Senin, 03 September 2012

Just A Moment.

Assalamualaikum. Selamat siang.....

Beberapa hari ini banyak kejadian mampir di hidup saya. sebenernya kejadiannya cuma numpang lewat sih, sambil lalu dan mungkin malah gak penting. tapi gak tau kenapa, saya merasa kejadian-kejadian itu mempengaruhi proses hidup saya dari beberapa hari belakangan ini. dan saya ingin merangkumnya jadi satu. disini, di posingan kali ini. meskipun sebenernya, jujur saya agak takut kalian bosen bacanya. atau kalian malah bakalan ngangge saya lebay karna terlalu bernapsu untuk mengambil hikmah dari setiap kejadian. entahlah, yang jelas, apa yang ada didepan saya memang kadang saya perhatikan benar-benar. saya ingin setiap detik dalam hidup saya itu gak sia-sia.

Hari kamis minggu kemarin, saya nongkrong bareng pacar saya di Taman suropati. lagi asyik ngobrol mendadak saya di telpon seseorang. menceritakan masalah pribadinya. seorang perempuan, yang kewalahan menghadapi rasa sakit hatinya. gak mampu mengkoordinasikan hati dan pikirannya, kemudian gagal menyimpulkan solusi untuk permasalahannya, kemudian mengkambinghitamkan lelakinya atas ketak berdayaannya itu. saya marah. bingung tak tau harus berkomentar apa. saking bingungnya, saya sampe gak tau mesti mendefinisikan apa terhadap perasaan kali ini.


Ternyata lagi-lagi perempuan itu tak tersentuh peradaban. Sedih rasanya menyaksikan kaum saya begitu bodoh menghadapi dunia. Seharusnya, perempuan paham apa yang menjadi keinginannya. Seharusnya pula, dalam hal yang terabsurd sekalipun perempuan menyaksikan kehebatannya sendiri dalam kaca benggalanya. Perempuan itu, sudah tangguh sejak dalam kandungan.sejak Tuhan meniupkan roh pada janin dan kemudian memberi gender perempuan. saya marah. Merasa terhina sekaligus sedih. Tapi saya tak bisa memaki, tak bisa menghujat, apa lagi menangis. Apa rasanya coba? Merasakan berbagai emosi tapi tak mampu menghempaskannya.

Mungkin, hati dan perasaannya sakit. Ya jelas lah, perempuan kan menggunakan lebih dari separo hidupnya dengan perasaan. Jadi kalau kemudian hatinya sakit, karena terlampau cepat menghempas rasa sakit dan memberi label kambing hitam pada rasa sakitnya karna lelaki. Tapi? Ya sudah lah. Itu kan sudah suratan. Gimanapun, rasa sakit itu akan sembuh seiring dengan pemahamannya akan hidup. Tidak bisa tidak dipungkiri, waktu akan memberi jawaban dengan kenyataan yang sudah terbungkus rapi fakta yang tak akan mampu terjelaskan. Oleh siapapun. Itu hak veto Tuhan. sayangnya, tak semua manusia, juga perempuan memahami itu. Tapi kenapa? Kenapa saya begitu kesal ketika ada perempuan yang begitu bodoh menampakkan kelemahannya.

Dan lagi, kenapa kebodohan begitu mendominasi hidupnya hanya karena emosi. Lakukan apa yang bisa di lakukan. Tapi yang tak bisa dilakukan? Ya sudaaahhh !!!! tak perlu dilakukan. Jangan memaksa. Jangan membuat jadi kelihatan tak mampu berbuat lebih. Saya masih belum mengerti juga. Tetap tak memahami, bahwa pada dasarnya perempuan justru kuat dengan kelemahannya. Percaya sama saya, jangan pernah menyesal jadi perempuan.  jangan pernah membiarkan kelemahan itu menjadikan kita teraniaya sendiri.

Ada hal yang perlu di jawab !! apakah kita perlu memaki kondisi ketika pada akhirnya kapasitas kita sebagai perempuan tak memadai untuk menerima rasa sakit. Perempuan, pasti sakit jika di nomor sekiankan. Tapi mau apa? Ya sudaaahhh !!! gimanapun, perempuan memang di takdirkan lebih menggunakan hati ketimbang rasio. Dan lelaki, lebih menggunakan pikiran ketimbang perasaannya. keduanya sama-sama memiliki kans untuk sakit hati. Kita di ciptakan untuk tersakiti. Sadar tak sadar. Suka tak suka.

Persekutuan!!! Perempuan kadang mengalami persekutuan dengan iblis. Setan terjahanam yang mendiami perasaan perempuan.

Lalu bagaimana? Mesti apa lagi? Ya sudahlah. 

Saya sampe nyuekin pacar saya malem itu. saya sibuk berfikir, menelpon, ngobrol panjang dan mendiskusikan dari segi manapun atas masalah ini. kemudian bikin pacar saya ( mungkin) bete dengan sikap saya ini * maaf sayang* tapi saya emang begitu. saya gak mau mengendapkan pikiran, lantas membiarkannya gak berguna. apa yang ada di otak saya harus keluar saat itu juga. 

masalah di taman itu selesai dengan sendirinya. gimana gak selesai sendiri, wong itu sebenernya emang bukan masalah saya kok. itu masalah orang lain yang curhat sama saya. kadang saya mikir,sampe kapan saya bisa nyuekin hal-hal yang seharusnya bukan jadi urusan saya. ini kan sebenernya membuang waktu, tapi di sisi lain saya merasa berguna. yawes lah, ambiguitas pikiran ini cuma saya dan Tuhan aja yang ngerti. kalian gak perlu ikut pusing mikirin. 

