Rabu, 18 Juli 2012

Surat Dini Hari untuk si kecil.

Ketika kamu terbangun nanti, Nak....
Mama sudah tak ada menyambut geliat malasmu yang merengek minta susu dengan hardikan lagi. malam tadi, mama telah menyiapkan sejumlah rencana untuk meninggalkanmu ketika masih terlelap. maafkan mama untuk itu, tapi mama harus berusaha menemukan takdir terbaik kita. meski harus dengan meninggalkanmu.

Ketika kamu terbangun nanti, Nak...
mama sudah ada di seperempat perjalanan menuju kota besar yang menawarkan beragam harapan. mama akan kembali, dengan bongkahan takdir terbaik yang Tuhan siapkan dengan disembunyikan diantara tumpukan masalah dan kerja keras yang harus mama lakoni. takdir itu, jugalah yang terbaik untukmu.

Ketika kamu terbangun nanti, Nak....
Tak akan kamu dapati lagi tawa mama yang tak bisa mama tahan karna melihat tingkahmu yang ajaib. mungkin kamu akan menangis sebal karna kecewa ketika mendapati mama tak ada lagi disisimu, dan mungkin mamapun akan menangis sedih ketika menyadari betapa kamu menginginkan mama ada disamping kamu selalu tapi tak bisa mama penuhi. Mama tau, dalam tangisan itu, Allah telah menyimpan butiran air mata kita sebagai berlian yang akan kita tuai kelak jika mampu bersabar. maka, maafkan mama Nak, jika meminta ini darimu. mama mohon : bersabarlah.cuma itu yang kita bisa sekarang.

Nak, dalam setiap usaha mama, kamu terus tersenyum didepan mata mama. membuat mama yang lelah tanpa hasil, mendadak terbangun dan bersemangat lagi. kita bisa melaluinya !!! mama yakin itu. Maka, teruslah kau tumbuh, berkembang. teruslah tertawa, menangis. tak akan ada kesulitan yang tak bisa kita kita lewati selama kamu masih percaya mama, dan selama kamu masih mengharapkan mama kembali.

Nak, tak akan Tuhan memberi takdir yang tak baik untuk kita. yakin lah Nak. meskipun kamu masih terlalu kecil untuk mengerti, tapi mama yakin kau akan percaya bahwa segalanya akan baik. meskipun mama terpisah jauh dan tak bisa menyakinkan kamu untukselalu tabah, sejujurnya mama sendiri justru mencuri ketabahanmu. ah, kamu yang selama ini selalu mengajari mama untuk tabah dan kuat, maka tak perlu lah segala nasehat mama tentang ketabahan itu untukmu. kau jauh lebih bisa dari mama sendiri.

Jika kamu terbangun nanti, Nak...
sadarilah. Bahwa mama ternyata selalu jatuh cinta setiap saat. padamu, pada tawa riang dan tangis menyayatmu. pada tingkah ajaib dan mengagumkanmu. pada semua yang tumbuh dalam perkembanganmu. ternyata cinta mama, telah jauh-jauh hari berhenti di kamu, Nak. dan tak bisa mengalir lagi.


Ps : catatan ini dibuat dalam Bus menuju Jakarta. dengan lelehan air mata yang lebih menyerupai air hujan. penumpang disebelah saya bolak balik nengok dan heran.mungkin merasa takjub melihat saya menangis sesenggukan sambil terus menulis. saya sendiri,setelah selesai menulis ini langsung tertidur.

Jumat, 06 Juli 2012

Bagaimana Bisa.

Bagaimana bisa, 
Kau berkata semua ini percuma. 
Sementara di deret waktu, aku menghujam dan memaki tiap detaknya yang berlari begitu cepat namun tepat.
Aku tak pernah menentukan kapan harus kembali untuk beristirahat, 
tak pernah.
karna bagiku ini tak akan percuma.

Bagaimana bisa,
Kau berfikir semua tak ada gunanya,
hanya karena aku terlambat sehelaan nafas saja meyakinkanmu
hanya karena aku dan kau berbeda mengartikan makna sebuah hasil
atau karna aku bukan kau dan kau bukan aku
lalu mengapa kau tanamkan rasa percaya, kau debarkan harapan penuh pesona, lalu kau matikan begitu saja ketika kau sendiri merasa lelah
bagaimana bisa, kau menjadikan aku propaganda kemalanganmu dan kesakitanku dengan merogoh paksa hatiku lewat kerongkonganmu dan menjejalkan kembali semuanya melalui aksara.
sementara aku, menggali lubangku dengan tetesan debur yakinku padamu
bagaimana bisa, kau merasa tak pernah menyakitiku 
padahal telah kau toreh luka menganga begitu besar sejak awal kelahiran pertemuan kita.
bagaimana bisa !!!!

