Rabu, 01 Juni 2016

Memo Penyair dan Pekerjaan Hati.



Senjata penulis adalah kata-kata. Dan kata-kata adalah senjata paling tajam di dunia. 


Saya adalah seorang penulis. Bagaimana bisa dengan sedemikian convidence saya mengatakan ini? sebab tidak ada lagi kemampuan yang bisa saya banggakan selain menulis. Saya mungkin bisa memasak, tapi saya sekedar bisa saja. Hanya demi perut dan kelangsungan rantai makanan keluarga saya terjamin. Saya juga mungkin bisa dikatakan menguasai tekhnik Master Ceremony, beberapa kali jasa Mc saya di pakai oleh lembaga dan instansi pemerintahan, non pemerintahan dan bahkan swasta dengan profesional. Namun saya tidak tergerak untuk mendalaminya. serta beberapa kemampuan ala kadarnya yang lainnya, yang jika saya urutkan satu persatu niscaya postingan ini hanya akan jadi sampah.

Mengapa menulis? karna bagi saya menulis adalah pekerjaan luar biasa yang bisa di katakan lebih mulia dari pada menjadi Ustadz atau bahkan hakim dan jaksa sekalipun. Menulis adalah pekerjaan hati, adalah pekerjaan orang yang merdeka, adalah pekerjaan manusia kreatif, dan adalah pekerjaan insan Tuhan yang di penuhi rasa bersyukur terus menerus. Menulis juga tidak memiliki ketentuan apapun, saya bisa melakukannya di mana-mana. Dimanapun saya bisa menulis, di Blog ini, di halaman media, di buku-buku. Saya juga bisa menulis tanpa ikatan apapun, bisa santai sambil menontoni National geograpic di kamar, bisa dengan daster, atau bisa juga dengan setelan resmi jas blezer dan duduk di balik meja kantoran. Menulis adalah kebebasan, kata-kata tak memiliki ketakutan apapun untuk bersuara, kalimat mendapat tempat dimanapun ia ingin parkir, dan tulisan adalah ungkapan yang tidak akan pernah hilang di telan memori. Selamanya akan tetap ada, tersimpan rapih sebagai dokumen yang tak terbantahkan.

Sebagai seorang penulis tentulah saya ingin karya saya menjadi inspirasi dan bermanfaat bagi banyak orang. Bohong kalau saya tidak ingin tulisan saya hanya di simpan dalam file laptop dan tidak terpublikasikan. Bohong kalau saya tidak ingin menjadi seorang penulis yang karyanya dikenal oleh dunia. Tapi sejujurnya bukan itu tujuan utama saya menulis. Yang pertama adalah karna saya ingin menyelesaikan hidup dengan cara yang Khusnul Khotimah. Saya menulis, karna saya ingin menyelesaikan semua dnegan baik.

Banyak sekali komunitas menulis yang saya ikuti sejak dahulu. Mulai dari milis-milis dengan anggota ribuan, hingga grup-grup di media sosial yang berkembang saat ini. Handphone saya bahkan terus-terusan membunyikan notifikasi karna terlampau banyak grup menulis yang saya ikuti. Namun saya adalah sosok yang pemilih, dengan angkuh dan congkaknya saya menjaring semua grup dan hanya aktiv di beberapa grup saja. Grup Memo Penyair dan Grup Supernova adalah salah dua-nya.

Saya akan mengulas salah satu grup yang saya tekuni dan ikut bergerak aktif di dalamnya ini. Yaitu Grup Memo Penyair. Untuk Grup Penulis Supernova, saya akan ulas dipostingan selanjutnya.

Memo Penyair, jika teman-teman semua search di Google pastilah akan menemukan banyak berita mengenai komunitas penyair Nusantara ini. Yah, Grup ini adalah sebuah komunitas atau perkumpulan atau gugus atau apapun namanya yang di koordinatori oleh seorang penyair Solo Sosiawan Leak. Sebuah komunitas yang hingga kini telah menerbitkan 8 buah buku antologi puisi Penyair se-Nusantara.

Saya harus menghela nafas panjang sebentar untuk bisa dengan baik menceritakan tentang Memo penyair dan sepak terjangnya ini.

Membicarakan tentang memo penyair, kita akan membicarakan tentang sebuah proses luar biasa bernama cinta. Seluruh penyair indonesia tumpah ruah bersatu dalam grup ini. Tidak ada batasan. Usia, kemampuan, karya, pengalaman, sebuanya tak menjadikan batas apapun dalam memo penyair. Semua sama, semua bergerak dan terus berkarya. Yang paling indah dari itu semua adalah, bahwa karya memo penyair ini adalah sebuah teriakan untuk Indonesia. Puisi Menolak Korupsi dari jilid 1 - 5, adalah wujud dari teriakan-teriakan penyair se Indonesia akan ketegasan mereka akan korupsi. Memo Untuk Presiden: terhimpun ratusan penyair yang berkolaborasi didalamnya dan semuanya memberi pesan untuk sang presiden. Memo Untuk Wakil Rakyat : Suara penyair yang mengkristal menjadi puisi bagi anggota Dewan di Gedung-gedung pemerintahan. Dan karya yang masih hangat adalah Memo anti Terorisme : adalah sebuah buku dahsyat yang ledakkannya melebihi bom di bodrobudur atau Legian. Semuanya karya penyair nusantara. Semuanya mandiri, semuanya independen. Grup ini bergerak tanpa di sponsori oleh apapun. Tanpa sokongan dana dari siapapun. Seluruh penyair yang tergabung didalamnya, rela memberi sumbangan dnegan tulus, tanpa tendensi. Bersih dan murni.