Kemaren, lebih tepatnya hari minggu, saya jalan-jalan ( lagi) sama pacar. btw, kalian bosen gak sih kalo saya ngomongin pacar saya melulu? Gak boleh bosen ya, karna kelak laki-laki ini bakalan nemenin saya gak tau sampe kapan, sampe tulisan di blog saya ini muncul ratusan bahkan ribuan, mungkin dia masih bakalan tetep nemenin saya. jadi persiapkan mental kalian untuk sesering mungkin baca tulisan saya yang nyawel-nyawel dia. heheheheheeh

Oke, jadi kemaren ini saya jalan ke Masjid luar batang sama pacar. kebetulan rumahnya deket sama masjid itu. perhatikan kalimat saya baik-baik ya temans, jangan kalian pikir pembicaraan kali ini bentuk makar saya terhadap islam. serius, ini cuma pandangan. cuma pendapat dari pengetahuan saya yang masih dangkal tentang islam. jadi, kalo ada yang gak setuju, saya membuka diri untuk menerima kritikan. 

Saya dateng kesana, ramai. bentuk bangunan masjid itu beda sama masjid yang lain. bangunan utamanya, didalam dan megah. dingin, sejuk. khas udara masjid yang entah kenapa memang selalu adem. di depan bangunan utama, semacam altar. dan altar itu terbagi dua, in door dan outdoor. di ruang dalam altar, ada dua makam. satu dibuat menyerupai kubah besar dan satunya lebih kecil. makam besar itu, milik Habib Husen Al Idrus. yang konon adalah anak dari putri kesayangan Rasulullah SAW. makam kecilnya kabar milik muridnya. kedua makam iulah yang dikerubungi bak semut nemu gula. membuat gelombang yang makin besar, makin ramai. saya tercengang, apa yang mereka lakukan disini??

Saya dan pacar saya masuk, ambil air wudhu dan sholat di bangunan utama. jujur aja, saya takut sholat disitu. melihat gelombang besar yang memenuhi sekitar makam di altar masjid bikin saya bertanya, mereka datang ke masjid itu bukan untuk beribadah, tapi lebih karna mendatangi makam itu. niat awal mereka, saya takut bukan Lillahi ta'ala lagi. sebelum saya sholat berjamaah dengan pacar pun, saya memandangi mereka dulu. lebih karna berusaha memantapkan hati saya sendiri, bahwa saya datang kesini murni karna saya ingin sholat Dzuhur. tidak yang lain. 

setelah sholat dzuhur kami keliling masjid, saya bilang berkali-kali pada diri sendiri " kamu sedang rekreasi ami. bareng pacar" saya beneran takut, saya takut untuk tertarik berdoa didepan makam itu. saya takut, ada sedikit saja hati saya yang memohon tidak kepada-Nya. untunglah, setelah selesai keliling pacar saya ngajak ngopi. dan ngobrol kesana sini, bahkan tidak membicarakan makam itu lagi. saya bersyukur, pikiran saya dialihkan olehNya melalui laki-laki pilihan ini. heheheheh.

setelah ngopi, saya dan pacar kembali ambil air wudhu, sholat ashar. sengaja saya gak mau ikut jamaah maha besar itu. saya takut imamnya punya tendensi lain dalam mengimami sholat kami. disitu, saya lebih percaya diimami pacar saya ketimbang habib atau imam masjidnya sendiri. 

kelar sholat, Masya Allah. saya kaget bukan kepalang. saya gak tau mesti gimana. saya juga bingung mesti jawab apa atas banyaknya pertanyaan di benak saya. tapi yang jelas saya miris. karna saya bingung mau gimana cara menuliskannya,  karna saya gak tau apa yang sebenernya saya rasain.

mereka berkumpul didepan makam, berdengung bagai lebah. membaca surat yasin, membaca dzikir. saya jadi ingat puisi Gusmus : " katanya Allah maha mendengar, lalu kenapa setiap hari kau memanggil-manggil namanya melalui pengeras suara?" saya juga jadi inget kata Hadist yang bilang bahwa kita disarankan untuk memelankan suara ketika membaca Al qur'an atau berdzikir. mendadak, melihat kenyataan didepan saya, semua itu langsung mentah.

Satu-satunya yang saya takutkan adalah ketika saudara seagama saya duduk didepan makam itu, kemudian berharap sesuatu melalui makam itu. Berharap kepada selain Allah meskipun kecil tetap aja terhiung musryik. Saya mikirin, islam itu Rahmatan lil'alamin kok. jadi semua ber hak dengan persepsi masing-masing. tapi, musryik dimana-mana sama hukumannya. dan Allah paling benci dosa itu.

Segalanya cuma bisa saya diskusikan. saya sadar saya bukan siapapun, agama saya juga masih cetek banget. jadi saya cuma bisa menunggu, sambil mengikuti perkembangan yang ada. saya bersyukur, punya pacar yang ngerti gimana ngajarin saya bersikap.

Oke temans, mari kita sama-sama mengingatkan dan menyelamatkan akhirat kita. Karna konon kabarnya, masuk surga itu harus beramai-ramai. Jadi, yukk rame-rame masuk surga.  












Jumat, 31 Agustus 2012

Buku Putih I: Ideograf ( By : Ade Riyan Purnama )


“Ketika kau berhenti mencari dalam pencarian-pencarian yang kau cari, kau akan dapati yang kau cari”.

Hidup adalah pengembaraan. Pengembaraan menuju pertarungan dengan detik waktu dan detak denyut nadi yang kapan saja bisa berhenti. Dalam perjalannya kita akan bertemu pertigaan, perempatan atau bahkan simpang lima tanpa rambu berpetunjuk.

Mungkin pintu gerbang kedewasaan telah terbuka ketika kita mulai memikirkan arah hidup. Karena hidup adalah jejak langkah diatas pasir yang terbawa ombak dan ketika hamparan pasir itu tak berjejak, pasir itu akan ditapaki jejak-jejak langkah manusia berikutnya.