Bagaimana bisa, 
kau mengatakan aku tak berusaha hingga menjadikan semua ini sia-sia belaka
hanya karena tak ada aliran yang masuk dalam buku kehidupanmu dariku
hanya karena aku tak ada dan menghadiri kesakitanmu secara nyata
bagaimana bisa, kau katakan segala harapan hanya omong kosong,
sementara aku disini justru hidup bernafaskan mimpi dan cita, yang lalu kau bombardir dengan kesakitanmu yang sungguh aku tau, itu hanya seujung kuku dari kesakitanku
tak perlulah kau merasa paling menderita, atau aku merasa paling teraniaya,
tak perlulah segala macam janji untuk membuat semacam kontrak dalam kehidupan kita
tak perlu lah itu semua,
karna tak akan ada gunanya untukmu, juga untukku, atau untuk harapanmu, dan juga keinginanku.
bagaimana bisa, kau katakan aku tak sakit, 
sementara hatiku telah berdarah dan menggenangkan legenda.

bagaimana bisa,
kau merasa yang paling sakit, sementara tanganmu dengan aksaramu masih menancap kuat untuk terus merogoh hatiku, menyakitiku, menelanjangi kemampuanku.
bagaimana bisa, kau katakan aku tak mengerti, 
sementara segala anganku adalah memahamimu.
bagaimana bisa,
kau rajam gairah yang tengah berkobar dalam kesakitanmu sendiri lalu kau semburkan padaku dengan tambahan minyak dalam tungku.
tak ada sekam disini, lalu bagaimana bisa api itu padam dari ku.
Bagaimana bisa.
kau menjadi malaikatku, 
sementara membuka pesan darimu saja aku gemetar ketakutan.
Bagaimana bisa. 

Sabtu, 30 Juni 2012

Ah, Kau, Waktu.

Waktu tak kenal waktu.
bergerak membuat - meninggalkan jejak
tak ada yang tau kapan tak ada lagi waktu
atau waktu akan terus membuat waktu
siapa tau, aku sendiri waktu. 
( Dharmadi / Tentang Waktu.)

Tiba-tiba, entah dari mana datangnya, saya tersadar. Ini sudah di tahun 2012. Dan Zaapppp!!!! saya menoleh. Oh, oke. ini bukan di hari kiamat. Gossip itu hoax belaka ternyata. 

Ah, saya tertidur terlampau lama. banyak hal yang terlewatkan atau bahkan tidak saya lewati. mendadak saya menyesal berkepanjangan untuk selanjutnya mengutuk diri sendiri. kemana aja selama ini, ngapain aja sih? sampai-sampai begini-begini aja. ah,waktu, bagaimana bisa kau begitu cepat meninggalkanku. atau mungkin aku yang lamban dan malas berjalan? 

beberapa waktu lalu, saya ada di sebuah tempat makan fastfood. didepan saya ada sepasang muda-mudi yang pacaran tapi sibuk berantem. yang cewek, mungkin karna kodratnya, nyerocos gak berhenti. sementara yang cowok cuek. malah sibuk ngaduk-ngaduk coffe cup yang saya yakin udah abis isinya dari tadi. saya tertarik banget, bukan karna saya bahagia ketika orang lain mengalami hal buruk. tapi pemandangan itu mengasyikan saya. pada akhirnya, saya sibuk menerka, membaca gerak bibir, atau malah membuat dialog baru dengan kondisi pertengkaran mereka itu. tapi ada yang kemudian menggerogoti hati saya diam-diam, yaitu perasaan de-javu. ah, dulu saya pernah seperti itu. entah dengan pacar saya yang mana, tapi saya pernah begitu. saya mencoba mengingat-ingat. dan ingatan saya buruk,saudara. saya gak berhasil menemukan pastinya, kapan saya ada diposisi mereka. tapi yang saya ingat, itu terjadi saat masa-masa SMU. sekitar tahun 2002. dan saya merunut. tahun 2002, dan sekarang 2012. artinya sudah 10 tahun!!! saya kagum sendiri. jadi saya sudah berjalan selama 10 tahun sejak masa SMU? mendadak saya berkaca tanpa cermin. jadi sudah 10 tahun? sudah sebegitu lamanya? angka 10 tiba-tiba terasa bagaikan gelombang besar yang membekukan saya. mengingat, menelaah, sampai menyadari. bahwa saya belum jadi apa-apa, belum menghasilkan apapun, bagi siapapun. ah waktu, kau membuat aku tak sanggup mengelak. bahwa mau tak mau, suka tak suka kenyataan bicara : saya menua. 