Kekaguman saya terhadap Memo penyair, tak luput dari kekaguman saya akan sosok luar biasa Sosiawan Leak. Seorang seniman asal solo, yang dengan hati luar biasa telah mengkoordinasikan semua penyair di nusantara. Dari mulai yang sudah berusia tua hingga yang masih sekolah. Semuanya di rengkuh dan di rangkul dengan hati yang besar olehnya. Ia memiliki hati yang sangat luas untuk bisa menampung segala kegelisahan para penyair. Semua karya, ratusan bahkan ribuan puisi yang masuk ke dalam memo penyair tak lepas dan tak luput dari kurasinya. Satu persatu, perlahan-lahan ia menyapa puisi semua penyair. Tak hanya satu-dua penyair, tapi lebih dari 600 penyair! ini bukan hanya kerja berat, ini kerja yang sangat luar biasa. Dan lebih hebatnya lagi - sekali lagi - bahwa ini semua bukan pekerjaan dengan bayaran. Mas Leak tak di bayar, bahkan jikapun ia meminta bayaran, saya percaya tak ada satu instansipun yang mampu membayarnya. Hatinya sangat mahal, sangat kaya dan sangat luas. Tak ada nilai mata uang di dunia ini yang mampu menakarnya.

Keindahan memo penyair tak cukup sampai disini. Setiap buku yang telah di terbitkan biayanya akan menjadi tanggungan seluruh penyair yang masuk di dalamnya. Yah, karna ternyata tak semua puisi bisa masuk dalam Antologi-antologi yang di hasilkan oleh memo penyair ini. Mas leak mengkurasi puisi yang masuk sehingga bisa menjadi layak terbit dan layak baca. disertai dengan keindahan dan paduan yang pas dengan tema yang diusung. Jadi wajar, jika tak semua penyair bisa lolos di buku-buku Memo penyair ini. Kemudian setelah buku terbit, para penyair dari daerah masing-masing akan mengadakan launching dan dialog mengenai isi buku. Hebatnya adalah, acara ini akhirnya menjadi Tur keliling kota Memo penyair di setiap bukunya. Sebab meskipun diadakan di setiap daerah, namun penyair dari daerah lain akan ikut melaksanakan dengan datang menghadiri acaranya. Inilah kekuatan besar itu, inilah gulungan bom yang terus membesar dan akhirnya menjadi ledakan yang dahsyat.

Apakah tak ada yang menumpangi Karya-karya ini? saya dengan yakin menjawab TAK ADA ! Memo penyair lahir dan tumbuh dengan snagat mandiri. Beberapa kali saya bertemu mas leak dan mendengarnya bercerita mengenai penawaran dari pihak-pihat yang terkait isi buku, mereka semua menawarkan bantuan dan dengan segenap hati demi perwujudan idealisme yang utuh di TOLAK dengan tegas. Tak ada yang berhak bertendensi di sini. Semua murni karya penyair. Semua murni swadaya penyair. Bersatu untuk negeri, bergerak untuk bangsa !

Bagaimana dengan saya sendiri? Saya telah berhasil ikut setidaknya 5 Buku dari 8 yang telah di terbitkan. Ini jadi prestasi sendiri bagi saya. Pertama karna paling tidak puisi saya layak untuk di baca oleh umum, dan kedua karna dengan saya bisa bergabung akhirnya saya memiliki saudara dari ujung Sabang hingga merauke. Tanpa memo penyair, saya tak akan merasa se-manusia ini.

Tak ada tua-muda, Miskin-kaya, pintar-bodoh, terkenal-tidak terkenal, hebat-payah, atau apapun jenis pemisahan bagi para penyair dalam Komunitas ini. Semuanya sama, semua saudara, semua satu. Semua bergerak. Atas nama bangsa, atas nama kemanusiaan, atas nama kegelisahan, semua mendadak kompak dan bersatu.

Kini Memo Penyair sedang menggodok gagasan untuk buku selanjutnya. Memo Untuk anak Indonesia. Sebuah buku kumpulan puisi yang bertemakan anak Indonesia. Lahir dari keprihatinan kita akan kasus Angeline, Yuyun, pembunuhan dan pemerkosaan terhadap anak, jual beli anak, penyiksaan anak, eksploitasi anak, dan segala kegelisahan penyair mengenai anak Indonesia yang terteror kriminalitas.


Fisik Buku Memo Untuk Presiden
Fisik Buku Memo Untuk Wakil Rakyat

Salah satu gerakan nyata setelah buku terbit di kota Lubuk Linggau

Selepas Acara Launching Memo Anti Terorisme di Jakarta

Salah satu fisik spanduk Memo Penyair pada launching buku Memo Anti terorisme Jakarta

Salah satu fisik Flyer memo Penyair di acara kota tegal

Salah satu penampilan pada acara memo penyair di Lubuk Linggau

Fisik Puisi menolak Korupsi Jilid 4

Sosiawan Leak, Koordinator Memo Penyair



Salah satu fisik Undangan Peluncuran buku memo penyair di jakarta

Fisik Buku Memo Ati Terorisme

1 komentar: