Selasa, 25 September 2012

Rapal kebalikan.

Aku tidak merindukanmu
Rindu sesak memelukku seperti pakaian sempit yang basah.
Ada yang menetes-netes kelantai dan memantulkan wajahmu ke mataku
aku ingin kau pergi 
( tolong jangan pergi )
Kau pergi tanpa lambaian tangan.
Kata-kata hanya terbendung sampai kerongkongan : Ramuan mematikan berisi amarah dan harapan.
Hanya secuil, tapi benih. dan ada yang menyiraminya setiap hari.

Jangan.
Hari ini ada yang nakal memoles dinding di hadapanku dengan kilasan-kilasan peristiwa
dengan bintang-bintang buram yang sempat menjadi kawan tidurku, 
ketika aku sedang ingin pura-pura berbaring di bawah langit malam sambil menggenggam tanganmu yang hangat dan penuh merungkupi jemariku
( aku kangen )

ini bukanlah sesuatu yang kuharapkan
berdiri lagi di depan perapian,
kakikanan sudah menyentuh api, kaki kiri mengikuti.
kemudian perlahan-lahan, aku habis ditelannya, di telan panasmu.
ada harapan harapan tertentu yang mampu membunuh 
( menginginkanmu kembali adalah di antaranya )

aku sangat merindukanmu 
( aku tidak merindukanmu )
ada yang berlari di kepalaku
mencari cara untuk menyeka air matamu
selain hanya membisu, meniru gerak bibirmu

tolong jangan pergi 
( aku ingin kau pergi)
aku selalu disini, mencoba menjejal dalam ingatan ribuan aksara tentang silam.
Ingin kurengkuh, namun hanya bisa diam, dingin dan tak mampu menyiratkan.
lalu kita sama-sama mencabut kenangan, saling berusaha melupakan.

Aku kangen
menunggumu di sudut kamar yang gelap, sendiri menatapbunga yang mulai layu.
Di bawah rintik hujan yang mengetuk jendela,
Yang tak ada henti-hentinya kuhitung rinainya
Hingga berdebu,bunga itu kini menjadi sebatang abu.
tak kutemukan dirimu, entah berapa lama

( Jangan )
mungkin sudah habis lelahku menunggu kamu
Entah siapa yang pergi dan siapa yang kembali
aku mencintaimu, dalam ruangan yang pernah ada kamu.
tersenyum terawa,meninggalkan bekas tegas keberadaanmu
sepi ini kini merasuki nadiku, yang kini kosong tanpa kamu.

( ada harapan-harapan tertentu yang mampu membunuh)
menginginkanmu kembali adalah diantaranya.


Minggu, 23 September 2012

KULDESAK

Oke, kali ini cerita agak banyak tentang hari Sabtu saya kemarin.

Jadi, ceritanya saya yang udah lamaaaaa banget gak latian teater, pengen latian lagi. lebih tepatnya saya pengen olah tubuh lagi. Gesture saya pasti sudah sangat melemah dan cara saya mengapresiasikan sesuatu pasti sudah standart sekali. saya butuh Charge. berbekal dari itu, saya berangkat ke USNI untuk latihan olah tubuh hari sabtu kemarin.

Kampus USNI itu ada di sebelah Mall Gandaria City. tepatnya, itu entah berapa puluh kilometer dari tempat tinggal saya. Dulu, sewaktu saya rutin latihan, saya kesananya ada yang anterin. Nah, ini saya berangkat berdua sama temen saya ( *namanya Inay,perempuan asli ambon, berperawakan tinggi kurus khas ambon ) naik TransJakarta. sebelum berangkat saya browsing di internet dulu, jalur mana aja yang harus saya tempuh buat bisa sampe di Gandaria. saya mesti naik koridor 11 turun di kampung melayu, pindah ke koridor harmoni, dan barulah ambil koridor lebakbulus dan turun di kebayoran baru. Inay yang saya ceritain itu langsung jiper. " ada baiknya kita naik taksi saja" katanya, saya ngakak. naik taksi bisa 350 rebu, kalo naik transJ cuma 3500. Inay mengkerut.

