!!! muka si polisi berubah pias. " Ngapain kamu lari-lari tadi?" Saya nyengir. " Pengen aja pak." dan kecewalah dia. Dalam hati saya terbahak. Jadi apa rasanya dikejar polisi dalam kereta? 10 kali lebih fantastis dibanding dikejar sama Brad pitt. Ditontonin banyak orang yang bingung, bahkan ada yang sempa meneriaki kami.Yang paling keren adalah menyempurnakan sistem balancing tubuh. Gimana gak, kereta Indonesia kan jalannya sempoyongan gitu, ditambah sama lari. Makin asoy aja kan. Rasa penasaran ini emang bikin saya jadi sinting. Om polisi, maaf ya.
Terus, penasaran saya kembali datang saat saya duduk manis di KRL ekonomi kembali. Jadi ada tukang sapu kereta. Ibu-ibu sambil gendong bayi. Sebelum ibu-ibu itu dateng, saya ngeliat bordes ini bersih-bersih aja, karna sempet lihat juga ada anak kecil yang nyapuin sebelum ibu-ibu itu. Tapi kok si ibu itu bawa sampah banyak banget. Padahal saya ada digerbong wannita yang notabene ada di akhir. Itu beneran sampah loh, ada plastik bekas taro, ada botol mizone, gelas plastik air mineral. Banyak banget deh. Saya bingung dong. ini kok bisa sih? gimana caranya? dan kebingungan saya berubah jadi penasaran akut. Apa yang harus saya lakuin? masa saya mesti nyamar jadi detektif buat menyelidiki itu sih? kan absurd banget. Jadi apa dong yang saya lakuin? Seminggu kemudian saya coba naik kereta lagi, terus saya cari itu ibu-ibu. Saya coba ikutin dia. Gilanya, saya naik dari stasiun cikini. Sampe di stasiun bekasi, saya tetep belum dapet apa-apa. Jadilah saya ngikutin si ibu dari stasiun Bekasi. Nah, masalahnya ternyata jatah dari stasiun Bekasi bukan si ibu tapi ada penyapu kereta yang lain. Saya coba merhatiin yang ini, tapi dia emang nyapu beneran. Sampahnya gak terlalu banyak di banding sampah yang dibawa si ibu itu. Gimanapun juga saya gak mau gagal lagi. Saya coba ikutin si bocah itu. Tapi tetep, dari gerbong awal sampe akhir, si penyapu ini gak dapet sampah sebanyak si ibu. Akhirnya perjalanan saya dari bekasi sampai stasiun kota pun mubazir lagi. Udah 2 jam saya diatas kereta dan belum nemuin apa-apa. Sampe di stasiun kota, si ibu malah turun. WHOA!!! saya jadi ganas. Gak bisa gini nih. Masa gagal sih. Saya langsung kuntit si ibu. Ternyata dia pindah ke kereta jalur Bogor. Saya gelap mata. Saya beli tiket jalur itu. Padahal waktu udah nunjukin jam 8 malam. Tapi saya masih penasaran. Akhirnya, pas kereta mulai jalan saya girang. Si ibu naik dari gerbong 8. Saya ikutan. Saya sampe rela berdiri biar bisa ngikutin dia. Dan waktu kereta masuk stasiun Juanda, si ibu mulai beraksi. Yaitu apa saudara? Dia mengeluarkan simpanan sampahnya sendiri. Saya melotot. OKE. Ini lah jawabannya. Tapi rasa penasaran saya bertambah. Mau sampe digerbong berapa dia sanggup jalan jongkok dengan beban bayi dalam gendongan dan sampah yang begitu banyak? Ternyata saudara, di stasiun Manggarai dia masukin lagi itu sampah, dan mulai dkeluarin lagi dari stasiun Tebet. Saya ngikik. Asyik melihat si ibu dengan kebohongan gigantis nya. Gak sadar ternyata udah sampe Bogor, dan udah jam 10 malem. Saya melongo. berharap ada kereta terakhir ke Jakarta. Harapan tinggal harapan. Saya terpaksa ke terminal terus naik bus patas ke Jakarta. Kalians tau, itu bus patas tinggal atu-atunya. Jerakhir. Dan jalannya kayak siput. Mau tau jam berapa saya nyampe di Kp Rambutan? jam 12 malem. Padahal Kp Rambutan ke rumah saya itu masih sangat jauh. Sekali lagi, malam itu saya bersumpah : Gak akan pernah mau dirayu sama mas penasaran itu lagi.
Suatu waktu saya kembali terusik. Jadi gak tau dari mana asalnya, tiba-tiba saya ketemu temen saya yang seorang politisi (emang udah agak tua). Terus kita ngobrol-ngobrol banyak. Dia ngeluarin statement tentang media di Indonesia, katanya : di Indonesia media udah kacau, Good news is a bad news, and bad news is a good news, saya bingung. Kok bisa kebolak balik gitu sih. Saya coba tanya sama beberapa temen yang jadi jurnalis. Gak ada yang jawab dengan pasti. Intinya mereka bilang kalo mereka cuma membantu masyarakat Menyuarakan pendapatnya, memberi informasi yang gak bisa didapat oleh masyarakat, dan banyak lagi, dan begitu banyak lagi. Saya kedatangan si mas 'penasaran' itu lagi. Kali ini saya agak ekstrim. Karna saya gak mungkin ngedaftar jadi wartawan cuma gara-gara kasus penasaran aja, maka satu-satunya jalan adalah, saya harus nguntit kerja wartawan. Dan cara yang paling aman adalah dengan : Macarin wartawan. Saya mulai mencari-cari. Dapet!!!!. Target ditentukan. Dan akhirnya saya berhasil jadi pacarnya. Nguntit dia kesana sini. Ditengah perjalanan karier om penasaran itu, saya dapet kabar kalo mas wartawa ini ternyata udah punya pacar di Jogja. Saya merem melek. Matilah saya kalo sampe pacarnya tau perselingkuhan kami. Akhirnya saya percepat observasi. Harus cepat dapat jawaban. Setelah dua bulan menjalin hubungan sama si dia, saya dapat satu wacana baru : Bahwa dia sebagai pribadi adalah tipe pria yang sangat menyenangkan. Tapi sebagai wartawan dia sangat annoying sekali. Ini gak tau kenapa ya, agak-agak bikin saya merasa jijik. Pekerjaan mulia itu, dengan niat memberi informasi pada orang lain, menyampaikan suatu berita yang bisa mengubah dunia, ternyata sangat absurd. Dia pernah karna malas jalan untuk cari berita, cuma ngejogrok didepan komputernya, pasang internet dan surfing via google, atau yang lain. Sampah banget kan? dan tau apa yang di lakukan dengan sampah itu? dia mulai merombaknya kemudian didaur ulang dengan sampah-sampah yang lain. Dan ups, sorry, saya kembali kecewa ketika membaca beritanya, isinya menjelek-jelekkan orang lain. Saya akhirnya tau, baginya (mungkin juga bagi wartawan yang lain, saya kurang tau) berita tentang kebaikan orang lain adalah berita yang buruk. Karena kebanyakan orang gak tertarik dengan kebaikan orang lain. sebaliknya, keburukan orang lain adalah berita baik. Saya lihat dia, saya jadi pengen ngasih dia kaca terus ngomong " lo bener-bener gak guna, belum bisa ngasilin apa-apa buat negara, udah hoby jelek-jelekin orang." Saya pengen banget bisa nonjok mukanya sambil bilang " gue mending liat orang korupsi tapi minimal dia udah berbuat sesuatu buat negara walo lebih banyakan kejahatannya, dari pada lo yang bahkan belum ngapa-ngapain tapi udah bikin orang lain susah. Sorry jack." dan putuslah kami berdua.
Rasa penasaran, ternyata bukan sekedar keinginan untuk tau sesuatu saja. Tapi juga rasa ingin memahami dan ikut menyelami, mencari sumber dan mengungkapkan kebenarannya. Saya gak tau mesti bersyukur atau marah-marah untuk rasa penasaran yang bikin idup saya jadi makin repot. Tapi yang jelas saya cuma mau bilang : cuma ada dua pilihan dalam hidup "jadi orang yang karyanya dibicarakan orang lain, atau jadi orang yang membicarakan karya orang lain" Dan rasa penasaran saya membuat saya memilih opsi yang pertama. Kalian mau yang mana?
Jadi gini loh, tadi dijalan, saya tiba-tiba mendapatkan beberapa kalimat hingga bisa jadi paragraf. Sayangnya saya lagi di metromini dan kondisi berdiri. Penuh, sesak, didorong-dorong. Terus hp saya mati. Neraka banget deh itu. Pengen banget saya tulis itu ide, tapi gimana caranya? masa lagi kondisi gitu saya ambil buku dan nulis sih? kan imbisil banget. Sementara nyari pegangan biar gak jatuh aja udah setengah mati susahnya. Akhirnya saya coba merapal kalimat-kalimat itu. Komat-kamit. Kayak mbah dukun ngerapal mantra. Dan hasilnya, begitu saya nyampe rumah JENG-JENG : Saya lupa!!!!! tau gak itu rasanya kayak apa? Kayak lagi nyari alamat rumah orang, tapi ternyata salah nulis kompleks perumahan. Muter-muter gak jelas nyari gangnya, taunya orang yang dicari ada di kompleks sebelah. Kesel, tapi gak bisa marah karna kesalahan ada di kita. Dan itu beneran bikin emosi banget. Serius.
Saya penasaran. Sampe sekarang saya masih penasaran. Bahkan saya sampe pengen balik lagi naik metromini itu biar biasa ngerasain nuansa nya, mungkin dengan begitu ingatan saya bisa balik lagi. Tapi Insya Allah saya masih agak waras walo cuma sedikit. Saya berfikir mungkin emang itu kalimat bukan jodoh saya. *ohhhhh, saya patah hati sebelum bisa menjalin hubungan dengan kalimat itu*
Ngomong-ngomong masalah penasaran, saya ini emang tipe manusia yang kalo udah penasaran bisa jadi human yang paling nyebelin sedunia akhirat. Bisa beneran saya cari tau meski itu harus menempuh medan perang Barata Yudha sekalipun #oke ini lebay# . Padahal, saya itu gampang banget penasaran sama sesuatu, bahkan hal kecil yang orang lain gak aware, bisa bikin saya aware. Penasaran. Dan lantas bertindak menempuh marabahaya. Jadi bisa kalian bayangin kan gimana repotnya hidup saya ngurusin si 'penasaran' yang nyaris tiap saat ngedor-ngedor pikiran saya.
Suatu hari, saya naik transportasi umum bernama KRL. Nah, kebetulan banget tuh, saya naik di jam-jam orang pada pulang kantor. Penuh dong. Akhirnya saya putusin buat nunggu barang sejam-dua jam di stasiun ( Waktu itu di stasiun Gondangdia) sambil ngobrol sama beberapa pengamen stasiun. Nah, ada satu kereta ekonomi masuk, kereta jurusan Bogor. Apakah kalians tau kawans, ya ampuuunnnn.... itu yang namanya orang-orang atapers ( penumpang kereta di atap) beneran banyak lho. Banyak banget malah. Di situ saya liat beberapa orang masih ada yang naik ke atap. Saya perhatiin bener. Dan tiba-tiba, si 'penasaran' menggoda saya. " Apa ya rasanya naik kereta di atap gitu?" oh tidak, sejak saat itu bumi gonjang-ganjing. Saya gak bisa tidur, gak bisa makan, pokoknya saya penasaran banget sama rasa naik kereta di atap. Setelah tiga hari si penasaran gak pergi-pergi padahal udah diusir dengan berbagai cara, akhirnya saya putuskan. ' oke, kita jadi atapers hari ini'. maka siang itu, jam 3 sore saya meluncur ke stasiun tebet. Dan saya terpaksa nunggu sejam disana karna jam pulang kerja sekitar jam 5an. Pas waktunya tiba, saya beraksi. Jumpalitan naik ke atap kereta dengan pijakan pada jendela. Itu kaki saya udah kesana kemari gak jelas. Sampe akhirnya: SAYA ADA DI ATAP KERETA. Kereta jalan pelan. Saya masih sanggup tenang. Begitu kereta mulai ngebut saya deg-degan. Begitu ngebut banget, saya panik. Langsung pegangan orang disebelah saya. Padahal gak tau siapa. Kalian tau gak itu rasanya apa? Kayak naik wakeboard ( olah raga air yang dimainkan dengan cara menaiki sebuah papan yang kemudian ditarik dengan tali, untuk orang Jakarta, kalian bisa menemukan olah raga ini di danau sunter) tapi ini ditarik sama pesawat terbang. Gila, beneran berasa melayang-layang diudara. Tamparan angin paling keras yang saya rasain seumur hidup saya. Padahal, saya pernah nyoba paraselling, pernah speedboat, pernah nyelem #lho gak nyambung#, gak ada yang sedahsyat ini rasanya angin nampar-nampar muka. Saya jelas takut banget, bayangan malaikat pencabut nyawa melintas ikut kecepatan kereta. Tapi lewat stasiun pasar minggu, saya mulai terbiasa. Saya mulai berani tengak-tengok. dan apa saudara?? itu ternyata saya perempuan sendirian di atap. Ebuset, saya cengo. Dan ternyata atapers yang lain lebih cengo lagi. Buktinya, pas lagi saya turun di stasiun depok, beberapa atapers yang sama-sama turun langsung menghampiri saya dan bilang " keren banget lo, berani." saya cuma mesam-mesem, dalam hati saya bersumpah gak bakalan penasaran sama hal-hal yang deket sama kematian.
Tapi ternyata, janji tinggal mimpi. Suatu hari, saya di datangi si om 'penasaran' itu lagi. Mana sama-sama berhubungan dengan kereta pula. Jadi, saya waktu itu pulkam. Naik kereta. Kebetulan gak terlalu sesak, jadi saya nyobain bisnis. Biar bisa jajan ditengah jalan. Nah, pas lagi mau masuk stasiun Karawang, kondekturnya meriksa tiket. Saya nyiapin dong. Tapi sebelah saya gelisah. Duduknya megat-megot gak karuan. Terus pas pak kondektur udah deket, dia pergi permisi. Katanya mau ke toilet. Melihat ada penumpang yang mau pergi, spontan si kondektur menegur. Tapi mas nya malah mempercepat langkah dan lari. Polisi yang ngawal kondektur itu sigap, dia ikutan lari sambil meneriakkan kalimat-kalimat ancaman. Tapi si mas itu terus lari. Saya merhatiin dan geli sendiri. Saya sih mikir, mas-mas itu bisa selamat cuma kalo dia lompat dari kereta. Cuma itu caranya. Dan tiba-tiba, ada yang muncul di pikiran saya.sebuah penasaran yang hina banget : " Gimana ya sensasinya kejar-kejaran sama polisi didalem kereta?" ENG ING ENG. Terima kasih. Saya beneran penasaran. Saya sibuk nanya-nanya ke orang, kapan sih ada pemeriksaan tiket lagi? beberapa bilang di Cirebon, beberapa lagi bilang di Indramayu, beberapa lagi geleng-geleng, malah ada yang gak jawab karna gak denger saya nanya apa, budeg. #astaghfirulloh#. Saya nunggu dengan sabar. Dan prediksi di stasiun Cirebon yang menang. Saya lihat di gerbong depan saya, kondektur sudah mencabut tiket-tiket penumpang untuk dilubangi. Saya ambil sikap. Menggendong ransel dan duduk tegak. Sebelah saya heran " turun di Cirebon mbak?" saya menggeleng " Purwokerto pak." beliaunya makin bingung. Saya cuek. NAH !!! pas kondekturnya ada di tiga kursi sebelum saya, mendadak saya berdiri. Terus lari. Polisi merasa dapet mangsa. Ikut lari sambil meneriaki saya " woii, ada cewek cantik lari." dan saya juga mendengar dia bilang " ya ampun mbak, cantik-cantik kok larinya kenceng" #oke ini hoax# heheheh. Sampe di gerbong terakhir, saya berhenti. Buntu. Pak polisinya senyum-senyum. Saya bales senyum juga. Dia nanyain mana tiket saya, langsung saya keluarin. DENG DENG!!! muka si polisi berubah pias. " Ngapain kamu lari-lari tadi?" Saya nyengir. " Pengen aja pak." dan kecewalah dia. Dalam hati saya terbahak. Jadi apa rasanya dikejar polisi dalam kereta? 10 kali lebih fantastis dibanding dikejar sama Brad pitt. Ditontonin banyak orang yang bingung, bahkan ada yang sempa meneriaki kami.Yang paling keren adalah menyempurnakan sistem balancing tubuh. Gimana gak, kereta Indonesia kan jalannya sempoyongan gitu, ditambah sama lari. Makin asoy aja kan. Rasa penasaran ini emang bikin saya jadi sinting. Om polisi, maaf ya.
Terus, penasaran saya kembali datang saat saya duduk manis di KRL ekonomi kembali. Jadi ada tukang sapu kereta. Ibu-ibu sambil gendong bayi. Sebelum ibu-ibu itu dateng, saya ngeliat bordes ini bersih-bersih aja, karna sempet lihat juga ada anak kecil yang nyapuin sebelum ibu-ibu itu. Tapi kok si ibu itu bawa sampah banyak banget. Padahal saya ada digerbong wannita yang notabene ada di akhir. Itu beneran sampah loh, ada plastik bekas taro, ada botol mizone, gelas plastik air mineral. Banyak banget deh. Saya bingung dong. ini kok bisa sih? gimana caranya? dan kebingungan saya berubah jadi penasaran akut. Apa yang harus saya lakuin? masa saya mesti nyamar jadi detektif buat menyelidiki itu sih? kan absurd banget. Jadi apa dong yang saya lakuin? Seminggu kemudian saya coba naik kereta lagi, terus saya cari itu ibu-ibu. Saya coba ikutin dia. Gilanya, saya naik dari stasiun cikini. Sampe di stasiun bekasi, saya tetep belum dapet apa-apa. Jadilah saya ngikutin si ibu dari stasiun Bekasi. Nah, masalahnya ternyata jatah dari stasiun Bekasi bukan si ibu tapi ada penyapu kereta yang lain. Saya coba merhatiin yang ini, tapi dia emang nyapu beneran. Sampahnya gak terlalu banyak di banding sampah yang dibawa si ibu itu. Gimanapun juga saya gak mau gagal lagi. Saya coba ikutin si bocah itu. Tapi tetep, dari gerbong awal sampe akhir, si penyapu ini gak dapet sampah sebanyak si ibu. Akhirnya perjalanan saya dari bekasi sampai stasiun kota pun mubazir lagi. Udah 2 jam saya diatas kereta dan belum nemuin apa-apa. Sampe di stasiun kota, si ibu malah turun. WHOA!!! saya jadi ganas. Gak bisa gini nih. Masa gagal sih. Saya langsung kuntit si ibu. Ternyata dia pindah ke kereta jalur Bogor. Saya gelap mata. Saya beli tiket jalur itu. Padahal waktu udah nunjukin jam 8 malam. Tapi saya masih penasaran. Akhirnya, pas kereta mulai jalan saya girang. Si ibu naik dari gerbong 8. Saya ikutan. Saya sampe rela berdiri biar bisa ngikutin dia. Dan waktu kereta masuk stasiun Juanda, si ibu mulai beraksi. Yaitu apa saudara? Dia mengeluarkan simpanan sampahnya sendiri. Saya melotot. OKE. Ini lah jawabannya. Tapi rasa penasaran saya bertambah. Mau sampe digerbong berapa dia sanggup jalan jongkok dengan beban bayi dalam gendongan dan sampah yang begitu banyak? Ternyata saudara, di stasiun Manggarai dia masukin lagi itu sampah, dan mulai dkeluarin lagi dari stasiun Tebet. Saya ngikik. Asyik melihat si ibu dengan kebohongan gigantis nya. Gak sadar ternyata udah sampe Bogor, dan udah jam 10 malem. Saya melongo. berharap ada kereta terakhir ke Jakarta. Harapan tinggal harapan. Saya terpaksa ke terminal terus naik bus patas ke Jakarta. Kalians tau, itu bus patas tinggal atu-atunya. Jerakhir. Dan jalannya kayak siput. Mau tau jam berapa saya nyampe di Kp Rambutan? jam 12 malem. Padahal Kp Rambutan ke rumah saya itu masih sangat jauh. Sekali lagi, malam itu saya bersumpah : Gak akan pernah mau dirayu sama mas penasaran itu lagi.
Suatu waktu saya kembali terusik. Jadi gak tau dari mana asalnya, tiba-tiba saya ketemu temen saya yang seorang politisi (emang udah agak tua). Terus kita ngobrol-ngobrol banyak. Dia ngeluarin statement tentang media di Indonesia, katanya : di Indonesia media udah kacau, Good news is a bad news, and bad news is a good news, saya bingung. Kok bisa kebolak balik gitu sih. Saya coba tanya sama beberapa temen yang jadi jurnalis. Gak ada yang jawab dengan pasti. Intinya mereka bilang kalo mereka cuma membantu masyarakat Menyuarakan pendapatnya, memberi informasi yang gak bisa didapat oleh masyarakat, dan banyak lagi, dan begitu banyak lagi. Saya kedatangan si mas 'penasaran' itu lagi. Kali ini saya agak ekstrim. Karna saya gak mungkin ngedaftar jadi wartawan cuma gara-gara kasus penasaran aja, maka satu-satunya jalan adalah, saya harus nguntit kerja wartawan. Dan cara yang paling aman adalah dengan : Macarin wartawan. Saya mulai mencari-cari. Dapet!!!!. Target ditentukan. Dan akhirnya saya berhasil jadi pacarnya. Nguntit dia kesana sini. Ditengah perjalanan karier om penasaran itu, saya dapet kabar kalo mas wartawa ini ternyata udah punya pacar di Jogja. Saya merem melek. Matilah saya kalo sampe pacarnya tau perselingkuhan kami. Akhirnya saya percepat observasi. Harus cepat dapat jawaban. Setelah dua bulan menjalin hubungan sama si dia, saya dapat satu wacana baru : Bahwa dia sebagai pribadi adalah tipe pria yang sangat menyenangkan. Tapi sebagai wartawan dia sangat annoying sekali. Ini gak tau kenapa ya, agak-agak bikin saya merasa jijik. Pekerjaan mulia itu, dengan niat memberi informasi pada orang lain, menyampaikan suatu berita yang bisa mengubah dunia, ternyata sangat absurd. Dia pernah karna malas jalan untuk cari berita, cuma ngejogrok didepan komputernya, pasang internet dan surfing via google, atau yang lain. Sampah banget kan? dan tau apa yang di lakukan dengan sampah itu? dia mulai merombaknya kemudian didaur ulang dengan sampah-sampah yang lain. Dan ups, sorry, saya kembali kecewa ketika membaca beritanya, isinya menjelek-jelekkan orang lain. Saya akhirnya tau, baginya (mungkin juga bagi wartawan yang lain, saya kurang tau) berita tentang kebaikan orang lain adalah berita yang buruk. Karena kebanyakan orang gak tertarik dengan kebaikan orang lain. sebaliknya, keburukan orang lain adalah berita baik. Saya lihat dia, saya jadi pengen ngasih dia kaca terus ngomong " lo bener-bener gak guna, belum bisa ngasilin apa-apa buat negara, udah hoby jelek-jelekin orang." Saya pengen banget bisa nonjok mukanya sambil bilang " gue mending liat orang korupsi tapi minimal dia udah berbuat sesuatu buat negara walo lebih banyakan kejahatannya, dari pada lo yang bahkan belum ngapa-ngapain tapi udah bikin orang lain susah. Sorry jack." dan putuslah kami berdua.
Rasa penasaran, ternyata bukan sekedar keinginan untuk tau sesuatu saja. Tapi juga rasa ingin memahami dan ikut menyelami, mencari sumber dan mengungkapkan kebenarannya. Saya gak tau mesti bersyukur atau marah-marah untuk rasa penasaran yang bikin idup saya jadi makin repot. Tapi yang jelas saya cuma mau bilang : cuma ada dua pilihan dalam hidup "jadi orang yang karyanya dibicarakan orang lain, atau jadi orang yang membicarakan karya orang lain" Dan rasa penasaran saya membuat saya memilih opsi yang pertama. Kalian mau yang mana?
Minggu, 17 Juni 2012
Sheila On 7
Musik, jadi hiburan romantis yang kadang emang bikin hari-hari kita jadi makin manis. Senin pagi tadi, saya udah bete dan males untuk melalui hari. Rasanya momok senin pagi udah terlampau mengakar dalam gelombang pagi di awal minggu beberapa orang. Dan sialnya, saya kesamber gelombang itu pagi tadi. Tapi, saya terselamatkan kesadaran baru. Bahwa hidup harus senantiasa punya daya. Berbekal itu, saya buka laptop, niat menulis kembali. Karna ada sedikit bete masih ketinggalan, saya menutupnya dengan membuka musik. mendengarkan beberapa lagu, sampai di playlist entah urutan ke berapa, suara Akhdiyat Duta Modjo menampar telinga saya. Saya langsung berenti. membuka playlist. melihat Judul. " Hujan Turun" . saya mengeryit. Ini lagu ada di album terakhir Sheila On 7. sekian lama nangkring di playlist saya, tapi baru saya nyadar kalau lagu ini menarik saya ke sebuah romansa. mungkin emang nuansanya aja yang lagi pas banget.
tiba-tiba saya jadi inget jaman dulu, tahun 1997. saya masih SMP waktu itu. inget banget gimana saya termehek-mehek sama suara Duta waktu nyanyiin lagu-lagu sheila di album pertama. kemunculannya barengan sama band keren the Coors. temen-temen satu sekolah saya kebanyakan lebih condong ke lagu-lagu Andrea dan saudaranya itu. sedang saya masih aja cuek dengan nyanyiin lagu "Kita" atau "Anugrah terindah yang pernah kumiliki". inget banget waktu itu, gimana saya di ledekin temen-temen karna selera musik saya yang cupu abis gara-gara saya lebih suka Sheila On 7 ketimbang The Coors atau Slank. Tapi saya memang suka Sheila On 7. bukan karna saya cinta produk Indonesia lantas saya lebih suka Sheila ketimbang The coors, atau saya lebih feminim jadi saya lebih suka lagu manis Sheila ketimbang lirik nakalnya Slank. saya juga suka Led Zeppelin dengan Black Dog nya, saya suka Jambrud dengan Surti-Tejo nya. tapi saya suka Sheila On 7, karna lagu-lagunya kena di hati saya. dapet di rasa saya. ada semacam kekuatan pada musiknya, dan sebentuk keyakinan pada liriknya. ada sesuatu, yang pada akhirnya membuat saya meyakini bahwa Sheila adalah band pilihan untuk dijadikan Idola. bukan cuma karna saat itu Sheila On 7 lagi nge Booming semata. dari dulu, saya terbiasa menentukan pilihan berdasarkan ketetapan diri sendiri, bukan karna orang lain. Termasuk mengenai musik dan band.
sudah lebih dari 10 tahun. sejak kejadian tahun 1997 itu. saya masih aktif ngikutin lagu-lagu Eross dan teman-temannya. tapi mungkin karna kesibukan lain, pekerjaan dan keluarga yang jelas lebih menyita perhatian saya, jadi akhirnya ritual "ngikutin" perkembangan itu berubah dari aktif menjadi pasif. saya cuma tau lagu-lagu mereka aja. bisa nyanyiin, dan mengenal kalau di puter di musik box atau radio-radio saat saya ada di mobil dalam perjalanan. selebihnya nothing. bahkan saya baru tau kalau ternyata Eross udah punya anak itu semalem, itupun karna gak sengaja liat wikipedia dan nemu Rebbel Distro yang ternyata punya Eross dan suaminya Sheila marcia. dan pagi ini, entah kenapa, saya dipaksa untuk menelusuri kembali lagu-lagu Sheila on 7 dengan hati saya. bukan hanya telinga. saya hafal semua lagu Sheila, mau yang album lama ataupun yang baru. tapi pagi ini, beberapa lagu Sheila saya dengarkan dengan sangat seksama. dengan daya kecap perasaan saya yang lebih dalam. saya mendapatinya kembali. perasaan di tahun 1997 itu. perasaan trenyuh dan percaya. perasaan untuk kembali mengambil gitar dan bernyanyi sendirian di kamar. saya dapati lagi di lagu " Bait Pertama" album Berlayar Sheila On 7.
pagi ini, saya menjelma lagi jadi anak SMP yang jatuh cinta pada suara tinggi milik Duta. saya menitis dari wanita dewasa dengan segudang masalah, menjadi anak kecil yang tersenyum sendiri saat menyaksikan Eross memainkan kata di lagu "Terlalu Singkat". saya lahir kembali. bukan sebagai Winona Ryder atau Taylor Swift seperti yang saya impikan. tapi jadi ikan paus segede gunung yang tiba-tiba muncul di permukaan laut. sosok mengagetkan bahkan untuk laut itu sendiri. saya bermetamorfosis dengan kepingan masalalu melalui lagu-lagu Sheila On 7.
Akhirnya saya searching. saya kembali tergila-gila Sheila On 7 pagi tadi. saya cari tau apa aja kegiatan mereka selama saya terlelap didasar lautan selama lebih dari 10 tahun ini. dan hasilnya? polos. biasa. Duta, Eross, Adam dan Brian, menjalani hari-hari biasa mereka. biasa. benar-benar biasa. dengan istri dan anak mereka di Jogja. tanpa gossip perceraian atau perselingkuhan khas anak band seperti yang selama ini jadi santapan media kita. Personil Sheila on 7 bebas dari gossip. saya ngakak sendiri tadi. ternyata memang mereka wong jowo.wong yojo. dengan segala kesederhanaan mereka. saya itu inget banget, Duta menikah sama Adelia Lontoh disaat karier Sheila lagi diatas angin banget waktu itu. dengan tenggang waktu pacaran yang sebentar banget, keputusan Duta untuk menikah bener-bener bikin shocked. secara, doi kan jelas jubir Sheila on 7 mengingat posisinya sebagai vocalis. asumsi berkembang bagai gelombang badai besar kala itu, tentang pernikahan tersebut. gossip jelek simpang siur, tapi Duta santai melangkah. and see, keluarganya adem ayem aja sampe sekarang. Adelia lontoh masih setia jadi istri dan ngurus dua anak mereka. ah, saya jadi senyum-senyum lagi nih.
sahabat saya yang juga gitaris Band ternama, juga suka lagu-lagu Sheila on 7. dulunya, dia gak suka. katanya lagu-lagu Sheila cengeng dan cewek banget. sebagai gitaris band Rock n Roll, lagu-lagu Sheila gak mewakili jiwanya. tapi sekarang, dia malah jauh lebih apal lagu-lagu Sheila ketimbang saya. kalau saya ledekin, dia selalu jawab " aku gak suka sama Sheila on 7 nya, tapi aku suka sama Erros nya. semua bakat di Sheila ada di Eross." saya manggut-manggut. Eross emang pencipta nyaris semua lagu-lagu Sheila. tapi gak begitu saja lantas Sheila keder tanpa Eross. saya yakin kok, lagu-lagu Eross yang ada di Sheila on 7 itu memang diciptakan khusus untuk dinyanyikan suara Duta. dan keseimbangan bass juga drum nya memang dibuat untuk dibetot dan tabuh Adm dan Brian. saya yakin sahabat saya sebenernya cuma malu aja buat ngakuin, kalau musik Sheila memang makin dewasa. makin berbobot dan makin berkarakter.
" hidup terlalu singkat, untuk kamu lewatkan tanpa mencoba cintaku " ( Terlalu singkat )
dan hidup memang terlalu singkat, untuk saya lewatkan tanpa mengenal lagu-lagu kalian. thanks Eross untuk menciptakan lagu-lagu yang begitu mewakili hati. untuk Duta dengan suara dan kedalaman karakter dalam menyanyikannya. untuk Adam yang mengimbangi melody dan rhytme dalam musik nya hingga menjadikan lagu-lagu Sheila begitu mewakili keseimbangan manusia. dan untuk Brian yang mau memback up semua nya dari belakang Drum dengan hentakan stick nya yang mewakili kekuatan Sheila. thanks untuk kehadiran kalian selama 16 tahun ini dengan suguhan musik-musik luar biasa di hidup saya. cinta datangnya dari hati. dan hati saya memilih lagu kalian dengan sangat jelas.
tiba-tiba saya jadi inget jaman dulu, tahun 1997. saya masih SMP waktu itu. inget banget gimana saya termehek-mehek sama suara Duta waktu nyanyiin lagu-lagu sheila di album pertama. kemunculannya barengan sama band keren the Coors. temen-temen satu sekolah saya kebanyakan lebih condong ke lagu-lagu Andrea dan saudaranya itu. sedang saya masih aja cuek dengan nyanyiin lagu "Kita" atau "Anugrah terindah yang pernah kumiliki". inget banget waktu itu, gimana saya di ledekin temen-temen karna selera musik saya yang cupu abis gara-gara saya lebih suka Sheila On 7 ketimbang The Coors atau Slank. Tapi saya memang suka Sheila On 7. bukan karna saya cinta produk Indonesia lantas saya lebih suka Sheila ketimbang The coors, atau saya lebih feminim jadi saya lebih suka lagu manis Sheila ketimbang lirik nakalnya Slank. saya juga suka Led Zeppelin dengan Black Dog nya, saya suka Jambrud dengan Surti-Tejo nya. tapi saya suka Sheila On 7, karna lagu-lagunya kena di hati saya. dapet di rasa saya. ada semacam kekuatan pada musiknya, dan sebentuk keyakinan pada liriknya. ada sesuatu, yang pada akhirnya membuat saya meyakini bahwa Sheila adalah band pilihan untuk dijadikan Idola. bukan cuma karna saat itu Sheila On 7 lagi nge Booming semata. dari dulu, saya terbiasa menentukan pilihan berdasarkan ketetapan diri sendiri, bukan karna orang lain. Termasuk mengenai musik dan band.
sudah lebih dari 10 tahun. sejak kejadian tahun 1997 itu. saya masih aktif ngikutin lagu-lagu Eross dan teman-temannya. tapi mungkin karna kesibukan lain, pekerjaan dan keluarga yang jelas lebih menyita perhatian saya, jadi akhirnya ritual "ngikutin" perkembangan itu berubah dari aktif menjadi pasif. saya cuma tau lagu-lagu mereka aja. bisa nyanyiin, dan mengenal kalau di puter di musik box atau radio-radio saat saya ada di mobil dalam perjalanan. selebihnya nothing. bahkan saya baru tau kalau ternyata Eross udah punya anak itu semalem, itupun karna gak sengaja liat wikipedia dan nemu Rebbel Distro yang ternyata punya Eross dan suaminya Sheila marcia. dan pagi ini, entah kenapa, saya dipaksa untuk menelusuri kembali lagu-lagu Sheila on 7 dengan hati saya. bukan hanya telinga. saya hafal semua lagu Sheila, mau yang album lama ataupun yang baru. tapi pagi ini, beberapa lagu Sheila saya dengarkan dengan sangat seksama. dengan daya kecap perasaan saya yang lebih dalam. saya mendapatinya kembali. perasaan di tahun 1997 itu. perasaan trenyuh dan percaya. perasaan untuk kembali mengambil gitar dan bernyanyi sendirian di kamar. saya dapati lagi di lagu " Bait Pertama" album Berlayar Sheila On 7.
pagi ini, saya menjelma lagi jadi anak SMP yang jatuh cinta pada suara tinggi milik Duta. saya menitis dari wanita dewasa dengan segudang masalah, menjadi anak kecil yang tersenyum sendiri saat menyaksikan Eross memainkan kata di lagu "Terlalu Singkat". saya lahir kembali. bukan sebagai Winona Ryder atau Taylor Swift seperti yang saya impikan. tapi jadi ikan paus segede gunung yang tiba-tiba muncul di permukaan laut. sosok mengagetkan bahkan untuk laut itu sendiri. saya bermetamorfosis dengan kepingan masalalu melalui lagu-lagu Sheila On 7.
Akhirnya saya searching. saya kembali tergila-gila Sheila On 7 pagi tadi. saya cari tau apa aja kegiatan mereka selama saya terlelap didasar lautan selama lebih dari 10 tahun ini. dan hasilnya? polos. biasa. Duta, Eross, Adam dan Brian, menjalani hari-hari biasa mereka. biasa. benar-benar biasa. dengan istri dan anak mereka di Jogja. tanpa gossip perceraian atau perselingkuhan khas anak band seperti yang selama ini jadi santapan media kita. Personil Sheila on 7 bebas dari gossip. saya ngakak sendiri tadi. ternyata memang mereka wong jowo.wong yojo. dengan segala kesederhanaan mereka. saya itu inget banget, Duta menikah sama Adelia Lontoh disaat karier Sheila lagi diatas angin banget waktu itu. dengan tenggang waktu pacaran yang sebentar banget, keputusan Duta untuk menikah bener-bener bikin shocked. secara, doi kan jelas jubir Sheila on 7 mengingat posisinya sebagai vocalis. asumsi berkembang bagai gelombang badai besar kala itu, tentang pernikahan tersebut. gossip jelek simpang siur, tapi Duta santai melangkah. and see, keluarganya adem ayem aja sampe sekarang. Adelia lontoh masih setia jadi istri dan ngurus dua anak mereka. ah, saya jadi senyum-senyum lagi nih.
sahabat saya yang juga gitaris Band ternama, juga suka lagu-lagu Sheila on 7. dulunya, dia gak suka. katanya lagu-lagu Sheila cengeng dan cewek banget. sebagai gitaris band Rock n Roll, lagu-lagu Sheila gak mewakili jiwanya. tapi sekarang, dia malah jauh lebih apal lagu-lagu Sheila ketimbang saya. kalau saya ledekin, dia selalu jawab " aku gak suka sama Sheila on 7 nya, tapi aku suka sama Erros nya. semua bakat di Sheila ada di Eross." saya manggut-manggut. Eross emang pencipta nyaris semua lagu-lagu Sheila. tapi gak begitu saja lantas Sheila keder tanpa Eross. saya yakin kok, lagu-lagu Eross yang ada di Sheila on 7 itu memang diciptakan khusus untuk dinyanyikan suara Duta. dan keseimbangan bass juga drum nya memang dibuat untuk dibetot dan tabuh Adm dan Brian. saya yakin sahabat saya sebenernya cuma malu aja buat ngakuin, kalau musik Sheila memang makin dewasa. makin berbobot dan makin berkarakter.
" hidup terlalu singkat, untuk kamu lewatkan tanpa mencoba cintaku " ( Terlalu singkat )
dan hidup memang terlalu singkat, untuk saya lewatkan tanpa mengenal lagu-lagu kalian. thanks Eross untuk menciptakan lagu-lagu yang begitu mewakili hati. untuk Duta dengan suara dan kedalaman karakter dalam menyanyikannya. untuk Adam yang mengimbangi melody dan rhytme dalam musik nya hingga menjadikan lagu-lagu Sheila begitu mewakili keseimbangan manusia. dan untuk Brian yang mau memback up semua nya dari belakang Drum dengan hentakan stick nya yang mewakili kekuatan Sheila. thanks untuk kehadiran kalian selama 16 tahun ini dengan suguhan musik-musik luar biasa di hidup saya. cinta datangnya dari hati. dan hati saya memilih lagu kalian dengan sangat jelas.
Jumat, 15 Juni 2012
Jogjakarta
Week End. Sabtu. Libur. dan Rindu.
Pagi ini saya nangis sesenggukan cuma gara-gara gak sengaja liat foto di internet. foto mana yang bikin saya merelakan air mata mahal saya untuk mengapresiasinya. padahal, air mata di hari sabtu itu sakral buat saya, bahkan kalian harus jalan pake lutut hanya demi melihat saya nangis di hari sabtu saking sakralnya airmata hari sabtu buat saya. heheheheh.
naaaahhhhhh, itu dia foto yang ujug-ujug tanpa basa-basi bikin saya nangis di sabtu pagi. hari ini masih menunjukkan pukul 11.00 dan saya udah nyaris menghabiskan seluruh persediaan air mata saya cuma untuk menangisi foto diatas. idiot banget.
saya kangen Jogja. kangen banget. rasa nya tuh dada saya penuh banget kalau ngebayangin Jogja. malioboronya, Alun-alun kidul nya, Raminten nya, angkringan tugu waktu sore nya, becak-becak di taman sarinya, bau perak di kota gede nya, wedhang ronde terban-nya. ah...semuanya. semuanya bikin kangen yang luar biasa buat saya. Jogja selalu punya sejuta alasan untuk membuat saya rindu. bahkan kadang saya tak memiliki alasan apapun lagi untuk gak meluangkan waktu barang seminggu cuma buat sekedar mengulang lagi ritual jalan-jalan malam di pelataran kandang gajah alkid meski cuma sejam-dua jam. saya beneran kangen. kangen banget sama Jogja.
temen saya nanya ke saya : " apa sih yang bikin Jogja jadi begitu punya arti di hati kamu? karna mantan pacar kamu asli sana?" saya yakin bukan cuma itu. bukan sebatas pesona pria Jogja yang bikin hati saya bersauh bak jangkar macet di Jogja. ada lebih dari sekedar urusan asmara dua manusia semata. Jogja, sudah mengisi hati saya jauh sebelum saya mengenal pria istimewa itu. jauh sebelum saya ngerti kalau cinta memang punya sejuta alasan untuk tetap diabadikan dalam frame kota eksotis itu. jauh, jauh dari cuma sekedar itu. jogja..... kota itu membuat saya harus mengurutkan satu sampai entah nominal keberapa untuk menguraikan alasan saya begitu jatuh cinta pada kotanya. Jogja.... membuat saya harus menekan dada tiap kali membayangkan kaki saya menjejak tanahnya dan mata saya bersitatap dengan ramah nuansanya. Jogja..... membuat saya harus sering-sering mengusap mata demi menyembunyikan airmata yang selalu meruah menetes hanya karena perasaan rindu yang paling menjemukan tiap membicarakannya. Jogja.... bukan cuma sekedar kota, bagi saya dia sudah seperti jantung. sudah seperti desiran detak didalam jantung. vital dan fatal.
dimulai dari membuka mata, saya akan selalu bersemangat untuk mandi, kemudian bergegas naik becak ke daerah Jokteng buat sarapan pagi nasi gudeg Yu Djum disana. meski ngantrinya kebangetan, saya selalu rela nunggu si mbok peracik menyiapkan separo porsi nasi gudegnya buat saya sambil melihat anak-anak sekolah berangkat dan berbicara dalam bahasa jawa yang kental. bahasa yang membuat hati saya menghangat. setelah itu saya akan kembali naik becak sampai di taman sari dan mengitari pemandian raja-ratu jawa itu, sesekali saya berjalan di gang-gang kecil dibelakang pemandian. di gang kecil itu sudah terbangun ratusan rumah penduduk yang padat. tapi berbeda dengan padatnya rumah-rumah di jakarta, kepadatan disitu mengasyikan. tenang dan bersih. dingin,adem dan ramah. rumah-rumah sederhana namun tidak berkesan kumuh, dengan banyak lukisan atau anak-anak nongkrong sambil main gitar yang selalu menyapa dengan " badhe pundi mbak?" kepada setiap orang yang lewat, dan anak-anak kecil yang main engklek atau dakonan. saya menikmati setiap perjalanan pelan menyusuri gang kecil hingga sampai ke petilasan di ujung taman sari. menyaksikan puing-puing sisa sejarah keraton yang semakin eksotis dengan bau dupa dan kembang-kembang setamannya. menjelang siang saya akan meluncur ke daerah Kotabaru untuk maksi di raminten, atau jika saya belum lapar sekali saya akan menempuh sedikit perjalanan jauh kearah Suryopranoto, Pakualaman. disana saya bisa makan soto kadipiro sampai dua mangkuk sekaligus sambil menyaksikan tukang sol sepatu yang menggesek sepatu-sepatu rusak dan menjahitnya kembali dengan benar. " nambah malih mbak?" sapaan ramah pemilik warung dengan senyum khas dan ramahnya selalu membuat saya malas untuk pergi dari situ. sore harinya saya akan berjalan di sepanjang malioboro sambil menunggu malam, menyaksikan banyak turis yang menawar batik atau aksesoris asli jogja dengan semangat, atau saya akan memilih berjalan-jalan di sekitar desa pathok ( jl K.S Tubun ) tempat dimana begitu banyak pabrik bakpia Pathok berdiri, letaknya di belakang jl. malioboro. kalau malas jalan biasanya saya bisa naik becak 10ribu rupiah untuk mengelilingi semua pabrik pathok disitu. semerbak bau bakpia bikin hidung saya kembang kempis menahan gejolak untuk membelinya. baru ketika malam tiba saya akan meluncur ke alun-alun kidul ( Alkid) buat nongkrong dan dengerin pengamen-pengamen disana. kenapa bukan di malioboro? kadang di malioboro, tapi saya jauh lebih merasa Jogja ada di Alkid ketika malam. tengah malam, tugu menjadi saksi saya menghabiskan berpuluh-puluh tusuk sate usus di angkringannya sambil nyanyi-nyanyi bareng temen-temen ISI jogja yang lagi nongkrong disitu. seharian, cukup untuk me-Charge hati saya.
tuh, hanya dengan menuliskan kembali sehari saya bersama kota Jogja, udah bikin saya panas dingin dan teriak-teriak minta dipesenin tiket ke Jogja. candu banget.
Jogja.Nuansa.dan Kamu.
Jogja memang gak pernaha bisa lepas dari seseorang itu. saya tau mungkin saya berkali-kali merindukan kota budaya itu karna saya pun merindukannya. dan Jogja menjadi peletakan alasan saya yang pertama pula untuk menyimpan dia dalam hati. selamanya.
Pagi ini saya nangis sesenggukan cuma gara-gara gak sengaja liat foto di internet. foto mana yang bikin saya merelakan air mata mahal saya untuk mengapresiasinya. padahal, air mata di hari sabtu itu sakral buat saya, bahkan kalian harus jalan pake lutut hanya demi melihat saya nangis di hari sabtu saking sakralnya airmata hari sabtu buat saya. heheheheh.
naaaahhhhhh, itu dia foto yang ujug-ujug tanpa basa-basi bikin saya nangis di sabtu pagi. hari ini masih menunjukkan pukul 11.00 dan saya udah nyaris menghabiskan seluruh persediaan air mata saya cuma untuk menangisi foto diatas. idiot banget.
saya kangen Jogja. kangen banget. rasa nya tuh dada saya penuh banget kalau ngebayangin Jogja. malioboronya, Alun-alun kidul nya, Raminten nya, angkringan tugu waktu sore nya, becak-becak di taman sarinya, bau perak di kota gede nya, wedhang ronde terban-nya. ah...semuanya. semuanya bikin kangen yang luar biasa buat saya. Jogja selalu punya sejuta alasan untuk membuat saya rindu. bahkan kadang saya tak memiliki alasan apapun lagi untuk gak meluangkan waktu barang seminggu cuma buat sekedar mengulang lagi ritual jalan-jalan malam di pelataran kandang gajah alkid meski cuma sejam-dua jam. saya beneran kangen. kangen banget sama Jogja.
temen saya nanya ke saya : " apa sih yang bikin Jogja jadi begitu punya arti di hati kamu? karna mantan pacar kamu asli sana?" saya yakin bukan cuma itu. bukan sebatas pesona pria Jogja yang bikin hati saya bersauh bak jangkar macet di Jogja. ada lebih dari sekedar urusan asmara dua manusia semata. Jogja, sudah mengisi hati saya jauh sebelum saya mengenal pria istimewa itu. jauh sebelum saya ngerti kalau cinta memang punya sejuta alasan untuk tetap diabadikan dalam frame kota eksotis itu. jauh, jauh dari cuma sekedar itu. jogja..... kota itu membuat saya harus mengurutkan satu sampai entah nominal keberapa untuk menguraikan alasan saya begitu jatuh cinta pada kotanya. Jogja.... membuat saya harus menekan dada tiap kali membayangkan kaki saya menjejak tanahnya dan mata saya bersitatap dengan ramah nuansanya. Jogja..... membuat saya harus sering-sering mengusap mata demi menyembunyikan airmata yang selalu meruah menetes hanya karena perasaan rindu yang paling menjemukan tiap membicarakannya. Jogja.... bukan cuma sekedar kota, bagi saya dia sudah seperti jantung. sudah seperti desiran detak didalam jantung. vital dan fatal.
dimulai dari membuka mata, saya akan selalu bersemangat untuk mandi, kemudian bergegas naik becak ke daerah Jokteng buat sarapan pagi nasi gudeg Yu Djum disana. meski ngantrinya kebangetan, saya selalu rela nunggu si mbok peracik menyiapkan separo porsi nasi gudegnya buat saya sambil melihat anak-anak sekolah berangkat dan berbicara dalam bahasa jawa yang kental. bahasa yang membuat hati saya menghangat. setelah itu saya akan kembali naik becak sampai di taman sari dan mengitari pemandian raja-ratu jawa itu, sesekali saya berjalan di gang-gang kecil dibelakang pemandian. di gang kecil itu sudah terbangun ratusan rumah penduduk yang padat. tapi berbeda dengan padatnya rumah-rumah di jakarta, kepadatan disitu mengasyikan. tenang dan bersih. dingin,adem dan ramah. rumah-rumah sederhana namun tidak berkesan kumuh, dengan banyak lukisan atau anak-anak nongkrong sambil main gitar yang selalu menyapa dengan " badhe pundi mbak?" kepada setiap orang yang lewat, dan anak-anak kecil yang main engklek atau dakonan. saya menikmati setiap perjalanan pelan menyusuri gang kecil hingga sampai ke petilasan di ujung taman sari. menyaksikan puing-puing sisa sejarah keraton yang semakin eksotis dengan bau dupa dan kembang-kembang setamannya. menjelang siang saya akan meluncur ke daerah Kotabaru untuk maksi di raminten, atau jika saya belum lapar sekali saya akan menempuh sedikit perjalanan jauh kearah Suryopranoto, Pakualaman. disana saya bisa makan soto kadipiro sampai dua mangkuk sekaligus sambil menyaksikan tukang sol sepatu yang menggesek sepatu-sepatu rusak dan menjahitnya kembali dengan benar. " nambah malih mbak?" sapaan ramah pemilik warung dengan senyum khas dan ramahnya selalu membuat saya malas untuk pergi dari situ. sore harinya saya akan berjalan di sepanjang malioboro sambil menunggu malam, menyaksikan banyak turis yang menawar batik atau aksesoris asli jogja dengan semangat, atau saya akan memilih berjalan-jalan di sekitar desa pathok ( jl K.S Tubun ) tempat dimana begitu banyak pabrik bakpia Pathok berdiri, letaknya di belakang jl. malioboro. kalau malas jalan biasanya saya bisa naik becak 10ribu rupiah untuk mengelilingi semua pabrik pathok disitu. semerbak bau bakpia bikin hidung saya kembang kempis menahan gejolak untuk membelinya. baru ketika malam tiba saya akan meluncur ke alun-alun kidul ( Alkid) buat nongkrong dan dengerin pengamen-pengamen disana. kenapa bukan di malioboro? kadang di malioboro, tapi saya jauh lebih merasa Jogja ada di Alkid ketika malam. tengah malam, tugu menjadi saksi saya menghabiskan berpuluh-puluh tusuk sate usus di angkringannya sambil nyanyi-nyanyi bareng temen-temen ISI jogja yang lagi nongkrong disitu. seharian, cukup untuk me-Charge hati saya.
tuh, hanya dengan menuliskan kembali sehari saya bersama kota Jogja, udah bikin saya panas dingin dan teriak-teriak minta dipesenin tiket ke Jogja. candu banget.
Jogja.Nuansa.dan Kamu.
Jogja memang gak pernaha bisa lepas dari seseorang itu. saya tau mungkin saya berkali-kali merindukan kota budaya itu karna saya pun merindukannya. dan Jogja menjadi peletakan alasan saya yang pertama pula untuk menyimpan dia dalam hati. selamanya.
Rabu, 06 Juni 2012
Dia, seseorang itu.
selamat pagi menjelang siang. selamat hari kamis. selamat menempuh jam-jam yang berputar layaknya pak tua yang jongkok menunggu waktu.
ada seseorang yang mengatakan pada saya, jika kita makan dan tidak menyukai menu makanannya, maka kita bisa mencari menu lain. yang harus kita lakukan adalah mengubah menu dan bukanlah justru menolak makan. karna dalam hidup, akan selalu ada harapan. salah satunya diwakili oleh menu makanan yang beragam. akan selalu ada harapan, sekalipun berjuta menu tidak kita sukai, akan ada banyak menu yang kelak bisa menjadi pilihan. maka berharaplah terus.
seseorang yang mengajarkan saya tentang menu makanan itu mengajarkan pula tentang menyikapi rasa sakit. bagaimana kita seharusnya berlaku jika telah menuai sakit pada suatu waktu. hal yang saya ingat adalah ketika saya nangis sesenggukan dan dia tiba-tiba menyeret saya naik ke roof di lantai 27. saya yang memang menyukai hal-hal berbau tantangan merasa biasa ketika sampai di roof itu. sakit itu masih ada, dan bekas tangisan masih terasa. tapi tidak ketika dia menunjuk ke satu titik, dimana sayamelihat begitu banyak kemungkinan yang terjadi dari roof yang saya pijak. betapa luas daya jangkau mata saya menatap titik yang dia tuju. yang dia tunjuk, dan ketika dia mengucapkan kalimat " pemandangan itu hadiah buat kamu yang udah berani melihat seribu kemungkinan sebelum mencapai titik itu" saya lantas lupa, amnesia pada kesakitan saya yang masih terasa di menit lalu, bukan, bahkan didetik yang sebelumnya. seseorang itu, dia, begitu pandai membuat saya menjadi memiliki harapan lagi.
seseorang itu, yang mengajarkan tentang menu makanan dan melihat kemungkinan dari roof di ketinggian lantai 27 mengatakan juga pada saya, bahwa setiap manusia memiliki tanggung jawab atas takdirnya masing-masing. tidak ada yang bertanggung jawab atas takdir orang lain ataupun sebaliknya. takdir saya, takdirnya, takdir mereka, semuanya telah memiliki mandataris langsung kepada si empunya takdir. lantas mengapa saya harus pusing memikirkan takdir orang lain hanya karena perasaan bersalah berlebihan atau mangkel yang tidak berkesudahan. lantas mengapa kadang saya merasa tidak puas karna Tuhan terlampau baik memberi takdir pada orang lain, dan bukan saya. seseorang itu, mengatakan " takdir tidak pernah mempermainkan kita, yang erjadi adalah kita yang main-main dengan hidup kita setelah takdir terjadi" . takdir tidak lantas terjadi karna kita tak berdaya dan putus asa, justru sebaliknya, takdir menunggu kita untuk berusaha, membeprbaiki dan menjadikan harapan menjadi keputusan bernama takdir tersebut. takdir adalah kaca benggala terjujur dari sebuah kegigihan yang diberi nama usaha. takdir, bukan memutuskan, justru dia memberi harapan.
dia, seseorang itu, yang mengajarkan tentang menu makanan kemudian melihat seribu kemungkinan dari roof serta mengatakan bahwa takdir adalah nama lain dari harapan juga mengatakan kepada saya : " dalam hidup, ada dua hal yang terbesar. yaitu cinta dan kematian." dan seseorang itu, yang begitu saya cintai, yang begitu saya banggakan, yang begitu saya harapkan, telah mengajarkan keduanya. sebelum kematiannya, saya menyadari banyak hal diluar tiga hal mendasar diatas. banyak hal tersebut, adalah cinta yang dia berikan.dan banyak hal tersebut yang menjadikan saya menyadari, bahwa harapan datang juga bersama kematiannya. kadang orang menilai saya adalah sosok yang tidak bisa melihat kenyataan, saya selalu berharap bahkan pada hal yang tidak mungkin sekalipun. saya hanya bisa mengatakan bahwa ini semua adalah bagian dari takdir yang datang bersama keinginan terbesar saya : menjadikan harapan kenyataan.
dia, seseorang itu, yang menjadikan saya mampu menapaki hidup hingga dititik ini, adalah dia seorang yang begitu mampu menahan banyak perih dengan tersenyum. sebuah ekspresi yang paling sulit untuk dijabarkan. dia akan lebih menyukai tersenyum daripada tertawa, akan lebih menyukai gerimis ketimbang hujan, lebih menyukai berjalan ketimbang berlari, dan lebih merasa nyaman dalam diam dibanding berkelebat. dia, seseorang itu ternyata memiliki nama, dan nama itu yang selama ini ternyata ada dalam setiap doa saya. namanya. seseorang itu.
ada seseorang yang mengatakan pada saya, jika kita makan dan tidak menyukai menu makanannya, maka kita bisa mencari menu lain. yang harus kita lakukan adalah mengubah menu dan bukanlah justru menolak makan. karna dalam hidup, akan selalu ada harapan. salah satunya diwakili oleh menu makanan yang beragam. akan selalu ada harapan, sekalipun berjuta menu tidak kita sukai, akan ada banyak menu yang kelak bisa menjadi pilihan. maka berharaplah terus.
seseorang yang mengajarkan saya tentang menu makanan itu mengajarkan pula tentang menyikapi rasa sakit. bagaimana kita seharusnya berlaku jika telah menuai sakit pada suatu waktu. hal yang saya ingat adalah ketika saya nangis sesenggukan dan dia tiba-tiba menyeret saya naik ke roof di lantai 27. saya yang memang menyukai hal-hal berbau tantangan merasa biasa ketika sampai di roof itu. sakit itu masih ada, dan bekas tangisan masih terasa. tapi tidak ketika dia menunjuk ke satu titik, dimana sayamelihat begitu banyak kemungkinan yang terjadi dari roof yang saya pijak. betapa luas daya jangkau mata saya menatap titik yang dia tuju. yang dia tunjuk, dan ketika dia mengucapkan kalimat " pemandangan itu hadiah buat kamu yang udah berani melihat seribu kemungkinan sebelum mencapai titik itu" saya lantas lupa, amnesia pada kesakitan saya yang masih terasa di menit lalu, bukan, bahkan didetik yang sebelumnya. seseorang itu, dia, begitu pandai membuat saya menjadi memiliki harapan lagi.
seseorang itu, yang mengajarkan tentang menu makanan dan melihat kemungkinan dari roof di ketinggian lantai 27 mengatakan juga pada saya, bahwa setiap manusia memiliki tanggung jawab atas takdirnya masing-masing. tidak ada yang bertanggung jawab atas takdir orang lain ataupun sebaliknya. takdir saya, takdirnya, takdir mereka, semuanya telah memiliki mandataris langsung kepada si empunya takdir. lantas mengapa saya harus pusing memikirkan takdir orang lain hanya karena perasaan bersalah berlebihan atau mangkel yang tidak berkesudahan. lantas mengapa kadang saya merasa tidak puas karna Tuhan terlampau baik memberi takdir pada orang lain, dan bukan saya. seseorang itu, mengatakan " takdir tidak pernah mempermainkan kita, yang erjadi adalah kita yang main-main dengan hidup kita setelah takdir terjadi" . takdir tidak lantas terjadi karna kita tak berdaya dan putus asa, justru sebaliknya, takdir menunggu kita untuk berusaha, membeprbaiki dan menjadikan harapan menjadi keputusan bernama takdir tersebut. takdir adalah kaca benggala terjujur dari sebuah kegigihan yang diberi nama usaha. takdir, bukan memutuskan, justru dia memberi harapan.
dia, seseorang itu, yang mengajarkan tentang menu makanan kemudian melihat seribu kemungkinan dari roof serta mengatakan bahwa takdir adalah nama lain dari harapan juga mengatakan kepada saya : " dalam hidup, ada dua hal yang terbesar. yaitu cinta dan kematian." dan seseorang itu, yang begitu saya cintai, yang begitu saya banggakan, yang begitu saya harapkan, telah mengajarkan keduanya. sebelum kematiannya, saya menyadari banyak hal diluar tiga hal mendasar diatas. banyak hal tersebut, adalah cinta yang dia berikan.dan banyak hal tersebut yang menjadikan saya menyadari, bahwa harapan datang juga bersama kematiannya. kadang orang menilai saya adalah sosok yang tidak bisa melihat kenyataan, saya selalu berharap bahkan pada hal yang tidak mungkin sekalipun. saya hanya bisa mengatakan bahwa ini semua adalah bagian dari takdir yang datang bersama keinginan terbesar saya : menjadikan harapan kenyataan.
dia, seseorang itu, yang menjadikan saya mampu menapaki hidup hingga dititik ini, adalah dia seorang yang begitu mampu menahan banyak perih dengan tersenyum. sebuah ekspresi yang paling sulit untuk dijabarkan. dia akan lebih menyukai tersenyum daripada tertawa, akan lebih menyukai gerimis ketimbang hujan, lebih menyukai berjalan ketimbang berlari, dan lebih merasa nyaman dalam diam dibanding berkelebat. dia, seseorang itu ternyata memiliki nama, dan nama itu yang selama ini ternyata ada dalam setiap doa saya. namanya. seseorang itu.
Sabtu, 26 Mei 2012
Ketika duduk Saja.
Saya duduk
sendiri disini. Ditengah kerumunan ramai banyak orang. Memikirkan apa-apa yang
mungkin mereka pikirkan, atau tidak mereka pikirkan. Saya hanya berfikir,
mencari jawaban atau bahkan pertanyaan. Saya gak tau, atau mungkin bahkan
sangat tau. Saya hanya duduk. Dan mendapati saya menikmati semua ini.
Lagi-lagi
malam hari, dimana langit malam selalu menghadirkan rasa nyaman sendiri. Seksi.
Gelap yang angkuh dan begitu terlihat kuat. Kokoh menaungi banyak peristiwa
dibawahnya. Ada jatuh cinta, senang, bahagia, sedih, bingung, galau, hampa,
atau bahkan seperti saya : tidak terdefinisikan. Langit senantiasa tetap sama. Hitam,
gelap dan gagah diatas kita semua. Menyisakan sejumput pertanyaan : pernahkah
langit bereaksi berbeda atas apa yang kita rasakan selama ini? saya rasa tidak.
Didepan saya
jalanan macet, mobil-mobil menyalakkan klakson saling saut. Tanda tak sabar
pengendaranya, atau penumpangnya. Motor-motor saling tikung mencari jalan di
sela-sela macetnya Jakarta malam hari, lebih tepatnya malam minggu. Saya hanya
duduk, menikmati ice cream yang sudah mencair dan menyisakan sedikit dingin di
gelas cup nya. Menyisakan kenikmatan sendiri ketika mereguknya. Saya masih
tetap hanya duduk, di sebuah pinggiran jalan macet dengan sebuah bangku di luar
fastfood ternama negeri ini.
Adakah yang
menanyakan keberadaan saya?adakah yang tau kegelisahan saya? Adakah yang
menangkap dan menyampaikannya pada seseorang lain diluar saya? Adakah manusia
yang menyadari kesendirian saya?adakah yang lebih sendiri dari saya
disini?adakah yang lebih bahagia dari saya disini? Dengan kesendirian yang
independent. Dengan kebahagiaan yang telah mampu saya ciptakan, meskipun
sendiri.
Kadang kesendirian
ditengah keriuhan memberikan beragam perasaan. Sedih? Mungkin saja, kenapa bisa
saya sendiri sementara semua orang yang ada disini berbondong-bondong datang
dengan bergandengan tangan. Bahagia? Mungkin saja, kenapa kita harus tak
bahagia ketika tanpa perlu bergandengan tangan saya bisa menikmati banyak
senyum dan tawa disekitar saya. Bingung? Bisa saja, bagaimana mungkin saya bisa
bahagia tanpa saya tau apa sebabnya, bagaimana mungkin perasaan itu muncul
begitu saja hanya karena disebabkan oleh keramaian biasa disekitar saya. Mereka
semua bukan teman, bukan saudara. Bahkan tak ada sapa, tak ada teguran. Saya hanya
duduk, menyaksikan semuanya berjalan bagai laku yang wajar.saya merasa manusia
kembali.
Kapan saya
menjadi bukan manusia?
Kehidupan senantiasa
menjadi begitu berarti ketika kita memiliki seseorang yang kita anggap mampu
melengkapi kita. Kadang kita merasa kurang karna tak dicintai atau tak
mencintai. Merasa tak bahagia karna dimusuhi ata diacuhkan. Merasa tak
beruntung karna tak di anggap dan tak disayang. Padahal kita tau, kebahagiaan
bukan ciptaan diluar kita. Itu semua ada didalam hati, dan hati itu tak
tersentuh siapapun. Maka kita sendirilah yang mampu menciptakan kebahagiaan. Kenapa
kita harus merasa kurang karna tak ada yang melengkapi, padahal kita sendiri
tau, bahkan tanpa kita sadari kita telah lengkap sebelum kita lahir. Tak ada
satupun yang mampu melengkapi apa-apa yang sudah lengkap.
Saya hanya
duduk saja, sementara orang-orang lalu lalang disekitar saya. Sementara mereka
begitu sibuk dengan berbagai obrolan ringan maupun beratnya. Namun saya yakin,
dari mereka semua yang sibuk berbincang dengan lawan bicaranya, saya justru
yang paling banyak mendapat makna meski dengan kesendirian. Saya telah
berbincang tanpa lawan bicara. Saya berbincang dengan diri sendiri. Dengan begitu
hebohnya.
Saya tak
ingin memungut apapun disini.
Dunia memang
kecil sangat, bahkan sangat kecil hingga kita tak akan mampu menangkapnya. Lalu
untuk apa kita sibuk menguasai dunia, sementara sejak awal kita tau bahwa itu
tak mungkin akan terjadi. Bukankah seharusnya kita mencari hal lain yang telah
kita pahami benar akan keadaannya. Baiklah, selayaknya saya memang tetap duduk
disini. Tanpa perlu banyak bicara.
Sekali lagi,
saya hanya duduk disini. Mungkin dengan begini akan ada satu lagi yang bisa
saya miliki selain kesendirian, kebahagiaan, kelengkapan dan keberuntungan. Saya
akan mendapati satu hal lagi yang tidak akan kalian dapati ketika bergandengan
tangan dengan yang lainnya . saya akan mendapatinya sekarang juga : penghargaan
akan kesendirian. Saya telah mendapatkannya. Dengan duduk sendiri disini.
Hidup saya
itu kadang lucu, maka tertawa itu cukup. Kadang menyakitkan, maka menangis saja
itu sudah pas. Kadang bahagia, maka tersenyum adalah reaksi yang tepat. Namun segala
kecukupan, rasa pas, dan ketepatan itu bukan mutlak semata. Ketika kelucuan
menyeruak, saya kadang berfikir, apa cukup hanya dengan tertawa. Ketika rasa
sakit itu mendadak datang, saya mempertanyakan, apa perlu air mata itu?. Ketika
kebahagiaan muncul, saya berpendapat, senyum bahkan tak cukup
mengapresiasikannya. Maka saat ini saya hanya duduk, menatap sekeliling. Sambil
terus bertanya: apa yang sedang kalian rasakan?
Ramai. Bahkan degup ikut ramai disini, mungkin akan terdengar jika disimak benar.Ramai, bahkan suara hati masih bersahutan ingin merangsek keluar. namun adakah yang mampu mengeluarkan suara hati selain mereka yang lantang dengan keyakinannya. saya ingin berteriak lantang, menembus gendang telinga semua orang.Dan adakah yang mampu selain itu?
Selasa, 15 Mei 2012
maafin mama ya, nak.
halooooo kawans, lambreta lamborgini ya saya gak menyapa kalian? apakareba semua? semoga selalu dalam keimanan yang baik yah.
saya lagi kangen banget sama anak saya nih. Yudith Airin Puandira. duh, itu bocah lagi lucu-lucunya, lagi cantik-cantiknya dan lagi pinter-pinternya. sering saya pengen lari ketempat dia berada sekarang, tapi itu gak gampang buat saya. dibutuhkan berbagai macam usaha ekstra keras buat melakukan itu.
bukan saya lebay yah. tapi beneran gitu. seandainya aja semua segampang kelihatannya, segampang bilang " mau ketemu anak ya tinggal didaengin aja anaknya " segampang nobita mina apa aja ke doraemon. segampang semua test matematika untuk albert Einstein. segampang mencintai anak tanpa syarat. sayang, semuanya gak segampang itu.
saya inget banget beberapa tahun lalu. anak saya masih kecil ( meskipun sekarang juga masih kecil ) dan saya sedang mencoba survive dengan tinggal terpisah dari orang tua, dengan membawa anak pula. sementara saya sendiri adalah single parents. sehari-harinya saya ajak dia ikut saya kerja. atau saya titipkan di sepupu perempuan saya. kadang dia merengek minta ikut, dan saya terpaksa harus mengajaknya. padahal waktu itu pekerjaan saya itu lapangan banget. saya full ada di jalanan, dan kena angin, debu,panas juga hujan. bisa kalian bayangkan, kalau anak saya ikut, artinya dia pun ikut menerima tempaan itu. entahlah, saya merasa kala itu, kalau saya harus bisa memberi dia hidup yang lebih layak lagi. meski mungkin sebenarnya, keluarga saya pasti mampu menghidupi saya dan anak saya tanpa kekurangan sedikitpun.
saat itu adalah masa terberat saya dalam takaran ekonomi, tapi masa terindah saya secara bathin. saya bener-bener megumpulkan rupiah demi rupiah untuk anak saya. bahkan 500 perakpun saya simpan dengan baik. dalam masa itu, saya tetep berusaha memberikan yang terbaik untuk Airin. makanannya saya jaga bener. dia harus minum susu seperti biasa, dan dia harus bersih setiap hari.Airin tetap saya suplay juice buah murni setiap hari, menu 4 sehat 5 sempurna dan tempat tidur yang layak juga pakaian yang bagus-bagus. bagi saya, cukuplah melihat anak saya tetap segar dan sehat tanpa kekurangan sedikitpun.
pernah suatu malam, saya dan anak saya baru pulang dari tempat kerja saya. anak saya bilang ingin makan nasi goreng. saya melihat isi dompet saya yang bener-bener gak cukup untuk beli seporsi nasi goreng. tapi saya punya temen yang jualan nasi goreng,walo tempatnya agak jauh dari tempat tinggal saya. berdua dengan Airin saya datengin lapak temen saya itu. dan kami pulang dengan membawa seporsi nasi goreng tanpa membayar. sampai di kamar, saya membuka nasi goreng itu, menyuapi airin diatas kasur. dia memakan dengan lahap sambil tersenyum. dengan semangat mengunyah sesuap demi sesuap, sambil terus tersenyum dan berceloteh tentang apapun. saya hanya bisa menatapnya haru, sambil terus menyuapinya, anak sekecil itu, begitu polos dengan hidupnya. saya sungguh tega telah membawanya merasakan pahitnya hidup dalam kesengsaraan.
sekarang saya dan Airin terpisah jarak. setiap saya menelpon nya dia selalu meminta saya datang. tanpa merengek dan memaksa. dia hanya menanyakan kapan dia bisa ketemu saya. tanpa tangisan dan paksaan. tapi justru sikapnya yang tabah menunggu saya datang itu yang menjadikan saya semakin merindukannya. menjadikan saya semakin merasa tidak berguna. dulu kami hidup tanpa materi tapi selalu bersama, sekarang mungkin saya bisa mencukupi kebutuhannya meski tak terlampau banyak tapi kami terpisah. yang mana sebenarnya yang bisa saya lakukan dan pilih sebagai seorang ibu yang mencintai anaknya? yang mana lagi?
saya semakin jarang menelponnya. semakin jarang melihat-lihat fotonya pada fb atau hp saya. semakin jarang menanyakan kabarnya. bukan saya gak peduli, saya takut. rasa rindu itu semakin gak berjarak ketika saya melihat fotonya. semakin saya lihat fotonya ketika rindu, muncul tuntutan lain setelahnya : saya ingin memeluknya. semakin sering saya menelponnya ketika kangen, muncul kebutuhan lain setelah mendengar suaranya : saya ingin bertemu dengannya. akhirnya saya jadi tidak mampu menguasai diri dan terjebak dalam tangisan yang panjang. saya menghindari itu semua, bukan karna tak peduli. tapi karna saya tau saya lemah.
seperti sekarang ini, saya berkali-kali menangis ingat kalimatnya " mama kapan kesini?" dan saya cuma bisa bilang " besok ya" tanpa saya tau kapan saya bisa memenuhi janji itu.
maafin mama ya nak.
saya lagi kangen banget sama anak saya nih. Yudith Airin Puandira. duh, itu bocah lagi lucu-lucunya, lagi cantik-cantiknya dan lagi pinter-pinternya. sering saya pengen lari ketempat dia berada sekarang, tapi itu gak gampang buat saya. dibutuhkan berbagai macam usaha ekstra keras buat melakukan itu.
bukan saya lebay yah. tapi beneran gitu. seandainya aja semua segampang kelihatannya, segampang bilang " mau ketemu anak ya tinggal didaengin aja anaknya " segampang nobita mina apa aja ke doraemon. segampang semua test matematika untuk albert Einstein. segampang mencintai anak tanpa syarat. sayang, semuanya gak segampang itu.
saya inget banget beberapa tahun lalu. anak saya masih kecil ( meskipun sekarang juga masih kecil ) dan saya sedang mencoba survive dengan tinggal terpisah dari orang tua, dengan membawa anak pula. sementara saya sendiri adalah single parents. sehari-harinya saya ajak dia ikut saya kerja. atau saya titipkan di sepupu perempuan saya. kadang dia merengek minta ikut, dan saya terpaksa harus mengajaknya. padahal waktu itu pekerjaan saya itu lapangan banget. saya full ada di jalanan, dan kena angin, debu,panas juga hujan. bisa kalian bayangkan, kalau anak saya ikut, artinya dia pun ikut menerima tempaan itu. entahlah, saya merasa kala itu, kalau saya harus bisa memberi dia hidup yang lebih layak lagi. meski mungkin sebenarnya, keluarga saya pasti mampu menghidupi saya dan anak saya tanpa kekurangan sedikitpun.
saat itu adalah masa terberat saya dalam takaran ekonomi, tapi masa terindah saya secara bathin. saya bener-bener megumpulkan rupiah demi rupiah untuk anak saya. bahkan 500 perakpun saya simpan dengan baik. dalam masa itu, saya tetep berusaha memberikan yang terbaik untuk Airin. makanannya saya jaga bener. dia harus minum susu seperti biasa, dan dia harus bersih setiap hari.Airin tetap saya suplay juice buah murni setiap hari, menu 4 sehat 5 sempurna dan tempat tidur yang layak juga pakaian yang bagus-bagus. bagi saya, cukuplah melihat anak saya tetap segar dan sehat tanpa kekurangan sedikitpun.
pernah suatu malam, saya dan anak saya baru pulang dari tempat kerja saya. anak saya bilang ingin makan nasi goreng. saya melihat isi dompet saya yang bener-bener gak cukup untuk beli seporsi nasi goreng. tapi saya punya temen yang jualan nasi goreng,walo tempatnya agak jauh dari tempat tinggal saya. berdua dengan Airin saya datengin lapak temen saya itu. dan kami pulang dengan membawa seporsi nasi goreng tanpa membayar. sampai di kamar, saya membuka nasi goreng itu, menyuapi airin diatas kasur. dia memakan dengan lahap sambil tersenyum. dengan semangat mengunyah sesuap demi sesuap, sambil terus tersenyum dan berceloteh tentang apapun. saya hanya bisa menatapnya haru, sambil terus menyuapinya, anak sekecil itu, begitu polos dengan hidupnya. saya sungguh tega telah membawanya merasakan pahitnya hidup dalam kesengsaraan.
sekarang saya dan Airin terpisah jarak. setiap saya menelpon nya dia selalu meminta saya datang. tanpa merengek dan memaksa. dia hanya menanyakan kapan dia bisa ketemu saya. tanpa tangisan dan paksaan. tapi justru sikapnya yang tabah menunggu saya datang itu yang menjadikan saya semakin merindukannya. menjadikan saya semakin merasa tidak berguna. dulu kami hidup tanpa materi tapi selalu bersama, sekarang mungkin saya bisa mencukupi kebutuhannya meski tak terlampau banyak tapi kami terpisah. yang mana sebenarnya yang bisa saya lakukan dan pilih sebagai seorang ibu yang mencintai anaknya? yang mana lagi?
saya semakin jarang menelponnya. semakin jarang melihat-lihat fotonya pada fb atau hp saya. semakin jarang menanyakan kabarnya. bukan saya gak peduli, saya takut. rasa rindu itu semakin gak berjarak ketika saya melihat fotonya. semakin saya lihat fotonya ketika rindu, muncul tuntutan lain setelahnya : saya ingin memeluknya. semakin sering saya menelponnya ketika kangen, muncul kebutuhan lain setelah mendengar suaranya : saya ingin bertemu dengannya. akhirnya saya jadi tidak mampu menguasai diri dan terjebak dalam tangisan yang panjang. saya menghindari itu semua, bukan karna tak peduli. tapi karna saya tau saya lemah.
seperti sekarang ini, saya berkali-kali menangis ingat kalimatnya " mama kapan kesini?" dan saya cuma bisa bilang " besok ya" tanpa saya tau kapan saya bisa memenuhi janji itu.
maafin mama ya nak.
Minggu, 06 Mei 2012
dari mana-mana
hai guys. mid night nih. dan kalian pasti udah lagi terbuai keliling dunia dengan karpet terbang aladin atau firebolt nya harry potter. saya ikut merasakan angin yang menerpa wajah kalian, tanpa tau gimana nuansanya bisa sampai ke alam mimpi itu.
apa yang ingin saya ulas kali ini? gak ada. maaf kalo mengecewakan kalian. tapi sungguh saya memang lagi gak pengen bahas apapun kali ini. saya cuma ingin nulis aja. tanpa tema dan tanpa subjek atau objek terfokus. dimulai dari mana-mana. bisa dari saya, sekeliling saya atau bahkan mungkin bisa saja dari kalian. saya sendiri belum tau apa yang akan saya tulis setelah ini.
hidup itu emang perspeksi ya temans. sakitnya, senangnya, kuatnya, lemahnya. semuanya itu cuma perspeksi aja. gimana cara kita memandang, dan menanggapi. selain itu ya semuanya datar-datar aja. sama kayak momentum. dia akan jadi momentum ya saat kejadian itu tengah berlangsung. setelahnya? ya cuma bakal jadi kenangan atau masa lalu, meskipun jelas baru semenit atau bahkan sedetik yang lalu. itulah sebabnya, pergunakan momentum sebaik mungkin. karna penyesalan ada di akhir kan *klise* kalo yang diawal itu namanya pendaftaran.
dalam beberapa hari ini, saya terpaksa melakukan unfollow pada beberapa followers saya. banyak hal yang melandasinya. salah satunya adalah menyelamatkan hati saya sendiri. saya ini mengidap liver akut. saking seringnya sakit hati sampe mungkin udah item kali warnanya. sejujurnya, saya percaya semua itu gak lepas dari apa yang saya lakukan pula. saya gak mungkin sakit hati kalau saya gak mainan hati kan? yeay, artinya lagi, saya emang terlampau sering main pake hati. jadinya ya begitulah. saya bahkan kadang ngerasa terlampau dramatis menilai sesuatu. kadang cuek. entahlah. prinsip, saya ini cuma ingin mengalir. hari dan hidup yang bermuara pada sebuah kewajaran. itu saja.
temans, salah gak sih kalau saya marah karna merasa dipermainkan? ketika saya melakoni satu babak dan menjalani komitmen dengan babak tersebut, kemudian mati-matian menjaga komitmen tersebut hingga hancur-hancuran untuk selanjutnya justru dijadikan kambing hitam. salahkah saya merasa teraniaya ketika tanpa sebab apapun tiba-tiba semua kesalahan berada dipihak saya? sementara saya sendiri gak pernah tau apa yang sebenarnya menjadikan saya terlibat dalam babak ini? salahkan saya kalau kemudian saya berontak dan berteriak lantang bahwa saya tidak ingin diperlakukan seperti itu lagi? apakah salah kalau kemudian saya mencoba untuk membela diri saya sendiri, sementara sebenarnya saya tau bahwa saya tidak perlu melakukan itu karna memang saya tak perlu membela diri atas sengketa yang saya tak tau ujung sebabnya. salahkah saya temans?
waktu, sepertinya senantiasa bersekutu dengan saya untuk selanjutnya berseteru dalam lakon yang kelak akan saya mainkan. saya semakin merasa tidak bernyawa lagi tatkala sebagian waktu saya tersita untuk memikirkan hal-hal diluar diri saya sendiri. saya merasa tak memiliki nyali untuk menjadikan hidup saya sendiri sebuah prioritas.adakalanya, saya bahkan takut untuk bercermin. dimana didepan sana, saya melihat bayangan saya sendiri sedang menyeringai kesakitan atau tertawa terbahak-bahak.
dunia tak akan pernah menunggu. datang atau tidaknya saya, permainan akan tetap berjalan.
apa yang ingin saya ulas kali ini? gak ada. maaf kalo mengecewakan kalian. tapi sungguh saya memang lagi gak pengen bahas apapun kali ini. saya cuma ingin nulis aja. tanpa tema dan tanpa subjek atau objek terfokus. dimulai dari mana-mana. bisa dari saya, sekeliling saya atau bahkan mungkin bisa saja dari kalian. saya sendiri belum tau apa yang akan saya tulis setelah ini.
hidup itu emang perspeksi ya temans. sakitnya, senangnya, kuatnya, lemahnya. semuanya itu cuma perspeksi aja. gimana cara kita memandang, dan menanggapi. selain itu ya semuanya datar-datar aja. sama kayak momentum. dia akan jadi momentum ya saat kejadian itu tengah berlangsung. setelahnya? ya cuma bakal jadi kenangan atau masa lalu, meskipun jelas baru semenit atau bahkan sedetik yang lalu. itulah sebabnya, pergunakan momentum sebaik mungkin. karna penyesalan ada di akhir kan *klise* kalo yang diawal itu namanya pendaftaran.
dalam beberapa hari ini, saya terpaksa melakukan unfollow pada beberapa followers saya. banyak hal yang melandasinya. salah satunya adalah menyelamatkan hati saya sendiri. saya ini mengidap liver akut. saking seringnya sakit hati sampe mungkin udah item kali warnanya. sejujurnya, saya percaya semua itu gak lepas dari apa yang saya lakukan pula. saya gak mungkin sakit hati kalau saya gak mainan hati kan? yeay, artinya lagi, saya emang terlampau sering main pake hati. jadinya ya begitulah. saya bahkan kadang ngerasa terlampau dramatis menilai sesuatu. kadang cuek. entahlah. prinsip, saya ini cuma ingin mengalir. hari dan hidup yang bermuara pada sebuah kewajaran. itu saja.
temans, salah gak sih kalau saya marah karna merasa dipermainkan? ketika saya melakoni satu babak dan menjalani komitmen dengan babak tersebut, kemudian mati-matian menjaga komitmen tersebut hingga hancur-hancuran untuk selanjutnya justru dijadikan kambing hitam. salahkah saya merasa teraniaya ketika tanpa sebab apapun tiba-tiba semua kesalahan berada dipihak saya? sementara saya sendiri gak pernah tau apa yang sebenarnya menjadikan saya terlibat dalam babak ini? salahkan saya kalau kemudian saya berontak dan berteriak lantang bahwa saya tidak ingin diperlakukan seperti itu lagi? apakah salah kalau kemudian saya mencoba untuk membela diri saya sendiri, sementara sebenarnya saya tau bahwa saya tidak perlu melakukan itu karna memang saya tak perlu membela diri atas sengketa yang saya tak tau ujung sebabnya. salahkah saya temans?
waktu, sepertinya senantiasa bersekutu dengan saya untuk selanjutnya berseteru dalam lakon yang kelak akan saya mainkan. saya semakin merasa tidak bernyawa lagi tatkala sebagian waktu saya tersita untuk memikirkan hal-hal diluar diri saya sendiri. saya merasa tak memiliki nyali untuk menjadikan hidup saya sendiri sebuah prioritas.adakalanya, saya bahkan takut untuk bercermin. dimana didepan sana, saya melihat bayangan saya sendiri sedang menyeringai kesakitan atau tertawa terbahak-bahak.
dunia tak akan pernah menunggu. datang atau tidaknya saya, permainan akan tetap berjalan.
Kamis, 19 April 2012
menuju tamatnya Kinasih dan Begras
pagi kawans. saya mau menyelesaikan babak kisah Kinasih dan Begras hari ini. masih saya racik dan saya formulasikan dengan part 1. masih saya utak atik ini. sabar yah, mungkin sore atau malam baru bisa saya posting.
dibalik berakhirnya Kinasih dan Begras, saya mau cerita satu hal sama kalian kawans, kalau yang namanya hubungan itu gak ada yang abadi. yang abadi itu kisah. yang bisa kita inget sampe nanti kita turunin itu kisah ke anak cucu kita. kisah bisa dramatis,mencekam,tragis atau komedi. terserah kita mau menurunkan kisah seperti apa ke keturunan kita kelak. tapi satu hal yang harus kalian tau, gak semua orang bisa menciptakan kisah yang bisa dikenang dan abadi. gak semua orang.
udah seminggu ini saya lagi banyak job diluar pekerjaan menulis. job nya adalah ngerawat hati banyak orang. pekerjaan itu sebenernya berbiaya mahal, tapi siapapun tau, saking mahalnya pekerjaan itu sampe gak ada yang bisa bayar. saya harus ngerawat hati mantan pacar saya, ngerawat hati pacarnya mantan saya itu, ngerawat hati orang terdekat saya, ngerawat hati sahabat saya, ngerawat hati pacarnya sahabat saya. semua orang minta dirawat hatinya. saya diminta untuk mengerti kesakitan pacarnya mantan saya, dipaksa untuk memahami dan melupakan sakitnya saya sendiri. saya diminta untuk menjaga seorang sahabat oleh pacarnya, merawat . pertanyaannya, kapan saya merawat hati saya sendiri? kalau aja ini matematis, mungkin saya bahkan udah gak punya angka untuk hati saya sendiri. tapi mungkin juga, melalui merawat hati banyak orang ini saya akhirnya secara tidak langsung merawat hati saya sendiri. mungkin aja kan?
kadang kita itu suka bertindak gak lihat sekeliling. saya sering banget gitu. kalau saya galau, saya bisa langsung aja pergi ninggalin suatu tempat tanpa saya inget apa-apa lagi. padahal mungkin aja ada temen saya yang lagi pengen ngomong disitu. bahkan kemarin, saking saya galaunya saya sampe di telpon sama bos saya dan dibilang " udah, kamu ke sini deh. emang kamu aja yang punya masalah" hehehehe. saya langsung mikir, parah yah yang namanya perasaan itu. bikin kita gak bisa ngatur hidup pake logika.
dulu waktu saya masih SMU, saya pernah punya pacar. terus ceritanya dia selingkuh sama cewe lain. saya marah, tapi terus pacar saya balik ke saya sih. nah, beberapa waktu setelah kejadian itu saya lebih ketat mengawasi pacar saya dan selingkuhannya sekalis. saya sempat mengetahui kalau mereka pernah beberapa kali jalan bareng lagi. saya spontan langsung telpon si cewe selingkuhannya itu dong. minta dia jangan ganggu pacar saya lagi. waktu itu emosi saya meledak-ledak banget. tapi sekarang kalau inget kejadian itu saya jadi malu sendiri, saya itu dulu tolol banget yah. saya sakit hati atas kelakuan dua orang itu dan saya marahin salah satunya tanpa tau atau bertanya dulu apa yang sebenernya terjadi. saya merasa saya itu yang paling tersakiti,gak ada orang lain lagi yang lebih sakit dari saya. dan saya menjatuhkan tanggung jawab untuk merawat kesakitan hati saya itu pada si perempuan selingkuhan pacar saya itu. serius konyol, dan tolol.
yang bisa mengatur perasaan kita itu cuma diri kita sendiri. yang mengatur pemberian cinta itu Tuhan. jad kalau saya mencaci cinta orang lain yang jatuh tidak pada saya, artinya saya mencaci pengaturan Tuhan pada mahluknya. dan saya sedih menyadari itu terlambat. tapi bersyukurlah saya diberi pemahaman itu, artinya saya masih bisa membenahi diri.
oiya, Kinasih dan Begras itu konsepnya flashback yak. jadi kalau nanti saya bikin part terakhirnya, kalian tetep harus baca part 1 lagi. karna ending yang sesungguhnya justru ada di part 1 itu. oke kawans, sampai sore nanti untuk membaca berakhirnya Kinasih dan Begras. thanks a lot udah menyimak kisah itu dari awal. see u guys.
dibalik berakhirnya Kinasih dan Begras, saya mau cerita satu hal sama kalian kawans, kalau yang namanya hubungan itu gak ada yang abadi. yang abadi itu kisah. yang bisa kita inget sampe nanti kita turunin itu kisah ke anak cucu kita. kisah bisa dramatis,mencekam,tragis atau komedi. terserah kita mau menurunkan kisah seperti apa ke keturunan kita kelak. tapi satu hal yang harus kalian tau, gak semua orang bisa menciptakan kisah yang bisa dikenang dan abadi. gak semua orang.
udah seminggu ini saya lagi banyak job diluar pekerjaan menulis. job nya adalah ngerawat hati banyak orang. pekerjaan itu sebenernya berbiaya mahal, tapi siapapun tau, saking mahalnya pekerjaan itu sampe gak ada yang bisa bayar. saya harus ngerawat hati mantan pacar saya, ngerawat hati pacarnya mantan saya itu, ngerawat hati orang terdekat saya, ngerawat hati sahabat saya, ngerawat hati pacarnya sahabat saya. semua orang minta dirawat hatinya. saya diminta untuk mengerti kesakitan pacarnya mantan saya, dipaksa untuk memahami dan melupakan sakitnya saya sendiri. saya diminta untuk menjaga seorang sahabat oleh pacarnya, merawat . pertanyaannya, kapan saya merawat hati saya sendiri? kalau aja ini matematis, mungkin saya bahkan udah gak punya angka untuk hati saya sendiri. tapi mungkin juga, melalui merawat hati banyak orang ini saya akhirnya secara tidak langsung merawat hati saya sendiri. mungkin aja kan?
kadang kita itu suka bertindak gak lihat sekeliling. saya sering banget gitu. kalau saya galau, saya bisa langsung aja pergi ninggalin suatu tempat tanpa saya inget apa-apa lagi. padahal mungkin aja ada temen saya yang lagi pengen ngomong disitu. bahkan kemarin, saking saya galaunya saya sampe di telpon sama bos saya dan dibilang " udah, kamu ke sini deh. emang kamu aja yang punya masalah" hehehehe. saya langsung mikir, parah yah yang namanya perasaan itu. bikin kita gak bisa ngatur hidup pake logika.
dulu waktu saya masih SMU, saya pernah punya pacar. terus ceritanya dia selingkuh sama cewe lain. saya marah, tapi terus pacar saya balik ke saya sih. nah, beberapa waktu setelah kejadian itu saya lebih ketat mengawasi pacar saya dan selingkuhannya sekalis. saya sempat mengetahui kalau mereka pernah beberapa kali jalan bareng lagi. saya spontan langsung telpon si cewe selingkuhannya itu dong. minta dia jangan ganggu pacar saya lagi. waktu itu emosi saya meledak-ledak banget. tapi sekarang kalau inget kejadian itu saya jadi malu sendiri, saya itu dulu tolol banget yah. saya sakit hati atas kelakuan dua orang itu dan saya marahin salah satunya tanpa tau atau bertanya dulu apa yang sebenernya terjadi. saya merasa saya itu yang paling tersakiti,gak ada orang lain lagi yang lebih sakit dari saya. dan saya menjatuhkan tanggung jawab untuk merawat kesakitan hati saya itu pada si perempuan selingkuhan pacar saya itu. serius konyol, dan tolol.
yang bisa mengatur perasaan kita itu cuma diri kita sendiri. yang mengatur pemberian cinta itu Tuhan. jad kalau saya mencaci cinta orang lain yang jatuh tidak pada saya, artinya saya mencaci pengaturan Tuhan pada mahluknya. dan saya sedih menyadari itu terlambat. tapi bersyukurlah saya diberi pemahaman itu, artinya saya masih bisa membenahi diri.
oiya, Kinasih dan Begras itu konsepnya flashback yak. jadi kalau nanti saya bikin part terakhirnya, kalian tetep harus baca part 1 lagi. karna ending yang sesungguhnya justru ada di part 1 itu. oke kawans, sampai sore nanti untuk membaca berakhirnya Kinasih dan Begras. thanks a lot udah menyimak kisah itu dari awal. see u guys.
Senin, 16 April 2012
kisah harus ada ujungnya.
saya punya naskah yang belum selesai !
pagi temans, ini pagi mata saya bengkak. bukan habis nangis, tapi karna saya belom tidur 4 hari. mata udah berasa fitnes angkat beban. beraaaaattttsssss banget.
di blog ini saya punya cerita yang belum selesai. Yap. Kinasih dan Begras belum saya sentuh lagi. belum dapet Mood dan feel untuk menyelesaikannya. masih malas dan gak berselera dengan kisah buatan saya sendiri. kadang saya bisa jatuh cinta beneran sama karakter yang saya bikin, mengaguminya sampe saya bisa dengan cepat menyelesaikan kisahnya. tapi kadang saya bisa dongkol setengah idup sama itu tokoh, dan membiarkannya mengambang tanpa kejelasan kapan akan selesai. saya ini agak ababil memang, meskipun saya jelas bukan ABG lagi. hehehehe
saya memang yang membuat cerita dan karakter tokohnya. saya pula yang menciptakan alur dan setiap adengannya. saya yang menulis. jadi memang terserah saya mau diapakan cerita saya itu. tapi kawans, saya selalu mencoba untuk berdemokrasi dengan tulisan sendiri. setiap kali saya menulis saya selalu membiarkan jari saya bicara dan bergerak sendiri. dan cerita muncul saja tanpa tau akan dibawa kemana. itulah kelemahan saya. konsep agung kepenulisan bernama kerangka karangan menjadi mentah sementah-mentahnya ditangan saya. pernah saya ditanya oleh seorang teman " akhirnya mau gimana itu cerita ?" saya melongo. gak tau, saya beneran gak tau mau seperti apa cerita yang saya buat itu. meskipun ini adalah konsep yang salah, tapi entah mengapa saya selalu menyelesaikan semua cerita dengan baik dan memuaskan.
kecuali satu cerita ini; Kinasih dan Begras .
Kinasih dan Begras adalah kisah tanpa ujung buat saya. saya menjadi merasa tak memiliki kedekatan apapun lagi dengan kedua tokoh itu. meskipun banyak pengunjung blog setia saya mulai kirim pesan dan meminta kelanjutan kisah itu, saya tetep diam. saya bukan cuma malas. tapi juga sudah apatis dengan cerita itu. ah, nantilah kalau saya memang mendapatkan ilham untuk melanjutkannya.
tapi, kemarin,seharian saya ngobrol dengan seorang penulis besar yang tidak lain tidak bukan adalah guru menulis skenario saya. saya dinasehati banyak hal. banyak sekali. dan saya tau salah satunya dia ingin saya merampungkan setiap kisah yang sudah saya ciptakan. dan saya tiba-tiba mendapat pencerahan. itu kayak ada bohlam dengan kekuatan 1000watt mampir dimata saya. silau dan bening. saya harus menyelesaikan kisah itu. dan akan saya selesaikan.
jadi, kawans. mulai besok akan muncul lagi serial Kinasih dan Begras di blog ini. saya minta maaf atas kemalasan saya melanjutkan kisah itu. dan saya akan menebusnya mulai besok. dan kalau ternyata saya tak punya lagi esok hari, maka cukuplah niat saya kalian ketahui. hehehehe
caoooooooo !!!!!!
pagi temans, ini pagi mata saya bengkak. bukan habis nangis, tapi karna saya belom tidur 4 hari. mata udah berasa fitnes angkat beban. beraaaaattttsssss banget.
di blog ini saya punya cerita yang belum selesai. Yap. Kinasih dan Begras belum saya sentuh lagi. belum dapet Mood dan feel untuk menyelesaikannya. masih malas dan gak berselera dengan kisah buatan saya sendiri. kadang saya bisa jatuh cinta beneran sama karakter yang saya bikin, mengaguminya sampe saya bisa dengan cepat menyelesaikan kisahnya. tapi kadang saya bisa dongkol setengah idup sama itu tokoh, dan membiarkannya mengambang tanpa kejelasan kapan akan selesai. saya ini agak ababil memang, meskipun saya jelas bukan ABG lagi. hehehehe
saya memang yang membuat cerita dan karakter tokohnya. saya pula yang menciptakan alur dan setiap adengannya. saya yang menulis. jadi memang terserah saya mau diapakan cerita saya itu. tapi kawans, saya selalu mencoba untuk berdemokrasi dengan tulisan sendiri. setiap kali saya menulis saya selalu membiarkan jari saya bicara dan bergerak sendiri. dan cerita muncul saja tanpa tau akan dibawa kemana. itulah kelemahan saya. konsep agung kepenulisan bernama kerangka karangan menjadi mentah sementah-mentahnya ditangan saya. pernah saya ditanya oleh seorang teman " akhirnya mau gimana itu cerita ?" saya melongo. gak tau, saya beneran gak tau mau seperti apa cerita yang saya buat itu. meskipun ini adalah konsep yang salah, tapi entah mengapa saya selalu menyelesaikan semua cerita dengan baik dan memuaskan.
kecuali satu cerita ini; Kinasih dan Begras .
Kinasih dan Begras adalah kisah tanpa ujung buat saya. saya menjadi merasa tak memiliki kedekatan apapun lagi dengan kedua tokoh itu. meskipun banyak pengunjung blog setia saya mulai kirim pesan dan meminta kelanjutan kisah itu, saya tetep diam. saya bukan cuma malas. tapi juga sudah apatis dengan cerita itu. ah, nantilah kalau saya memang mendapatkan ilham untuk melanjutkannya.
tapi, kemarin,seharian saya ngobrol dengan seorang penulis besar yang tidak lain tidak bukan adalah guru menulis skenario saya. saya dinasehati banyak hal. banyak sekali. dan saya tau salah satunya dia ingin saya merampungkan setiap kisah yang sudah saya ciptakan. dan saya tiba-tiba mendapat pencerahan. itu kayak ada bohlam dengan kekuatan 1000watt mampir dimata saya. silau dan bening. saya harus menyelesaikan kisah itu. dan akan saya selesaikan.
jadi, kawans. mulai besok akan muncul lagi serial Kinasih dan Begras di blog ini. saya minta maaf atas kemalasan saya melanjutkan kisah itu. dan saya akan menebusnya mulai besok. dan kalau ternyata saya tak punya lagi esok hari, maka cukuplah niat saya kalian ketahui. hehehehe
caoooooooo !!!!!!
Jumat, 13 April 2012
NON ELASTIS
week end lagi. selamat liburan !!! :p
beberapa hari ini saya lagi bertebaran dimana-mana.kadang di jaktim, kadang di depok, kadang di bogor, kadang di jakpus. pokoknya dimana-mana deh. dan itu saya semua, gak ada yang kloningan saya. asli itu saya semua. hehehehe
apa pasal saya lari kesana-sini. tidak lain tidak bukan adalah menggedor inspirasi. saya kehilangan ide dan saya kalang kabut mencarinya. walau akhirnya kelar juga dan saya puas. tapi proses menemukannya saya bilang agak gila. tapi bukan itu inti dari postingan saya kali ini. postingan saya kali ini adalah kekerasan hati. lebih tepatnya kita akan membicarakan sifat-sifat jelek saya. hiks.
saya dulu pernah bilang kan kalo saya ini tipe perempuan perfecsionis. dan ini penyakit yang saya paling benci. karna akhirnya jadi menyiksa diri saya sendiri. saya aware dengan hal yang orang lain gak aware. saya akhirnya kan jadi pusing sendiri. contoh gampangnya gini. dulu waktu jaman masih kuliah, saya sering bikin pagelaran. sempet saya bikin pagelaran rampak perkusi. kita latian ada sekitar 2 bulan. minggu-minggu terakhir ada notasi yang menurut saya miss sama beberapa alat. sebenernya cuma durasi sektar 3 detik. penonton pun gak akan tau. tapi buat saya itu penting. saya pusing mikirin gimana menyiasati notasi 3 detik itu. padahal pemain perkusi udah siap dengan notasi itu. kata temen saya yang ikutan garap " yaudah gak papa, toh gak keliatan banget" tapi gak, buat saya itu harus dirubah. wajib. dan jadilah saya gak tidur 2 malem cuma buat nyari notasi pengganti. nah itu baru contoh yang paling ringan. masih banyak hal lain yang jauh lebih rumit dari itu. tapi lagi-lagi, bukan itu topik yang akan kita bicarakan disini.
sifat jelek saya yang lain adalah : Tidak elastis. kaku. gak bisa kompromi. ini yang akan kita bahas.
saya ini kalo udah bilang A ya A. gak bisa tuh berubah. mau lapisan kerak bumi bergeser juga saya tetep A. gak bisa jadi B atau C. sulit sekali. dan saya bakalan total banget melakukannya. contohnya gini deh, misal saya pacaran yah, saya bakalan jagain itu komitmen meskipun hubungan udah gak sehat sekalipun. saya gak bakalan pernah mutusin apapun yang terjadi, meskipun saya sendiri udah berdarah-darah dan kesakitan. saya bakalan tetep stay dan jagain komitmen itu. gimanapun caranya. sampai kemudian pacar saya yang mutusin saya, baru deh saya lepas itu komitmen.
gampangannya gini deh, saya itu kalo mau baik bakalan baik sekalian. meskipun kebaikan saya bakalan di salah gunakan, saya gak bakalan berubah. baik, ya sampe habis bakalan baik. tapi kalo udah memutuskan buat jahat, saya juga bakalan total. saya bakalan jadi raja tega. mau orang itu sampe nyembah-nyembah dan jungkir balik didepan saya juga saya bakalan tetep jahat. gak ada ruang untuk kompromi dalam hidup saya. saya beneran gak bisa kondisional. itu masalahnya
karna itulah saya memerlukan seseorang yang bisa jadi rem untuk saya. harus ada yang membuat saya sadar selalu. tetap ingat.
sifat saya yang satu ini beneran bikin saya sulit sendiri. kayak semalem, saya ketemu 'teman lama' yang sempat jadi orang dekat saya. pada masanya, saya jadikan dia prioritas. kenyamanannya faktor utama yang harus saya perhatikan. tapi kemudian karna suatu hal, saya harus mempu untuk merubah hal itu. dan seperti yang saya bilang diatas, saya bakalan total. dan pada akhirnya, kenyamanan dia bagi saya hal yang gak terpikirkan sama sekali, bahkan melintas pun gak ada. saya lihat diri sendiri semalam, kenapa saya bisa ya jadi begitu acuh sama dia, padahal dia sempat saya jadikan hal yang paling penting dalam hidup saya. kenapa saya bisa ya berubah begini tanpa menyisakan sedikitpun rasa kompromi. saya khawatir, hati saya ternyata sudah mati sampe saya benar-benar gak siap untuk berkompromi.
bagi saya ketegasan itu harus dimulai dari semua aspek. yang besar maupun yang kecil. ketegasan itu juga menuntut sebuah totalitas. tidak ada kata LUMAYAN dalam sebuah totalitas. lumayan baik atau lumayan jahat hanya akan menjadikan ketegasan sebuah hal yang tidak nyata.
semoga ini bukan penyakit berbahaya. dan jikapun ini penyakit berbahaya, semoga ada yang tau apa obatnya.
beberapa hari ini saya lagi bertebaran dimana-mana.kadang di jaktim, kadang di depok, kadang di bogor, kadang di jakpus. pokoknya dimana-mana deh. dan itu saya semua, gak ada yang kloningan saya. asli itu saya semua. hehehehe
apa pasal saya lari kesana-sini. tidak lain tidak bukan adalah menggedor inspirasi. saya kehilangan ide dan saya kalang kabut mencarinya. walau akhirnya kelar juga dan saya puas. tapi proses menemukannya saya bilang agak gila. tapi bukan itu inti dari postingan saya kali ini. postingan saya kali ini adalah kekerasan hati. lebih tepatnya kita akan membicarakan sifat-sifat jelek saya. hiks.
saya dulu pernah bilang kan kalo saya ini tipe perempuan perfecsionis. dan ini penyakit yang saya paling benci. karna akhirnya jadi menyiksa diri saya sendiri. saya aware dengan hal yang orang lain gak aware. saya akhirnya kan jadi pusing sendiri. contoh gampangnya gini. dulu waktu jaman masih kuliah, saya sering bikin pagelaran. sempet saya bikin pagelaran rampak perkusi. kita latian ada sekitar 2 bulan. minggu-minggu terakhir ada notasi yang menurut saya miss sama beberapa alat. sebenernya cuma durasi sektar 3 detik. penonton pun gak akan tau. tapi buat saya itu penting. saya pusing mikirin gimana menyiasati notasi 3 detik itu. padahal pemain perkusi udah siap dengan notasi itu. kata temen saya yang ikutan garap " yaudah gak papa, toh gak keliatan banget" tapi gak, buat saya itu harus dirubah. wajib. dan jadilah saya gak tidur 2 malem cuma buat nyari notasi pengganti. nah itu baru contoh yang paling ringan. masih banyak hal lain yang jauh lebih rumit dari itu. tapi lagi-lagi, bukan itu topik yang akan kita bicarakan disini.
sifat jelek saya yang lain adalah : Tidak elastis. kaku. gak bisa kompromi. ini yang akan kita bahas.
saya ini kalo udah bilang A ya A. gak bisa tuh berubah. mau lapisan kerak bumi bergeser juga saya tetep A. gak bisa jadi B atau C. sulit sekali. dan saya bakalan total banget melakukannya. contohnya gini deh, misal saya pacaran yah, saya bakalan jagain itu komitmen meskipun hubungan udah gak sehat sekalipun. saya gak bakalan pernah mutusin apapun yang terjadi, meskipun saya sendiri udah berdarah-darah dan kesakitan. saya bakalan tetep stay dan jagain komitmen itu. gimanapun caranya. sampai kemudian pacar saya yang mutusin saya, baru deh saya lepas itu komitmen.
gampangannya gini deh, saya itu kalo mau baik bakalan baik sekalian. meskipun kebaikan saya bakalan di salah gunakan, saya gak bakalan berubah. baik, ya sampe habis bakalan baik. tapi kalo udah memutuskan buat jahat, saya juga bakalan total. saya bakalan jadi raja tega. mau orang itu sampe nyembah-nyembah dan jungkir balik didepan saya juga saya bakalan tetep jahat. gak ada ruang untuk kompromi dalam hidup saya. saya beneran gak bisa kondisional. itu masalahnya
karna itulah saya memerlukan seseorang yang bisa jadi rem untuk saya. harus ada yang membuat saya sadar selalu. tetap ingat.
sifat saya yang satu ini beneran bikin saya sulit sendiri. kayak semalem, saya ketemu 'teman lama' yang sempat jadi orang dekat saya. pada masanya, saya jadikan dia prioritas. kenyamanannya faktor utama yang harus saya perhatikan. tapi kemudian karna suatu hal, saya harus mempu untuk merubah hal itu. dan seperti yang saya bilang diatas, saya bakalan total. dan pada akhirnya, kenyamanan dia bagi saya hal yang gak terpikirkan sama sekali, bahkan melintas pun gak ada. saya lihat diri sendiri semalam, kenapa saya bisa ya jadi begitu acuh sama dia, padahal dia sempat saya jadikan hal yang paling penting dalam hidup saya. kenapa saya bisa ya berubah begini tanpa menyisakan sedikitpun rasa kompromi. saya khawatir, hati saya ternyata sudah mati sampe saya benar-benar gak siap untuk berkompromi.
bagi saya ketegasan itu harus dimulai dari semua aspek. yang besar maupun yang kecil. ketegasan itu juga menuntut sebuah totalitas. tidak ada kata LUMAYAN dalam sebuah totalitas. lumayan baik atau lumayan jahat hanya akan menjadikan ketegasan sebuah hal yang tidak nyata.
semoga ini bukan penyakit berbahaya. dan jikapun ini penyakit berbahaya, semoga ada yang tau apa obatnya.
Senin, 09 April 2012
Provider sayang aku malang
siang!!! saya marah.
tau gak kawans. ini saya beneran kesel. setelah pagi tadi saya lewati dengan makan mendoan dan main biola. menulis dan menyelesaikan satu cerita. setelah saya bahagia banget, dan merasa mendoan ,biola dan menulis adalah kesederhanaan pagi yang menakjubkan, ehhhhhh nomer hp saya RUSAK !!!! saya gak bisa komunikasi sama siapa-siapa. mendadak dunia jadi gelap dan saya bingung harus gimana.
jadi nomer saya itu bisa ditelpon ( meski suaranya kayak didalem gua. ada echonya ), bisa di sms. tapi gak bisa diisi pulsa. coba, bayangkan kawans. pulsa saya abis total dan pas tadi saya mau isi pulsa, counter satu pondok kopi saya puterin dan gak ada satupun yang bisa ngisi pulsa ke nomer saya. padahal ke nomer laindengan provider yang sama bisa. dianak tirikan banget kan saya ini. #sedih#
padahal, hari ini saya ada janji sama 3 orang. dan itu saya semalem bilang sama ketiganya kalo mereka nunggu saya yang kasih kabar. trus sekarang pulsa saya abis dan saya gak bisa isi, gimana saya mau kasih kabar? lewat wartel? hari gini emang masih ada wartel yang buka?
waktu saya bilang ini sama temen saya ( dan jawaban dia bikin saya pengen ngacak-ngacak dan jadiin dia abon ) temen saya itu bilang " udeh, ntu nomer emang banyakan maksiatnya, elo ganti aja ". ebuseeetttt, dipikirnya ini nomer gak krusial kali. ini nomer saya tuh, presiden obama aja nyimpen tauk !!! #marahgakmasukakal#
dulu sempet kejadian gini juga, cuma lebih parah. waktu itu nomer itu saya taroh di HP Blackberry, nah itu bisa yah mulai dari sms, telpon, BBM sama beberapa aplikasi lain gak jalan sama sekali. temen satu kantor ngomel-ngomel karna saya sama sekali gak bisa dihubungin. padahal, kerjaan saya itu kan unschedule ya, jadi saya emang berangkat ke kantor tuh nunggu calling dr orang kantor. nah, saya yang gak ngeh kalo nomer saya ngambek kan jadi santai-santai sepanjang hari dong. gak ada telpon, sms dan BBM gitu. saya bahagia banget itu. dirumah saya males-malesan. baca komik, nonton film dan banyak hal konyol lain. tapi saudara, sampe sore sama sekali itu hp saya gak bunyi baru tuh saya curiga. kalo emang gak ada kabar dari kantor kenapa beneran sepi ini hp? saya buka-buka dong. saya coba ping sana sini, coba buka Fb, buka twitter, telpon, sms. dan hasilnya, semua gagal. mulailah hari indah saya pindah ke neraka. saya panik, langsung buka laptop, nyambung wifii dan terhamparlah makian semua temen di inbok fb dan akun twitter saya. sadarlah saya, provider satu itu membuat saya dijadikan bulan-bulanan rekan kantor.
setelah kejadian itu saya kapok naroh nomer manja saya itu di Blackberry. saya pake provider lain yang konon katanya lebih yahud. tapi berhubung nomer manja itu adalah nomer semua umat ( dari sabang sampe merauke kalo hubungin saya ya ke nomer itu ) maka dengan sangat menyesal saya gak bisa buang nomer itu. jadilah saya bersekutu dengan keduanya. nah, setelah cinta saya sama provider yahud yang satu lagi kandas karna ada tukang copet jahanam ngambil Blackberry saya, mau gak mau saya memang harus kembali jalan sendiri dengan nomer yang unyu-unyu nan manja itu. dan hari ini, kembali lagi saudara, saya dikecewakan provider itu.
saran temen saya yang satunya lagi lebih berbobot " lo telpon aja ke call center nya " . saya ikutin tuh saran kedua itu. apa yang terjadi ? saya langsung pengen ngacak-ngacak rumah. jawaban dari custemer servicenya itu indah banget loh : " maaf mbak, ini memang jaringan kami sedang dalam perbaikan demi meningkatkan kualitas. mohon maaf atas ketidak nyamanan anda " saya cengo dong dengernya, saya bales tuh mbak bersuara syahdu, saya bilang kalo cuma nomer saya aja yang gak bisa isi pulsa. nomer lain di provider ini bisa. saya liat sendiri tadi di counter. eh, itu mbak nyolot dan jawab kalo semua yang pake provider ini lagi gak bisa isi pulsa. terus langsung ditutup. saya shock. untung aja saya orang yang gak pendendam, coba kalo saya dendam itu mbak-mbak pasti udah saya santet lewat sms.
dan akhirnya saya putuskan untuk duduk. diam. dan menulis. yah semoga Tuhan kasih hidayah sama provider kesayangan saya itu, untuk mengembalikan kebahagiaan saya. saya bener-bener harus isi pulsa ini. dan buat kalian yang hari ini ada janji ketemu saya, si Kembar ganteng itu terutama. maaf ya, saya canceled. dari pada nanti saya ngacak-ngacak kalian berdua jadi abon.
