Jumat, 31 Agustus 2012

Buku Putih I: Ideograf ( By : Ade Riyan Purnama )


“Ketika kau berhenti mencari dalam pencarian-pencarian yang kau cari, kau akan dapati yang kau cari”.

Hidup adalah pengembaraan. Pengembaraan menuju pertarungan dengan detik waktu dan detak denyut nadi yang kapan saja bisa berhenti. Dalam perjalannya kita akan bertemu pertigaan, perempatan atau bahkan simpang lima tanpa rambu berpetunjuk.

Mungkin pintu gerbang kedewasaan telah terbuka ketika kita mulai memikirkan arah hidup. Karena hidup adalah jejak langkah diatas pasir yang terbawa ombak dan ketika hamparan pasir itu tak berjejak, pasir itu akan ditapaki jejak-jejak langkah manusia berikutnya.

Pencarian adalah penantian malam sempurna. Seperti raja anjing yang mengaung di atas bukit tertinggi ketika bulan menjadi besar dan berubah menjadi warna merah. Dalam pencariannya manusia bisa berubah menjadi serigala buas di malam purnama dan dengan seketika anjing-anjing gunung yang berwarna putih berbaris dideretan lembah menyaksikan kesempurnaan manusia binatang yang menjadi liar. Dan setelah itu terjadi, matahari di pagi hari tidak tinggal diam, ia selalu menyerang dari ufuk timur dengan segenap cahayanya untuk memotong kuku-kuku serigala dan merontokkan taringnya karena di malam purnama manusia adalah pemangsa paling buas dari para pemangsa.

Alarm disampingku, mulai mengeluarkan bunyi. Itu bertanda hari sudah menjelang pagi pukul 05.30. Kemudian ibuku memberikan selimut dan mengusap sebagian rambutku mengisyaratkan aku harus segera tidur. Karena sudah menjadi kebiasaan setiap hari kelahiranku, ibu selalu mendongeng pukul 00.00 tepat pada malam bulan purnama.

Ibuku selalu bercerita tentang serigala dimalam hari ulang tahunku, tentang manusia yang menjelma menjadi binatang. Namun, aku selalu heran kepada ibuku. Kenapa ia tak pernah bercerita tentang proses sebelum manusia menjadi serigala. Padahal ketika aku membaca buku tentang malam purnama, serigala itu adalah pangeran yang sangat bijaksana kemudian diasingkan ditengah hutan karena dikhianati oleh penasehat  kerajaan yang mengirimkan perempuan cantik untuk menggodanya. Dan ketika pangeran jatuh cinta, perempuan cantik itu selalu mendongengkan malam-malam pangeran sebelum ia tertidur.

Dan tepat pada malam bulan purnama, perempuan cantik itu melepas pakaiannya setelah ia melihat sang pangeran tertidur. Ia mulai memeluk pangeran, memasuki semua tubuhnya kedalam selimut pangeran kemudian mengaitkan kakinya ke dalam kaki pangeran hingga yang terlihat hanya wajah dan bibir yang terus bercerita.

Kemudian tentara-tentara kerajaan masuk menyeret pangeran dari tidurnya dan perempuan cantik itu dengan khusuk berpura-pura tidak tau apa-apa dan perempuan cantik itu berjalan kecil memeluk pangeran seolah-olah semalam terjadi percumbuan yang menghasilkan kenikmatan madu.

Pangeran diarak mengelilingi kampung oleh tentara-tentara kerajaan. Seluruh rakyatnya mencaci, menghina bahkan meludah dan melempari batu ke arah wajah sang pangeran sebelum ia diasingkan. Ternyata dibalik semua itu adalah skenario sang penasehat kerajaan setelah sekian lama ia menginginkan tahta sang pangeran.

Dalam keterasingannya, sang pangeran marah atas pengkhianatan dari cinta yang tulus dan amanah kerajaan yang selama ini dijaganya. Ia temukan luka dalam kedalaman naluri karena  hati sudah tidak menjadi cerminan malam-malam pencarian. Mungkin hidup ini adalah teka-teki piramid yang dibuat fir’aun, ketika kekuatan menjadi trisula untuk menahlukkan rakyatnya dan meniduri setiap perempuan yang ingin ditidurinya.

Dalam keterasingannya pangeran hanya bercermin melihat wajahnya di danau di sebelah timur hutan. Setiap pagi ia menadah tetesan embun yang jatuh dari daun dengan kedua telapak tangannya dan meminumnya. Karena dari tetesan itu, ia merasakan dingin sebelum matahari melenyapkan tetesan-tetesan itu dan kembali mengering.

Ada ketulusan dari setiap persetubuhan dinginnya malam, seperti  tetesan embun yang dilahirkan pagi hari. Aku kemudian berlari memasuki hutan-hutan yang semakin rimba. Aku marah atas perlakuan perempuan yang aku cintai dan mengkhianatiku. Aku robek-robek bisa ular cobra, aku rontokkan taring buaya dan aku patahkan kaki harimau dan singa. Aku terus berlari menuju puncak gunung tertinggi menjelang malam. Karena malam adalah cahaya bagi para sufi dan mataku semakin liar menerjang apa yang ada dihadapanku. Dan ketika aku berada dipuncak dan bulan menyempurnakan malam purnama, aku menjelma menjadi serigala. Raja hutan diatas segala raja-raja hutan lainnya. Kemarahanku memuncak atas sebuah pengkhianatan dan hatiku terbakar oleh luka.