Sampe di kampung melayu, semua masih santai. kita berdua dapet tempat duduk dan masih menikmati kemegahan moda transportasi TransJ. tapi begitu pindah di armada arah harmoni, bencana dimulai. Itu yang namanya manusia udah nyaris gak ada bedanya ama karton bekas. di tumpuk, dilipet dipaksa di masukin ke karung. Saya sama Inay melongo. Kami masih saling lempar senyum sambil geleng-geleng kepala waktu kondektur TransJ menghentikan arus masuk penumpang. masih ada celah untuk bernafas, gitu saya pikir. tapi nyatanya tidak. di Matraman, ada 3 orang turun, tapi 5 orang masuk. nah salah satu orang itu ada yang guedenya kayak Rahwana. saya sama Inay yang kebetulan berdiri di depan pintu tengah, mencoba miring-miring untuk ngasih jalan si Rahwana itu. tapi dia emang gede banget, jadi ternyata bukan cuma saya yang harus miring-miring, tapi juga nenek-nenek yang ada di belakang Inay. Dari hal ini semua terjadi.

Nenek itu terdesak depan belakang, Inay sewot. Saya lebih-lebih. kenapa sih gak berdiri aja di depan pintu. laki-laki kan? gede juga badannya kan? ngapain mesti maksa masuk ke tengah dan bikin desakan lebih ke si nenek. itu juga, penumpang muda-muda yang pada duduk, kenapa sih gak ada rasa pengen mempersilahkan si nenek renta itu duduk? saya spontan ngucap " Astaghfirullah." dan cuma diam. berusaha menahan diri untuk tidak miring kearah si- nenek agar tak mendesaknya lagi. tapi Inay, karna dia ambon manise, maka dia angkat suara. " sudah gila ngana hah?  seng ngana lihat ada orang tua di belakang beta !!! " gaya hardikan khas ambon menguar dari mulut manisnya, cukup membuat si rahwana diam. saya nyengir. pasti dia takut kena bacok orang ambon.

Sampai di harmoni, saya dan Inay melongo. baiklah, saya deskripsikan suasana disana. ratusan manusia, membanjiri shelter itu. mengular dalam antrian yang saya yakin baru akan terselesaikan entah berapa jam kedepan. Barbarisme mengalahkan panasnya udara di atas shelter itu. saling sikut dan jambak terjadi ( oke ini lebay) hehehehe. Dan nenek renta itu, berjalan terseok kearah antrian lebak bulus. kami di belakangnya karna jalur kamu sama. herannya, entah mungkin karena jodoh, si rahwana pun sudah berdiri beringas di antrian lebak bulus yang super padat. Inay melengos, mulutnya terkunci karena cubitan saya di pinggangnya. Nenek itu, karena tadi Inay tolong, dalam antrian kali ini memilih berlindung di balik tubuh Inay yang memang semampai. Alhasil posisi kami adalah : Rahwana, Inay, Nenek dan saya. kami berempat, mencoba menyimpan dendam sendiri-sendiri.

Begitu bus datang, orang-orang di belakang kami mendorong. Saya yang ada di belakang nenek berteriak spontan karena terdorong dari belakang " Jangan dorong dong, depan gue nenek-nenek. " Beberapa orang diam, tapi mendadak ada balasan celetukan, " harusnya kalo udah tua gak usah naik busway" kontan saya noleh. suara laki-laki, dari seorang laki-laki muda yang berdandan dandy di bekalang saya. Inay tau saya marah, dengan sigap dia menyentuh pundak saya. Tapi dewa kemarahan sudah datang lebih dulu ketimbang tindakan penyabaran dari Inay. dengan mata melotot, saya tunjuk itu laki-laki. " elo, yang mendingan kagak usah naik TransJ !!! " demi harga diri, laki-laki itu menjawab " urusan gue" saya, tanpa pikir panjang langsung berbalik dari antrian, menyeret si lelaki yang ternyata tingginya tak tergapai, dalam hitungan detik, kami resmi jadi tontonan. Inay geleng kepala. satpam datang melerai kami berdua. Tak tahan dengan emosi, saya tarik kerah bajunya dan saya tonjok mukanya. sejujurnya, kepalan tangan saya yang justru perih setelah memukul mukanya, tapi hati saya terpuaskan. setelah itu dengan bodohnya saya keluar shelter dan mencegat taksi. akhirnya, 3500 ke arah gandaria menjadi 134 ribu rupiah. Inay terbahak sepanjang perjalanan Harmony - Gandaria.

