Sabtu, 05 Januari 2013

Tolong, Saya.

Malam Minggu Kelu.

Seharusnya saya memposting hal-hal yang berbau HIV/AIDS sekarang. karna besok itu deadline tulisan untuk lomba blogger tentang HIV/AIDS. tapi saya malah melakukan sesi curhat, karna saya memang benar-benar sedang sangat sesak. Butuh berbagi.

Pernah kecewa? Saya sedang merasakannya.

Saya gak tau, kenapa rasa kecewa itu sedemikian sakit. Rasanya nyaris gila - meskipun saya sendiri belum tau rasanya gila - hati saya seperti serpihan kertas yang sobek kecil-kecil kemudian terbang tertiup angin. saya mengejar kesana kemari untuk memunguti serpihannya yang berantakan tak terarah, tapi yang ada saya kelelahan sendiri tanpa mendapatkan hasil apapun. Pantaskah saya menyerah?

Saya sudah berusia 26 tahun, April tahun ini saya genap 27. Usia matang bagi seorang perempuan. Tapi saya mendapati kenyataan, bahwa apa yang saya jalani selama ini ternyata sia-sia. Saya di hantamkan pada kenyataan, hidup saya cuma bungkus semata. Saya kalah, tanpa pernah tau kapan pertarungan itu di mulai.

Saya tau, seharusnya saya minta maaf telah memposting tulisan yang kalian sendiri tak tau masalahnya. Saya tau, seharusnya ini di tuliskan di diary saja. Tapi bolehkah sekali ini saja, bolehkah sekali ini saja saya begini? rasanya nafas saya sudah nyaris mengering. Saya butuh di temani. Sungguh butuh ditemani.

Siapapun kalian yang membaca tulisan ini, tolong saya. Tolong saya kali ini saja. Tolong beri tau saya, kenapa saya jadi manusia yang se sia-sia ini? tolong ajari saya, untuk memaafkan kecewa yang datang malam ini. Sungguh, saya butuh pertolongan. Saya butuh kalian bantu.

Kenapa manusia yang sangat begitu mencintai pasangannya bisa menyakiti tanpa di duga? kenapa raja yang begitu gagah bisa mati cuma karna kurang tidur? kenapa saya bisa terluka oleh senar gitar yang tak sengaja putus di tengah lagu padahal saya begitu menyayangi gitar itu? kenapa, harus menyakiti saya melalui cara yang paling saya cintai? kenapa?

Malam ini, rumah saya sepi. Saya sendirian. Saya menyalakan semua kran air di semua saluran. mulai dari kamar mandi, washtafel, shower hingga cucian. semua saya nyalakan. gema berisik suara air yang mengucur jatuh ke lantai membuat saya makin menyadari bahwa saya telah menggadaikan malam ini sedari subuh tadi, saya gadaikan karna saya percaya saya akan bahagia malam ini. tapi, lagi-lagi, saya salah. ibarat orang berjudi, saya telah letakkan semua uang yang saya punya untuk malam ini, karna saya tau saya pasti menang dan membawa uang yang lebih banyak. saya percaya, kartu yang akan saya dapat adalah kartu tertinggi. tapi, perjudian saya hangus. saya pulang tanpa membawa apapun. saya rugi total. saya habis malam ini.

Saya tau dan sadar diri, saya bukan perempuan baik. Tapi saya ingin terus jadi lebih baik.

Impian saya mudah, Saya ingin ada di rumah. Memasak, mencuci, mengatur rumah untuk keluarga saya. Saya ingin menjadi perempuan pertama yang menitikkan airmata bangga karna suami saya menjadi orang sukses dunia akhirat, ingin menjadi perempuan pertama yang menangis karna sakit melihat suami saya terkapar lemah di tempat tidur karna kelelahan. cuma air matakah yang saya punya? TIDAK ! dibalik Air mata saya, berjuta doa yang menopang kesuksesan imam saya, seribu senyum yang hadir tanpa dia tau.

Tolong saya.

Kamis, 03 Januari 2013

Matahari di Kuningan.

Selamat Kamis siang, selamat Tahun baru ( meski agak telat ) semoga kalian semua bahagia. Assalamualaikum.