Aku terus berteriak hingga harimau dan singapun mengurungkan niatnya untuk melihatku. Aku terus berlari menyusuri lembah dan hutan untuk mencari petarung yang lebih tangguh untuk mengobati pesakitanku yang tak dapat terbalut. Aku mematahkan pohon-pohon besar hingga tumbang, aku menghancurkan batu yang menghalangiku dan teriakanku semakin hebat. Burung-burung pun terbangun dari lelapnya, mengepakkan sayapnya kearah yang lebih tinggi menunggu matahari menyadarkan aku dengan sinarnya.

Aku bagaikan api neraka yang berkobar, yang panasnya siap melahap siapa saja bagi yang ingkar. Aku haus akan kesejukan yang menghantarkan aku pada tidur-tidur yang lelap. Kemudian aku menceburkan diri kedalam danau yang dingin, aku cabik-cabik ikan yang ada didalamnya hingga danau itu menjadi merah.

Setelah danau menjadi merah, aku kembali kedaratan mendekati dahan-dahan pohon dan menunggu embun-embun pagi itu menetes sebelum kebuasanku berakhir. Aku memapah kedua telapak tanganku dari daun sampai  kedaun berikutnya dan meminum tetesan embun itu.

Tiba-tiba aku terbangun dengan berlalunya bulan purnama yang menjadikan aku serigala. Pengkhianatan adalah doa tumpukan jerami. Tidak ada pengkhianatan yang tidak disusun sebelumnya. Entah yang berkhianat atau dikhianati, ada kisah perjalanan jejak diatas pasir yang terbawa ombak.

Ada luka diantara janji, ada air mata diantara tanah basah. Ia berjalan menyusuri hutan dengan tergopoh dan masuk kedalam lumpur yang dalam hingga ia tak sanggung keluar. Ditengah ketidak berdayaannya, buaya yang lapar mencabik-cabik tubuhnya. Pangeran itu mati dalam ketidakberdayaan setelah pencarian buasnya berbalut dengan keikhlasan. Ia kembali dalam ketiadaan, menjadi ada. Karena keadaan adanya ada akan kembali ke tiada.

Ia hanya teringat dongeng perempuan yang menghantarkannya sebelum tidur. Dongeng itu menghantarkan aku menjadi serigala buas dengan marahnya dan cabikkan buaya inilah yang mengingatkan aku bahwa aku adalah tetap manusia yang bisa merasakan sakitnya dikhianati, dicintai atau bahkan didustai.  
Purnama..purnama...!

Aku terbangun mendegar panggilan ibuku yang memberi tanda bahwa hari sudah mulai siang. Dengan mengangkat buku malam purnama yang menutupi wajahku, aku mulai bangun dan menaruh buku itu di rak bukuku.

Ibuku memberi namaku Purnama. Entah apa yang terbesit dalam benaknya ketika memberi nama itu. Yang aku tau ibuku adalah salah satu penulis sastra. Penulis sastra yang sama sekali tidak terkenal. Penulis sastra yang harus bekerja kers terlebih dahulu untuk mengumpulkan uang dan  membayar percetakan untuk menerbitkan bukunya. Karena karya sastra ibuku tidak diterima dipenerbit manapun, makanya ia selalu menerbitkan secara indie. Terkadang ibuku pun sering menjual buku-buku karangan almarhum ayahku yang menjadi kado ulang tahunnya.

Terbitan buku pertama ibuku berjudul Purnama. Ia selalu mengatakan kepadaku, kau adalah buku. Buku yang menjadikan aku perempuan seutuhnya, buku yang selalu aku baca. Buku yang mengajarkan ibu arti biadab dan beradab. Kau adalah buku putih diantara coretan perjalan hidup dan kau menjadi sampul putih diantara gelapnya malam ketika bintang berada dalam kekosongan dan tak mengeluarkan kerlip.

Buku ibu terlahir karena buah pemikiran, perjalanan dan kegelisahan sedangkan kau anakku terlahir karena buah ketulusan.

Ibuku selalu bertanya, apakah kau sudah menuliskan kata demi kata disetiap kau ulang tahun. Karena kata ibuku, sebelum ayahku meninggal ia memberikan buku putih kepadaku. Entah apa yang diinginkan ayahku, waktu itu.

Akupun belum pernah bertemu dengan ayahku. Kata ibuku, ayahku meninggal ketika aku dalam kandungan delapan bulan.Menurut cerita ibuku,  ayahku  adalah sastrawan besar yang berhenti menulis setelah mendapat nobel sastra se Asia Tenggara dan bertemu dengan ibuku. Karena menurut ayahku, ibuku adalah puisi paling murni. Ia menemukan guratan keindahan setelah mengenal ibuku diatas kata-kata yang tak terbatas.

Tapi aku masih bingung, kenapa ayaku hanya meninggalkan buku putih saja kepadaku. Tanpa ada garis-garis untuk menulis seperti pada buku umumnya dan  buku putih tersebut didalamnya tak terdapat garis tepi. Hanya buku puith dan benar-benar putih.
Ibuku memintaku untuk menuliskan kisah hidup setiap ulang tahunku. Umurku kini 25 tahun, tetapi belum ada satu katapun yang aku tulis. Rasanya aku memang tidak berbakat untuk menjadi penulis walaupun kedua orangtuaku adalah penulis.