Malamnya, saya, Inay dan teman-teman dari USNI berangkat ke UNJ untuk nonton pementasan teater. setelah sekian lama, akhirnya saya ketemu sama temen-temen lama. malam minggu itu, saya kembali jadi mahasiswa, duduk lesehan di depan panggung, minum kopi sambil makan keripik kentang, terbahak bareng dan ngebanyol bareng. seandainya pun besok kiamat, saya yakin saya masih mampu bilang bahwa saya bahagia pernah mengalami ini semua. heheheheh. tapi bukan itu yang menarik dari pementasan CM di UNJ. ada yang silau selain kebahagiaan bertemu teman lama.

CM UNJ membawakan naskah WS. Rendra ( Mastodon dan burung Kondor ). siapapun tau, itu salah satu masterpiece Rendra. bercerita tentang revolusi amerika dengan bahasa berat dan tokoh yang luar biasa susah. durasi Mastodon dan burung kondor itu sekitar 3,5 jam dengan mobilitas karakter dan dialog super cepat. ketika pertama kali datang, saya yang memang sudah beberapa kali menonton naskah itu digarap oleh beberapa teater lebih memilih ngerumpi berbisik dengan beberapa kawan lama. sampai, saya tertegun dengan munculnya tokoh mastodon. Saya kaget, ini mastodon pertama yang bikin saya deg-degan. dia memiliki vocal kuat dengan vbrasi yang serupa dengan bayangan saya tentang mastodon selama ini. gesture tubuhnya liat dan lentur. cerdas. pikiran pertama yang hinggap di benak saya adalah " Laki-laki ini cerdas !"

First thing saya terbukti benar. di akhir pementasan, saya lihat jam. 2,5 jam total pementasan!! saya makin merinding. gimana bisa, naskah se liar ini, dengan durasi 3,5 jam, mampu digarap hanya dalam waktu 2,5 jam. tanpa mengurangi essensi makna dan roh spiritualnya sama sekali. sutradara secerdas apa yang mampu menggarap ini semua dengan begitu cerdas? saya penasaran. dan saya sontak berdiri dari duduk, ketika MC mengenalkan si tokoh mastodon sebagai sutradara. gila!!! udah main nya keren, cerdas, dia pula yang nyutradai pementasan berdurasi singkat dari naskah berat tanpa mengurangi apapun dalam essensi garapannya. dia, lelaki yang menyilaukan temans. serius.

Oke, saya megap-megap nahan kagum sama dia. beberapa teman mengenalkan pria itu pada saya. namanya Ramon. dewasa dan sangat supel. dia menyikapi pujian dari penonton dengan sangat baik. saya makin gak bisa nafas waktu dia kasih nomer hape nya sama saya. Ya Allah, itu matanya kayak ada kilatan kecerdasan dewa Zeus. aihhh, segala topan badai datang dipikiran saya. malam minggu itu, saya dapat ujian berat dari Allah, berupa pesona Ramon.hehehee

Kuldesak. sabtu kemarin saya kuldesak. dari pagi bete gara-gara transjakarta, malemnya rese sama pikiran gara-gara pria genius. saya harap, Kuldesak ini bikin saya lupa sama sakit yang dulu-dulu.





Kamis, 20 September 2012

SalCur = Salah Curhat !!!

Selamat sore. hari ini Jakarta heboh. seheboh hati saya yang super complicated. oh, Damn!! maafkan saya kalau selalu menghujani kalian dengan umpatan diawal obrolan. 

Kalian pilih siapa? hehehehe. yang berasa tinggal di Jakarta tapi gak ikutan milih, terus sibuk ngomporin orang buat milih ini atau itu, setelah itu lenggang kangkung tanpa beban harus memilih, adalah saya orangnya. 

Tapi, saya gak mau jadi orang latah dengan ngomongi masalah pilihan gubernur Ibu kota sama kayak yang lain. saya bosen, di Twitter, di facebook di detik.com di angkot, di Radio, dimana-mana ngomonginnya udah Foke sama Jokowi melulu. kalau saya sih lebih suka ngomongin Taylor Lautner atau gak Robert Pattinson ya. hehehe. jadi, saya tegaskan kali ini, postingan kali ini beneran gak akan mengenai laporan pandangan mata tentang pemilihan leadership di Jakarta. Tak akan. Tiada mungkin pemirsa. 


Semalaman saya ngobrol sama temen muda. Masih kuliah semester 3, perempuan, talented dan periang. Tipikal anak gaul masa kini yang tau semua hal berbau teknologi dan perkembangan jaman. Tapi semalam, dia murung. Curhat tentang ibunya. Dan lagi-lagi saya miris, masih ada juga jaman gini orang tua yang gak gaul.

