Selasa, 14 Agustus 2012

Abang Ku sayang Abang ku malang.


Saya punya teman yang deket banget.  Saya manggil dia “abang”. Profil abang ini lumayan unik. Dia jurnalis, mantan aktivis, cerdas, face ada di angka 7 dari skala 3-9, multy talent, enak diajak ngobrol dan banyak lagi. Jaman dulu, waktu kita sama-sama masih muda saya sama dia nyaris ‘pacaran’. Kenapa saya bilang nyaris, karna saya hampir aja masuk kedalam jebakan cinta yang dia umbar kemana-mana. Jebakan? Oke, disini cerita akan dimulai.

Saya dan Abang kenal tahun 1998. Waktu itu saya masih SMP dan unyu-unyu banget. Abang ini orang Sukabumi yang merantau ke Purwokerto. Sepupu saya tetanggaan sama dia. Jadilah saya kenal dia dan deket. Seperti profil yang saya jelaskan di alinea sebelumnya, Abang  jelas sosok yang menarik. Saya jelas merasa punya 'sesuatu' kalo ada dideket dia. Tapi syukur saya menyadari ada yang gak asyik dari pribadinya : Dia suka ngumbar hati kemana-mana. Gagal deketin saya dia deketin sepupu saya. Sejak saat itu saya menganggap dia abang, kakak lelaki. Tak lebih.  Saya enggan pake hati ketika berhubungan dengannya. Karna saya tau resiko nya, saya tak ingin terjebak dalam romantika perasaan yang diumbar kemana-mana. Hingga saat ini.

Sampe sekarang saya dan Abang masih berkomunikasi dengan sangat baik. Kita akhirnya justru saling mendukung. Dalam kebaikan dan keburukan. Hahahaha. Artinya, Abang itu bisa dijadikan teman dalam segala hal. Waktu saya nangis, waktu saya happy, bahkan waktu saya pengen jadi gila gara-gara di selingkuhin pacar. Abang ada dan kasih support dengan baik. Saya juga mencoba begitu, saya ingin ada ketika Abang merasa membutuhkan saya. Bahkan disaat orang lain mengecam dan membencinya.

Nah, beberapa hari yang lalu, Abang mendadak galau dan mellow. Dia yang awalnya gak pernah buka twitter mendadak menyapa saya di Timeline. Yang gak pernah aktivin Fb mendadak ngirim saya privat message ( Abang punya semua account jejaring sosial, tapi nyaris tak pernah mengaktivkannya dalam konsep hubungan bilateral.) Saya tau ada yang gak beres. Tapi saya gak mau mendahului. Saya ingin Abang yang menceritakan problem nya sendiri tanpa saya bertanya. Bukan saya gak peduli, tapi justru karna saya mau Abang tau bahwa saya memberinya ruang untuk bernafas. Untuk menghela dan mengumpulkan tenaga setelah lelah.

Abang ada masalah pribadi. Saya tak ingin menginvansi nya sampai dia membuka pintu dan mempersilahkan saya masuk. Tapi sebelum Abang cerita, saya mencoba memahami, mempelajari kegelisahannya yang kebetulan ada di status Fb nya. Buat saya ini amazing. Pria seperti Abang jelas pelan dan tak terburu-buru dalam bersikap. Ketika saya lihat statusnya, saya menyadari banyak hal yang berubah. Abang mendadak frontal dan ekstrovert. Mengumbar masalahnya di jejaring social. Ada apa? Saya jengah. Ini jelas masalah pelik. Dan saya tak ingin terlambat menyikapinya. Akhirnya saya hubungi dia, mencoba membuka pintu ruang privatnya. Dan mengalirlah segala yang dia rasakan. Masalah pelik yang saya tau jelas bukan hal yang mudah untuk dilewati oleh siapapun.