Hari ini baru masuk setengah, matahari masih dilangit dan terang benderang -meskipun musim hujan- tapi saya sudah dapat begitu banyak pergumulan bathin di hari ini. Sebuah pembelajaran yang selalu membuat saya bersyukur karna telah jatuh cinta pada orang yang tepat. Ade Riyan Purnama - lebih sering saya panggil Mas Riyan-

Pagi tadi saya dan mas Riyan mengaji di Menara Kuningan. Mengaji di sini bisa didefinisikan dengan lebih tepat sebagai ajang curhat santai bersama guru ngaji mas Riyan yang sehari-harinya ada di Menara Kuningan. Isi pengajiannya banyak, tapi bukan itu yang membuat saya merasa mengalami pergolakan bathin yang kuat. Justru pergolakan itu terjadi setelah sesi pengajian itu selesai.

Kami mengaji hingga setengah jam sebelum adzan Dzuhur berkumandang. Mas Riyan yang memang nyaris selalu sholat di waktu awal, refleks mengajak saya ke Musholla menara kuningan yang letaknya di lantai 16. Saya memang sudah beberapa kali sholat di musholla ini. Tapi baru kali ini saya masuk ke dalam dan mendapati keadaannya sepi senyap. Biasanya, saya datang ketika Adzan sudah berkumandang. Kali ini, saya harus menunggu adzan sekitar 30 menit kemudian. Aturan musholla yang membedakan pintu masuk bagi pria dan wanita membuat saya dan mas Riyan akhirnya menunggu sendiri-sendiri. Di sinilah pergolakan bathin saya di mulai.

Musholla itu dingin sekali. Deru AC menggema menembus kesunyian. Lantai 16. Saya baru menyadari dalam kesendirian itu, bahwa saya ada di lantai 16. Entah berapa ratus kaki di atas permukaan tanah. Dan saya sendiri. Disini saya sendiri. Saya melihat Mas Riyan sedang menyender di dinding sembari memejamkan mata. Entah berdzikir entah tertidur, saya harap kemungkinan pertama yang dia lakukan.

Ada sekitar satu menit saya melamun. Menikmati dinginnya ruangan AC di tengah terik matahari di luar sana. Tiba-tiba, mata saya menangkap silau warna langit. Arahnya dari sebelah kanan. Ketika saya menoleh, saya merasa tertarik maghnet alami untuk mendekat kesana. Jendela kaca maha besar terpampang di salah satu sudut musholla itu. Saya refleks melongok ke bawah kaca itu, dan Wuzzzzz!!!! mendadak saya disergap perasaan aneh. Saya merinding entah karena apa. Mungkin takut, mungkin juga ngeri. Yang jelas, pemandangan yang saya lihat itu luar biasa hebat menggedor jantung inspirasi saya.

Dari jendela kaca lantai 16, mata saya langsung jatuh ke jalan utama Kuningan. Di belakang saya senyap. Tak ada siapa-siapa. Saya merasa kerdil, sepi, dan sendiri. Demi menghalau rasa ngeri, saya mencoba menoleh, menatap sekeliling. Pandangan saya berhenti pada sosok Mas Riyan yang masih duduk tenang di barisan pria. Dan ketika saya kembali lagi menatap ke bawah, sensasi rasa tadi muncul lagi. Kali ini disertai gemetaran yang membuat saya menggigil. Tak sadar, saya menangis.

Pemandangan itu mengunci hati saya rapat-rapat. Jalan utama Kuningan yang seringkali saya lewati, yang biasanya macet dan begitu menyebalkan, siang tadi menampakkan aum nya di mata saya. Dari lantai 16 Menara Kuningan, saya melihat ke bawah. Mobil-mobil yang berjalan, motor dan beberapa manusia di bawah. Mata manusia saya menangkap itu semua dengan baik. Namun, keterbatasannya membuat benda-benda di bawah itu tampak kecil. Sangat kecil. CR-V yang bisanya lebih besar dari saya, kali ini telihat sangat mungil. Metromini yang biasanya saya hindari karna takut terserempet kini terlihat bagai mainan keponakan saya, dan manusia-manisa di bawah sana.... terlihat seperti boneka yang berjalan dengan batu batere. Saya menggigil. Mata manusia saya, yang demikian terbatas dan baru saja dari ketinggian lantai 16 saja sudah sedemikian berbedanya melihat semua itu. Bagaimana dengan Allah? yang tak terbatas pengelihatannya, yang melihat kita jauh lebih dari atas sana. Bagaimana kita di matanya? Kecil? Kerdil dan berukuran lebih mini kah? saya terisak, takut luar biasa. Saya sadar, saya pastilah sangat kecil di mata-Nya.