Gaul yang saya maksud adalah paham. Jadi orang tua itu harus paham. Mengerti apa yang harus dilakukan. Ini, saya bukannya ngajarin ya. Saya sih malah mau ikutan protes juga. Disini meskipun saya juga orang tua,  udah punya satu anak dan resmi menyandang status ibu sejak 4,5 tahun  lalu, tapi kali ini disini, saya bicara sebagai anak. Baiklah. Kita mulai.

Temen saya cerita tentang pertengkaran dengan mamanya. Setengah jam pertama saya manggut-manggut biasa. Cerita belum menarik, belum bisa saya tarik landasan pacu untuk ikut mengambil sesuatu. Dan beberapa saat kemudian, meledaklah saya. Berikut kalimat yang mebuat saya meledak :

Teman : Aku sebel, aku pengen cuti kuliah, tapi sama mama gak boleh kak 
Saya : ngapain cuti? 
Teman : soalnya aku bingung. Mama tuh aneh, aku gak boleh cuti, tapi tiap hari mama ngeluh masalah keuangan keluarga ke aku. Yang sehari buat aku habis 50 ribu lah, yang belum bayar listrik lah. Aku bingung.

Oke. Saya meledak. Marah.

Pertama. Iseng banget sih emak elo curhat masalah keuangan keluarga ke elo? Emang elo siapa? Aidil Akbar Madjid? Yang bisa nylesein semua masalah keuangan elo dengan program-program finance nya? Atau elo punya pohon uang yang bisa bikin semua masalah keuangan selesai pake sekali goyang? OMG, jangan ndeso deh, yang namanya masalah keuangan dalam keluarga itu udah pasti ada. Jadi, menyikapi masalah ini dengan mengeluh jelas bukan solusi tepat. Berasa banget kali ya masalah keuangannya paling dahsyat? Sampe perlu cerita ke anaknya yang masih kuliah? Yang belum kerja? Gue harus bilang SBY kayaknya nih, ada warganya yang disorientasi masalah curcol.

Kedua. Ibu, engkaulah yang diberi tampuk tanggung jawab oleh Allah untuk mengurus keuangan keluarga. Di tanganmu lah segala peri kehidupan keluarga berjalan. Selesaikan tanggung jawab itu dengan baik, atau anda gagal. Kasihan dong sama malaikat sebelah kiri, yang bakalan cape kalo ibu terus ngeluh pada orang yang salah. Anak itu memang wajib berbakti, tapi juga wajib di lindungi. Lindungi lah anak ibu dari bahaya kepanikan dan kekhawatiran berlebihan atas curhatan ibu. Percaya saya, dengan ibu curhat sama anak ibu yang belum bekerja itu,rekening listrik tetep mesti dibayar tepat pada waktunya. Tak akan ada yang berubah.


Ketiga. Tugas orang tua dan anak jelas ada di koridor yang berbeda. Bagaimana pun juga, kebersamaan dalam keluarga memang perlu, curhat antara ibu dan anak perempuannya juga perlu. Saya gak bilang itu salah, yang salah adalah keluhan sang ibu tentang betapa pusingnya mengatur pengeluaran harian untuk anak-anaknya. Lalu, ketika anak anda jadi merasa tak enak hati, kemudian mikirin banget masalah itu, kuliahnya terbengkalai, malah jadi gak lulus-lulus, kan makin rugi banda ? iya kan? Jleb moment banget itu ya. Hehehe.
Apa yang mau saya bilang disini adalah, jangan bebani anak mu dengan tuntutan untuk memahami orang tuanya.owalah, terbolak pak, bu. Terbalik itu. Anak yang harus dimengerti, anak butuh di pahami. Setelah itu, fasenya dia akan berbakti. Tapi terbalik banget, kalo belum apa-apa anda meminta anak anda untu memahami anda. Wong dari pengalaman hidup anda jelas lebih dulu lahir kok, lebih ngerti anda ketimbang anak anda kan?

Jangan paksa anak anda untuk berbakti dengan memahami kesulitan anda. Tugas dari orang tua ya membiayai anaknya sampe anaknya mampu menghidupi dirinya sendiri, dan kemudian membalas semua nya pada anda (meski tak mungkin bisa terbalaskan ). Bahkan, menggantungkan harapan pada anak pun tak boleh kan? Kalimat “ besok kalo kamu udah kerja, beliin mama mesin cuci ya?” aduh, oke !! itu mungkin beneran karna kebutuhan, tapi jangan minta dulu. Anaknya belum kerja buuuu.