kemarin, waktu saya naik kereta ekonomi dalam kota, saya di kagetkan oleh seorang anak kecil yang menggoyang-goyangkan kaki saya. meminta uang. " untuk makan bu." Saya kaget. spontan langsung mengangsurkan koin 500 perak. anak itu pergi. saya diam. berfikir. bukan kasihan, karna saya tau dia tidak semenderita itu. yang saya pikirkan adalah kalimatnya itu " Untuk makan Bu." dia manggil saya Bu, dari kata dasar IBU. yang artinyaaaaaaa, saya udah pantes dipanggil ibu. yayaya, saya emang udah jadi Ibu kok. anak saya satu, umur 4 tahun, cantik dan berbola mata salju. bukan masalah saya gak mau dipanggil ibu, saya itu malah mikirin : anak saya. bahwa hidupnya, masa depannya, milik dia sendiri. tapi, saya diberi tanggung jawab oleh Tuhan untuk mendampinginya, memberinya fasilitas dan menjaganya. bahkan membayangkan anak saya makan cuma sama tempe tahu, atau nugget aja saya sedih. gimana saya membayangkan anak saya ada di bordes kereta dan melakukan hal seperti si anak tadi? GILA!!! saya langsung menghitung. 4 tahun, usia anak saya. dan 4 tahun sudah saya jadi ibu. apa yang sudah saya lakukan? saya ini ngapain aja selama 4 tahun? ya Ampun. Main ayunan sambil makan ice cream? sampai selama ini saya baru bangun. hey kau, Waktu. lecutlah kuda di semangatku, agar aku bisa melampauimu.

saya merasa habis. meradang, begitu cepat waktu yang mengelilingi saya. jadi bagaimana? apa yang bisa saya lakukan selain menyempurnakan langkah kaki dan terus berjalan, atau berlari. dan kau waktu, teruslah melecut. 

Kamis, 28 Juni 2012

Penasaran, Tolong !!!!

Malaaaammmmmm. Apakadabra kawans? sekarang baru jam setengah sebelas malam. Malam Jumat pula, gimana kalau kita nembang Durmo? #ini apa sih?# heheheheh sorry saya lagi gak jelas nih. lagi sebel. Sebeeeellll banget.

Jadi gini loh, tadi dijalan, saya tiba-tiba mendapatkan beberapa kalimat hingga bisa jadi paragraf. Sayangnya saya lagi di metromini dan kondisi berdiri. Penuh, sesak, didorong-dorong. Terus hp saya mati. Neraka banget deh itu. Pengen banget saya tulis itu ide, tapi gimana caranya? masa lagi kondisi gitu saya ambil buku dan nulis sih? kan imbisil banget. Sementara nyari pegangan biar gak jatuh aja udah setengah mati susahnya. Akhirnya saya coba merapal kalimat-kalimat itu. Komat-kamit. Kayak mbah dukun ngerapal mantra. Dan hasilnya, begitu saya nyampe rumah  JENG-JENG : Saya lupa!!!!! tau gak itu rasanya kayak apa? Kayak lagi nyari alamat rumah orang, tapi ternyata salah nulis kompleks perumahan. Muter-muter gak jelas nyari gangnya, taunya orang yang dicari ada di kompleks sebelah. Kesel, tapi gak bisa marah karna kesalahan ada di kita. Dan itu beneran bikin emosi banget. Serius.

Saya penasaran. Sampe sekarang saya masih penasaran. Bahkan saya sampe pengen balik lagi naik metromini itu biar biasa ngerasain nuansa nya, mungkin dengan begitu ingatan saya bisa balik lagi. Tapi Insya Allah saya masih agak waras walo cuma sedikit. Saya berfikir mungkin emang itu kalimat bukan jodoh saya. *ohhhhh, saya patah hati sebelum bisa menjalin hubungan dengan kalimat itu*

Ngomong-ngomong masalah penasaran, saya ini emang tipe manusia yang kalo udah penasaran bisa jadi human yang paling nyebelin sedunia akhirat. Bisa beneran saya cari tau meski itu harus menempuh medan perang Barata Yudha sekalipun #oke ini lebay# . Padahal, saya itu gampang banget penasaran sama sesuatu, bahkan hal kecil yang orang lain gak aware, bisa bikin saya aware. Penasaran. Dan lantas bertindak menempuh marabahaya. Jadi bisa kalian bayangin kan gimana repotnya hidup saya ngurusin si 'penasaran' yang nyaris tiap saat ngedor-ngedor pikiran saya.