Saya membayangkan bagaimana benda-benda mini itu ketika menara kuningan yang super tinggi ini roboh mendadak? Bagaimana saya yang ada di ketinggian ini akan menyelamatkan diri jika itu terjadi? Terjun bebas sama dengan bunuh diri. Bertahan belum tentu selamat. Saya bergegas ke ruang wudhu. Mensucikan diri dan curhat langsung pada yang memiliki saya.

Setelah selesai Sholat Dzuhur, mas Riyan membawa saya ke Smoking Room di parkiran lantai 7. Kami ngobrol kesana kesini. Sampai kemudian saya ingin bicara tentang pengalaman spiritual tadi, tapi sebelum saya bicara, mas Riyan berdiri. Tangannya menunjuk ke udara. Dia berkata " Kamu liat deh, mata kita kalau begini cuma bisa menatap pemandangan di sana." Katanya sambil menunjuk gedung-gedung pencakar langit di sekitar Menara Kuningan. " Kita cuma bisa liat langit, sama gedung-gedung itu. Tapi kita luput gak mau liat ke bawah. " sontak saya diam. Sepertinya ada aliran listrik yang terjadi antara bathin saya dan bathin mas Riyan kala itu. Tanpa bermaksud sok romantis, saya memperhatikan dia. Pria di hadapan saya ini memang luar biasa.

Saya jadi teringat suatu kejadian di TIM sore hari. Waktu itu rintik gerimis di depan pelataran teater besar. Saya dan mas Riyan habis nonton film di XXI TIM. Waktu itu, tergopoh-gopoh kami berlarian ke mobil. tiba-tiba mas Riyan bilang hal yang membuat saya terkesiap, katanya " Aku ini laki-laki paling kaya sedunia. Aku punya dua mata yang masih bisa melihat, aku punya telinga lengkap yang masih bisa mendengar, dua tangan yang masih cukup kokoh untuk bekerja, dua kaki yang masih gagah untuk berdiri dan perempuan seperti kamu yang jadi perhiasan termahal. Kaya itu gak cuma harta kan? " Saat itu, saya membungkus kata-katanya dan menyimpan dengan rapi di ingatan.

Bagi saya, kebagahiaan terbesar adalah ketika saya mampu mengambil hal-hal baik dari apa yang tengah terjadi. Dan kehadiran mas Riyan, memiliki sumbangan terbesar dalam pencapaian kebahagiaan itu. Semoga, kalian pun memiliki pasangan yang sama baiknya dengan pasangan saya. Karna kita semua, akan di jodohkan dengan orang yang memang pantas untuk kita.

Regrads.

Me. 

Senin, 17 Desember 2012

Ngilunya Hujan

Hujan di Jakarta, hujan di hati saya. Selamat sore, selamat merasakan tetesan air yang mengalir dari tulisan kali ini. Assalamualikum.

Hujan selalu memberi makna ganda dalam diri saya. Romantisme dan ngilu yang berdenyut-denyut. keduanya kadang datang bersamaan dan membuat satu juga lainnya melebur tanpa batas, kadang datang sendiri satu-satu. Kali ini, ia datang sendirian, melalui jalur kedua : Ngilu !

Hujannya deras, ngilunya juga deras. Saya sibuk memegangi jantung pelan-pelan. merasakan aroma darah yang menguar dari bunyi air yang tak lagi gemericik.Ini dia rasa ngilu yang indah. Ngilu ketika saya justru berharap bahagia.

Saya ini perempuan yang banyak sekali mimpi, punya segudang angan-angan dan menatap semua itu satu-satu dengan penuh keyakinan untuk mewujudkannya. Saya juga selalu meletakkan harapan - yang besar maupun kecil - dalam benak saya, sebagai sarana untuk memacu diri pada kualitas yang lebih baik. Karna itu, saya percaya pada impian, saya yakin pada harapan dan saya menghormati mereka yang berani berangan.

Buat saya, ngilu yang paling ngilu adalah ketika kita udah ngeliat impian di depan mata, mampu untuk mewujudkannya, memiliki sarana untuk menjadikannya nyata tapi sama sekali tak mampu melangkah menuju kesana. Dan sore ini, saya merasakan itu. Kengiluan yang di barengi dengan datangnya hujan. Rasanya, sore ini campuran kombinasi yang usang. Yang sangat lama.