Saya kadang suka gak ngerti deh, pada tau gak sih kalo Allah tuh gak ngasih ke kita anak sebelum yakin  bahwa kita mampu menjaga dan merawatnya. Itu amanah loh, titipan. Kok malah direpotin. Besok ya bu, ya pak, kalo anda-anda sudah tua dan anak anda sudah jadi orang tua dari cucu-cucu anda, lihatlah, mereka akan berbakti dengan baik jika anda pun memberi mereka yang terbaik di masa anda masih mampu. Jadi, jangan meminta sebelum waktunya.

Saya ini emang freak Out banget kalo udah masalah hubungan anak dan orang tua. Maaf ya.

Baiklah. Saya puas marahnya. Pamit dulu deh.

Love 

Me

Selasa, 18 September 2012

Tanpa Judul.

Selamat pagi, selamat menjalankan hari Rabu dengan semangat yang menggebu. Assalamualaikum. #senyum

dua hari kemarin saya diam di dalam kamar. sakit. tumbenan ya saya mampu lebih dari 24 jam ada di satu tempat yang jelas bikin jenuh. Baiklah, pengakuannya adalah : saya bosan setengah mati. tapi, dari pada saya jadi gendongan orang-orang di kantor seperti tempo hari, jadilah saya memutuskan untuk diam, menyembuhkan diri sendiri dengan banyakin istirahat.

Sakit. itu yang mau saya bahas kali ini. bisa berupa fisik, bisa berupa hati. Pria terdekat saya pernah bilang beberapa hari lalu sama saya, bahwa semua sumber penyakit ada di hati. di bathin. karna itu bersihkan bathin kita dulu. gitu. saya sepakat. dan menyetujui kalimat itu.

Saya pernah sangat mencintai seseorang. Pria ya yang pasti, saya masih normal dalam hal ini. #hehehe. ya, saya mencintainya dengan segenap hati, dengan seluruh pikiran saya dan hidup saya. kemudian saya di kecewakan,disakiti sedemikian rupa, sampai berdarah dan mengabu. lalu bagaimana? saya cuma bisa bilang, Ini maunya Allah. maka saya harus jalanin.

Saya pernah sangat membenci seseorang. berniat membunuhnya jika ada kesempatan. atau menyakiti hatinya dengan banyak memberinya harapan kemudian saya tinggalkan. namun kadang saya justru yang sakit sendiri, saya yang nelangsa sendiri karna akhirnya benci itu membaur dengan kebingungan dan harapan. saya jadi tak tau mana yang benci mana yang dendam. akhirnya bagaimana? saya kembali ke Allah. Dia yang maha tau segalanya.

keduanya, baik sosok yang membenci maupun yang mencinta, saya anggap penyakit hati.

Saya inget banget, waktu itu saya diving di kiluan, Lampung. 2 hari di sana saya puasin diving, lihat terumbu karang, ikan-ikan yang berwarna, atau sekedar plankton yang aneh-aneh. Sehabis subuh di hari ketiga, saya ditarik oleh teman untuk ikut melihat lumba-lumba. sejak dua hari lalu, setiap pagi teman saya ini selalu menyempatkan diri melihat lumba-lumba. saya yang datang ke kiluan memang bertujuan diving, selalu malas menemaninya. tapi pagi ini, mendadak saya berangkat. saya ingin lihat langsung lumba-lumba itu dari jarak sedekat mungkin di laut lepas. Sampai di lokasi, saya melongo. lumba-lumba itu asyik saling saut dengan suara melengking. mengitari satu lumba-lumba yang saya pikir adalah rajanya. si Raja itu melengking kuat. menyayat. saya pikir, ini memang pertunjukan mereka, tapi ternyata tidak. lumba-lumba yang saya kira Raja itu ternyata tengah berkabung, anaknya mati. pantas lengkingannya paling keras dan menyayat hati. tau fakta itu, saya meleleh. rasanya ingin terjun bebas dan berenang kearah yang sedang berduka, memeluknya dan memberi kekuatan. tapi saya meringis, mendengar lengkingannya yang menyayat itu, saya lemas.