Pencarian adalah penantian malam sempurna. Seperti raja anjing yang mengaung di atas bukit tertinggi ketika bulan menjadi besar dan berubah menjadi warna merah. Dalam pencariannya manusia bisa berubah menjadi serigala buas di malam purnama dan dengan seketika anjing-anjing gunung yang berwarna putih berbaris dideretan lembah menyaksikan kesempurnaan manusia binatang yang menjadi liar. Dan setelah itu terjadi, matahari di pagi hari tidak tinggal diam, ia selalu menyerang dari ufuk timur dengan segenap cahayanya untuk memotong kuku-kuku serigala dan merontokkan taringnya karena di malam purnama manusia adalah pemangsa paling buas dari para pemangsa.

Alarm disampingku, mulai mengeluarkan bunyi. Itu bertanda hari sudah menjelang pagi pukul 05.30. Kemudian ibuku memberikan selimut dan mengusap sebagian rambutku mengisyaratkan aku harus segera tidur. Karena sudah menjadi kebiasaan setiap hari kelahiranku, ibu selalu mendongeng pukul 00.00 tepat pada malam bulan purnama.

Ibuku selalu bercerita tentang serigala dimalam hari ulang tahunku, tentang manusia yang menjelma menjadi binatang. Namun, aku selalu heran kepada ibuku. Kenapa ia tak pernah bercerita tentang proses sebelum manusia menjadi serigala. Padahal ketika aku membaca buku tentang malam purnama, serigala itu adalah pangeran yang sangat bijaksana kemudian diasingkan ditengah hutan karena dikhianati oleh penasehat  kerajaan yang mengirimkan perempuan cantik untuk menggodanya. Dan ketika pangeran jatuh cinta, perempuan cantik itu selalu mendongengkan malam-malam pangeran sebelum ia tertidur.

Dan tepat pada malam bulan purnama, perempuan cantik itu melepas pakaiannya setelah ia melihat sang pangeran tertidur. Ia mulai memeluk pangeran, memasuki semua tubuhnya kedalam selimut pangeran kemudian mengaitkan kakinya ke dalam kaki pangeran hingga yang terlihat hanya wajah dan bibir yang terus bercerita.

Kemudian tentara-tentara kerajaan masuk menyeret pangeran dari tidurnya dan perempuan cantik itu dengan khusuk berpura-pura tidak tau apa-apa dan perempuan cantik itu berjalan kecil memeluk pangeran seolah-olah semalam terjadi percumbuan yang menghasilkan kenikmatan madu.

Pangeran diarak mengelilingi kampung oleh tentara-tentara kerajaan. Seluruh rakyatnya mencaci, menghina bahkan meludah dan melempari batu ke arah wajah sang pangeran sebelum ia diasingkan. Ternyata dibalik semua itu adalah skenario sang penasehat kerajaan setelah sekian lama ia menginginkan tahta sang pangeran.

Dalam keterasingannya, sang pangeran marah atas pengkhianatan dari cinta yang tulus dan amanah kerajaan yang selama ini dijaganya. Ia temukan luka dalam kedalaman naluri karena  hati sudah tidak menjadi cerminan malam-malam pencarian. Mungkin hidup ini adalah teka-teki piramid yang dibuat fir’aun, ketika kekuatan menjadi trisula untuk menahlukkan rakyatnya dan meniduri setiap perempuan yang ingin ditidurinya.

Dalam keterasingannya pangeran hanya bercermin melihat wajahnya di danau di sebelah timur hutan. Setiap pagi ia menadah tetesan embun yang jatuh dari daun dengan kedua telapak tangannya dan meminumnya. Karena dari tetesan itu, ia merasakan dingin sebelum matahari melenyapkan tetesan-tetesan itu dan kembali mengering.

Ada ketulusan dari setiap persetubuhan dinginnya malam, seperti  tetesan embun yang dilahirkan pagi hari. Aku kemudian berlari memasuki hutan-hutan yang semakin rimba. Aku marah atas perlakuan perempuan yang aku cintai dan mengkhianatiku. Aku robek-robek bisa ular cobra, aku rontokkan taring buaya dan aku patahkan kaki harimau dan singa. Aku terus berlari menuju puncak gunung tertinggi menjelang malam. Karena malam adalah cahaya bagi para sufi dan mataku semakin liar menerjang apa yang ada dihadapanku. Dan ketika aku berada dipuncak dan bulan menyempurnakan malam purnama, aku menjelma menjadi serigala. Raja hutan diatas segala raja-raja hutan lainnya. Kemarahanku memuncak atas sebuah pengkhianatan dan hatiku terbakar oleh luka.

Aku terus berteriak hingga harimau dan singapun mengurungkan niatnya untuk melihatku. Aku terus berlari menyusuri lembah dan hutan untuk mencari petarung yang lebih tangguh untuk mengobati pesakitanku yang tak dapat terbalut. Aku mematahkan pohon-pohon besar hingga tumbang, aku menghancurkan batu yang menghalangiku dan teriakanku semakin hebat. Burung-burung pun terbangun dari lelapnya, mengepakkan sayapnya kearah yang lebih tinggi menunggu matahari menyadarkan aku dengan sinarnya.

Aku bagaikan api neraka yang berkobar, yang panasnya siap melahap siapa saja bagi yang ingkar. Aku haus akan kesejukan yang menghantarkan aku pada tidur-tidur yang lelap. Kemudian aku menceburkan diri kedalam danau yang dingin, aku cabik-cabik ikan yang ada didalamnya hingga danau itu menjadi merah.

Setelah danau menjadi merah, aku kembali kedaratan mendekati dahan-dahan pohon dan menunggu embun-embun pagi itu menetes sebelum kebuasanku berakhir. Aku memapah kedua telapak tanganku dari daun sampai  kedaun berikutnya dan meminum tetesan embun itu.

Tiba-tiba aku terbangun dengan berlalunya bulan purnama yang menjadikan aku serigala. Pengkhianatan adalah doa tumpukan jerami. Tidak ada pengkhianatan yang tidak disusun sebelumnya. Entah yang berkhianat atau dikhianati, ada kisah perjalanan jejak diatas pasir yang terbawa ombak.