Saya sejujurnya sangat ingin bicara banyak disini, mengatakan apa-apa yang ada dalam hati saya, membagi semuanya pada tulisan. Membiarkan kalian semua membaca diri saya dalam sisi yang lain. Tapi nyatanya, setiap kali saya ingin memulai menuliskannya, saya terbentur dinding besar yang saya ciptakan sendiri. Saya takut, jika saya terlalu banyak bicara maka saya akan terlihat lebih bodoh dari biasanya.

Pada akhirnya saya kembali diam. Menyimpan semuanya sendiri dan cuma bisa ngilu melihat hujan yang datang. Saya berharap, dengan membaca tulisan saya ini, ada diantara kalian yang tau, bahwa jika kalian memiliki masalah dan tak bisa menceritakannya pada siapapun, kalian tidak sendiri. Ada saya yang juga bernasib sama. Kita sama-sama bisu, tak mampu bicara apa-apa.

Tapi percayalah, hujan datang itu Allah yang kirim. Meski pun benar, hujan juga terjadi karna adanya proses alamiah yang berbentuk rantai dan simbiosa. Tapi yakinlah, di balik ngilu itu kelak kita akan tuai romantismenya. Percayalah bahwa kita akan bahagia kelak. 




Senin, 19 November 2012

Perempuan, Ayo katakan TIDAK untuk KDRT.

Selamat Selasa pagi. Semoga kalian semua bahagia. Assalamualaikum. :)

Sudah beberapa hari ini saya heboh sendiri. Banyak sekali masalah yang harus saya selesaikan di dunia nyata. Saya sampai gak sempat menulis, membuka account jejaring sosial atau sekedar surfing-surfing di dunia maya. Rasanya saya jadi ketinggalan banyak info.

Ada banyak hal di dunia ini yang kita gak pernah bisa menolak untuk menerimanya. Seperti kejadian yang menimpa saya beberapa hari belakangan ini. Orang terdekat saya mengalami kasus KDRT, dan parah. Saya meradang sekaligus ikutan sakit. Saya gak bisa berbuat apa-apa selain ikut mendoakan untuk kebaikannya. Hati saya mangkel bukan kepalang, mengetahui luka-luka yang di deritanya tidak biasa. Mengetahui bahwa apa yang seharusnya bisa saya lakukan, mendadak mentah di kasusnya. Saya luar biasa gagap, kelu menyaksikan kesakitannya sendiri.

Kasus KDRT ini udah banyak banget di dunia. Jangankan perempuan awam ya, perempuan sekelas Rihanna yang kita tau sangat independent pun mengalaminya. Saya miris, gimana bisa para perempuan itu kok bisa cuma diam aja? mereka apa gak pernah berfikir kalau sudah ada perlindungan kuat yang mengantisipasi masalah-masalah kayak gitu?

Buat saya, Sekali seorang pria memukul maka dia akan mengulanginya lagi. jadi, begitu dia memukulmu satu-satunya hal yang harus kamu lakukan adalah meninggalkannya. Karna jika dia minta maaf dan kamu memaafkannya lantas memberinya kesempatan, maka dia akan kembali jadi monster suatu hari nanti, kembali mengamuk tanpa kendali, dan kembali menjadikanmu sansak hidup. begitu seterusnya hingga nanti kamu masuk dalam liang kubur karenanya. So, leave he now!!

Banyak feminis yang memprotes ketentuan Tuhan tentang terbuatnya Perempuan hanya dari tulang Rusuk pria, bahkan Terbuat dari tulang rusuk yang bengkok. Kenapa bukan tulang kepala? Kenapa harus tulang rusuk yang tak begitu kuat? Karena perempuan memang ada untuk disayang. Kenapa tulang rusuk? karena Tulang Rusuk letaknya di dada, tempatnya melindungi hati. Ada di dekat ketiak, yang menandakan kita memang harus di lindungi oleh tangan kekar pemilik nya. Bukan di kepala karna kita memang bukan untuk memimpin, dan bukan di kaki karena kita memang tak pantas di injak-injak. Tapi sekali lagi, kita lah sang tulang rusuk yang bengkok, yang jika dipaksakan lurus maka dia akan patah, dan jika dibiarkan dia akan semakin bengkok. memangani kita harus lah hati-hati. karena jika tak hati-hati kemungkinannya ada dua: patah atau makin bengkok.