Suatu hari, saya naik transportasi umum bernama KRL. Nah, kebetulan banget tuh, saya naik di jam-jam orang pada pulang kantor. Penuh dong. Akhirnya saya putusin buat nunggu barang sejam-dua jam di stasiun ( Waktu itu di stasiun Gondangdia) sambil ngobrol sama beberapa pengamen stasiun. Nah, ada satu kereta ekonomi masuk, kereta jurusan Bogor. Apakah kalians tau kawans, ya ampuuunnnn.... itu yang namanya orang-orang atapers ( penumpang kereta di atap) beneran banyak lho. Banyak banget malah. Di situ saya liat beberapa orang masih ada yang naik ke atap. Saya perhatiin bener. Dan tiba-tiba, si 'penasaran' menggoda saya. " Apa ya rasanya naik kereta di atap gitu?" oh tidak, sejak saat itu bumi gonjang-ganjing. Saya gak bisa tidur, gak bisa makan, pokoknya saya penasaran banget sama rasa naik kereta di atap. Setelah tiga hari si penasaran gak pergi-pergi padahal udah diusir dengan berbagai cara, akhirnya saya putuskan. ' oke, kita jadi atapers hari ini'. maka siang itu, jam 3 sore saya meluncur ke stasiun tebet. Dan saya terpaksa nunggu sejam disana karna jam pulang kerja sekitar jam 5an. Pas waktunya tiba, saya beraksi. Jumpalitan naik ke atap kereta dengan pijakan pada jendela. Itu kaki saya udah kesana kemari gak jelas. Sampe akhirnya: SAYA ADA DI ATAP KERETA. Kereta jalan pelan. Saya masih sanggup tenang. Begitu kereta mulai ngebut saya deg-degan. Begitu ngebut banget, saya panik. Langsung pegangan orang disebelah saya. Padahal gak tau siapa. Kalian tau gak itu rasanya apa? Kayak naik wakeboard ( olah raga air yang dimainkan dengan cara menaiki sebuah papan yang kemudian ditarik dengan tali, untuk orang Jakarta, kalian bisa menemukan olah raga ini di danau sunter) tapi ini ditarik sama pesawat terbang. Gila, beneran berasa melayang-layang diudara. Tamparan angin paling keras yang saya rasain seumur hidup saya. Padahal, saya pernah nyoba paraselling, pernah speedboat, pernah nyelem #lho gak nyambung#, gak ada yang sedahsyat ini rasanya angin nampar-nampar muka. Saya jelas takut banget, bayangan malaikat pencabut nyawa melintas ikut kecepatan kereta. Tapi lewat stasiun pasar minggu, saya mulai terbiasa. Saya mulai berani tengak-tengok. dan apa saudara?? itu ternyata saya perempuan sendirian di atap. Ebuset, saya cengo. Dan ternyata atapers yang lain lebih cengo lagi. Buktinya, pas lagi saya turun di stasiun depok, beberapa atapers yang sama-sama turun langsung menghampiri saya dan bilang " keren banget lo, berani." saya cuma mesam-mesem, dalam hati saya bersumpah gak bakalan penasaran sama hal-hal yang deket sama kematian.

Tapi ternyata, janji tinggal mimpi. Suatu hari, saya di datangi si om 'penasaran' itu lagi. Mana sama-sama berhubungan dengan kereta pula. Jadi, saya waktu itu pulkam. Naik kereta. Kebetulan gak terlalu sesak, jadi saya nyobain bisnis. Biar bisa jajan ditengah jalan. Nah, pas lagi mau masuk stasiun Karawang, kondekturnya meriksa tiket. Saya nyiapin dong. Tapi sebelah saya gelisah. Duduknya megat-megot gak karuan. Terus pas pak kondektur udah deket, dia pergi permisi. Katanya mau ke toilet. Melihat ada penumpang yang mau pergi, spontan si kondektur menegur. Tapi mas nya malah mempercepat langkah dan lari. Polisi yang ngawal kondektur itu sigap, dia ikutan lari sambil meneriakkan kalimat-kalimat ancaman. Tapi si mas itu terus lari. Saya merhatiin dan geli sendiri. Saya sih mikir, mas-mas itu bisa selamat cuma kalo dia lompat dari kereta. Cuma itu caranya. Dan tiba-tiba, ada yang muncul di pikiran saya.sebuah penasaran yang hina banget : " Gimana ya sensasinya kejar-kejaran sama polisi didalem kereta?" ENG ING ENG. Terima kasih. Saya beneran penasaran. Saya sibuk nanya-nanya ke orang, kapan sih ada pemeriksaan tiket lagi? beberapa bilang di Cirebon, beberapa lagi bilang di Indramayu, beberapa lagi geleng-geleng, malah ada yang gak jawab karna gak denger saya nanya apa, budeg. #astaghfirulloh#. Saya nunggu dengan sabar. Dan prediksi di stasiun Cirebon yang menang. Saya lihat di gerbong depan saya, kondektur sudah mencabut tiket-tiket penumpang untuk dilubangi. Saya ambil sikap. Menggendong ransel dan duduk tegak. Sebelah saya heran " turun di Cirebon mbak?" saya menggeleng " Purwokerto pak." beliaunya makin bingung. Saya cuek. NAH !!! pas kondekturnya ada di tiga kursi sebelum saya, mendadak saya berdiri. Terus lari. Polisi merasa dapet mangsa. Ikut lari sambil meneriaki saya " woii, ada cewek cantik lari." dan saya juga mendengar dia bilang " ya ampun mbak, cantik-cantik kok larinya kenceng" #oke ini hoax# heheheh. Sampe di gerbong terakhir, saya berhenti. Buntu. Pak polisinya senyum-senyum. Saya bales senyum juga. Dia nanyain mana tiket saya, langsung saya keluarin. DENG DENG!!! muka si polisi berubah pias. " Ngapain kamu lari-lari tadi?"  Saya nyengir. " Pengen aja pak." dan kecewalah dia. Dalam hati saya terbahak. Jadi apa rasanya dikejar polisi dalam kereta? 10 kali lebih fantastis dibanding dikejar sama Brad pitt. Ditontonin banyak orang yang bingung, bahkan ada yang sempa meneriaki kami.Yang paling keren adalah menyempurnakan sistem balancing tubuh. Gimana gak, kereta Indonesia kan jalannya sempoyongan gitu, ditambah sama lari. Makin asoy aja kan.  Rasa penasaran ini emang bikin saya jadi sinting. Om polisi, maaf ya.