Ada luka diantara janji, ada air mata diantara tanah basah. Ia berjalan menyusuri hutan dengan tergopoh dan masuk kedalam lumpur yang dalam hingga ia tak sanggung keluar. Ditengah ketidak berdayaannya, buaya yang lapar mencabik-cabik tubuhnya. Pangeran itu mati dalam ketidakberdayaan setelah pencarian buasnya berbalut dengan keikhlasan. Ia kembali dalam ketiadaan, menjadi ada. Karena keadaan adanya ada akan kembali ke tiada.

Ia hanya teringat dongeng perempuan yang menghantarkannya sebelum tidur. Dongeng itu menghantarkan aku menjadi serigala buas dengan marahnya dan cabikkan buaya inilah yang mengingatkan aku bahwa aku adalah tetap manusia yang bisa merasakan sakitnya dikhianati, dicintai atau bahkan didustai.  
Purnama..purnama...!

Aku terbangun mendegar panggilan ibuku yang memberi tanda bahwa hari sudah mulai siang. Dengan mengangkat buku malam purnama yang menutupi wajahku, aku mulai bangun dan menaruh buku itu di rak bukuku.

Ibuku memberi namaku Purnama. Entah apa yang terbesit dalam benaknya ketika memberi nama itu. Yang aku tau ibuku adalah salah satu penulis sastra. Penulis sastra yang sama sekali tidak terkenal. Penulis sastra yang harus bekerja kers terlebih dahulu untuk mengumpulkan uang dan  membayar percetakan untuk menerbitkan bukunya. Karena karya sastra ibuku tidak diterima dipenerbit manapun, makanya ia selalu menerbitkan secara indie. Terkadang ibuku pun sering menjual buku-buku karangan almarhum ayahku yang menjadi kado ulang tahunnya.

Terbitan buku pertama ibuku berjudul Purnama. Ia selalu mengatakan kepadaku, kau adalah buku. Buku yang menjadikan aku perempuan seutuhnya, buku yang selalu aku baca. Buku yang mengajarkan ibu arti biadab dan beradab. Kau adalah buku putih diantara coretan perjalan hidup dan kau menjadi sampul putih diantara gelapnya malam ketika bintang berada dalam kekosongan dan tak mengeluarkan kerlip.

Buku ibu terlahir karena buah pemikiran, perjalanan dan kegelisahan sedangkan kau anakku terlahir karena buah ketulusan.

Ibuku selalu bertanya, apakah kau sudah menuliskan kata demi kata disetiap kau ulang tahun. Karena kata ibuku, sebelum ayahku meninggal ia memberikan buku putih kepadaku. Entah apa yang diinginkan ayahku, waktu itu.

Akupun belum pernah bertemu dengan ayahku. Kata ibuku, ayahku meninggal ketika aku dalam kandungan delapan bulan.Menurut cerita ibuku,  ayahku  adalah sastrawan besar yang berhenti menulis setelah mendapat nobel sastra se Asia Tenggara dan bertemu dengan ibuku. Karena menurut ayahku, ibuku adalah puisi paling murni. Ia menemukan guratan keindahan setelah mengenal ibuku diatas kata-kata yang tak terbatas.

Tapi aku masih bingung, kenapa ayaku hanya meninggalkan buku putih saja kepadaku. Tanpa ada garis-garis untuk menulis seperti pada buku umumnya dan  buku putih tersebut didalamnya tak terdapat garis tepi. Hanya buku puith dan benar-benar putih.
Ibuku memintaku untuk menuliskan kisah hidup setiap ulang tahunku. Umurku kini 25 tahun, tetapi belum ada satu katapun yang aku tulis. Rasanya aku memang tidak berbakat untuk menjadi penulis walaupun kedua orangtuaku adalah penulis.

Aku bingung mau memulai dari mana tulisanku. Sebab menulis menurutku, bukan hanya ungkapan rasa. Ada jarak diantara pena dan buku putih yang kupunya. Menulis menurutku seperti memotong bawang merah yang diiris-iris menjadi bagian-bagian. Yang udaranya  bisa mengeluarkan air mata walaupun pisaunya tidak mengenai unjung telunjukku.

Coba kita bayangkan, ketika ada penulis menuliskan biography tentang kepedihan dalam perjalannya. Dan kemudian ia menuangkan dalam tulisannya. Ia harus mengulang rekaman jejak saat ia jatuh dalam luka, atau ketika ia putus asa dan hampir bunuh diri. Bagaimana kita mengingat-ingat kembali kesulitan dalam hidup, berharap bagi pembaca dapat mengambil manfaat dari apa yang dituliskannya. Itu pekerjaan yang menyakitkan.

Itu hal yang menyebalkan bagiku ketika aku harus mengingat-ingat hal yang tak kusukai. Aku baru ingat, ketika aku berumur tujuh tahun dan mulai masuk Sekolah kelas satu SD. Aku pernah menaruh permen karet dibangku ibu guruku. Kemudian setelah ibu guruku tau aku yang menaruh permen karet diatas bangkunya. Ia menggeledah tasku, mencari permen-permen karet yang belum aku kunyah sebelum aku menaruhnya di bangku-bangku yang lain.

 Ibu guruku tidak menemukan permen karet didalam tasku, ia hanya menemukan buku putih. Kemudian aku dikenakan sanksi untuk menuliskan, “AKU TIDAK AKAN MENARUH PERMEN KARET DI BANGKU SEKOLAH”. Aku membantah ibu guruku, aku lebih memilih bernyanyi balonku ada lima. Walaupun sebenarnya aku tidak punya balon satupun. Karena balon yang kubeli selalu aku tusukkan jarum untuk mengagetkan orang-orang disekelilingku.

Bayangkan ketika kita melakukan kesalahan kita akan dihukum untuk menulis kesalahan-kesalah kita dan berulang-ulang. Bukankah itu akan menimbulkan kita akan melakukan hal sama. Karena tulisan-tulisan tersebut akan tersimpan dan menjadi permanen dalam memori kita. Mungkin kalau aku tidak mengajukan hukuman menyanyi, sampai sekarang aku akan terus menerus menaruh permen karet di bangku sekolah. Karena menulis kesalahan dalam satu buku akan menimbulkan kita mengulanginya.