Jika si pemilik tulang rusuk itu ternyata tak baik cara memperlakukan kita, maka tinggalkan pun tak masalah. Secara medis, pria memiliki 12 tulang rusuk di tubuhnya. maka, jika kita meninggalkannya, dia masih punya 11 tulang rusuk yang masih bisa dia pilih. Jadi jangan pernah merasa bersalah ketika meninggalkannya karena perlakuan yang kurang menyenangkan darinya, apalagi jika itu adalah KDRT. saya serius, apapun yang kalian dapatkan dalam kehidupan, jika sudah ada KDRT didalamnya, jangan pernah berfikir ulang untuk tetap stay di sisinya. Segera kemasi barangmu, dan tinggalkan dia. Atau kamu akan selama jadi sansak hidup di tangannya.

Saya memang saklek untuk hal yang satu ini. Karna bagi saya, apapun track record seorang perempuan, yang namanya KDRT itu tetaplah penindasan. DAn tak ada kompromi untuk suatu penindasan.

Kemarin saya sempat tersulut emosi. Ketika saya dengar ada seorang teman saya juga mengalami hal yang sama. Bahkan yang melakukannya masih berstatus pacar, belum suami. Saya tersulut bukan karena teman saya diam, tapi karna saya dengar ada seorang pria berkomentar menyebalkan tentang kasusnya . kata nya " ya wajar saja diperlakukan kayak gitu, dia memang tipe perempuan yang harus di begitu kan kok. Lihat aja track record nya seperti apa"  Saat itu muka saya memanas, telinga saya merah dan tangan saya berkeringat menahan amarah. Saya memandangi mas Riyan yang kala itu duduk di depan saya. Saya memandangi wajahnya yang lembut, yang tak ada gambaran sedikitpun akan melakukan KDRT. Dan hati saya mendingin. Tapi pria itu kembali melanjutkan komentarnya " Kalo gue jadi lakinya, gue juga bakalan melakukan hal yang sama. " Saya tak bisa lagi di tenangkan oleh wajah lembut Mas Riyan. Saya menoleh kearah si pemberi komentar itu dan menatapnya marah. Saya langsung mengeluarkan banyak muntahan dari mulut saya. nyembur langsung ke lelaki yang juga kaget melihat reaksi saya.

Jadi Lo pikir karena track record nya jelek, perempuan boleh di kasarin? Sah-sah aja gitu? apa kabar sama track record lelaki?kalo lelaki nya dulu mantan playboy jadi boleh dong si perempuan ngeluarin cambuk cemeti amar rosuli buat nyambukin dia setiap saat? bukannya setiap orang punya masa lalu? dan bukannya tiap orang juga ber hak buat jadi lebih baik? kalo setiap perempuan yang berniat jadi lebih baik di perlakukan begitu, gue yakin gak bakalan ada perempuan yang mau. Setau gue, siapapun perempuannya, baik atau buruk kelakuannya, apapun masalalunya, gak ada satu pria pun yang berhak untuk menghakimi dia dengan cara melakukan penindasan. Cuma orang yang bersih dari dosa yang boleh melakukan itu.

Dan masih banyak lagi muntahan yang saya keluarkan. yang jelas, si pria langsung merah mukanya. mungkin antara malu dan marah. antara merasa terhina dan tertantang untuk membalas kalimat-kalimat saya. detik setelah saya muntah, saya diam kembali. mendadak malas untuk melanjutkan perdebatan itu. Saya ingat kalimat seorang sahabat :" laki-laki, kalo udah ngerasa superior mau kitanya ngomong apa juga gak bakalan didenger. laki macem gitu cuma bisa ditutup mulutnya pake kapak" Maka saya diam, karna saat itu saya jelas gak bawa kapak.

Jadi Girl, jangan pernah membiarkan diri kalian jadi korban kebiadaban yang gak jelas kayak gitu. pilah dan pilih, lihat dan perhatikan, mana perilaku yang memang menunjukkan sayang dan mana yang bukan. mana lelaki baik dan mana yang cuma pura-pura baik. Semua itu keliatan kalau kita bisa combain antara akal sama hati. jangan pernah tertipu cinta, itu jebakan.

Salam panas.

Sabtu, 10 November 2012

Tak Biasa.

Minggu pagi ini, saya meradang. disela sakit perut yang terus melilit tubuh saya, menjangkar waktu saya untuk terus-terusan bergulat diatas tempat tidur, menggeliat kesana-sini hanya demi menghilangkan sakitnya meskipun selalu gagal - dan yang akhirnya justru makin menekan perut saya untuk siaga melawan sakit yang melilit- saya juga menahan suatu perasaan gundah. Perasaan dimana hari-hari saya di kristalkan seperti garam. Asin dan keras.