Aku bingung mau memulai dari mana tulisanku. Sebab menulis menurutku, bukan hanya ungkapan rasa. Ada jarak diantara pena dan buku putih yang kupunya. Menulis menurutku seperti memotong bawang merah yang diiris-iris menjadi bagian-bagian. Yang udaranya  bisa mengeluarkan air mata walaupun pisaunya tidak mengenai unjung telunjukku.

Coba kita bayangkan, ketika ada penulis menuliskan biography tentang kepedihan dalam perjalannya. Dan kemudian ia menuangkan dalam tulisannya. Ia harus mengulang rekaman jejak saat ia jatuh dalam luka, atau ketika ia putus asa dan hampir bunuh diri. Bagaimana kita mengingat-ingat kembali kesulitan dalam hidup, berharap bagi pembaca dapat mengambil manfaat dari apa yang dituliskannya. Itu pekerjaan yang menyakitkan.

Itu hal yang menyebalkan bagiku ketika aku harus mengingat-ingat hal yang tak kusukai. Aku baru ingat, ketika aku berumur tujuh tahun dan mulai masuk Sekolah kelas satu SD. Aku pernah menaruh permen karet dibangku ibu guruku. Kemudian setelah ibu guruku tau aku yang menaruh permen karet diatas bangkunya. Ia menggeledah tasku, mencari permen-permen karet yang belum aku kunyah sebelum aku menaruhnya di bangku-bangku yang lain.

 Ibu guruku tidak menemukan permen karet didalam tasku, ia hanya menemukan buku putih. Kemudian aku dikenakan sanksi untuk menuliskan, “AKU TIDAK AKAN MENARUH PERMEN KARET DI BANGKU SEKOLAH”. Aku membantah ibu guruku, aku lebih memilih bernyanyi balonku ada lima. Walaupun sebenarnya aku tidak punya balon satupun. Karena balon yang kubeli selalu aku tusukkan jarum untuk mengagetkan orang-orang disekelilingku.

Bayangkan ketika kita melakukan kesalahan kita akan dihukum untuk menulis kesalahan-kesalah kita dan berulang-ulang. Bukankah itu akan menimbulkan kita akan melakukan hal sama. Karena tulisan-tulisan tersebut akan tersimpan dan menjadi permanen dalam memori kita. Mungkin kalau aku tidak mengajukan hukuman menyanyi, sampai sekarang aku akan terus menerus menaruh permen karet di bangku sekolah. Karena menulis kesalahan dalam satu buku akan menimbulkan kita mengulanginya.

Kata ibu guruku, aku anak yang nakal. Namun, ibuku selalu membela. Bukankah anak kecil yang nakal adalah anak yang pintar. Anak kecil yang nakal adalah anak yang kreatif, mungkin hanya perlu bimbingan saja. Ia menaruh permen karet diatas bangku ibu guru karena mungkin ia tidak tahu dimana tempat sampah. Setelah ibu menunjukkan dimana cara membuang permen karet saya rasa ia akan lebih disiplin dari anak-anak yang lain.
Aku selalu senyum-senyum sendiri ketika ingat hal itu. Ibuku memang pintar berdalih. Ia dulu bintang teater pada jamannya. Jadi wajar ketika pola pikirnya agak terbalik dari perempuan-perempuan yang menempuh ilmu akademisnya yang hanya duduk dibangku kuliah saja.

Aku kemudian masuk ke dalam kamarku merogoh buku putih yang ada dalam tasku dan pulpen setelah selesai cuci muka ala koboi dikamar mandi. Aku menghampiri ibuku yang sedang melamun melihat sketsa lukisannya yang dibuat ayahku sambil memainkan biola putih kado yang diberikan ayahku sewaktu ibuku ulang tahun yang ke 23.

Aku duduk disebelahnya, meminta ibu untuk menceritakan kisah-kisah ayahku. Walaupun aku tau, disetiap pegulangan masa lalu ada luka yang akan terbuka. Namun aku siap, menuliskan semuanya. Karena “jejak langkah diatas pasir akan terbawa ombak dan ketika hamparan pasir itu tak berjejak, pasir itu akan ditapaki jejak-jejak langkah manusia berikutnya”.









Rabu, 29 Agustus 2012

Mimpi dan air mata perempuan ikal ( By. Ade Riyan Purnama )



Hidup adalah mimpi dan air mata, entah darimana mimpi itu berasal ketika kupejamkan mata. Alamatnya pun aku tak tahu dimana ?, namun dalam mimpiku selalu tergambar sketsa pertunjukan-pertunjukan teater, drama, musikal dan prosa. Aku bersinggah menapak langkah menuju Perancis, Roma , Italia dan terdampar di kota Verona. 

Kulihat pangeran tampan itu, yah.. pangeran itu bernama Romeo. Hatiku pilu ketika menatap matanya. Matanya adalah bias kesetiaan dalam relung yang memahat kasih dan cinta. Aku benar-benar menjiwai peran Juliet,  peran yang ditulis oleh sastrawan besar, William Shakespeare. 

Musim salju mengiringi violet dan petikan string akustik menambah gerabah harmoni musikalisasi sementara burung-burung gereja mendera patah ketika menjadi saksi kisah cinta kesetiaan dua manusia. Diluar sana  kulihat perlahan jatuh daun-daun rindang di senja basah menatap Juliet yang menancapkan belati setelah melihat kekasihnya meminum racun untuk menggapai cinta sehidup semati dalam pandangan hakiki. 