Kata ibu guruku, aku anak yang nakal. Namun, ibuku selalu membela. Bukankah anak kecil yang nakal adalah anak yang pintar. Anak kecil yang nakal adalah anak yang kreatif, mungkin hanya perlu bimbingan saja. Ia menaruh permen karet diatas bangku ibu guru karena mungkin ia tidak tahu dimana tempat sampah. Setelah ibu menunjukkan dimana cara membuang permen karet saya rasa ia akan lebih disiplin dari anak-anak yang lain.
Aku selalu senyum-senyum sendiri ketika ingat hal itu. Ibuku memang pintar berdalih. Ia dulu bintang teater pada jamannya. Jadi wajar ketika pola pikirnya agak terbalik dari perempuan-perempuan yang menempuh ilmu akademisnya yang hanya duduk dibangku kuliah saja.

Aku kemudian masuk ke dalam kamarku merogoh buku putih yang ada dalam tasku dan pulpen setelah selesai cuci muka ala koboi dikamar mandi. Aku menghampiri ibuku yang sedang melamun melihat sketsa lukisannya yang dibuat ayahku sambil memainkan biola putih kado yang diberikan ayahku sewaktu ibuku ulang tahun yang ke 23.

Aku duduk disebelahnya, meminta ibu untuk menceritakan kisah-kisah ayahku. Walaupun aku tau, disetiap pegulangan masa lalu ada luka yang akan terbuka. Namun aku siap, menuliskan semuanya. Karena “jejak langkah diatas pasir akan terbawa ombak dan ketika hamparan pasir itu tak berjejak, pasir itu akan ditapaki jejak-jejak langkah manusia berikutnya”.









Rabu, 29 Agustus 2012

Mimpi dan air mata perempuan ikal ( By. Ade Riyan Purnama )



Hidup adalah mimpi dan air mata, entah darimana mimpi itu berasal ketika kupejamkan mata. Alamatnya pun aku tak tahu dimana ?, namun dalam mimpiku selalu tergambar sketsa pertunjukan-pertunjukan teater, drama, musikal dan prosa. Aku bersinggah menapak langkah menuju Perancis, Roma , Italia dan terdampar di kota Verona. 

Kulihat pangeran tampan itu, yah.. pangeran itu bernama Romeo. Hatiku pilu ketika menatap matanya. Matanya adalah bias kesetiaan dalam relung yang memahat kasih dan cinta. Aku benar-benar menjiwai peran Juliet,  peran yang ditulis oleh sastrawan besar, William Shakespeare. 

Musim salju mengiringi violet dan petikan string akustik menambah gerabah harmoni musikalisasi sementara burung-burung gereja mendera patah ketika menjadi saksi kisah cinta kesetiaan dua manusia. Diluar sana  kulihat perlahan jatuh daun-daun rindang di senja basah menatap Juliet yang menancapkan belati setelah melihat kekasihnya meminum racun untuk menggapai cinta sehidup semati dalam pandangan hakiki. 

Air mata penonton mengalir deras terbawa prosa cinta menembus aliran darah membasuh derai menyaksikan tertutupnya tirai kesetian cinta bersama tirai pertunjukkan yang telah usai. Namun, tiba-tiba aku kehilangan arah, alamat mimpi itu hilang dan aku terbangun membuka mata.

Huh.., mentari meninggalkan alamat mimpi itu, mengapa kau tak setia kepada bulan ? yang kuinginkan adalah bulan yang dapat mengantarkanku kepada alamat mimpi dan mengajarkan kesetiaan dari perisai bintang yang  menjadi pengorbanan. Mungkin terlalu sukar sepertinya mentari mengajarkan kesetiaan karena menjelang petang panasnya membakar naluri tentang kesetiaan cinta murni yang kuberikan pada seorang laki-laki.

Untuk kesekian kalinya mata ini memberi misteri, ternyata ia memberi alamat lagi yang tak kupahami. Yang pertama adalah mimpi yang belum kutemukan alamatnya bersambut air mata yang tak kumengerti asal mata airnya huh..!

Teman-temanku dikampus memanggil akrab namaku Ikal dan aku telah menjalin tali kasih dengan salah seorang kakak kelas dua tahun diatasku yang bernama Romi. Romi adalah Romeoku ketika sang mentari menghadapkan wajahnya menenggelamkanku dalam nyata. Sulit membedakan antara Romeo dalam mimpi dan Romi yang menjelma menjadi Romeo di alam nyata karena semua berawal dari mata. 

Aku bertemu dengan Romeoku dalam mata terpejam dan aku berjumpa Romi dengan mata yang tak bicara. Aku dan Romi merajut kasih seperti awan putih yang membuat teduh ketika menyambut mentari dan penghias malam ketika sang bulan datang. Rasa yang berjuta warna kuserahkan utuh hanya untuk Romi karena ia adalah jawaban dari segala resah dan lelah.

Aku dan Romi melewati hari-hari bersama dalam titian jemari yang menyapa. Burung-burung gereja pun hinggap menghias bias kaca-kaca kampus yang menjulang tajam dan dalam setiap bulan kami mengelap artefak janji setia dimana pernah mengukir janji cinta pertama.

Hidupku seperti berada di puncak mandalawangi, kawah-kawah menyapa lembut dan embun pun mengedipkan restu lewat tetesnya. Sampai suatu ketika romi menyakinkan ibuku untuk memperbolehkan aku tinggal mengekost yang jaraknya berdekatan dengan  kampus. Akhirnya ibuku mengizinkannya karena romi berjanji akan menjagaku dengan tanggung jawab putih tulang sum-sumnya.