Terus, penasaran saya kembali datang saat saya duduk manis di KRL ekonomi kembali. Jadi ada tukang sapu   kereta. Ibu-ibu sambil gendong bayi. Sebelum ibu-ibu itu dateng, saya ngeliat bordes ini bersih-bersih aja, karna sempet lihat juga ada anak kecil yang nyapuin sebelum ibu-ibu itu. Tapi kok si ibu itu bawa sampah banyak banget. Padahal saya ada digerbong wannita yang notabene ada di akhir. Itu beneran sampah loh, ada plastik bekas taro, ada botol mizone, gelas plastik air mineral. Banyak banget deh. Saya bingung dong. ini kok bisa sih? gimana caranya? dan kebingungan saya berubah jadi penasaran akut. Apa yang harus saya lakuin? masa saya mesti nyamar jadi detektif buat menyelidiki itu sih? kan absurd banget. Jadi apa dong yang saya lakuin? Seminggu kemudian saya coba naik kereta lagi, terus saya cari itu ibu-ibu. Saya coba ikutin dia. Gilanya, saya naik dari stasiun cikini. Sampe di stasiun bekasi, saya tetep belum dapet apa-apa. Jadilah saya ngikutin si ibu dari stasiun Bekasi. Nah, masalahnya ternyata jatah dari stasiun Bekasi bukan si ibu tapi ada penyapu kereta yang lain. Saya coba merhatiin yang ini, tapi dia emang nyapu beneran. Sampahnya gak terlalu banyak di banding sampah yang dibawa si ibu itu. Gimanapun juga saya gak mau gagal lagi. Saya coba ikutin si bocah itu. Tapi tetep, dari gerbong awal sampe akhir, si penyapu ini gak dapet sampah sebanyak si ibu. Akhirnya perjalanan saya dari bekasi sampai stasiun kota pun mubazir lagi. Udah 2 jam saya diatas kereta dan belum nemuin apa-apa. Sampe di stasiun kota, si ibu malah turun. WHOA!!! saya jadi ganas. Gak bisa gini nih. Masa gagal sih. Saya langsung kuntit si ibu. Ternyata dia pindah ke kereta jalur Bogor. Saya gelap mata. Saya beli tiket jalur itu. Padahal waktu udah nunjukin jam 8 malam. Tapi saya masih penasaran. Akhirnya, pas kereta mulai jalan saya girang. Si ibu naik dari gerbong 8. Saya ikutan. Saya sampe rela berdiri biar bisa ngikutin dia. Dan waktu kereta masuk stasiun Juanda, si ibu mulai beraksi. Yaitu apa saudara? Dia mengeluarkan simpanan sampahnya sendiri. Saya melotot. OKE. Ini lah jawabannya. Tapi rasa penasaran saya bertambah. Mau sampe digerbong berapa dia sanggup jalan jongkok dengan beban bayi dalam gendongan dan sampah yang begitu banyak? Ternyata saudara, di stasiun Manggarai dia masukin lagi itu sampah, dan mulai dkeluarin lagi dari stasiun Tebet. Saya ngikik. Asyik melihat si ibu dengan kebohongan gigantis nya. Gak sadar ternyata udah sampe Bogor, dan udah jam 10 malem. Saya melongo. berharap ada kereta terakhir ke Jakarta. Harapan tinggal harapan. Saya terpaksa ke terminal terus naik bus patas ke Jakarta. Kalians tau, itu bus patas tinggal atu-atunya. Jerakhir. Dan jalannya kayak siput. Mau tau jam berapa saya nyampe di Kp Rambutan? jam 12 malem. Padahal Kp Rambutan ke rumah saya itu masih sangat jauh. Sekali lagi, malam itu saya bersumpah : Gak akan pernah mau dirayu sama mas penasaran itu lagi.