Lumba-lumba itu jelas lebih sakit dari siapapun saat itu. kehilangan yang dirasakannya pastilah amat menakutkan baginya. yang tadinya terbiasa ngasih kasih sayang, mendadak harus ditinggal mati. saya tau, meski dia binatang, tapi naluri sedihnya pasti tetap ada. dan pagi ini, saya tau, ketika saya merasakan hal yang sama, saya harus bisa lebih kuat dari lumba-lumba itu. karna apa? karna saya tau bahwa semua yang saya miliki sebenernya bukan punya saya, tapi punya Allah. giliran diminta sama yang punya, kenapa saya mesti sedih kan?

Saya pernah akan dikenalkan oleh sahabat baik saya pada seorang pianis muda. perempuan, cantik. sahabat saya berkali-kali bilang ingin mengenalkan saya, tapi saya malas-malasan. apa pentingnya bertemu pianis perempuan yang cantik? saya merasa tak tertarik. sampai suatu hari, saya memang dipertemukan langsung oleh Allah dengan pianis yang dimaksud. dan saya nyaris pingsan saking lemesnya. jika mendengar permainan pianonya, mungkin semua orang akan jatuh hati dan berlomba ingin menarik hatinya. tapi, saya menyaksikan live. Dia tak punya tangan. memainkan piano itu dengan jari kakiknya. saya, menangis sesenggukan. saya mendadak merasa kerdil, merasa bukan apa-apa.

Pianis itu, tak memiliki kedua tangan untuk melakukan hal yang paling dicintainya didunia, dia menggunakan kedua kakinya. saya? tak punya apa-apa untuk mencintai seseorang, kemudian menyerah begitu saja. kontras sekali perbedaan kami berdua. dia kuat hati, saya lemah hati. pagi ini saya mengingatnya lagi, kemudian bersyukur. saya merasakan kehilangan kemarin, dan hari ini saya langsung merasakan kekuatan lagi. ternyata saya tak kehilangan apapun. siapapun, bagaimana pun cintanya saya pada seseorang atau sesuatu, saya tak berhak merasa memiliki. saya juga bukan milik saya sendiri kan. Semua saya kembalikan pada Allah. sang maha memiliki.

pada akhirnya saya tau, saya memang harus sendirian untuk tau rasanya kuat.

Love.

Me.



Senin, 17 September 2012

Kiluan Island

Aku mengenalmu,
seperti bagaimana kau memelukku dengan segenap desiran ombak yang kau ciptakan ketika menghempas semua hidupku
seperti bagaimana kau mengikatku kencang bagai buih pasir yang kuinjak terasa seperti bantalan senja di raja ampat.
seperti bagaimana kau mengenalku saat menelusuri butir demi butir air yang senantiasa menemani tanpa syarat dan kemauan
seperi perkenalan itu sendiri.
aku mengenalmu, bahkan sebelum aku mengenal diriku sendiri.

Aku mengenangmu,
menyerupai kerinduan tak bernafaskan rasa gundah nan sejahtera.
menyerupai bagaimana kuhirup oksigen melalui scuba dan tabung yang membanduli punggungku
menyerupai terumbu karang yang begitu manja dan eksotis menarik mata untuk memandanginya terus
menyerupai kenangan itu sendiri.
aku mengenangmu, bahkan sebelum aku sempat meninggalkanmu.

Kau menggenang di pikiranku,
bahkan ketika aku tak mampu lagi mendekatimu, bukan karna lemah, tapi justru karna mencoba kuat
bahkan ketika bunyi ombakmu menarik hatiku kuat hingga berdetak serupa musik disco dengan beat cepat
bahkan ketika gambar-gambar mu terpampang jelas di monitor menyambutku bagai orang baru yang ingin cepat-cepat masuk dalam pelukanmu
bahkan ketika kau nyata tergenang di pelupuk mataku, menyaru menjadi lelehan tangis dan suka tak ter-ejawantahkan.
kau menggenang di pikiranku, seolah kubangan yang membanjiri otakku tanpa tersedot oksigen lagi.

Kau mengikatku.
ketika aku tak mampu lagi menopang berat bandul hidup yang dataran ciptakan dengan energi grafitasinya
ketika ternyata aku cengeng dan mendadak merasa lemah dibanding semua manusia yang ada di hadapanku
ketika nyatanya aku memang tak memiliki keberanian untuk berperang tanpa sambutanmu
ketika kau mengabaikan kehadiranku dengan angkuh melemahkan niatku
mengikatku kencang sejenak tanpa tali terikat sama kuatnya
kau mengikatku, bahwasannya aku gagal berpijak lebih lama di daratan.

hanya kau, lumba-lumba dan terumbu karang.
Kau, Kiluan yang berkilauan.