Seperti biasa hari ini mentari membuka wajahnya tapi hari ini tak kulihat burung gereja yang menyapa. Burung-burung camar berlalu-lalang seolah-olah memberikan isyarat. Aku teringat romi, akhir-akhir ini ada yang berbeda dengannya. Ritual membersihkan artefak janji cinta pertama setiap bulannya pun ia lupa. Pikiran ini seperti memasuki hutan rimba. Banyak arah yang harus kuperhatikan agar tak salah melangkah. Gelisah ini menusuk tajam dalam pertanyaan-pertanyaan bergema. Haruskah aku curiga terhadapnya atau ada wanita lain dihatinya? Aku mencoba tetap berjalan pada poros cinta janji setia karena hati ini telah kuserahkan seutuhnya dalam berjuta warna.

Kin dikampus aku hanya berteman bunga-bunga yang dihiasi kupu-kupu. Tak ada lagi romi yang meyapa jemariku yang membuat teduh disaat mentari mengeluarkan panasnya.

Setelah aku pulang dari kampus, tidak biasanya burung-burung camar berlalu-lalang melintas dikaca-kaca gedung aula.  Perlahan kutapaki jalan menuju kostsan tempat dimana merebah menyambut bulan. Tiba-tiba kulihat romi sedang duduk diatas tangga kedua bersama dengan wanita yang tak asing rupanya. Autofokus mataku membidik rapuh, ketika mendengar mereka  bicara tentang burung merpati dan rasa.

Mataku berkaca-kaca namun tak kubiarkan bias airnya turun di depan mereka. Romi pun tersentak kaget ketika melihat kedatanganku yang sedang bercerita mesra dengan leli teman sebelah kost kamarku. Romi datang menghampiriku bercerita tentang kamuflase logika buaya. Akhirnya, ia putuskan untuk merobek tali kasih yang telah kurajut dengannya karena ia berpapar tak bisa menjadi romeoku di alam nyata dan ia lebih memilih leli teman sebelah kost kamarku  menjadi tambatan hatinya. 

Romi telah memecahkan artefak janji setia, awan putih pun berubah menjadi mendung abu-abu mengurai hujan bercampur rinai. Burung gereja kehilangan cuitnya tak mampu lagi berkicau karena sayapnya patah.

Bulan kini tak nampak, hanya ada petir mengusik balada mimpi. Mentari kulihat gelap karena wajahnya tertutup cemara. Hati ini tinggallah nama, hanya gelap yang ada karena hati sejuta warna telah kuserahkan padanya .

Aku gila …
Aku tak lagi percaya dengan mata, mata yang membawa indah pada mimpi dan mata yang membawa teduh ketika memandang romi dalam mata tak bicara. Kini aku hanya  punya hati yang tak bermata. Dikampus pun tak kulihat lagi burung-burung gereja dan tak ada lagi taman-taman bunga bias kaca tatanan rasa.

A…k…u… gila ……

Ha… ha… ha… aku berteriak sekencang-kencangnya di depan mahasiswa-mahasiswa baru. Aku koyak-koyakkan  kursi yang sengaja mereka letakkan di depan kelas itu.

A…k…u…  gi..la…..

Aku semakin gila dan membabi buta mengacak-ngacak ikal rambutku seperti orang gila.

A…k...u… gi..la…

Aku tertawa sekencang-kencangnya ha….ha….ha…

Mahasiswa-mahasiswa itupun semakin takut, kecut dan mencekam. Kemudian berakhir pada semarak tepukan tangan semua mahasiswa-mahasiswa baru serta mahasiswa lama karena aku berhasil mempertunjukkan teater dan mempromosikan teater kepada mahasiswa-mahasiswa baru.

Aku menjadi aktor utama sekaligus sutradara dalam pertunjukkan tersebut. Teater dapat menghipnotisku melupakan romi setelah 3 tahun lamanya dan rasa sakit hatiku yang mendalam. Hingga akhirnya kutemukan esensi hidup tentang mengolah rasa dan kata karena pada hakekatnya dunia hanya panggung sandiwara dan kita adalah aktor-aktornya yang berasa didalamnya. Biarlah romi menghilang dengan cintanya dan aku telah kembali mewarnai hati dengan kanvas kehidupan melalui “seni “ untuk keliling dunia hingga kutemukan alamat tentang mimpi yang tak tahu darimana asalnya.


Wahai mata
Mimpi itu masih di alamat kan ?
Aku sedang melangkah menuju kesana
Semoga tak ada lagi air mata
Yang membasuh deras kedua mata

Tentang mimpi dan air mata

bebaskan mimpimu, nak !

Ini masih pagi, dan saya udah nyaris menandaskan dua gelas kopi hitam cuma gara-gara lidah nyecap-nyecap gak karuan. Kambing hitam dari segala macam bentuk makian akan ketikdakmampuan saya untuk bertahan hidup dalam kubangan Insomniers adalah kopi. dan dalam semesta saya, kopi selalu tampil cantik setiap kali di hidangkan. membuat saya ingin selalu menyeruputnya tanpa sisa. tanpa ampun.

Tapi postingan kali ini saya gak membicarakan kopi. saya ingin membicarakan masalah cita-cita. impian. harapan. mari kita mulai.

Saya dulu penari. Oke. Stop. Don't laughing it. tapi serius. saya dulu penari. terlepas dari sekarang saya berhijab dan menutup tubuh saya rapet-rapet, saya ini mantan penari. penari apapun. saya dipersiapkan untuk jadi penari. bukan penari biasa. sampai sekarang saya masih menguasai tari tradisional daerah Indonesia, kontemporer dan modern. tak cukup sampai disitu, saya penari.bukan sekedar menari. tapi penari. saya dibekali ilmu pengetahuan merawat kulit dan tubuh. dibekali dengan anggah-ungguh sebagai penari profesional, di jejali dengan tata krama yang santun sebagai ambasador keluwesan liukan tubuh. saya dulu penari. sekarang tidak.

Pagi tadi, ayah saya mamerin foto anak perempuan saya yang sedang belajar tari. Anak saya itu suka menggambar. saya dulu penari, dan pagi tadi saya melihat anak saya menari melalui foto ayah saya. sudahkah kalian temukan jalinan embrio yang menyusun jalur merah di kenyataan ini? jika belum, silahkan baca paragraf selanjutnya.

kenapa saya sekarang tak menari lagi? Saya malu membuka aurat saya. memamerkan lekukan dengan gerakan yang disengaja. Tarian memang indah, tapi saya mau menari di surga saja besok. jadi, saya berhenti menari karna memang ingin berhenti. tak ada tragedi dahsyat selain rasa malu saya sendiri yang menghentikan saya menari.

Anak saya luwes dalam menari. kebayang dong gimana happy nya saya. tapi sekali lagi, saya tau bahkan mungkin lebih tau dari siapapun bahwa anak saya lebih suka menggambar. saya gak mau, dia akhirnya jadi penari karna merasa harus melanjutkan cita-cita saya yang memang saya padamkan dengan sekam sendiri. saya ingin anak saya menjalani hidupnya sendiri. menjalani mimpinya sendiri. jadi pelukis atau penari, terserah dia.

saya memang orang tuanya, wajib mengarahkannya. tapi saya tak ada keinginan untuk memaksanya. bahkan untuk mengarahkannya pun saya ingin dia mengalir dengan sendirinya. terlalu membebaskan? ah, saya rasa tidak. anak saya memiliki pola pikir terkonsep yang baik. sejak kecil diamemang terlatih untuk menentukan segalanya dengan independent. apa ini tidak terlalu pagi untuk seorang gadis kecil berusia 4,5 tahun? jelas tidak. pola pikir dibentuk sejak manusia mulai berfikir. bahkan pola pikir yang terbentuk sejak masih anak-anak akan sangat berpengaruh bagi perkembangannya kelak ketika dewasa. Indonesia, terlalu mengkotakkan pera orang tua hingga akhirnya justru menjadikan orang tua seperti dewa yang berhak mengatur hidup anaknya. salah kaprah.

jadi, tadi setelah saya liat foto anak saya yang sedang berlatih tari, saya langsung telpon dia. saya pastikan dia bahagia dengan kegiatannya. saya lupa persisnya seperti apa obrolan kami.

saya : " kamu abis latian nari ya Ai?"
Airin : " Iya mah."
Saya : " Suka? "
Airin : " biasa aja."
Saya : " Lebih suka mana sama gambar?"
Airin : " Ya gambar dong."
Saya :" Latian narinya buat apa sih?"
Airin : " gak tau uh bu guru yang suruh."

saya diam. pelan menutup pembicaraan. setelah itu hati saya terbahak. Anak saya tak ingin jadi penari. saya tau itu. dan saya tak ingin anak saya melakukan hal yang tak dia sukai meski semua orang mengatakan dia mampu melakukannya.

oh iya, jadi pacar saya itu penulis juga. suka sekali menulis. maka sejak hari ini dia saya tahbiskan jadi pengisi tetap di blog saya ini. maka jika ada penulis lain yang mampir nulis di sini, maka itu memang pacar saya, bukan orang iseng yang nge hack pasword blog. oke temans. selamat siang. selamat jatuh cinta bagi yang sedang jatuh cinta.





Selasa, 28 Agustus 2012

Mari saling membahagiakan.

Setiap pasangan ingin berbahagia,
tapi (me)lupa(kan) caranya untuk saling membahagiakan.
(Herdiyan Danudirdjo)

Idiom diatas terasa benar-benar tepat ya temans. sadar atau gak sadar, kita berpasangan tujuannya jelas satu : Bahagia. saya pikir gak ada deh pasangan yang ( kita membicarakan pasangan normal yaaa ) berorientasi pada penderitaan. taruhlah pasangan yang di jodohkan karena bisnis keluarga, tanya deh apa orientasi mereka ? ya jelas bisnis keluarga lancar langgeng. bisnis lancar keluarga aman. semua ingin bahagia. dan itu membuat kita jadi lupa diri. lupa daratan. 

Nyari pasangan itu gak kayak milih gethuk. mana yang keliatan mulus, manis, empuk dan belum kadaluarsa ya itulah yang di jadikan pilihan. Punya pasangan juga gak kayak punya telpon umum koin, yang bisa bunyi kalo di jejelin duit. lebih-lebih yang punya anggapan pasangan itu kayak (klise) milih baju, mana yang pas, bikin kita terlihat keren dan oke maka itulah pilihannya. oh, wahai engkau yang sedang jatuh cinta, tidakkah pasangan itu adalah diri kita sendiri. mereka bukan pelengkap semata, bukan sekedar pemanis dikala bertemu teman atau justru pemuas dahaga dikala haus. Pasangan, menjadikan kita berarti. seperti sepasang sepatu yang tak akan berguna jika salah satunya hilang.

Saya punya mantan pacar. dia yang menciptakan Quote diatas. Herdiyan, sosok istimewa yang tak tersentuh kalang menyakiti. Baginya segala kebahagiaan ada dalam diri kita sendiri. Tak perlu mencari-cari dan berteriak-teriak kepada orang lain untuk minta di bahagiakan. Kebagiaan muncul dengan sendirinya ketika kita mampu untuk menciptakannya. Maka, herdiyan adalah sosok independent dalam dunia saya. sosok yang tak mungkin merasakan kesakitan karna dia memampukan dirinya untuk bahagia sendiri. tanpa bantuan siapapun, bahkan saya yang notabene adalah pacarnya dahulu.

Tapi Herdiyan itu manusia biasa. Bukan malaikat yang tak punya nafsu amarah juga bukan iblis yang justru penuh dengan angkara. Herdiyan akhirnya menunjukkan kesempurnaannya sebagai manusia dengan mengatakan Quote diatas. " setiap pasangan ingin bahagia, tapi lupa caranya untuk saling membahagiakan." Waktu dia bilang gitu kesaya, sampe sekarang ( kejadiannya sudah bertahun-tahun lampau ) saya masih ingat ekspresinya. sorot mata yang menyiratkan kesakitan, dan suara paraunya yang luar biasa menyayat telinga saya. oke, katakan saya menganalogikan ini dengan sangat lebay, tapi sungguh, saya nelangsa mendengar dia bicara begitu. saya merasa, saya melupakan cara membahagiakannya. hingga dia harus bahagia dengan caranya sendiri.