Suatu waktu saya kembali terusik. Jadi gak tau dari mana asalnya, tiba-tiba saya ketemu temen saya yang seorang politisi (emang udah agak tua). Terus kita ngobrol-ngobrol banyak. Dia ngeluarin statement tentang media di Indonesia, katanya : di Indonesia media udah kacau, Good news is a bad news, and bad news is a good news, saya bingung. Kok bisa kebolak balik gitu sih. Saya coba tanya sama beberapa temen yang jadi jurnalis. Gak ada yang jawab dengan pasti. Intinya mereka bilang kalo mereka cuma membantu masyarakat Menyuarakan pendapatnya, memberi informasi yang gak bisa didapat oleh masyarakat, dan banyak lagi, dan begitu banyak lagi. Saya kedatangan si mas 'penasaran' itu lagi. Kali ini saya agak ekstrim. Karna saya gak mungkin ngedaftar jadi wartawan cuma gara-gara kasus penasaran aja, maka satu-satunya jalan adalah, saya harus nguntit kerja wartawan. Dan cara yang paling aman adalah dengan : Macarin wartawan. Saya mulai mencari-cari. Dapet!!!!. Target ditentukan. Dan akhirnya saya berhasil jadi pacarnya. Nguntit dia kesana sini. Ditengah perjalanan karier om penasaran itu, saya dapet kabar kalo mas wartawa ini ternyata udah punya pacar di Jogja. Saya merem melek. Matilah saya kalo sampe pacarnya tau perselingkuhan kami. Akhirnya saya percepat observasi. Harus cepat dapat jawaban. Setelah dua bulan menjalin hubungan sama si dia, saya dapat satu wacana baru : Bahwa dia sebagai pribadi adalah tipe pria yang sangat menyenangkan. Tapi sebagai wartawan dia sangat annoying sekali. Ini gak tau kenapa ya, agak-agak bikin saya merasa jijik. Pekerjaan mulia itu, dengan niat memberi informasi pada orang lain, menyampaikan suatu berita yang bisa mengubah dunia, ternyata sangat absurd. Dia pernah karna malas jalan untuk cari berita, cuma ngejogrok didepan komputernya, pasang internet dan surfing via google, atau yang lain. Sampah banget kan? dan tau apa yang di lakukan dengan sampah itu? dia mulai merombaknya kemudian didaur ulang dengan sampah-sampah yang lain. Dan ups, sorry, saya kembali kecewa ketika membaca beritanya, isinya menjelek-jelekkan orang lain. Saya akhirnya tau, baginya (mungkin juga bagi wartawan yang lain, saya kurang tau) berita tentang kebaikan orang lain adalah berita yang buruk. Karena kebanyakan orang gak tertarik dengan kebaikan orang lain. sebaliknya, keburukan orang lain adalah berita baik. Saya lihat dia, saya jadi pengen ngasih dia kaca terus ngomong " lo bener-bener gak guna, belum bisa ngasilin apa-apa buat negara, udah hoby jelek-jelekin orang." Saya pengen banget bisa nonjok mukanya sambil bilang " gue mending liat orang korupsi tapi minimal dia udah berbuat sesuatu buat negara walo lebih banyakan kejahatannya, dari pada lo yang bahkan belum ngapa-ngapain tapi udah bikin orang lain susah. Sorry jack." dan putuslah kami berdua.

Rasa penasaran, ternyata bukan sekedar keinginan untuk tau sesuatu saja. Tapi juga rasa ingin memahami dan ikut menyelami, mencari sumber dan mengungkapkan kebenarannya. Saya gak tau mesti bersyukur atau marah-marah untuk rasa penasaran yang bikin idup saya jadi makin repot. Tapi yang jelas saya cuma mau bilang : cuma ada dua pilihan dalam hidup "jadi orang yang karyanya dibicarakan orang lain, atau jadi orang yang membicarakan karya orang lain" Dan rasa penasaran saya membuat saya memilih opsi yang pertama. Kalian mau yang mana?


Kamis, 21 Juni 2012

Amanah Ibu ( sebuah cerita pendek )

          Lia mensejajarkan langkahnya dengan Bunda Golda didepannya. Perempuan tua berparas keras itu berjalan sangat cepat. " Ayo Lia, Eyang Farah sudah menunggu kita." Lia makin cepat berjalan. pandangan matanya mantap. " Apa tidak ada keluarga atau kerabatnya disana Bun? Kenapa bisa beliau harus menunggu kita yang datang jauh-jauh begini. Saya berharap sesuatu yang baik terjadi, tapi jika ternyata tidak? dan kita terlambat?" Bunda Golda diam. beku dalam langkahnya. sejurus kemudian Lia ikut terdiam. dalam ingatannya sebuah kenangan berputar kembali. selalu berputar, tak pernah kusut.

" ashaduallah Illaha ilallah wa ashaduanna Muhammadarasulullah." Lia menghafal dalam remang malam. disamping kanannya, Fani, Ibu Lia tersenyum. " Jangan lupa ya nak, bisikkan kalimat itu ditelinga ibu ketika nanti malaikat pencabut nyawa sedang bertugas pada Ibu." Lia mengangguk. Diam. Lafalkan kalimat itu setiap ditelinga Ibu kelak ketika malaikat Israil datang. jangan pernah kamu membiarkan ibu meninggal tanpa mengucapkan kalimat itu lebih dulu. ini amanah untukmu Lia, ibu percaya kamu bisa melakukannya kelak. pesan-pesan itu sudah berpuluh tahun hinggap di hidup Lia. Hingga sepertinya pesan itu jauh lebih penting dari hidup itu sendiri. Ibu menghujani Lia dengan pesan itu setiap saat, setiap waktu. pada saat makan, sebelum berangkat sekolah, ketika mau tidur, saat nonton televisi atau ketika menunggu air penuh sebelum mandi. rasanya tak pernah ada waktu kosong barang sejenak tanpa mengucapkan pesan itu. ibu ingin Lia membimbingnya ketika sakaratul maut. " Ashaduallah Illaha Ilallah Wa ashaduanna muhamadarasulullah. " Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Alah dan Nabi Muhamamad adalah Rasul Allah. Lia hafal itu semudah dia bernafas.