Penyakit lama Abang kambuh di tengah harmonis rumah tangganya. Abang sudah menikah dan punya anak perempuan. Tapi Abang bermain api. Lagi-lagi, mengumbar hati ke banyak perempuan. Dan sialnya, istri Abang mendapati kenyataan itu, mempermasalahkannya dengan sangat akut, ibarat orang sakit keadaan Rumah tangga Abang udah masuk skala ruang ICCU. Koma. Sekarat. Antara hidup dan mati. Dan istrinya memilih mati. Meninggalkan Abang yang menyesal begitu dalam. Meratapi kebodohannya karna mengecewakan istri dan anaknya. Talak jatuh dan Abang meraung dalam status single tapi duda nya. Saya prihatin, tapi tak tau harus bagaimana.

Beberapa kali kami telponan, Abang banyak bercerita tentang kondisinya. Tentang bagaimana kronologis berakhirnya rumah tangga mereka. Bagaimana Abang mencoba mempertahankan hubungan dengan sang istri. Awalnya, saya jelas memposisikan diri sebagai perempuan. Saya marahi Abang, saya salahkan dia. Saya menyebutnya brengsek,bajingan dan banyak umpatan lain. Itu hal biasa bagi kami. Saya dan Abang memang selalu mencoba berkomunikasi dengan jujur, meski itu jahat sekalipun. Bagaimana mungkin saya membiarkan Abang terperosok dalam hal memalukan macam begini, bercerai dari istrinya hanya karena dia main api dengan perempuan lain. Di permalukan oleh sang istri hanya karena kepergok bermesraan dengan wanita yang bukan hak nya. Saya jelas marah. Saya jelas mengumpat.

Sampai kemudian sesi obrolan mengalir kembali. Pada curhatan yang kedua saya mulai menemukan formula yang berbeda. Saya memandang masalah Abang dari sisi agama. Saya Islam. Dan agama saya jelas memposisikan perempuan dengan sangat mulia. Artinya, kesakitan yang dirasakan istri Abang jelas akan menjadi salah satu alasan Abang terhenti lama di yaumul hisab kelak. Tapi ada yang tak boleh dilewatkan, yaitu posisi perempuan sebagai istri. Itu bukan posisi becandaan. Perempuan akan masuk dalam ranah mulia ketika menjadi istri. Tapi bukan sembarang istri, mulia adalah baik. Jadi, muliakan dirimu dengan jadi istri yang baik. Seburuk apapun suamimu, tetaplah jadi istri yang baik. Selamatkan surga mu sendiri.

Salah satu syarat jadi istri yang baik adalah dengan menutupi aib suaminya. Oke !! mungkin ini menyakitkan. Menyebalkan dan mengenaskan. Mana ada perempuan yang mau di duakan. Saya pun tak ingin. Tapi berkacalah sebelum sibuk dengan kesalahan orang lain. Mau tau cara berkaca tanpa cermin? Begini : lihatlah apa yang sudah kita lakukan. Artinya begini, sudahkan istri abang saya itu bertanya pada dirinya sendiri, kenapa abang sampai tertarik pada perempuan lain? Kurang merikkah dirinya? Apa yang abang dapatkan dari perempuan itu? Apa yang abang cari dari istrinya dan tak mampu dipenuhi hingga harus mencari dari perempuan lain. Oke. Oke. Mungkin seharusnya abang bisa menerima kekurangan istri dengan mencoba bersabar tanpa mencari dari perempuan lain. Tapi sudahkan sang istri berusaha untuk jadi yang terbaik? Saya sendiri gak pernah tau. Tapi alangkah baiknya jika keduanya saling berkaca? Tanpa perlu menghujat dan menyalahkan.

Abang saya kelimpungan. Dia stress dan mencoba bertahan dengan masalah yang menurutnya berat sekali. Saya sebel dong. Gimanapun saya gak suka lihat abang jadi selemah ini. Saya pengen banget bilang “ woi bang, dari dulu elo tuh player. Kalo ilang satu, cari yang lain.” Tapi kok kesannya saya jahat banget ya sebagai perempuan. saya kok dzalim ya sama istrinya. Saya emang ngerasa abang itu salah, patut di kasih pelajaran tapi ya gak gini-gini amat. Setelah menikah, perempuan punya mandataris langsung ke suaminya. Bahkan orang tuapun harus di nafikan. Itu kalo di agama saya sih ya. Gak tau di agama istri abang saya. Jadi saya agak mengerutkan kening waktu denger dia begitu berani menghujat abang saya di depan umum, bahkan membuka aib suaminya sendiri. Oh No !! betapapun sakitnya hati si perempuan, jangan lah kau buat marah suamimu. Jangan lah kau hancurkan surga mu sendiri dengan menjadi durhaka pada suami.

Seharusnya abang saya superior. Dia layak kok untuk membela dirinya sendiri. Dia salah. Rite!! Dia harus dihukum, Yes Alrigth!! Tapi dia gak pantas untuk dihujat sampai sebegini jatuhnya. Abang saya manusia, terlebih dia lelaki, dia seorang suami !! dia yang akan dihisab paling akhir kelak di hari penghitungan. Bahkan ketika istri dan anaknya udah ongkang-ongkang kaki di surga, abang saya masih ditanya-tanya tentang kelakuan keluarganya. SO??? Tanggung jawabnya yang seberat itu, seharusnya diimbangi dengan dukungan baik dari istri dan anaknya. Surga ditelapak kaki ibu yang notabene adalah perempuan dan seorang istri. Tapi jangan takabur dengan merasa sudah punya surga sendiri di telapak kakinya, lantas jadi semau gue dan merasa paling berhak untuk menghukum. Perempuan memang punya surga, tapi kuncinya ada di lelaki, di suami !! jalannya, ada di anak. Artinya apa saudara? Satu keluarga itu gak bisa lenggang kangkung sendiri buat jalan ke surga. Harus kompak. Kerja sama buat menuju ke sana. Paham gak sih itu istri si abang?

Oke. Saya puas memaki. Saya agak emosi yaa temans. Merasa aneh sendiri mendapati ada ya orang yang sebegitu pintarnya untuk berbuat keji dengan berlindung dibalik kesalahan dan dosa orang lain. Saya sendiri manusia, banyak salah, banyak lupa. Karna itu saya merasa, sakit hati si istri abang itu lebih ke rasa berlebihan yang dikuasai setan. Suaminya selingkuh, udah dihukum dan udah minta maaf. Terus apa lagi? Mau di gimanain lagi? Sakit hati dan kecewa bukan alasan kita bisa menghukum pelaku dengan seenaknya sendiri. Batasan itu ada. Harus ada. Cuma Tuhan yang pantas menghukum abang saya sampe kulit dan tulangnya. Tak ada siapapun yang berhak lagi. Bahkan istrinya sendiri. Salam laper.



Minggu, 12 Agustus 2012

Subuh yang dramatis.


Halow temans, udah deket lebaran nih? udah pada beli baju? beli mukena? sarung? baju koko? Seriusan yah, sebenernya itu semua gak penting banget. Euforia yang berlebihan menurut saya. Tapi masing-masing orang memang punya cara untuk mengungkapkan rasa syukurnya setelah sebulan berperang dalam hawa nafsu yang heboh. Saya memaklumi dan mencoba mengerti itu. hehehehe

Jadi ceritanya saya lagi merasa bersalah banget. Rasa salah yang bikin saya nangis melulu dan gak berenti-berenti nyeselin kesalahan itu. Bikin nyesek sekaligus kesel. Dibanding banyak hal yang jadi pemicu timbulnya kegelisahan lain yang gak ada habisnya.

Gini loh, saya itu lagi menyayangkan sholat subuh saya pagi tadi. Sholat subuh yang saya yakin gak afdhol banget karna saya salah persepsi dalam mengambil niatan awal. Ah, jadi makin mellow deh nih. Rasanya tuh imbisil banget deh pagi tadi. Rasa marah kepada diri sendiri yang akhirnya bikin hari saya makin runyam gak karuan. Sebel.

Saya sahur bareng pacar dan beberapa teman lainnya. Saking seringnya makan Sahur bareng pacar sampe-sampe saya dan dia punya kebiasaan sholat subuh jamaah berdua. Gak peduli itu banyaknya orang yang mau ikutan jamaah kita, saya sama pacar pasti melakukan sholat subuh jamaah bareng. Nah ceritanya, pagi tadi abis sahur kita mau sholat subuh barengan nih. Pacar saya udah ngasih aba-aba saya buat ambil air wudhu sementara dia ngeberesin perlengkapan bekas kita sahur tadi. Kebiasaan saya juga kalo kebetulan saya yang lebih dulu siap di lokasi sholat dan pacar saya masih nanggung ngurus ecek-ecek macem-macem ( pacar saya ini agak ribet ya beresin ini itu ) saya bakalan sholat sunnah 2 rakaat dulu sebelum subuh. Nah ceritanya pagi tadi mau gitu juga tuh. Kebetulan di ruang makan ada pacar saya dan satu lagi temen cowoknya, saya kontan bilang dong “ Mas, aku sunnah dulu ya. “ , Saaaatttt itu, ini saat itu ya, pacar saya mengiyakan diantara gerakannya yang super repot ngeberesin bekas sahur kita. Saya masuk ke ruang sholat, dan sholat sunnah. Lama saya nunggu pacar saya masuk nyusulin saya buat sholat jamaah, tapi kok gak masuk-masuk. Lebih dari 10 menit saya tunggu kok gak juga masuk. Sementara saya malah ngedenger dia ngobrol sama temennya. Jadilah saya keluar nyamperin dia. Dan saya liat dia lagi baringan di karpet sambil ngobrol santai bareng temennya. Sontak saya Tanya dong “ Loh,kamu udah sholat subuh belum sih?” pacar saya kaget, bangun terus mandangin saya yang masih make mukena. Matanya langsung mudeng. “ Ya Allah, kamu nungguin aku? Kirain tadi kamu mau sholat sendiri.” Doeeeengggg!!!! Saya gondok. Masuk ke dalem ruang sholat dan melakukan sholat subuh sendirian.

Kecewa pasti iya dong, secara kita biasa melakukan itu berjamaan. Pahalanya insya Allah lebih banyak dan saya juga bisa merasakan kedekatan emosional spiritual kita yang makin lengket satu sama lain dengan sholat jamaah. Subuh pula. Dan kenapa mendadak pacar saya itu jadi melupakan kebiasaan kita? Ternyata karna dia salah mendengar.waktu saya pamit buat Sunnah dulu ke dia, pacar saya itu dengernya “ Mas, aku sholat dulu ya.” Oke. Saya mengerti.dan memaklumi. Gak ada masalah sih sebenernya. Tapi ada masalah lain yang kemudian membuat saya sebel setengah mati.

Masalah itu adalah kekecewaan saya yang cuma beberapa detik setelah tau bahwa saya gak bisa jamaah barengan pacar saya itu. Kekecewaan yang membuat saya sadar, kalo saya berniat sholat jangan-jangan jadi kabur maknanya. Jangan-jangan jadi gak Lillahi taa’la lagi nih. Jangan-jangan saya sholat subuh karna ngarep jamaah barengan pacar nih. Masya Allah. Astaghfirullah. Di rakaat pertama mendadak saya menyesal luar biasa. Saya terisak waktu menyentuhkan kening di tanah. Sujud memohon ampun. Saya menyesal sempat lalai dalam berniat. Saya menyesallebih mencintai pacar ketimbang Allah meski hanya dalam hitungan detik dan itupun berupa rasa kecewa. Saya menyesal membiarkan hati saya begitu menggebu menyayangi manusia, sementara seharusnya hati saya bertatap hanya pada-Nya. Saya menyesal.

Pacar saya ini pria yang istimewa. Saya menceritakan hal ini sama dia usai sholat subuh tadi. Dia Cuma mandangin saya sambil nyengir. Mungkin ikut merasa bersalah juga, atau mungkin juga bersyukur.Merasa bersalah karna gagal membuat pahala jamaah subuh saya dapatkan, Insya Allah atau merasa bersyukur karna dengan sholat sendiri artinya dia idak merealisasikan niat sholat subuh saya yang sempat ngaco awalnya. Keduanya tetap terasa seksi dimata saya. Hatinya luar biasa lugu. Apapun yang dia lakukan semua karna Allah, mungkin itu sebab saya begitu mencintainya. Karna seluruh hidupnya dia dedikasikan untuk Allah. Saya jadi ketularan energy positif dia. Saya jadi ingin melakukan segala hal dalam hidup saya karna Allah. Makanya, beberapa detik ketika saya sempat merasa kecewa karna gak jadi sholat jamaah sama dia itu,benar-benar saya sesali. Saya menyesal sungguh. Semoga Allah masih membuka waktu untuksaya kembali belajar, mengenal niat dan keinginan. Semoga begitu. 

Kamis, 09 Agustus 2012

Menjemput Sore

Hey, apa kadabra semua. Lumayan lama yah saya gak mengunjungi blog ini. Lagi di bully sama bnyak sekali kewajiban nih. Puasa gimana? lancar kayak jalan tol atau macet kayak jalan semut yang ditaburin gula? I hope yang pertama ya cyinn...

Sore tadi, saya di telpon temen lama. Beneran lama banget karna nyaris lebih dari 10 taun saya gak ketemu dia. Lebih dari 10 taun saya gak denger kabarnya. Mendadak dia telpon dengan suara yang sangat saya hafal ( Herannya, suara dan logatnya beneran kerekam di ingatan saya, meski kita sebegitu lama nya gak ketemu ), kalians tau kawans, saya teriakan dong itu di telpon. Mulai dari kaget sampai mengumpat, mulai dari sayang-sayangan sampai hina-hinaan keluar semua dari mulut saya. Ingatan perlahan mengembara kesana-kemari. Saya balik lagi jadi anak kecil yang asyik main halma juga ular tangga bareng dia, atau asyik kagum sama tetangga kompleks yang udah kuliah dan gantengnya nyaingin Johny Deep. Saya mainan kenangan lagi, sama temen saya yang mendadak muncul tanpa di duga itu. Padahal saat itu, didepan muka saya beneran lagi banyak banget rapat panjang dengan banyak hal yang mesti diselesaikan. Damn!! saya gak peduli. 

Nyaris setengah jam saya cekikikan bareng temen lama itu. Ngobrolin keadaan masing-masing. Saya yang udah punya anak dan divorce, atau dia yang masih sibuk melajang sampai sekarang. Kami mengulang kembali masa kejayaan jaman dulu, inget Sheila On 7 lagi, inget berenang dan nontonin orang pacaran di sungai deket rumahnya, atau sekedar curi-curi nonton film dewasa yang di punya sama kakak tertuanya. Ah, saya beneran ngakak gak berhenti-berhenti. Sampai kemudian dia mengatakan hal yang saya tau jadi tujuan utamanya buat telpon saya sore ini: " Mi, aku cancer. Stadium 4. Udah kemo dan aku gak kuat." saat itu juga saya diem. Gak bisa bereaksi apapun, gak bisa mencerna apapun. Kaget sekaligus bengong. Kombinasi reaksi yang jelas bukan jadi keinginan dia nyeritain hal berat itu sama saya. Pelan saya narik nafas. menutupi seraknya getar suara saya. 

Kalian tau kawans, saya sakit sekali. Dia, begitu lama menghilang dalam hidup saya. Padahal kami dulu begitu dekat. Begitu bersahabat. Kami yang paling kompak. Kami raja dunia meski kami berdua perempuan. Dan kemudian dia hilang karna sesuatu, saya merana ditinggal pergi, kemudian dia datang lagi, tapi dia membawa kenyataan bahwa hidupnya tinggal itungan hari, atau mungkin bahkan jam. Saya ngelangut. Emosi saya habis. Terkuras di awal teleponnya untuk terbahak bersama, dan melayang bersama kenyataan pahit yang dia keluarkan tentang Kanker nya untuk tangisan pelan yang tak kunjung bisa saya hentikan. Saya habis. Tak mampu berbuat apapun.

Dulu, saya sering sekali berdoa untuk meminta. Mulai dari yang aneh-aneh seperti pengen punya pacar seganteng Keanu Reeves, atau doa gila macam pengen ajojing di reggae Bar Gili terawangan, sampai doa paling sederhana seperti diberi kesehatan sampai mati. sekarang, mendadak saya gagap berdoa. Teman lama saya itu cuma bilang ikhlas dan merasa bahagia, Kanker itu memberinya kenyataan berupa kemungkinan kematiannya. Dia merasa mampu mempersiapkan diri untuk tau kapan mungkin dia akan mati. Kanker itu memberinya kekuatan. Bahkan disaat terasa begitu melemahkan. 

Temans, ada kalanya keinginan bisa jadi obat untuk sebuah keputus asaan. tapi kadang, penyerahan itu yang justru paling dahsyat dari segala obat. Salut buat teman lama saya yang begitu tabah menjalani vonis hidupnya, juga buat semua penderita penyakit mematikan di dunia. Saya angkat topi buat kalian. Hidup gak pernah berhenti untuk memaksa kita berputar. Selelah apapun kita. 

Regrads.

_ami_

Rabu, 18 Juli 2012

Surat Dini Hari untuk si kecil.

Ketika kamu terbangun nanti, Nak....
Mama sudah tak ada menyambut geliat malasmu yang merengek minta susu dengan hardikan lagi. malam tadi, mama telah menyiapkan sejumlah rencana untuk meninggalkanmu ketika masih terlelap. maafkan mama untuk itu, tapi mama harus berusaha menemukan takdir terbaik kita. meski harus dengan meninggalkanmu.

Ketika kamu terbangun nanti, Nak...
mama sudah ada di seperempat perjalanan menuju kota besar yang menawarkan beragam harapan. mama akan kembali, dengan bongkahan takdir terbaik yang Tuhan siapkan dengan disembunyikan diantara tumpukan masalah dan kerja keras yang harus mama lakoni. takdir itu, jugalah yang terbaik untukmu.

Ketika kamu terbangun nanti, Nak....
Tak akan kamu dapati lagi tawa mama yang tak bisa mama tahan karna melihat tingkahmu yang ajaib. mungkin kamu akan menangis sebal karna kecewa ketika mendapati mama tak ada lagi disisimu, dan mungkin mamapun akan menangis sedih ketika menyadari betapa kamu menginginkan mama ada disamping kamu selalu tapi tak bisa mama penuhi. Mama tau, dalam tangisan itu, Allah telah menyimpan butiran air mata kita sebagai berlian yang akan kita tuai kelak jika mampu bersabar. maka, maafkan mama Nak, jika meminta ini darimu. mama mohon : bersabarlah.cuma itu yang kita bisa sekarang.

Nak, dalam setiap usaha mama, kamu terus tersenyum didepan mata mama. membuat mama yang lelah tanpa hasil, mendadak terbangun dan bersemangat lagi. kita bisa melaluinya !!! mama yakin itu. Maka, teruslah kau tumbuh, berkembang. teruslah tertawa, menangis. tak akan ada kesulitan yang tak bisa kita kita lewati selama kamu masih percaya mama, dan selama kamu masih mengharapkan mama kembali.

Nak, tak akan Tuhan memberi takdir yang tak baik untuk kita. yakin lah Nak. meskipun kamu masih terlalu kecil untuk mengerti, tapi mama yakin kau akan percaya bahwa segalanya akan baik. meskipun mama terpisah jauh dan tak bisa menyakinkan kamu untukselalu tabah, sejujurnya mama sendiri justru mencuri ketabahanmu. ah, kamu yang selama ini selalu mengajari mama untuk tabah dan kuat, maka tak perlu lah segala nasehat mama tentang ketabahan itu untukmu. kau jauh lebih bisa dari mama sendiri.

Jika kamu terbangun nanti, Nak...
sadarilah. Bahwa mama ternyata selalu jatuh cinta setiap saat. padamu, pada tawa riang dan tangis menyayatmu. pada tingkah ajaib dan mengagumkanmu. pada semua yang tumbuh dalam perkembanganmu. ternyata cinta mama, telah jauh-jauh hari berhenti di kamu, Nak. dan tak bisa mengalir lagi.


Ps : catatan ini dibuat dalam Bus menuju Jakarta. dengan lelehan air mata yang lebih menyerupai air hujan. penumpang disebelah saya bolak balik nengok dan heran.mungkin merasa takjub melihat saya menangis sesenggukan sambil terus menulis. saya sendiri,setelah selesai menulis ini langsung tertidur.

Jumat, 06 Juli 2012

Bagaimana Bisa.

Bagaimana bisa, 
Kau berkata semua ini percuma. 
Sementara di deret waktu, aku menghujam dan memaki tiap detaknya yang berlari begitu cepat namun tepat.
Aku tak pernah menentukan kapan harus kembali untuk beristirahat, 
tak pernah.
karna bagiku ini tak akan percuma.

Bagaimana bisa,
Kau berfikir semua tak ada gunanya,
hanya karena aku terlambat sehelaan nafas saja meyakinkanmu
hanya karena aku dan kau berbeda mengartikan makna sebuah hasil
atau karna aku bukan kau dan kau bukan aku
lalu mengapa kau tanamkan rasa percaya, kau debarkan harapan penuh pesona, lalu kau matikan begitu saja ketika kau sendiri merasa lelah
bagaimana bisa, kau menjadikan aku propaganda kemalanganmu dan kesakitanku dengan merogoh paksa hatiku lewat kerongkonganmu dan menjejalkan kembali semuanya melalui aksara.
sementara aku, menggali lubangku dengan tetesan debur yakinku padamu
bagaimana bisa, kau merasa tak pernah menyakitiku 
padahal telah kau toreh luka menganga begitu besar sejak awal kelahiran pertemuan kita.
bagaimana bisa !!!!

Bagaimana bisa, 
kau mengatakan aku tak berusaha hingga menjadikan semua ini sia-sia belaka
hanya karena tak ada aliran yang masuk dalam buku kehidupanmu dariku
hanya karena aku tak ada dan menghadiri kesakitanmu secara nyata
bagaimana bisa, kau katakan segala harapan hanya omong kosong,
sementara aku disini justru hidup bernafaskan mimpi dan cita, yang lalu kau bombardir dengan kesakitanmu yang sungguh aku tau, itu hanya seujung kuku dari kesakitanku
tak perlulah kau merasa paling menderita, atau aku merasa paling teraniaya,
tak perlulah segala macam janji untuk membuat semacam kontrak dalam kehidupan kita
tak perlu lah itu semua,
karna tak akan ada gunanya untukmu, juga untukku, atau untuk harapanmu, dan juga keinginanku.
bagaimana bisa, kau katakan aku tak sakit, 
sementara hatiku telah berdarah dan menggenangkan legenda.

bagaimana bisa,
kau merasa yang paling sakit, sementara tanganmu dengan aksaramu masih menancap kuat untuk terus merogoh hatiku, menyakitiku, menelanjangi kemampuanku.
bagaimana bisa, kau katakan aku tak mengerti, 
sementara segala anganku adalah memahamimu.
bagaimana bisa,
kau rajam gairah yang tengah berkobar dalam kesakitanmu sendiri lalu kau semburkan padaku dengan tambahan minyak dalam tungku.
tak ada sekam disini, lalu bagaimana bisa api itu padam dari ku.
Bagaimana bisa.
kau menjadi malaikatku, 
sementara membuka pesan darimu saja aku gemetar ketakutan.
Bagaimana bisa.