Sudah lebih dari dua minggu ini saya kesulitan mengatur ritme hidup. Jujur saja, saya ini seperti orang gagap yang mendadak bisa bicara lancar. Semakin lancar saya bicara, semakin bingung saya menghentikannya. Sementara saya terbiasa gagap dengan bicara terputus-putus. Analogi itu yang kemudian membawa kesadaran baru, bahwa manusia memang tercipta untuk senantiasa tidak bersyukur. Dan saya malu mengakui bahwa saya termasuk salah satunya.

Ada hal yang menekan hati saya. Demikian dalam tekanan itu sampai saya lupa memaknainya sebagai proses yang mestinya saya protes. Saya justru merasakan tekanan yang dalam itu sebagai konsistensi kepedihan yang terakumulasi dalam hidup saya bertahun-tahun belakangan ini. Mendadak saya merasa harus menebus dosa besar, dosa menjadi penipu. Dosa yang tak akan pernah saya maafkan seumur hidup saya. Bahwa selama ini saya menipu, menipu diri sendiri. Berpura-pura biasa padahal sungguh dalam hati saya perasaan sakit menekan terus. Bertahun saya hidup dalam keterasingan, namun mencoba menjadi yang paling biasa. Akhirnya, pagi ini, semua perasaan itu terakumulasi. Tergenapkan.

Disela sakit yang membelit perut saya, saya paksakan mandi pagi. Saya harus kena air. Untuk alasan apapun, air adalah peredam segala api yang ada. Api di dalam maupun diluar. Saya meredamnya dengan mandi. Matikah api itu? tidak semua, tapi minimal usaha itu membuahkan hasil. Saya tak lagi gelagapan karna tak mampu bernafas, asma akibat banyaknya tekanan di hati.

Biasanya, saya akan langsung pesan tiket pesawat ke lampung dan menyelam di kiluan. Biasanya, saya akan langsung berjalan mengitari pasar tradisional dan bertengger terhenti di tengahnya. Hanya air dan keramahan pasar tradisional yang mampu meluputkan segala tekanan itu, membuatnya terangkat dan terlupakan sekali lagi memberi saya nafas untuk kembali melalui hari-hari saya, dengan menipu kembali.

Kali ini tak biasa. Saya tak lagi berani menghubungi awak Kiluan. Ada tangan besar yang menggenggam saya di Jakarta. Yang menjangkarkan hatinya dan mempercayakan hidupnya pada saya. Saya sudah berjanji, untuk menjaganya sampai saya sendiri tak mampu berdiri. Dan saya belum melihat kemungkinan akan keingkaran janji itu. saya diam bergeming didepan laptop, dengan layar yang menyala pada web pemesanan tour ke kiluan. dengan tangkas saya mengklik tombol exit. saya batal pesan.

Masih saja tak biasa. Saya tak menuju pasar tradisional. Kali ini bukan tangan besar yang membuat saya tak melakukannya.Tapi sebuah kehidupan lain yang hidup dalam diri saya. yang harus saya jaga dan rawat entah sampai kapan. yang eksistensinya membuat saya kehilangan alasan untuk egois. yang akan membuat saya menjadi manusia utuh dan penuh kembali. Saya hidup dan dihidupi olehnya. maka tak mungkin saya melalaikannya.

Kiluan memang berkilauan. Lumba-lumba dan banyaknya terumbu karang yang siap dimangsa oleh kelaparan mata saya jelas santapan lezat yang akan melenakan saya sepanjang waktu. Pasar tradisional juga membuat lupa. suara-suara magis dari para penjual itu senantiasa membuat saya merasa berarti. Merasakan ujung sol sepatu saya yang basah oleh kubangan air di tengah pasar itu membuat hati saya tergetar. mencicipi keramahan udara dan bau amis ikan membuat saya terangsang untuk bangkit dan berdiri, berlari kesana. tapi kali ini saya hanya diam. saya gagu.

Ternyata, tak selama nya saya bisa membahagiakan semua orang. Saya sepagian ini menangisi diri sendiri. menangisi kebodohan saya, menangisi kealpaan saya. inilah hidup yang tak lagi hidup. saya anomali didalamnya.