" Sudah sebentar lagi Bun. Telinganya sudah menutup." Lia berbisik ketika seluruh keluarga nenek Farah merubung beliau dari segala sisi tempat tidur. " Sebaiknya kita bawa Nenek ke Rumah sakit saja." Suara cucu tertua menghempaskan Lia pada beberapa kejadian sebelumnya. seluruh keluarga tidak ada yang mengenali tanda-tanda sakaratulmaut akan datang. hingga memaksakan si penderita dibawa ke rumah sakit, paksaan tersebut yang pada akhirnya membuat Lia kesal dan tak sabar. bagaimana mungkin dia bisa memahami kapan malaikat pencabut nyawa datang ketika orang lain justru ingin berusaha menyembuhkan. takdir Tuhan sudah bicara melalui banyak pertanda. Dan Lia bukan dukun yang bisa meramal kapan kejadian itu datang. Lia hanya terlampau hafal pada tanda kematian, terlampau hafal hingga menjadibiasa. semua itu bermula dari satu titik, kebiasaan Lia akan pesan ibunya. Lia akhirnya terobsesi pada kematian. Lia selalu ingin membimbing setiap kerabat yang menuju kematian dengan kalimat itu. Lia selalu menjadi yang terdepan dalam kalimat syahadat itu. hingga akhirnya Lia menjadi pembimbing profesional, Lia banyak dipanggil keluarga orang yang diperkirakan sedang menghadapi sakaratul maut. semua itu hanya karna pesan ibunya. pesan yang setiap saat bergaung ditelinga Lia. Ibu ingin kamu yang membimbing Ibu kelak, Lia.

Entah sudah kali keberapa Lia izin dari kantornya hanya untuk melakukan bimbingan pada orang yang akan meninggal. entah sudah berapa kali atasannya menegur Lia. dan entah sudah yang keberapa kalinya Lia terpaksa kehilangan insentif dari kantornya hanya karena hal tersebut. Ini cuma masalah kecil, Lia hanya harus konsisten pada pilihannya. dan membimbing orang yang akan meninggal itu bukan suatu pilihan pekerjaan. itu juga bukan tanggung jawabnya. karna seharusnya Lia hanya melakukan itu pada orang-orang terdekatnya saja. bukan untuk sebuah alasan profesional. Tapi Lia seperti terhipnotis, pesan dari ibunya seperti sudah menyihir hidup Lia hingga sedewasa sekarang. " Ibu ingin kamu yang kelak membimbing ibu mengucapkan dua kalimat syahadat itu Lia. "

Lia sudah masuk kategori mahir dalam membimbing calon jenazah menuju kematian yang Khusnul Khotimah. namanya sudah terkenal sebagai ahli bimbingan menuju kematian dimana-mana. profesinya ini membuat Lia sering harus menuju pelosok daerah hanya demi melakukan bimbingan. bahkan terkadang jika lokasinya sudah sangat jauh, bimbingan dilakukan lewat video chat Internet. karier Lia meningkat drastis. tajam bak mata pisau yang baru terasah. semua itu hanya karna pesan Ibunya. pesan yang sudah mendarah dan menyemesta dalam hidup Lia. pesan yang menjadi ambisi dan passion dalam hidupnya. pesan yang sudah terucap sejak usia Lia 8 tahun hingga kini Lia 37 tahun. ibunya telah renta, dan Lia entah dusah berapa ratus membimbing orang menuju kematian yang khusnul khotimah.

          Lia berlari menahan tangis. " Waktunya datang. " Lia terus bergumam seperti merapal mantra. " Sudah datang." Sepanjang perjalanan dari kantor hingga rumah Lia terus bicara. waktu yang ditunggunya sejak puluhan tahun lalu akhirnya tiba, bagaimana mungkin ia melewatkannya. selama hidupnya hanya saat inilah yang Lia tunggu-tunggu. dan ketika waktunya telah tiba, Lia akan menjemputnya. impiannya, passion hidupnya. yang hanya bisa Lia tunggu tanpa bisa mengejarnya, yang hanya bisa di nantikan tanpa bisa meraihnya. waktunya akan datang tanpa bisa dipercepat. impiannya hanya bisa datang sendiri dengan sejarah yang telah ditentukan. dan tak ada satu hal pun yang akan bisa meralatnya. " sekarang waktunya." Lia masih terus merapal.