Air mata penonton mengalir deras terbawa prosa cinta menembus aliran darah membasuh derai menyaksikan tertutupnya tirai kesetian cinta bersama tirai pertunjukkan yang telah usai. Namun, tiba-tiba aku kehilangan arah, alamat mimpi itu hilang dan aku terbangun membuka mata.

Huh.., mentari meninggalkan alamat mimpi itu, mengapa kau tak setia kepada bulan ? yang kuinginkan adalah bulan yang dapat mengantarkanku kepada alamat mimpi dan mengajarkan kesetiaan dari perisai bintang yang  menjadi pengorbanan. Mungkin terlalu sukar sepertinya mentari mengajarkan kesetiaan karena menjelang petang panasnya membakar naluri tentang kesetiaan cinta murni yang kuberikan pada seorang laki-laki.

Untuk kesekian kalinya mata ini memberi misteri, ternyata ia memberi alamat lagi yang tak kupahami. Yang pertama adalah mimpi yang belum kutemukan alamatnya bersambut air mata yang tak kumengerti asal mata airnya huh..!

Teman-temanku dikampus memanggil akrab namaku Ikal dan aku telah menjalin tali kasih dengan salah seorang kakak kelas dua tahun diatasku yang bernama Romi. Romi adalah Romeoku ketika sang mentari menghadapkan wajahnya menenggelamkanku dalam nyata. Sulit membedakan antara Romeo dalam mimpi dan Romi yang menjelma menjadi Romeo di alam nyata karena semua berawal dari mata. 

Aku bertemu dengan Romeoku dalam mata terpejam dan aku berjumpa Romi dengan mata yang tak bicara. Aku dan Romi merajut kasih seperti awan putih yang membuat teduh ketika menyambut mentari dan penghias malam ketika sang bulan datang. Rasa yang berjuta warna kuserahkan utuh hanya untuk Romi karena ia adalah jawaban dari segala resah dan lelah.

Aku dan Romi melewati hari-hari bersama dalam titian jemari yang menyapa. Burung-burung gereja pun hinggap menghias bias kaca-kaca kampus yang menjulang tajam dan dalam setiap bulan kami mengelap artefak janji setia dimana pernah mengukir janji cinta pertama.

Hidupku seperti berada di puncak mandalawangi, kawah-kawah menyapa lembut dan embun pun mengedipkan restu lewat tetesnya. Sampai suatu ketika romi menyakinkan ibuku untuk memperbolehkan aku tinggal mengekost yang jaraknya berdekatan dengan  kampus. Akhirnya ibuku mengizinkannya karena romi berjanji akan menjagaku dengan tanggung jawab putih tulang sum-sumnya.

Seperti biasa hari ini mentari membuka wajahnya tapi hari ini tak kulihat burung gereja yang menyapa. Burung-burung camar berlalu-lalang seolah-olah memberikan isyarat. Aku teringat romi, akhir-akhir ini ada yang berbeda dengannya. Ritual membersihkan artefak janji cinta pertama setiap bulannya pun ia lupa. Pikiran ini seperti memasuki hutan rimba. Banyak arah yang harus kuperhatikan agar tak salah melangkah. Gelisah ini menusuk tajam dalam pertanyaan-pertanyaan bergema. Haruskah aku curiga terhadapnya atau ada wanita lain dihatinya? Aku mencoba tetap berjalan pada poros cinta janji setia karena hati ini telah kuserahkan seutuhnya dalam berjuta warna.

Kin dikampus aku hanya berteman bunga-bunga yang dihiasi kupu-kupu. Tak ada lagi romi yang meyapa jemariku yang membuat teduh disaat mentari mengeluarkan panasnya.

Setelah aku pulang dari kampus, tidak biasanya burung-burung camar berlalu-lalang melintas dikaca-kaca gedung aula.  Perlahan kutapaki jalan menuju kostsan tempat dimana merebah menyambut bulan. Tiba-tiba kulihat romi sedang duduk diatas tangga kedua bersama dengan wanita yang tak asing rupanya. Autofokus mataku membidik rapuh, ketika mendengar mereka  bicara tentang burung merpati dan rasa.

Mataku berkaca-kaca namun tak kubiarkan bias airnya turun di depan mereka. Romi pun tersentak kaget ketika melihat kedatanganku yang sedang bercerita mesra dengan leli teman sebelah kost kamarku. Romi datang menghampiriku bercerita tentang kamuflase logika buaya. Akhirnya, ia putuskan untuk merobek tali kasih yang telah kurajut dengannya karena ia berpapar tak bisa menjadi romeoku di alam nyata dan ia lebih memilih leli teman sebelah kost kamarku  menjadi tambatan hatinya. 

Romi telah memecahkan artefak janji setia, awan putih pun berubah menjadi mendung abu-abu mengurai hujan bercampur rinai. Burung gereja kehilangan cuitnya tak mampu lagi berkicau karena sayapnya patah.

Bulan kini tak nampak, hanya ada petir mengusik balada mimpi. Mentari kulihat gelap karena wajahnya tertutup cemara. Hati ini tinggallah nama, hanya gelap yang ada karena hati sejuta warna telah kuserahkan padanya .

Aku gila …
Aku tak lagi percaya dengan mata, mata yang membawa indah pada mimpi dan mata yang membawa teduh ketika memandang romi dalam mata tak bicara. Kini aku hanya  punya hati yang tak bermata. Dikampus pun tak kulihat lagi burung-burung gereja dan tak ada lagi taman-taman bunga bias kaca tatanan rasa.

A…k…u… gila ……

Ha… ha… ha… aku berteriak sekencang-kencangnya di depan mahasiswa-mahasiswa baru. Aku koyak-koyakkan  kursi yang sengaja mereka letakkan di depan kelas itu.

A…k…u…  gi..la…..

Aku semakin gila dan membabi buta mengacak-ngacak ikal rambutku seperti orang gila.

A…k...u… gi..la…

Aku tertawa sekencang-kencangnya ha….ha….ha…

Mahasiswa-mahasiswa itupun semakin takut, kecut dan mencekam. Kemudian berakhir pada semarak tepukan tangan semua mahasiswa-mahasiswa baru serta mahasiswa lama karena aku berhasil mempertunjukkan teater dan mempromosikan teater kepada mahasiswa-mahasiswa baru.

Aku menjadi aktor utama sekaligus sutradara dalam pertunjukkan tersebut. Teater dapat menghipnotisku melupakan romi setelah 3 tahun lamanya dan rasa sakit hatiku yang mendalam. Hingga akhirnya kutemukan esensi hidup tentang mengolah rasa dan kata karena pada hakekatnya dunia hanya panggung sandiwara dan kita adalah aktor-aktornya yang berasa didalamnya. Biarlah romi menghilang dengan cintanya dan aku telah kembali mewarnai hati dengan kanvas kehidupan melalui “seni “ untuk keliling dunia hingga kutemukan alamat tentang mimpi yang tak tahu darimana asalnya.


Wahai mata
Mimpi itu masih di alamat kan ?
Aku sedang melangkah menuju kesana
Semoga tak ada lagi air mata
Yang membasuh deras kedua mata

Tentang mimpi dan air mata

bebaskan mimpimu, nak !

Ini masih pagi, dan saya udah nyaris menandaskan dua gelas kopi hitam cuma gara-gara lidah nyecap-nyecap gak karuan. Kambing hitam dari segala macam bentuk makian akan ketikdakmampuan saya untuk bertahan hidup dalam kubangan Insomniers adalah kopi. dan dalam semesta saya, kopi selalu tampil cantik setiap kali di hidangkan. membuat saya ingin selalu menyeruputnya tanpa sisa. tanpa ampun.

Tapi postingan kali ini saya gak membicarakan kopi. saya ingin membicarakan masalah cita-cita. impian. harapan. mari kita mulai.

Saya dulu penari. Oke. Stop. Don't laughing it. tapi serius. saya dulu penari. terlepas dari sekarang saya berhijab dan menutup tubuh saya rapet-rapet, saya ini mantan penari. penari apapun. saya dipersiapkan untuk jadi penari. bukan penari biasa. sampai sekarang saya masih menguasai tari tradisional daerah Indonesia, kontemporer dan modern. tak cukup sampai disitu, saya penari.bukan sekedar menari. tapi penari. saya dibekali ilmu pengetahuan merawat kulit dan tubuh. dibekali dengan anggah-ungguh sebagai penari profesional, di jejali dengan tata krama yang santun sebagai ambasador keluwesan liukan tubuh. saya dulu penari. sekarang tidak.

Pagi tadi, ayah saya mamerin foto anak perempuan saya yang sedang belajar tari. Anak saya itu suka menggambar. saya dulu penari, dan pagi tadi saya melihat anak saya menari melalui foto ayah saya. sudahkah kalian temukan jalinan embrio yang menyusun jalur merah di kenyataan ini? jika belum, silahkan baca paragraf selanjutnya.

kenapa saya sekarang tak menari lagi? Saya malu membuka aurat saya. memamerkan lekukan dengan gerakan yang disengaja. Tarian memang indah, tapi saya mau menari di surga saja besok. jadi, saya berhenti menari karna memang ingin berhenti. tak ada tragedi dahsyat selain rasa malu saya sendiri yang menghentikan saya menari.

Anak saya luwes dalam menari. kebayang dong gimana happy nya saya. tapi sekali lagi, saya tau bahkan mungkin lebih tau dari siapapun bahwa anak saya lebih suka menggambar. saya gak mau, dia akhirnya jadi penari karna merasa harus melanjutkan cita-cita saya yang memang saya padamkan dengan sekam sendiri. saya ingin anak saya menjalani hidupnya sendiri. menjalani mimpinya sendiri. jadi pelukis atau penari, terserah dia.

saya memang orang tuanya, wajib mengarahkannya. tapi saya tak ada keinginan untuk memaksanya. bahkan untuk mengarahkannya pun saya ingin dia mengalir dengan sendirinya. terlalu membebaskan? ah, saya rasa tidak. anak saya memiliki pola pikir terkonsep yang baik. sejak kecil diamemang terlatih untuk menentukan segalanya dengan independent. apa ini tidak terlalu pagi untuk seorang gadis kecil berusia 4,5 tahun? jelas tidak. pola pikir dibentuk sejak manusia mulai berfikir. bahkan pola pikir yang terbentuk sejak masih anak-anak akan sangat berpengaruh bagi perkembangannya kelak ketika dewasa. Indonesia, terlalu mengkotakkan pera orang tua hingga akhirnya justru menjadikan orang tua seperti dewa yang berhak mengatur hidup anaknya. salah kaprah.

jadi, tadi setelah saya liat foto anak saya yang sedang berlatih tari, saya langsung telpon dia. saya pastikan dia bahagia dengan kegiatannya. saya lupa persisnya seperti apa obrolan kami.

saya : " kamu abis latian nari ya Ai?"
Airin : " Iya mah."
Saya : " Suka? "
Airin : " biasa aja."
Saya : " Lebih suka mana sama gambar?"
Airin : " Ya gambar dong."
Saya :" Latian narinya buat apa sih?"
Airin : " gak tau uh bu guru yang suruh."

saya diam. pelan menutup pembicaraan. setelah itu hati saya terbahak. Anak saya tak ingin jadi penari. saya tau itu. dan saya tak ingin anak saya melakukan hal yang tak dia sukai meski semua orang mengatakan dia mampu melakukannya.

oh iya, jadi pacar saya itu penulis juga. suka sekali menulis. maka sejak hari ini dia saya tahbiskan jadi pengisi tetap di blog saya ini. maka jika ada penulis lain yang mampir nulis di sini, maka itu memang pacar saya, bukan orang iseng yang nge hack pasword blog. oke temans. selamat siang. selamat jatuh cinta bagi yang sedang jatuh cinta.





Selasa, 28 Agustus 2012

Mari saling membahagiakan.

Setiap pasangan ingin berbahagia,
tapi (me)lupa(kan) caranya untuk saling membahagiakan.
(Herdiyan Danudirdjo)

Idiom diatas terasa benar-benar tepat ya temans. sadar atau gak sadar, kita berpasangan tujuannya jelas satu : Bahagia. saya pikir gak ada deh pasangan yang ( kita membicarakan pasangan normal yaaa ) berorientasi pada penderitaan. taruhlah pasangan yang di jodohkan karena bisnis keluarga, tanya deh apa orientasi mereka ? ya jelas bisnis keluarga lancar langgeng. bisnis lancar keluarga aman. semua ingin bahagia. dan itu membuat kita jadi lupa diri. lupa daratan. 

Nyari pasangan itu gak kayak milih gethuk. mana yang keliatan mulus, manis, empuk dan belum kadaluarsa ya itulah yang di jadikan pilihan. Punya pasangan juga gak kayak punya telpon umum koin, yang bisa bunyi kalo di jejelin duit. lebih-lebih yang punya anggapan pasangan itu kayak (klise) milih baju, mana yang pas, bikin kita terlihat keren dan oke maka itulah pilihannya. oh, wahai engkau yang sedang jatuh cinta, tidakkah pasangan itu adalah diri kita sendiri. mereka bukan pelengkap semata, bukan sekedar pemanis dikala bertemu teman atau justru pemuas dahaga dikala haus. Pasangan, menjadikan kita berarti. seperti sepasang sepatu yang tak akan berguna jika salah satunya hilang.

Saya punya mantan pacar. dia yang menciptakan Quote diatas. Herdiyan, sosok istimewa yang tak tersentuh kalang menyakiti. Baginya segala kebahagiaan ada dalam diri kita sendiri. Tak perlu mencari-cari dan berteriak-teriak kepada orang lain untuk minta di bahagiakan. Kebagiaan muncul dengan sendirinya ketika kita mampu untuk menciptakannya. Maka, herdiyan adalah sosok independent dalam dunia saya. sosok yang tak mungkin merasakan kesakitan karna dia memampukan dirinya untuk bahagia sendiri. tanpa bantuan siapapun, bahkan saya yang notabene adalah pacarnya dahulu.

Tapi Herdiyan itu manusia biasa. Bukan malaikat yang tak punya nafsu amarah juga bukan iblis yang justru penuh dengan angkara. Herdiyan akhirnya menunjukkan kesempurnaannya sebagai manusia dengan mengatakan Quote diatas. " setiap pasangan ingin bahagia, tapi lupa caranya untuk saling membahagiakan." Waktu dia bilang gitu kesaya, sampe sekarang ( kejadiannya sudah bertahun-tahun lampau ) saya masih ingat ekspresinya. sorot mata yang menyiratkan kesakitan, dan suara paraunya yang luar biasa menyayat telinga saya. oke, katakan saya menganalogikan ini dengan sangat lebay, tapi sungguh, saya nelangsa mendengar dia bicara begitu. saya merasa, saya melupakan cara membahagiakannya. hingga dia harus bahagia dengan caranya sendiri.

Saya dimanja kebebasan saat pacaran sama Herdiyan. Saya mau apa dia dukung, saya mau gimana dia turutin. Saya bahagia, merasa menemukan pria yang saya mau. Sampai suatu hari, saya tau satu hal. Bahwa Herdiyan, memampukan dirinya sendiri untuk bahagia bukan tanpa sebab. Tapi justru karna penyebab. dan saya-lah penyebab nya itu. menyesal saya mengetahui itu terlambat, saat saya tak mungkin lagi membahagiakannya. Herdiyan meninggal, tanpa sempat saya bahagiakan. dan itu jadi penyesalah terbesar saya hingga hari ini.

Saya belajar banyak dari Herdiyan. Bahwa mencintai seseorang tidak bisa satu arah. pasangan harus mampu saling membahagiakan. Mungkin saya telah menemukan sosok yang saya mau lewat Herdiyan. Saya telah menemukan orang yang mau melakukan apapun untuk saya tanpa saya minta, mau membahagiakan saya tanpa saya merajuk dan mau menjaga saya bahkan sebelum saya terluka. tapi, bagaimana dengan herdiyan? sudahkan dia menemukan sosok perempuan yang mau melakukan apapun untuknya tanpa dia minta? sudahkah saya jadi pelindungnya bahkan sebelum dia kesakitan? apakah saya telah mampu membahagiakannya jauh sebelum dia membutuhkannya? sudahkah dia temukan sosok perempuan yang dia mau dari tokoh pacar yang bernama Rahmi? saya mendadak linglung. koleps.

Terlambat. saya harus memperbaikinya. meski bukan melalui herdiyan. saya tau, saya harus mampu membahagiakan pasangan saya sebagaimana dulu saya dibahagiakan pasangan terbaik saya. Karna itu saya mulai menata hati, mempersiapkan kematangan pola pikir dalam berhubungan, serta memampukan diri untuk menjadi yang terbaik bagi pasangan saya. Bukan untuk menebus kesalahan pada Almarhum, tapi lebih kepada rasa ingin menjadi sang pecinta yang baik. Yang benar. saya kapok, jika harus merasa menyesal setelah kehilangan.

" kalau sayang, kamu harus terima aku apa adanya." Duuuhh, kalimat itu terasa cekak buat saya. Selain dangkal dan agak konyol. berlindung di balik cinta buta cuma karna gak mampu jadi yang terbaik buat pasangannya. kalau saya denger pacar saya bilang gitu, saya bakalan sambit dia pake sendal jepit. bukan karna saya gak menerima dia apa adanya, tapi kalo saya cinta, maka saya akan menjadikan orang itu yang terbaik. saya akan membuatnya terus memiliki progress yang berarti dalam hidupnya. Konsep menerima apa adanya itu mutlak milik pasangan yang lemah. yang gak mampu berbuat lebih untuk pasangannya.

beberapa bulan setelah Herdiyan meninggal, saya ketemu sama sahabat kentalnya. ngopi bareng sambil mengenang almarhum. sampe detik ini, saya masih tetap menangis jika membicarakan Herdiyan. Bukan karna masih menyimpan cinta, tapi lebih karna penyesalan yang luar biasa dalam.Herdiyan mungkin memang sangat menyayangi saya, tapi saya akhirnya tau. dia menjebak saya dalam kesalahan yang fatal. saya dimanjakan taburan kasih sayang tanpa batas olehnya, menjadikan saya pribadi yang egois dan tak mengenal ampun. hingga akhirnya tanpa sadar melukai secara berkala pada pasangan saya. membuatnya harus merelakan kebahagiaannya sendiri demi melihat saya bahagia. itu imbisil buat saya. pasangan, adalah keberadaan "saling" yang paling penting. jika hanya salah satu, maka hubungan itu jadi timpang. berat sebelah. tak sehat dan berpenyakit.

Sekarang saya jadi punya visi berbeda ketika berpasangan. belajar dari Herdiyan saya tau, kebahagiaan memang muncul dari hati kita masing-masing, salah satunya dengan melihat orang yang kita sayangi bahagia. tapi kadang kita membutakan diri sendiri, dengan menganggap kebahagiaan orang tersebut adalah yang paling utama. kita lupa bahwa kadang, ada kebahagiaan yang datangnya bersamaan dengan kesakitan. kebahagiaannya mungkin jadi kesakitan kita. di posisi itulah, tugas pasangan kita untuk gantian membahagiakan kita. mampu atau tidaknya pasangan kita membahagiakan kita juga termasuk cara kita untuk membuatnya bahagia. keberadaan 'saling' menjadi konkret maknanya.

Selama hidupnya, herdiyan diam dan selalu mengalah pada saya. menjadikan permintaan saya bak sabda pandhita ratu. dia tak membantah meski itu menyakiti hatinya. asal saya bahagia, begitu katanya. saat itu saya jelas senang. saya makin menggila dengan banyak permintaan absurd yang sangat mungkin menakiti hatinya. membuatnya terluka dan meringis pelan-pelan tanpa saya tau. sekarang, saya tak ingin begitu. saya ingin membahagiakan pasangan saya dengan cara yang benar. membuatnya mampu membahagiakan saya dan menjadikannya juga bahagia. kebahagiaan itu lebih nikmat jika datang beramai-ramai. maka, satu pesan saya untuk kalians para pencinta-pecinta sejati : " Diam itu memang emas. Tapi jika ternyata diam itu menyakiti diri sendiri, maka emas itu adalah emas imitasi. ".

Love.

Rahmi.

Minggu, 26 Agustus 2012

Filosofi tak beraturan.

soreeeeeeee, Lebaran apa kabar ? klise yah kalau saya bilang maaf lahir bathin kali ini tapiiiii hati saya selalu memaafkan kalian :b, ini masih bau-bau lebaran nih jadi jangan protes kalau saya bikin postingan tentang lebaran dan teman-temannya.

Anyway saya sudah dikampung bareng sama anak saya, sama satu keluarga saya dannnnnn sama pacar. Dikampung itu yang namanya lebaran selain sakral, crusial, dia juga agak-agak anomali. kita mesti jalan dari satu rumah ke rumah lain cuma buat salaman, minta maaf, minun teh, basa-basi sebentar, pulang teus kerumah sebelah mengulagi hal yang sama sampai berkali-kali sampai perut kembung, stok maaf masih banyak  sementara kita engga tahu kita ikhlasa atau engga minta maaf, yang dimintain maaf ikhlas engga kalau kita minta maaf. Kita hanya melakukan ini karena kultur tapi lupa sama kepentingan yang paling utma yaitu silaturahmi. Padahal yang namanya minta maaf itu harusnya setiap hari atau setiap kita melakukan hal yang salah  engga peduli hari senin, selasa, rabu, hari kemerdekaan Indonesia, hari kemerdekaan Kongo.

Jadi, kalau saya ngerasa aneh sama acara salam-salaman lebaran itu cuma karena pengkultusan  yang berlebihan terhadap hari Idul Fitri. Pengkultusan yah bukan hari lebarannya, tapi yang namanya hidup itu selalu ada hal menarik untuk diminikmati salah satunya ketika kita mampu membaca singkronisitas dari alam kepada kita atau kepada sekeliling kita. Dan hari diantara agenda jalan-jalan yang dinomerduakan itu saya nemuin satu lagi filosofi tentang hidup. prinsip. idealisme dan ornamen yang membuat kita merasa jadi orang paling hebat. Filosofi itu adalah: Undur-undur.

Namanya Undur-undur (bahasa Jawa) hidup dipasir membentuk lingkaran kedalam yang menyerupai gelombang air. Hanya bisa berjalan dipasir dengan cara mundur. Cara mengeluarkannya dengan memasang umpan semut yang diletakkan pada gelombang pasirnya. Aneh, semut yang biasanya lincah mendadak lumpuh tak bergerak terserap pasir. Hanya digelombang itu saja tidak diarea pasir lain. Undur-undur sendiri jadi raja ketika di pasir. Namun abdi ketika di media lain. Filosofinya: kita merasa kuat ketika daerah yang kita pijak membri ruang dan apresiasi berupa habitat yang nyaman dan senantiasa memampukan kita untuk jadi hebat, teryata tidak dengan dunia. Kita akan lemah, tak mampu, lumpuh dan gagap ketika ada di dunia dengan objek yang berbeda dengan habitat kita. Jauh-dekat. Namun, tak ada salahnya kita percaya diri. Buktinya, Undur-undur itu ternyata kecil saja. Jauh lebih kecil dari semut. Tapi lihat, dia mampu menjebak semut tanpa perlawanan sama sekali.

 ternyata filosofinya bukan hanya itu. saya menemukan undur-undur tepat ketika semut masuk dalam jebakan lingkaran pasirnya. mendadak saya banyak mendapat amunisi hidup. bekal yang tak pernah saya sangka akan menemukannya di sebuah pasir kecil dengan hewan-hewan yang kecil pula. mari kita telaah lebih dalam lagi mengenai undur-undur ini.

Undur-undur, dia itu cuma hewan kecil yang jalannya mundur. karna itu namanya undur-undur. bentuknya bahkan gak keliatan sama sekali. kecil, item gak menarik. jauh lebih kecil dibanding semut yang terjebak itu. awalnya, saya mikir, ini undur-undur pasti gede, panjang kakinya banyak... #oke, saya salah tangkep. itu namanya si kaki seribu. begitu saya tau dan liat langsung pemilik jebakan pasir itu, yaelahhh, itu hewan kayak kutu. seriusan, kutu tau kan kalians? Nah, undur-undur itu lebih gak keren lagi. makanya saya kaget, kenapa filosofi itu kok mendadak dateng dari si tak berarti itu?

Hewan sekecil undur-undur aja bisa bikin mahluk lain gak berdaya di habitatnya,. Undur-undur itu ibarat panglima perang yang dengan cerdik memasang perangkap di depan benteng pertahannnya. berani mengambil resiko ketika nantinya salah perhitungan dan musuh akhirnya bisa masuk kemudian melaham seluruh istananya. Undur-undur mengambil resiko itu. dengan manis dia mengakhiri perang tanpa perlu berdarah untuk dapat kemenangan. saya tak hanya takjub, tapi kemudian berfikir. apakah benar ini kemenangan? atau cuma sekedar metafor belaka? tau dari mana saya kalo si undur-undur yang menang dan bukannya semut itu?

Kemudian saya mikir, mungkin ini cuma relatifitas yang gak berarti. gak ada gunanya saya ambil filosofi ini. karna emang saya gak pernah tau apa yang terjadi setelah si semut masuk kedalam lingkaran pasir buaran undur-undur itu. saya sempat batal memposting tulisan ini, untuk kemudian saya kembali mendapat filosofi baru tentang teori relativitas.

Pacar saya bilang, yang namanya mahluk hidup itu pasti memiliki kurva segitiga sama sisi dalam hidupnya. diawali dengan perjuangan mendaki hingga ke puncak, kemudian menurun hingga sama sejajar dengan titik awal ketika dia mulai mendaki itu. semuanya adalah teori relativitas. mungkin orang akan mengira, ketika seseorang mengalami penurunan dari puncak segitiga itu, kemudian sampai di titik terendah, dia tiba pada masa akhir diama kekalahan terjadi di pihakknya. tapi, silahkan gunakan relativitas kalian, coba ubah sudut pandang, dan lihatlah, jika kita memutar pandangan dari sudut lain segitiga sama kaki itu, puncak terendah, bisa berubah menjadi puncak tertinggi, taua sebaliknya. jadi apa kawans? sudut pandang. dia yang mempengaruhi bagaimana cara kita menyikapi hidup dan menyelesaikannya. kita, juga semut dan undur-undur itu punya hutang banyak pada sudut pandang. Selamat sore.