tau gak kawans. ini saya beneran kesel. setelah pagi tadi saya lewati dengan makan mendoan dan main biola. menulis dan menyelesaikan satu cerita. setelah saya bahagia banget, dan merasa mendoan ,biola dan menulis adalah kesederhanaan pagi yang menakjubkan, ehhhhhh nomer hp saya RUSAK !!!! saya gak bisa komunikasi sama siapa-siapa. mendadak dunia jadi gelap dan saya bingung harus gimana.
jadi nomer saya itu bisa ditelpon ( meski suaranya kayak didalem gua. ada echonya ), bisa di sms. tapi gak bisa diisi pulsa. coba, bayangkan kawans. pulsa saya abis total dan pas tadi saya mau isi pulsa, counter satu pondok kopi saya puterin dan gak ada satupun yang bisa ngisi pulsa ke nomer saya. padahal ke nomer laindengan provider yang sama bisa. dianak tirikan banget kan saya ini. #sedih#
padahal, hari ini saya ada janji sama 3 orang. dan itu saya semalem bilang sama ketiganya kalo mereka nunggu saya yang kasih kabar. trus sekarang pulsa saya abis dan saya gak bisa isi, gimana saya mau kasih kabar? lewat wartel? hari gini emang masih ada wartel yang buka?
waktu saya bilang ini sama temen saya ( dan jawaban dia bikin saya pengen ngacak-ngacak dan jadiin dia abon ) temen saya itu bilang " udeh, ntu nomer emang banyakan maksiatnya, elo ganti aja ". ebuseeetttt, dipikirnya ini nomer gak krusial kali. ini nomer saya tuh, presiden obama aja nyimpen tauk !!! #marahgakmasukakal#
dulu sempet kejadian gini juga, cuma lebih parah. waktu itu nomer itu saya taroh di HP Blackberry, nah itu bisa yah mulai dari sms, telpon, BBM sama beberapa aplikasi lain gak jalan sama sekali. temen satu kantor ngomel-ngomel karna saya sama sekali gak bisa dihubungin. padahal, kerjaan saya itu kan unschedule ya, jadi saya emang berangkat ke kantor tuh nunggu calling dr orang kantor. nah, saya yang gak ngeh kalo nomer saya ngambek kan jadi santai-santai sepanjang hari dong. gak ada telpon, sms dan BBM gitu. saya bahagia banget itu. dirumah saya males-malesan. baca komik, nonton film dan banyak hal konyol lain. tapi saudara, sampe sore sama sekali itu hp saya gak bunyi baru tuh saya curiga. kalo emang gak ada kabar dari kantor kenapa beneran sepi ini hp? saya buka-buka dong. saya coba ping sana sini, coba buka Fb, buka twitter, telpon, sms. dan hasilnya, semua gagal. mulailah hari indah saya pindah ke neraka. saya panik, langsung buka laptop, nyambung wifii dan terhamparlah makian semua temen di inbok fb dan akun twitter saya. sadarlah saya, provider satu itu membuat saya dijadikan bulan-bulanan rekan kantor.
setelah kejadian itu saya kapok naroh nomer manja saya itu di Blackberry. saya pake provider lain yang konon katanya lebih yahud. tapi berhubung nomer manja itu adalah nomer semua umat ( dari sabang sampe merauke kalo hubungin saya ya ke nomer itu ) maka dengan sangat menyesal saya gak bisa buang nomer itu. jadilah saya bersekutu dengan keduanya. nah, setelah cinta saya sama provider yahud yang satu lagi kandas karna ada tukang copet jahanam ngambil Blackberry saya, mau gak mau saya memang harus kembali jalan sendiri dengan nomer yang unyu-unyu nan manja itu. dan hari ini, kembali lagi saudara, saya dikecewakan provider itu.
saran temen saya yang satunya lagi lebih berbobot " lo telpon aja ke call center nya " . saya ikutin tuh saran kedua itu. apa yang terjadi ? saya langsung pengen ngacak-ngacak rumah. jawaban dari custemer servicenya itu indah banget loh : " maaf mbak, ini memang jaringan kami sedang dalam perbaikan demi meningkatkan kualitas. mohon maaf atas ketidak nyamanan anda " saya cengo dong dengernya, saya bales tuh mbak bersuara syahdu, saya bilang kalo cuma nomer saya aja yang gak bisa isi pulsa. nomer lain di provider ini bisa. saya liat sendiri tadi di counter. eh, itu mbak nyolot dan jawab kalo semua yang pake provider ini lagi gak bisa isi pulsa. terus langsung ditutup. saya shock. untung aja saya orang yang gak pendendam, coba kalo saya dendam itu mbak-mbak pasti udah saya santet lewat sms.
dan akhirnya saya putuskan untuk duduk. diam. dan menulis. yah semoga Tuhan kasih hidayah sama provider kesayangan saya itu, untuk mengembalikan kebahagiaan saya. saya bener-bener harus isi pulsa ini. dan buat kalian yang hari ini ada janji ketemu saya, si Kembar ganteng itu terutama. maaf ya, saya canceled. dari pada nanti saya ngacak-ngacak kalian berdua jadi abon.
Minggu, 08 April 2012
si pengojek payung
hallooooowwww, selamat senin pagi. mari semangat agar kita lebih giat. ayo bangun. saatnya bangun hari depan yang terus membaik.
subuh tadi saya sengaja jalan-jalan ke pasar tradisional di daerah penggilingan cakung. pasar kumuh dengan tanah becek karena semalam hujan. lapak-lapak dipenuhi pedangan yang menggelar barang jualannya. teriakan-teriakan bersautan disekitar saya. ada yang menawarkan sayuran, buah-buahan sampai pakaian dalam. variatif memang,dan sangat efektif. mereka berteriak begitu saja tanpa peduli suaranya tenggelam dibalik teriakan orang disebelahnya. suasana ini, sangat saya cintai.
saya mau beli apa disana sepagi itu? gak. hehehehe. saya cuma mau main aja. kepasar tradisional yang becek dan bau? iyap. itu hobi saya. rasanya ada yang bergetar di hati ketika merasakan sensasi tanah becek itu menempel di sol sepatu saya, atau teriakan pedagang cabe yang pekak di telinga, dan barang jualan yang begitu variatif terhampar di mata saya. indra perasa, pendengar dan penglihatan saya dimanjakan disitu. rasanya nikmat sekali berada di pusat rotasi itu tanpa melakukan apapun. hanya diam menikmati suasana yang ada. tanpa perlu ada yang bertanya " ini orang ngapain sih aneh banget " . gak akan ada yang sempat memperhatikanmu karna mereka sibuk dengan hidup mereka di lapak-lapak itu.
tapi pagi ini ada yang istimewa di mata saya. seorang anak lelaki kecil yang kumal membawa payung kucel. berdiri bersender pada dinding sudut pasar. matanya liar menatap orang yang lalu lalang. dan menengadah menataplangit. berharap hujan. dia anak pengojek payung. rezekinya ada diatas langit, dan Tuhan belum menurunkan untuknya karena pagi ini belum turun hujan. saya memperhatikan dia, menerka isi kepalanya. jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi. dan dia masih ada di selasar pasar, menunggu turunnya hujan. saya tertegun. dia harus tau kalau saya telah menikmati aktifitasnya. bahwa saya mengambil moment dalam paginya. refleks saya berjalan, ingin tau dia lebih dekat.
dan saya langsung shock begitu melihat jelas. mukanya hancur. babak belur. matanya memerah lebam dan bibirnya pecah. anak itu seperti habis tertabrak meteor raksasa. terkoyak sana sini. saya beneran kaget, definisi perasaan saya sudah tidak jelas lagi. antara marah, sedih, benci, pengen ngamuk, pengen meluk dan banyak lagi. saya bingung harus melakukan apa. yang akhirnya saya tau, saya menangis. anak itu menoleh bingung, melihat perempuan cengeng di sampingnya membekap mulut erat-erat memperhatikannya. saya makin menangis. dan anak itu makin bingung.
kami duduk berdua di depan pedagang pecel di pojokan pasar. dia makan dengan lahap. mendoan sudah 2 di jejalkan ke mulut pecahnya. saya diam, jadi tak berselera makan.kapan terakhir ada makanan masuk mulutnya? kapan terakhir anak kecil itu bisa makan serakus ini? saya makin tak berselera. menatap anak dengan penderitaan seperti ini, seperti makan 10 butir obat pencahar. bikin mules.
umurnya baru 8th. usia dimana seharusnya dia ada didekapan orang tuanya dan sibuk bermanja. usia dimana harusnya dia ada disekolah dan menyesap semua ilmu pengetahuan. bukannya ada dipasar dan jadi pengojek payung. bukannya berjibaku dengan pengojek payung lain yang lebih dewasa dan para preman yang kerjanya sibuk mukulin dia. bukannya ada didepan saya kelaparan dengan tangan gemetar memakan makanan yang seolah ingin dia simpan untuk perutnya. saya gak tau mau bilang apa lagi. saya terlampau sedih untuk mengatakan bahwa saya ingin memeluknya. tak peduli dia begitu kotor dan kumal. tak peduli tubuhnya bau dan berkeringat. saya hanya ingin memeluknya sebentar saja. memberinya rasa dilindungi meski hanya dalam tataran detik. mengatakan padanya bahwa semua akan menjadi indah untuknya kelak. tapi saya gagu. gagap untuk meminta itu darinya.
saya ingat, sedari kemarin saya hanya sibuk dengan kesakitan saya sendiri. sibuk menyalahkan orang lain yang membuat saya menangis. lalu berteriak-teriak minta dimengerti. tiba-tiba saya merasa rendah didepan anak itu. dia, yang cuma anak kecil tanpa pendidikan apapun itu bisa dengan tabah menerima perlakuan buruk sekitarnya, menahan sakit atas perlakuan nasib padanya, dan terus berjalan dengan tabah dalam penderitaan. dia yang hanya anak kecil, tiba-tiba serasa begitu besar jiwanya dan saya menjadi kerdil karenanya.
setelah selesai makan dia berdiri. mengibas-ngibaskan tangan berminyaknya dan tersenyum diantara pecah bibirnya. saya meringis. seperti ikut merasakan perih di bibir itu. matanya menatap saya dan dia berkata " makasih ya mbak. apa yang bisa saya kerjakan sekarang buat mbak . saya bawakan barang belanjaannya? " saya diam. tergugu menyaksikan pertanyaan polos itu. tanpa banyak bicara saya tarik dia, saya peluk dia erat. dia bingung. mbok penjual pecel bingung. dan beberapa orang lain bingung. cukup begini nak, cukup dengan diam ketika saya peluk. itu telah memberi saya harga mahal yang sangat luar biasa. saya bicara sambil menangis dalam hati. melepaskan pelukan dan berjalan pergi. diiringi tatapan bingung semua orang, saya dapatkan hal baru pagi ini : rasa sakit itu bukan untuk ditolak. tapi dinikmati. makasih ya nak.
subuh tadi saya sengaja jalan-jalan ke pasar tradisional di daerah penggilingan cakung. pasar kumuh dengan tanah becek karena semalam hujan. lapak-lapak dipenuhi pedangan yang menggelar barang jualannya. teriakan-teriakan bersautan disekitar saya. ada yang menawarkan sayuran, buah-buahan sampai pakaian dalam. variatif memang,dan sangat efektif. mereka berteriak begitu saja tanpa peduli suaranya tenggelam dibalik teriakan orang disebelahnya. suasana ini, sangat saya cintai.
saya mau beli apa disana sepagi itu? gak. hehehehe. saya cuma mau main aja. kepasar tradisional yang becek dan bau? iyap. itu hobi saya. rasanya ada yang bergetar di hati ketika merasakan sensasi tanah becek itu menempel di sol sepatu saya, atau teriakan pedagang cabe yang pekak di telinga, dan barang jualan yang begitu variatif terhampar di mata saya. indra perasa, pendengar dan penglihatan saya dimanjakan disitu. rasanya nikmat sekali berada di pusat rotasi itu tanpa melakukan apapun. hanya diam menikmati suasana yang ada. tanpa perlu ada yang bertanya " ini orang ngapain sih aneh banget " . gak akan ada yang sempat memperhatikanmu karna mereka sibuk dengan hidup mereka di lapak-lapak itu.
tapi pagi ini ada yang istimewa di mata saya. seorang anak lelaki kecil yang kumal membawa payung kucel. berdiri bersender pada dinding sudut pasar. matanya liar menatap orang yang lalu lalang. dan menengadah menataplangit. berharap hujan. dia anak pengojek payung. rezekinya ada diatas langit, dan Tuhan belum menurunkan untuknya karena pagi ini belum turun hujan. saya memperhatikan dia, menerka isi kepalanya. jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi. dan dia masih ada di selasar pasar, menunggu turunnya hujan. saya tertegun. dia harus tau kalau saya telah menikmati aktifitasnya. bahwa saya mengambil moment dalam paginya. refleks saya berjalan, ingin tau dia lebih dekat.
dan saya langsung shock begitu melihat jelas. mukanya hancur. babak belur. matanya memerah lebam dan bibirnya pecah. anak itu seperti habis tertabrak meteor raksasa. terkoyak sana sini. saya beneran kaget, definisi perasaan saya sudah tidak jelas lagi. antara marah, sedih, benci, pengen ngamuk, pengen meluk dan banyak lagi. saya bingung harus melakukan apa. yang akhirnya saya tau, saya menangis. anak itu menoleh bingung, melihat perempuan cengeng di sampingnya membekap mulut erat-erat memperhatikannya. saya makin menangis. dan anak itu makin bingung.
kami duduk berdua di depan pedagang pecel di pojokan pasar. dia makan dengan lahap. mendoan sudah 2 di jejalkan ke mulut pecahnya. saya diam, jadi tak berselera makan.kapan terakhir ada makanan masuk mulutnya? kapan terakhir anak kecil itu bisa makan serakus ini? saya makin tak berselera. menatap anak dengan penderitaan seperti ini, seperti makan 10 butir obat pencahar. bikin mules.
umurnya baru 8th. usia dimana seharusnya dia ada didekapan orang tuanya dan sibuk bermanja. usia dimana harusnya dia ada disekolah dan menyesap semua ilmu pengetahuan. bukannya ada dipasar dan jadi pengojek payung. bukannya berjibaku dengan pengojek payung lain yang lebih dewasa dan para preman yang kerjanya sibuk mukulin dia. bukannya ada didepan saya kelaparan dengan tangan gemetar memakan makanan yang seolah ingin dia simpan untuk perutnya. saya gak tau mau bilang apa lagi. saya terlampau sedih untuk mengatakan bahwa saya ingin memeluknya. tak peduli dia begitu kotor dan kumal. tak peduli tubuhnya bau dan berkeringat. saya hanya ingin memeluknya sebentar saja. memberinya rasa dilindungi meski hanya dalam tataran detik. mengatakan padanya bahwa semua akan menjadi indah untuknya kelak. tapi saya gagu. gagap untuk meminta itu darinya.
saya ingat, sedari kemarin saya hanya sibuk dengan kesakitan saya sendiri. sibuk menyalahkan orang lain yang membuat saya menangis. lalu berteriak-teriak minta dimengerti. tiba-tiba saya merasa rendah didepan anak itu. dia, yang cuma anak kecil tanpa pendidikan apapun itu bisa dengan tabah menerima perlakuan buruk sekitarnya, menahan sakit atas perlakuan nasib padanya, dan terus berjalan dengan tabah dalam penderitaan. dia yang hanya anak kecil, tiba-tiba serasa begitu besar jiwanya dan saya menjadi kerdil karenanya.
setelah selesai makan dia berdiri. mengibas-ngibaskan tangan berminyaknya dan tersenyum diantara pecah bibirnya. saya meringis. seperti ikut merasakan perih di bibir itu. matanya menatap saya dan dia berkata " makasih ya mbak. apa yang bisa saya kerjakan sekarang buat mbak . saya bawakan barang belanjaannya? " saya diam. tergugu menyaksikan pertanyaan polos itu. tanpa banyak bicara saya tarik dia, saya peluk dia erat. dia bingung. mbok penjual pecel bingung. dan beberapa orang lain bingung. cukup begini nak, cukup dengan diam ketika saya peluk. itu telah memberi saya harga mahal yang sangat luar biasa. saya bicara sambil menangis dalam hati. melepaskan pelukan dan berjalan pergi. diiringi tatapan bingung semua orang, saya dapatkan hal baru pagi ini : rasa sakit itu bukan untuk ditolak. tapi dinikmati. makasih ya nak.
Sabtu, 07 April 2012
Pernikahan bukan Perjanjian .
selamat minggu pagi. selamat liburan. selamat rileksasi. semoga kalian semua bahagia.
postingan kali ini sangat serius. jadi yang berharap hari ini ingin santai dan rileks saya sarankan segera close blog ini dan cari hal lain yang lebih santai. karna kali ini saya beneran mau bahas sesuatu yang serius. yang gak bisa dengan tertawa-tawa kita menemukan solusinya.