Sampai depan rumahnya Lia melihat sudah banyak mobil terparkir. ada mobil-mobil keluarga, kerabat dan beberapa mantan rekan kantor Ibunya. Lia melihat ada mobil Bunda Golda terparkir didepan mobil salah satu sepupunya. " Tidak. ini jatahku. " Lia menghambur masuk kedalam rumah. semua orang menatap Lia kasihan. Lia tak peduli. langsung dimasukinya kamar paling ramai di rumah itu, kamar Ibunya. Lia gemetar, Bunda Golda sudah ada disamping Ibunya, membisikinya kalimat syahadat. Lia diam terpaku. disekeliling Ibunya sudah ada keluarga dekat dan beberapa kerabat. semuanya memandang Lia. Lia hanya diam diambang pintu, menyaksikan tubuh ibunya yang dibaluri selimut kain jarit cokelat. tiba-tiba, dalam benaknya muncul berbagai peristiwa. seperti rekaman kaset kusut yang terputar berantakan. saat Lia sakit panas, saat Lia masuk sekolah pertama, saat Lia dimarahi tetangga karna memecahkan kaca jendela, saat Lia belajar sepeda, saat Lia melakukan sidang skripsinya, saat Lia makan masakan pertamanya, saat Lia diterima bekerja. semuanya berputar, berulang-ulang. membuat Lia pusing, bahkan tak sanggup berdiri. Lia terjatuh di bibir pintu. semua kenangan itu, menampilkan sosok seorang perempuan yang selalu ada di moment-moment itu. Ibu.

" Lia, sudah semakin dekat. ayo nak, lakukan tugasmu. " Bunda Golda membelai rambut Lia perlahan. di kamar sebelah terdengar beberapa isakan tangis.mungkin dari beberapa kerabat yang baru datang. Lia memejam. sudah semakin dekat ibu, dan kenapa aku justru merasa tak mampu.ini yang aku tunggu, amanah Ibu. pinta ibu. dan kenapa disaat seperti ini justru tubuhku tak berkompromi dengan otakku. sungguh Ibu, aku ingin melakukannya, namun sungguh, aku juga tak ingin menjalaninya.

" Bunda, apa tidak sebaiknya Ibu di bawa ke rumah sakit saja?" Lia bertanya sambil memalingkan wajahnya. Bunda Golda tersentak. " Lia !!! kau lihat ibumu. jangan kau siksa dia dengan keinginanmu itu. " Lia diam, memahami benar perkataan Bunda Golda, tapi juga memahami benar keinginannya. Lia ingin melakukan tugasnya, sekaligus tidak ingin. Lia ingin membimbing ibunya membaca dua kalimat syahadat sesuai amanahnya, tapi Lia juga tak ingin menerima kenyataan bahwa waktu untuk ibunya pergi sudah semakin dekat. dua keinginan itu saling tarik menarik, sama kuat. sama keras. LIa terbaring lemah, kehabisan daya dan tenaga untuk menyelesaikan tarik menarik antara dirinya sendiri.

Lia menangis. Ibunya menatap Lia penuh harap dari tempat tidurnya. disamping Ibunya, Bunda Golda terus-terusan membimbing di dekat telinga. Lia seperti melihat dirinya di dalam diri Bunda Golda. dirinya saat membimbing Nenek Farah, atau membimbing korban kecelakaan di Rumah sakit. begitu tabah, begitu sabar. dan Lia menatap dirinya sendiri di cermin. begitu lemah, begitu tak bernyawa. Ibunya terus menatappenuh harap, dan Lia hanya menyadari itu tanpa bisa melakukan apapun. Bunda Golda terus membimbing Ibu dengan sangat intens. Lia tau selama berpuluh tahun inilah passion nya. didepan matanya. tinggal ia raih dan lakukan, atau dia akan menyesalinya seumur hidup. Lia mencoba melangkah. tapi kakinya serasa menacap pada ubin dibawah telapaknya. Lia terus mencoba mengangkat kakinya, berusaha mendekati ibunya. tapi gaya grafitasi sedang menarik Lia untuk tetap tinggal, dan lagi-lagi, tarikan itu terasa begitu menyakitkan untuk Lia.

          Lia menangis gemetar di atas makam ibunya. teringat kejadian semalam, ketika nafas ibunya tersenggal-senggal dan kelopak matanya sedikit membalik. Lia tau, malaikat Allah sedang ada di ruangan itu. melaksanakan tugasnya. Lia tau sudah waktunya dia melakukan amanah itu. tapi seluruh sendinya melemas. lidahnya bahkan tak sanggup bicara apapun, hatinya beku dan mengeras. Lia marah. Lia menangis hancur. Lia tau dia akan kehilangan satu-satunya orang yang menjadi penopang hidupnya selama ini. Lia gemetar. dan pingsan saat ibunya menghembuskan nafas terakhirnya, tanpa sempat membimbingnya mengucapkan dua kalimat syahadat itu. Bunda Golda menggantikan tugasnya dengan baik. Ibunya Khusnul Khotimah, Insya Allah. tapi bukan atas bimbingan Lia.bukan atas ajakan Lia. dan mimpi itu, musnah didepan matanya, seiring dengan kepergian ibunya. seiring dengan tangisannya. seiring dengan hancur hatinya.