Saya dimanja kebebasan saat pacaran sama Herdiyan. Saya mau apa dia dukung, saya mau gimana dia turutin. Saya bahagia, merasa menemukan pria yang saya mau. Sampai suatu hari, saya tau satu hal. Bahwa Herdiyan, memampukan dirinya sendiri untuk bahagia bukan tanpa sebab. Tapi justru karna penyebab. dan saya-lah penyebab nya itu. menyesal saya mengetahui itu terlambat, saat saya tak mungkin lagi membahagiakannya. Herdiyan meninggal, tanpa sempat saya bahagiakan. dan itu jadi penyesalah terbesar saya hingga hari ini.

Saya belajar banyak dari Herdiyan. Bahwa mencintai seseorang tidak bisa satu arah. pasangan harus mampu saling membahagiakan. Mungkin saya telah menemukan sosok yang saya mau lewat Herdiyan. Saya telah menemukan orang yang mau melakukan apapun untuk saya tanpa saya minta, mau membahagiakan saya tanpa saya merajuk dan mau menjaga saya bahkan sebelum saya terluka. tapi, bagaimana dengan herdiyan? sudahkan dia menemukan sosok perempuan yang mau melakukan apapun untuknya tanpa dia minta? sudahkah saya jadi pelindungnya bahkan sebelum dia kesakitan? apakah saya telah mampu membahagiakannya jauh sebelum dia membutuhkannya? sudahkah dia temukan sosok perempuan yang dia mau dari tokoh pacar yang bernama Rahmi? saya mendadak linglung. koleps.

Terlambat. saya harus memperbaikinya. meski bukan melalui herdiyan. saya tau, saya harus mampu membahagiakan pasangan saya sebagaimana dulu saya dibahagiakan pasangan terbaik saya. Karna itu saya mulai menata hati, mempersiapkan kematangan pola pikir dalam berhubungan, serta memampukan diri untuk menjadi yang terbaik bagi pasangan saya. Bukan untuk menebus kesalahan pada Almarhum, tapi lebih kepada rasa ingin menjadi sang pecinta yang baik. Yang benar. saya kapok, jika harus merasa menyesal setelah kehilangan.

" kalau sayang, kamu harus terima aku apa adanya." Duuuhh, kalimat itu terasa cekak buat saya. Selain dangkal dan agak konyol. berlindung di balik cinta buta cuma karna gak mampu jadi yang terbaik buat pasangannya. kalau saya denger pacar saya bilang gitu, saya bakalan sambit dia pake sendal jepit. bukan karna saya gak menerima dia apa adanya, tapi kalo saya cinta, maka saya akan menjadikan orang itu yang terbaik. saya akan membuatnya terus memiliki progress yang berarti dalam hidupnya. Konsep menerima apa adanya itu mutlak milik pasangan yang lemah. yang gak mampu berbuat lebih untuk pasangannya.

beberapa bulan setelah Herdiyan meninggal, saya ketemu sama sahabat kentalnya. ngopi bareng sambil mengenang almarhum. sampe detik ini, saya masih tetap menangis jika membicarakan Herdiyan. Bukan karna masih menyimpan cinta, tapi lebih karna penyesalan yang luar biasa dalam.Herdiyan mungkin memang sangat menyayangi saya, tapi saya akhirnya tau. dia menjebak saya dalam kesalahan yang fatal. saya dimanjakan taburan kasih sayang tanpa batas olehnya, menjadikan saya pribadi yang egois dan tak mengenal ampun. hingga akhirnya tanpa sadar melukai secara berkala pada pasangan saya. membuatnya harus merelakan kebahagiaannya sendiri demi melihat saya bahagia. itu imbisil buat saya. pasangan, adalah keberadaan "saling" yang paling penting. jika hanya salah satu, maka hubungan itu jadi timpang. berat sebelah. tak sehat dan berpenyakit.

Sekarang saya jadi punya visi berbeda ketika berpasangan. belajar dari Herdiyan saya tau, kebahagiaan memang muncul dari hati kita masing-masing, salah satunya dengan melihat orang yang kita sayangi bahagia. tapi kadang kita membutakan diri sendiri, dengan menganggap kebahagiaan orang tersebut adalah yang paling utama. kita lupa bahwa kadang, ada kebahagiaan yang datangnya bersamaan dengan kesakitan. kebahagiaannya mungkin jadi kesakitan kita. di posisi itulah, tugas pasangan kita untuk gantian membahagiakan kita. mampu atau tidaknya pasangan kita membahagiakan kita juga termasuk cara kita untuk membuatnya bahagia. keberadaan 'saling' menjadi konkret maknanya.

Selama hidupnya, herdiyan diam dan selalu mengalah pada saya. menjadikan permintaan saya bak sabda pandhita ratu. dia tak membantah meski itu menyakiti hatinya. asal saya bahagia, begitu katanya. saat itu saya jelas senang. saya makin menggila dengan banyak permintaan absurd yang sangat mungkin menakiti hatinya. membuatnya terluka dan meringis pelan-pelan tanpa saya tau. sekarang, saya tak ingin begitu. saya ingin membahagiakan pasangan saya dengan cara yang benar. membuatnya mampu membahagiakan saya dan menjadikannya juga bahagia. kebahagiaan itu lebih nikmat jika datang beramai-ramai. maka, satu pesan saya untuk kalians para pencinta-pecinta sejati : " Diam itu memang emas. Tapi jika ternyata diam itu menyakiti diri sendiri, maka emas itu adalah emas imitasi. ".

Love.

Rahmi.