PERNIKAHAN. itulah yang akan saya bahas. sebuah lembaga sakral nan agung yang menjadikan dua manusia beda jenis kelamin menjadi halal dalam melakoni kehidupan bersama. Pernikahan itulah yang akan mengikat kita beserta seluruh keluarga kedua belah pihak. mengikat dalam agama, dalam negara, dalam masyarakat, dan dalam hati tentu saja.
setau saya, menikah adalah keputusan bersama berdasarkan azas saling. saling disini bisa bermakna luas. bisa saling mencintai, saling membutuhkan, saling memahami, saling menekan, saling mengancam, saling menguasai, bahkan saling memanfaatkan. konteksnya adalah pernikahan itu sebuah kesepakatan bahwa pasangan itu harus seimbang. tidak ada yang menekan dan tertekan, tidak ada yang untung dan yang rugi. sama. balance. seimbang.bagaimana jika tidak? ya artinya pernikahan hanya menjadi sebuah keputusan satu pihak yang membahayakan pihak lainnya. itu bukan pernikahan namanya, tapi PERJANJIAN.
pagi ini saya mendapati sebuah kasus yang dialami oleh orang terdekat saya. saya gak bisa sebutkan siapa dia dan apa hubungannya dengan saya. bukan hal yang subtansial mengenai hal tersebut. yang akan saya bahas adalah kisahnya. bukan untuk menyebarkan pada semua orang ( tentu saja tidak, karna saya menyayanginya sedemikian rupa ) tapi lebih untuk memberinya sebuah perspektif baru. juga untuk pembelajaran kalian semua. begini kisahnya
yang pertama, pacaran. dimana-mana yang namanya pacaran itu ya pasti ada gejolaknya. jangankan yang jarak jauh , yang deket aja bisa gak percaya kok sama pasangannya. jadi harusnya semua paham disini, menjaga kepercayaan pasangan itu adalah hal utama untuk sebuah hubungan. jauh maupun dekat. nah, kenapa sampai ada selingkuh itu? ya karna kepercayaan kita pada pasangan menurun. mungkin juga karna si orang ketiga itu sinarnya menyilaukan banget. atau mungkin juga karna si pelaku selingkuh itu memang gak bisa menjalani hubungan jarak jauh. fakornya bisa banyak. tapi selingkuh, apapun bentuknya tetap dibutuhkan cinta untuk mengawalinya. dan cinta, tidak pernah datang tanpa permisi.
cinta itu seperti air. dia membutuhkan media yang lebih rendah untuk mengalir. jika suatu saat media itu berubah menjadi landai kemudian datar, maka air itu tidak akan bisa mengalir. dan cinta itu mati. kemudian dibutuhkanlah aliran lain untuk memecah arusnya kembali. agar air itu bisa terjun dan memecah lalu menghasilkan buih. berbusa dan indah kembali. seperti itulah mereka. dan apakah itu salah? saya pikir tidak. salah dan benar bukankah hanya persepsi. dan saya tidak ingin terjebak pada persepsi orang lain tentang mana benar mana salah. saya punya persepsi sendiri, dan inilah persepsi saya : kadang cinta itu datang waktu kita lagi bahagia sama orang lain. datang dengan sendirinya melalui orang yang lain lagi. bisa saja Tuhan menitipkan cinta untuk kita rawat dari orang yang ternyata bukan pasangan kita. atau sebaliknya. cinta itu datangnya dari mana-mana. hanya nafsu memilikilah yang kemudian menjadikan cinta harus datang dari orang yang tepat. dan kita yang tidak mampu membaca hati kita sendiri akan merasa sangat berdosa telah melakukan tindakan biadab dengan mengkhianati pasangan kita. kita lupa, bahwa mengkhianati perasaan sendiri jauh lebih buruk dari sekedar mengkhianati pasangan.
yang kedua, melakukan hubungan intim ketika masih pacaran. itu ZINA. dan zina hukumnya kita semua tau : DOSA. tapi apa ada hak kita untuk mengecam dosa mereka? karna kita juga kan gak pernah tau nantinya mereka dihisab seperti apa? atau jangan-jangan malah mereka sudah diampuni oleh Tuhan? kita gak pernah tau. dan cuma yang sama sekali tidak pernah berbuat dosa, boleh menghakimi dosa orang lain.berhubung saya jelas banyak dosa, maka saya cuma bisa mengatakan maklum pada keduanya. maklum untuk apa? ya untuk gejolak asmara yang meluap sehingga menjadikan mereka sama-sama lupa akan batasan itu. maklum untuk keberanian mereka dalam menempuh jalan hubungan mereka. maklum untuk kesanggupan mereka menghadapi hari hisab esok kelak. maklum untuk semuanya. karna yang mereka butuhkan ketika sadar akan dosa itu adalah dukungan bahwa kita tidak akan pernah menyalahkan tindakan mereka, meskipun juga tidak membenarkan.
yang ketiga, meninggalkan pasangan yang telah kita nodai. wohooooo, sebentar. kalimat itu kok kesannya gimana banget ya.ehm, saya ganti biar sedikit lebih ada nilai keindahannya : meninggalkan seseorang yang telah kita hisap madunya. baiklah,kalimat itu lebih indah meski kesannya jelas lebih menusuk. tak apalah, namanya juga pengandaian.begini kawans, perawan itu penting. tapi bukan yang utama. terkutuklah engkau wahai lelaki jika kalian hanya ingin mendapatkan keperawanan ketika kalian menikahi seorang wanita. sebentar, saya bilang ini bukan karna saya udah janda ya. tapi karna perempuan itu point paling penting bukan apakah dia perawan atau bukan. tapi apakah dia itu ' wanita' atau bukan. wanita dalam tanda kutip itu maknanya maha dahsyat kawans. wanita menjadi pantas dinikahi bukan karna dia perawan, tapi karna dia harus memiliki potensi sebagai perempuan. sebagai wanita yang terhormat. bisa aja itu keperawanan dia serahkan sama seseorang mucikari karna waktu itu dia harus jual keperawanannya untuk biaya pengobatan ayahnya misal. apakah perempuan tidak perawan yang seperti ini disebut bukan wanita terhormat? justru dia sangat terhormat. atau perempuan yang terlampau sering naik sepeda, kemudian keperawanannya terenggut karena jatuh dari sepeda lantas disebut tidak pantas sebagai istri? oh Tuhan, sungguh jika ada lelaki yang berpandangan dangkal seperti itu, maka dia lah yang justru tidak pantas sebagai imam.
lalu dari sisi perempuan itu sendiri. duhai engkau mahluk ciptaan Tuhan yang paling indah. jangan nodai otakmu dengan berfikir sempit bahwa perempuan tidak perawan itu tidak ada harganya. sungguh itu adalah cara berfikir dangkal yang kelak akan membunuh semua perempuan di dunia. okelah, jika kita sebagai perempuan ingin menjaga keperawanan kita untuk suami tercinta kelak, itu saya titip sepuluh jempol buat tipe perempuan seperti itu. tapi, jika ternyata sudah kejadian dan keperawanan kalian telah hilang, maka jangan pernah mengemis-ngemis pada si pria yang telah mengambilnya. karna kalian sungguh tidak pantas mengemis. beda masalah kalau si pria memang lantas bertanggung jawab. tapi kalau sudah terlanjur dia tidak mencintai kita, apakah mau kita tukarkan hidup kita pada pria yang hanya mau menikahi kita karna telah mengambil keperawanan kita.apakah mau kalian tukarkan kebahagiaan kalian pada sebentuk darah berupa tanda keperawanan. tidak !!! setiap wanita berhak bahagia. perawan atau tidak.
ketiga. pernikahan karna paksaan. jadi, ternyata ada yang menekan agar si pria menikahi perempuan itu karna sudah mengambil keperawanannya. Astaghfirulloh.sejak kapan dunia ini menjadi begitu mubazir dengan melahirkan pemikiran-pemikiran ala kaum terisolir dari kecanggihan.sejak kapan ada hukum, baik agama maupun negara yang melahirkan pasal berupa harus menikah karna sudah memerawani seorang gadis? sejak kapan menikah menjadi momok seseorang dan menjadikannya begitu merasa terintimidasi. sejak kapan pernikahan melahirkan kesakitan orang lain? sejak kapan? bilang sama saya sejak kapan? #skala emosi empat kuadrat. hehehehe. sorry, saya jadi tersulut api neraka inih. maaf. kita kembali pada otak yang jernih. dalam hukum negara, gak ada itu pasal yang menuliskan bahwa " bagi pria yang sudah memerawani seorang wanita harus menikahinya. jika tidak akan didenda kurungan dan denda sebesar bla...bla...bla.. " menikah itu kan mandatarisnya langsung ke Allah ya, ke Tuhan kita. bukan ke polisi, bukan ke jaksa agung apalagi ke presiden. ayolah guys, menikahlah karena kalian memang ingin menikah dengan orang tersebut. menikahlah karena kalian ingin bahagia. menikahlah karena kalian merasa yakin bahwa dialah orang yang kalian tunggu selama ini.menikahlah untuk diri kalian sendiri.
pernikahan menjadi tidak sakral lagi jika sudah dibebani macam-macam. termasuk tindakan menekan dan mengancam. saya ikut sedih untuk orang terdekat saya itu. tapi saya percaya, dia akan memutuskan yang terbaik untuk hidupnya. saya percaya dia akan bahagia dengan pilihannya. dan saya percaya dia akan menjadi imam yang baik bagi perempuan yang dinikahinya. perawan atau tidak perempuan tersebut.
akhirnya kawans, marilah kita belajar untuk tidak memandang sesuatu dari perspektif dangkal. jadikan diri kita berharga karna kita memang berharga, bukan karna ada orang yang menghargai kita.
Love ~ me ~
postingan kali ini sangat serius. jadi yang berharap hari ini ingin santai dan rileks saya sarankan segera close blog ini dan cari hal lain yang lebih santai. karna kali ini saya beneran mau bahas sesuatu yang serius. yang gak bisa dengan tertawa-tawa kita menemukan solusinya.
PERNIKAHAN. itulah yang akan saya bahas. sebuah lembaga sakral nan agung yang menjadikan dua manusia beda jenis kelamin menjadi halal dalam melakoni kehidupan bersama. Pernikahan itulah yang akan mengikat kita beserta seluruh keluarga kedua belah pihak. mengikat dalam agama, dalam negara, dalam masyarakat, dan dalam hati tentu saja.
setau saya, menikah adalah keputusan bersama berdasarkan azas saling. saling disini bisa bermakna luas. bisa saling mencintai, saling membutuhkan, saling memahami, saling menekan, saling mengancam, saling menguasai, bahkan saling memanfaatkan. konteksnya adalah pernikahan itu sebuah kesepakatan bahwa pasangan itu harus seimbang. tidak ada yang menekan dan tertekan, tidak ada yang untung dan yang rugi. sama. balance. seimbang.bagaimana jika tidak? ya artinya pernikahan hanya menjadi sebuah keputusan satu pihak yang membahayakan pihak lainnya. itu bukan pernikahan namanya, tapi PERJANJIAN.
pagi ini saya mendapati sebuah kasus yang dialami oleh orang terdekat saya. saya gak bisa sebutkan siapa dia dan apa hubungannya dengan saya. bukan hal yang subtansial mengenai hal tersebut. yang akan saya bahas adalah kisahnya. bukan untuk menyebarkan pada semua orang ( tentu saja tidak, karna saya menyayanginya sedemikian rupa ) tapi lebih untuk memberinya sebuah perspektif baru. juga untuk pembelajaran kalian semua. begini kisahnya
sebut saja orang terdekat saya itu AB. dan kekasihnya CD. AB menjalani LDR ( long distance relationship) dengan CD sudah selama 2 tahun. selama dua tahun itu kisah mereka manis. saling mendukung dan bahagia. gaya pacaran yang mereka ambil adalah sikap dewasa. saking dewasanya, akhirnya mereka terjebak dalam sebuah hubungan yang tidak seharusnya . yap, hubungan suami-istri. karna hal itu akhirnya mereka merasa terikat secara bathin. kemudian suatu hari, AB bertemu perempuan lain di kotanya yang kemudian kita sebut saja EF. keduanya dekat dan merasa memiliki visi yang sama tentang hidup. EF memiliki hal yang menurut AB sangat dibutuhkan dalam hidup AB. dan keduanya saling memiliki secara otomatis. giliran CD kebakaran hati. tentu saja AB bersalah karna hal ini bisa disebut selingkuh. tapi AB berketetapan untuk serius dengan EF. CD bukan perempuan pantang menyerah, dia tak ingin hubungan yang sudah sedemikian jauh itu lepas hanya karna orang ketiga. CD memaksa AB untuk menikahinya sesuai janji AB dulu. dan EF merelakannya. tapi AB sendiri sudah tak yakin akan perasaannya pada CD. kalut jelas, galau itu pasti. tapi akhirnya AB memilih EF dan meninggalkan CD. pada akhirnya apa? CD melaporkan hal ini pada keluarganya, dan salah seorang saudara CD menekan AB untuk selekasnya menikahi CD. akhirnya apa? saya juga belum tau. tapi inilah yang akan kita bahas bersama.
yang pertama, pacaran. dimana-mana yang namanya pacaran itu ya pasti ada gejolaknya. jangankan yang jarak jauh , yang deket aja bisa gak percaya kok sama pasangannya. jadi harusnya semua paham disini, menjaga kepercayaan pasangan itu adalah hal utama untuk sebuah hubungan. jauh maupun dekat. nah, kenapa sampai ada selingkuh itu? ya karna kepercayaan kita pada pasangan menurun. mungkin juga karna si orang ketiga itu sinarnya menyilaukan banget. atau mungkin juga karna si pelaku selingkuh itu memang gak bisa menjalani hubungan jarak jauh. fakornya bisa banyak. tapi selingkuh, apapun bentuknya tetap dibutuhkan cinta untuk mengawalinya. dan cinta, tidak pernah datang tanpa permisi.
cinta itu seperti air. dia membutuhkan media yang lebih rendah untuk mengalir. jika suatu saat media itu berubah menjadi landai kemudian datar, maka air itu tidak akan bisa mengalir. dan cinta itu mati. kemudian dibutuhkanlah aliran lain untuk memecah arusnya kembali. agar air itu bisa terjun dan memecah lalu menghasilkan buih. berbusa dan indah kembali. seperti itulah mereka. dan apakah itu salah? saya pikir tidak. salah dan benar bukankah hanya persepsi. dan saya tidak ingin terjebak pada persepsi orang lain tentang mana benar mana salah. saya punya persepsi sendiri, dan inilah persepsi saya : kadang cinta itu datang waktu kita lagi bahagia sama orang lain. datang dengan sendirinya melalui orang yang lain lagi. bisa saja Tuhan menitipkan cinta untuk kita rawat dari orang yang ternyata bukan pasangan kita. atau sebaliknya. cinta itu datangnya dari mana-mana. hanya nafsu memilikilah yang kemudian menjadikan cinta harus datang dari orang yang tepat. dan kita yang tidak mampu membaca hati kita sendiri akan merasa sangat berdosa telah melakukan tindakan biadab dengan mengkhianati pasangan kita. kita lupa, bahwa mengkhianati perasaan sendiri jauh lebih buruk dari sekedar mengkhianati pasangan.
yang kedua, melakukan hubungan intim ketika masih pacaran. itu ZINA. dan zina hukumnya kita semua tau : DOSA. tapi apa ada hak kita untuk mengecam dosa mereka? karna kita juga kan gak pernah tau nantinya mereka dihisab seperti apa? atau jangan-jangan malah mereka sudah diampuni oleh Tuhan? kita gak pernah tau. dan cuma yang sama sekali tidak pernah berbuat dosa, boleh menghakimi dosa orang lain.berhubung saya jelas banyak dosa, maka saya cuma bisa mengatakan maklum pada keduanya. maklum untuk apa? ya untuk gejolak asmara yang meluap sehingga menjadikan mereka sama-sama lupa akan batasan itu. maklum untuk keberanian mereka dalam menempuh jalan hubungan mereka. maklum untuk kesanggupan mereka menghadapi hari hisab esok kelak. maklum untuk semuanya. karna yang mereka butuhkan ketika sadar akan dosa itu adalah dukungan bahwa kita tidak akan pernah menyalahkan tindakan mereka, meskipun juga tidak membenarkan.
yang ketiga, meninggalkan pasangan yang telah kita nodai. wohooooo, sebentar. kalimat itu kok kesannya gimana banget ya.ehm, saya ganti biar sedikit lebih ada nilai keindahannya : meninggalkan seseorang yang telah kita hisap madunya. baiklah,kalimat itu lebih indah meski kesannya jelas lebih menusuk. tak apalah, namanya juga pengandaian.begini kawans, perawan itu penting. tapi bukan yang utama. terkutuklah engkau wahai lelaki jika kalian hanya ingin mendapatkan keperawanan ketika kalian menikahi seorang wanita. sebentar, saya bilang ini bukan karna saya udah janda ya. tapi karna perempuan itu point paling penting bukan apakah dia perawan atau bukan. tapi apakah dia itu ' wanita' atau bukan. wanita dalam tanda kutip itu maknanya maha dahsyat kawans. wanita menjadi pantas dinikahi bukan karna dia perawan, tapi karna dia harus memiliki potensi sebagai perempuan. sebagai wanita yang terhormat. bisa aja itu keperawanan dia serahkan sama seseorang mucikari karna waktu itu dia harus jual keperawanannya untuk biaya pengobatan ayahnya misal. apakah perempuan tidak perawan yang seperti ini disebut bukan wanita terhormat? justru dia sangat terhormat. atau perempuan yang terlampau sering naik sepeda, kemudian keperawanannya terenggut karena jatuh dari sepeda lantas disebut tidak pantas sebagai istri? oh Tuhan, sungguh jika ada lelaki yang berpandangan dangkal seperti itu, maka dia lah yang justru tidak pantas sebagai imam.
lalu dari sisi perempuan itu sendiri. duhai engkau mahluk ciptaan Tuhan yang paling indah. jangan nodai otakmu dengan berfikir sempit bahwa perempuan tidak perawan itu tidak ada harganya. sungguh itu adalah cara berfikir dangkal yang kelak akan membunuh semua perempuan di dunia. okelah, jika kita sebagai perempuan ingin menjaga keperawanan kita untuk suami tercinta kelak, itu saya titip sepuluh jempol buat tipe perempuan seperti itu. tapi, jika ternyata sudah kejadian dan keperawanan kalian telah hilang, maka jangan pernah mengemis-ngemis pada si pria yang telah mengambilnya. karna kalian sungguh tidak pantas mengemis. beda masalah kalau si pria memang lantas bertanggung jawab. tapi kalau sudah terlanjur dia tidak mencintai kita, apakah mau kita tukarkan hidup kita pada pria yang hanya mau menikahi kita karna telah mengambil keperawanan kita.apakah mau kalian tukarkan kebahagiaan kalian pada sebentuk darah berupa tanda keperawanan. tidak !!! setiap wanita berhak bahagia. perawan atau tidak.
ketiga. pernikahan karna paksaan. jadi, ternyata ada yang menekan agar si pria menikahi perempuan itu karna sudah mengambil keperawanannya. Astaghfirulloh.sejak kapan dunia ini menjadi begitu mubazir dengan melahirkan pemikiran-pemikiran ala kaum terisolir dari kecanggihan.sejak kapan ada hukum, baik agama maupun negara yang melahirkan pasal berupa harus menikah karna sudah memerawani seorang gadis? sejak kapan menikah menjadi momok seseorang dan menjadikannya begitu merasa terintimidasi. sejak kapan pernikahan melahirkan kesakitan orang lain? sejak kapan? bilang sama saya sejak kapan? #skala emosi empat kuadrat. hehehehe. sorry, saya jadi tersulut api neraka inih. maaf. kita kembali pada otak yang jernih. dalam hukum negara, gak ada itu pasal yang menuliskan bahwa " bagi pria yang sudah memerawani seorang wanita harus menikahinya. jika tidak akan didenda kurungan dan denda sebesar bla...bla...bla.. " menikah itu kan mandatarisnya langsung ke Allah ya, ke Tuhan kita. bukan ke polisi, bukan ke jaksa agung apalagi ke presiden. ayolah guys, menikahlah karena kalian memang ingin menikah dengan orang tersebut. menikahlah karena kalian ingin bahagia. menikahlah karena kalian merasa yakin bahwa dialah orang yang kalian tunggu selama ini.menikahlah untuk diri kalian sendiri.
pernikahan menjadi tidak sakral lagi jika sudah dibebani macam-macam. termasuk tindakan menekan dan mengancam. saya ikut sedih untuk orang terdekat saya itu. tapi saya percaya, dia akan memutuskan yang terbaik untuk hidupnya. saya percaya dia akan bahagia dengan pilihannya. dan saya percaya dia akan menjadi imam yang baik bagi perempuan yang dinikahinya. perawan atau tidak perempuan tersebut.
akhirnya kawans, marilah kita belajar untuk tidak memandang sesuatu dari perspektif dangkal. jadikan diri kita berharga karna kita memang berharga, bukan karna ada orang yang menghargai kita.
Love ~ me ~
Langganan:
Postingan (Atom)
